Please Love Me

Please Love Me
Bab 302


__ADS_3

Dahlia menyeka air mata Lily yang terus turun begitu saja. Lily tersentak, dia bahkan tidak sadar jika dirinya menangis.


"Maafkan kakak."


Lily menggeleng, "Ini bukan salah kakak."


"Lalu kenapa kamu menangis? Disini hanya ada kamu dan kakak? Pasti kakak yang membuatmu jadi sedih seperti ini."


"Tidak kak."


Dahlia menatap Lily, hingga wanita itu pun akhirnya menjawab apa yang membuatnya tiba-tiba menangis.


"Aku hanya merindukan ibu, Kak."


Dahlia dengan segera menarik Lily ke dalam dekapannya. Dirinya juga sangat merindukan ibunya.


"Ibu sudah bahagia disana, Ly."


"Iya, Kakak benar." Lily mengurai pelukan dan tersenyum pada sang kakak.


"Aku baik-baik saja kak, oh ya, apa kakak sudah makan siang?"


Belum juga Dahlia menjawab, Al sudah ada di belakang kedua wanita itu, mengajaknya untuk makan bersama.


"Ayo Kak!" Ajak Lily yang kini sudah bangun dari duduknya.


Keduanya mengikuti Al yang sudah berjalan lebih dulu. 


"Ayah sama ibu belum pulang kak?"


"Belum, kata ayah nanti sore baru pulang."


"Oh ya, kalian ke ruang makan dulu saja, aku mau mengecek Cinta di kamar. Mungkin dia sudah bangun."


"Kakak ikut kamu saja!" Dahlia menahan tangan Lily, kemudian melirik Al yang berhenti dan menoleh menatap keduanya.


"Tidak apa-apa kak, aku hanya sebentar, nanti aku menyusul." Pandangan Lily kini tertuju pada Al yang hanya diam memperhatikan.


"Kak Al, ajak Kak Lia dulu!" Pintanya pada sang kakak.


"Ayo!" 


Dahlia bergantian memandang Lily dan Al, hingga akhirnya gadis itu melangkah perlahan mendekat ke arah Al. 


Setelah melihat kedua kakaknya pergi, Lily pun melanjutkan langkahnya, ke kamar untuk mengecek putrinya, apa sudah bangun atau belum.


"Loh putri ibu sudah bangun rupanya." Lily mendekat ke arah putrinya yang memegang ponsel sedang menonton video.


Lily menepuk dahi seraya mendekat, kenapa dia sampai lupa meletakkan ponsel di atas, pantas saja Cinta anteng-anteng saja begitu bangun.


"Bu, beli ini."

__ADS_1


Cinta menunjukkan sebuah robot yang sedang ditontonnya.


"Cinta perempuan, nanti belinya boneka saja ya?"


"No, Cinta mau yang ini."


"Hmm nanti bilang sama ayah, kalau ayah sudah pulang. Lagian kamu ini perempuan tapi sukanya semua mainan anak laki-laki," ucap Lily.


Cinta hanya menatap wajah ibunya, entah paham atau tidak.


"Sekarang Cinta cuci muka, lalu kita makan," tambah Lily


"Cinta lagi nonton Bu."


"Cinta! Ibu tidak suka Cinta membantah," Ucap Lily tegas.


Gadis kecil itu, langsung saja memberikan ponsel yang tadi dipegangnya kepada Lily, apalagi saat melihat wajah ibunya itu.


Cinta menyingkirkan guling yang menjadi pembatas tidurnya agar tidak jatuh, dan dengan perlahan merosot dari ranjang. Lily siaga berdiri takut kalau-kalau putrinya terjatuh.


Lily tersenyum saat Cinta berhasil turun, tangannya terulur menggandeng putrinya menuju kamar mandi membantu mencuci muka, sebelum akhirnya wanita itu, mengajak putrinya keluar untuk makan.


Cinta melepas genggaman tangan pada ibunya, lalu berlari menghampiri Al.


"Paman Al!"


Al yang duduk dengan posisi membelakanginya, menoleh lalu tersenyum. Bangun dan berjongkok menangkap tubuh Cinta.


"Hmm, Cinta kemudian membisikkan sesuatu pada Al dan Lily hanya mengernyit, sepertinya ada sesuatu diantara keduanya.


"Kenapa bisik-bisikkan gitu?"


"Tidak apa-apa, ayo Cinta duduk samping Paman!" Al mewakili Cinta untuk menjawab pertanyaan Lily.


"Mau dipangku paman," ucap putri pasangan Jason dan Lily manja.


"Hmm baiklah," Al menurunkan Cinta di pangkuannya. "Cinta mau juga paman suapin?" tanyanya pada gadis kecil itu kemudian.


Cinta menggeleng, "Cinta mau makan sendili."


"Hmm pintarnya, Cinta sudah gede rupanya." Al menciumi wajah Cinta gemas.


Lily menarik kursi dan duduk di samping Dahlia.


"Cinta tidak sapa Bibi Lia?"


Pandangan Cinta kemudian tertuju pada Dahlia.


"Halo Bibi."


Dahlia tersenyum, "Halo juga sayang."

__ADS_1


"Bu, Cinta mau makan yang itu," tunjuk Cinta pada makanan yang diinginkannya.


Lily dengan sigap mengambilkannya.


*


*


Ponsel Lily sedari tadi berdering, tapi pemiliknya masih sibuk mengobrol dengan Dahlia yang berhasil Lily tahan seharian ini, bahkan yang membuat Lily senang, akhirnya Dahlia mengiyakan bujukannya untuk menginap malam ini.


"Apa kakak sudah bertemu dengan keluarga kak Devan?" Pertanyaan itu akhirnya terucap juga, setelah dari tadi Lily mencoba untuk menelannya kembali.


"Belum, lagian hubungan Kakak dan Devan belum seserius itu. Kami sama-sama ingin mendapatkan pekerjaan dulu sebelum memikirkan rencana itu. Kakak juga belum siap. Masih banyak hal yang harus kakak lakukan." Ucap Dahlia dengan pandangan lurus ke depan.


"Kak Devan berarti belum pernah mengatakan rencananya untuk memperkenalkan kakak dan orang tuanya.


Dahlia menggeleng, menatap adiknya.


"Devan hanya bilang jika kita jalani saja."


"Berarti Kak Devan tidak serius dengan hubungan yang kalian jalani.


"Tidak kok, Devan serius dengan hubungan kami, tapi kami hanya sama-sama sepakat, tidak ingin terlalu menargetkan ini dan itu. Biar semua mengalir seperti air."


"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan tentang kakak? Kamu percaya dengan yang diucapkan Kak Al kemarin?" Tanya Dahlia menatap Lily penuh selidik.


Lily mendengus, "Kenapa kakak menatapku seperti itu? Memangnya salah, jika ingin tahu tentang kakaknya sendiri, aku hanya khawatir, takut kalau-kalau Kak Devan hanya mempermainkan kakak."


"Devan bukan orang seperti itu, dia orang yang baik," jawab Dahlia tersenyum, meyakinkan adiknya. Makanya kakak ingin mencoba hubungan dengannya, berharap kakak bisa melupakan dia, ya walaupun sulit, karena sejujurnya orang itu masih bertahta di hati kakak sepenuhnya. Kakak yang sebenarnya jahat Ly, karena kakak lah yang dari awal memanfaatkan Devan, terlebih Devan orang yang tidak mempertanyakan tentang masa lalu kakak, hingga kakak bisa menyimpannya rapat-rapat darinya tentang dia, bahwa kakak mencintai orang lain yang bukan dirinya," lanjut Dahlia dalam hati.


"Bagaimana kalau kita bercerita sambil berbaring saja, sepertinya lebih enak, ayo kak, kita ke kamar!" Ajak Lily bangkut dari duduknya dan melangkah lebih dulu.


"Kak!" Ucap Lily menghentikan langkah dan menoleh dan melihat Dahlia masih diam di tempatnya.


"Hmm." Jawab Dahlia yang heran saat melihat Lily kini sudah berdiri cukup jauh darinya.


"Ayo, kenapa kakak malah melamun?"


"Hah?"


"Ke kamar," jawab Lily sambil menunggu dahlia menghampirinya.


Setelah mengerti akhirnya bangun lalu menyusul langkah Lily, masuk ke dalam kamar yang biasa adiknya tempati.


Dahlia menatap kamar Lily yang tentunya 3 kali lipat dari kamar di rumahnya. Dipikir-pikir, Dahlia kadang masih belum percaya, bahwa Lily adalah adik kandung Al.


"Melamun lagi," gerutu Lily.


"Maaf, kakak hanya takjub melihat kamarmu, oh ya, memangnya tidak apa-apa kakak tidur di kamar ini? Ini kan kamar kamu dan suamimu," Kata Dahlia tidak enak.


"Kamarku dan suamiku ada di atas, ini hanya kamar cadangan saat keadaan aku seperti ini. Dan lagi, kakak nanti akan tidur di tempat yang biasa aku tempati, aku yang akan tidur di bekas suamiku. Aku yakin suamiku tidak keberatan," jawab Lily yang kemudian menepuk keningnya saat mengingat sesuatu. 

__ADS_1


"Tunggu sebentar kak, hmm atau kakak mungkin mau berganti pakaian dulu, kakak masuk saja ke ruangan itu, di lemari bagian kiri, di sana ada baju-baju milikku, kakak pakai saja." Setelah mengatakan itu, Lily berjalan pergi menuju meja rias, mengambil ponsel yang tadi sore dia letakkan di sana.


__ADS_2