Please Love Me

Please Love Me
Bab 320


__ADS_3

Jason kini dengan perlahan, membaringkan tubuhnya di samping tubuh Lily yang kini tidur dengan membelakanginya. Tangannya dia lingkarkan di perut sang istri, sementara wajahnya sudah ditenggelamkan di ceruk leher Lily, menghirup dalam aroma tubuh sang istri. Jason kemudian tersenyum kala menyadari sesuatu. Tangan Jason perlahan masuk ke dalam baju sang istri dan semakin naik, hingga berhenti di tempat favoritnya.


Lily bergerak gelisah saat tangan suaminya itu tidak mau diam. Bahkan dia menggigit bibir bawahnya agar tidak menimbulkan suara yang hampir saja lolos dari mulutnya.


"Mau sampai kapan kamu pura-pura tidur sayang," bisik Jason di telinga dengan suara beratnya membuat tubuh Lily meremang.


Lily langsung berbalik badan dan menyambar bibir suaminya. Jason menarik tubuh Lily hingga posisi Lily kini ada di atasnya.


*


*


"Sudah tidak marah kan sayang?" Tanya Jason yang kini tidur di balik selimut yang menutupi tubuh polosnya dalam posisi saling berhadapan.


Tangan Jason menyingkirkan helaian rambut Lily yang menutupi wajah cantiknya, lalu dengan lembut mengusap peluh sisa percintaan mereka tadi.


Ditanya seperti itu, Lily justru mendekat dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


Jason terkekeh, melihat wajah istrinya yang masih malu-malu saja.


"Sayang jangan memancingku lagi!" Kata Jason karena tangan istrinya yang mengusap-usap dada pria itu.


Bukan menghentikannya, tangan Lily justru semakin ke bawah. Membuat Jason menggeram karena perbuatannya itu.


Jason segera menindih tubuh sang istri, mencium bibir Lily lalu mengulang kembali apa yang mereka lakukan sebelumnya.


***


Ketukan pintu terus terdengar mengganggu sepasang suami istri yang masih bergelung di bawah selimut. Jason mengucek matanya, turun dari ranjang, memungut boxer yang berserakan di lantai lalu memakainya. Matanya masih begitu berat karena pukul 4 pagi tadi keduanya akhirnya baru memutuskan untuk tidur.


Jason membuka pintu dan melihat bahwa ayah mertuanya yang ternyata tadi mengetuk pintu tiada henti.


"Kenapa ayah, ini masih terlalu pagi dan aku juga masih mengantuk, kami akan tidur satu jam lagi baru turun," kata Jason yang kini bahkan masih menguap.


Alan menggeleng-gelengkan kepalanya, dia jelas tahu apa penyebab menantunya itu masih mengantuk.


"Masih pagi? Ini sudah jam sepuluh. Dan di luar ada Stevano, katanya mau mengambil berkas yang kamu bawa pulang kemarin untuk meeting jam 11 nanti."

__ADS_1


"Jam sepuluh?" Mata Jason langsung membelalak tak percaya, karena rasanya baru saja dirinya memejamkan mata.


"Iya."


Jason menarik tangan Alan dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan pria itu.


"Aku terlambat lagi, ayah katakan pada Tuan Stevano, aku akan mandi sebentar, oh ya, lalu Cinta bagaimana? Aulia?" Di keadaannya yang panik, Jason tetap mengingat kedua putrinya itu.


"Kata Stevano berikan saja berkasnya, dia akan berangkat sekarang, menunggu kamu takutnya nanti akan terlambat."


Jason mengangguk, lalu dia hendak berjalan keluar, tapi Alan dengan cepat mencegahnya.


"Pakai dulu pakaianmu, karena Stevano tidak sendiri, dia datang bersama sekretaris kalian. Ayah turun duluan, Cinta sudah ayah antar ke sekolahnya dan Uli dia masih bermain dengan neneknya," beritahu Alan sebelum pria itu melangkah pergi.


"Ah iya, makasih yah," ucap Jason sedikit berteriak, Jason kembali masuk ke kamar, segera ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan mengambil pakaian baru di walk in closet dan buru-buru memakainya.


Setelah selesai, Jason menuju ke ruang kerjanya, mengambil map yang berisi berkas yang diperlukan untuk meeting nanti, lalu segera membawanya turun.


"Tuan maafkan saya," ujar Jason yang memang merasa bersalah.


Stevano hanya mengangguk. Jason kemudian memberikan map yang ada di tangannya.


"Baiklah, setelah jam makan siang nanti kau bisa ke kantor, aku harus kembali karena harus meeting juga nanti disana.


Jason mengerti maksud kembali yang dikatakan Tuannya, yaitu kembali ke kantor William yang kini memang sudah diambil alih sepenuhnya oleh Stevano.


"Baik Tuan, sekali lagi saya minta maaf."


Stevano pun bangkit diikuti sekretarisnya, berpamitan untuk pergi sekarang. Jason mengantarkan keduanya ke depan dan begitu mereka masuk mobil dan mobil sudah melaju, barulah Jason hendak kembali masuk tapi dirinya terkejut saat berbalik, tiba-tiba saja ayah mertuanya sudah berdiri di hadapannya.


"Sudah?" Tanya Alan.


"Sudah Yah, Jason mau ke kamar dulu bersiap, sebentar lagi harus berangkat."


Alan mengangguk, lalu begitu melihat Jason yang sudah menjauh, dirinya pun melangkahkan kaki pergi menghampiri sang istri yang tadi sedang bermain bersama cucunya.


Sementara itu, Jason yang baru sampai di kamarnya, melihat sang istri yang masih tidur nyenyak, hingga dia memilih untuk mandi terlebih dulu baru membangunkan istrinya.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama untuk Jason mandi, kini dia sudah keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya, tatapannya tertuju pada sang istri yang duduk di pinggir ranjang sambil memegangi selimut menutupi tubuhnya, memandangnya dengan wajah yang memberengut.


"Sayang kok aku gak dibangunin," bibir Lily sudah mengerucut beberapa senti.


Jason mendekat dan mengecup sekilas bibir istrinya.


"Maaf, aku juga belum lama baru bangun, tadi ayah yang membangunkan," jawab Jason yang memang tidak berbohong.


"Kamu mandi gih, aku sudah siapkan air hangat lalu kita makan bareng, soalnya sebentar lagi aku harus berangkat. Tadi Tuan Stevano datang.


"Tuan Stevano sampai datang kemari?"


"Hmm, soalnya ada meeting bersama klien."


"Ya sudah aku ambilkan pakaian kamu dulu."


"Kamu langsung mandi saja, aku bisa ambil sendiri, dan juga kalau kamu hanya seperti itu di depanku, aku takutnya malah aku tidak jadi berangkat."


"Memangnya kenapa tidak jadi berangkat?" 


"Ya karena aku akan memilih untuk menerkammu lagi."


"Sayang…" wajah Lily sudah merona mendengar perkataan suaminya itu.


"Ya sudah sana atau mau aku gendong?" Tanya Jason sambil menaik turunkan alisnya.


Lily justru mengangguk membuat Jason tersenyum dan dengan segera mengangkat tubuh istrinya ke kamar mandi. Setelah itu, Jason kembali keluar dan mulai bersiap.


*


*


Lily pergi menjemput putrinya, dia ikut mobil suaminya yang juga akan berangkat ke kantor.


Begitu sampai di depan sekolah Lily segera turun, Jason pun kembali melajukan mobilnya, takut terlambat karena mengingat kantornya berlawanan arah, di tambah sebentar lagi juga jam makan siang akan tiba. Lily masuk melewati gerbang dan melihat putrinya yang rupanya sudah menunggu dan duduk di sebuah bangku di temani seseorang, dia bahkan menyipitkan matanya melihat siapa orang yang tengah bersama dengan putrinya, tapi diperhatikan pun Lily sama sekali tidak mengenalnya.


"Cinta!" Panggil Lily yang kini semakin mempercepat langkahnya menghampiri sang putri.

__ADS_1


"Ibu…" sementara itu, Cinta yang melihat Lily langsung berlari dan memeluknya.


 


__ADS_2