Please Love Me

Please Love Me
Part 117


__ADS_3

"Kenapa mendadak baru bilang jika akan pergi? Apa tidak bisa ditunda sampai besok?" Tanya Lily begitu dirinya masuk ke dalam mobil suaminya.


"Tuan Muda juga memberitahunya mendadak sayang, tadi pagi saat rapat, makanya setelah rapat selesai aku langsung menghubungimu, kata Tuan Muda juga aku bisa istirahat dulu, sebelum berangkat nanti setelah jam makan siang, karena kemungkinan aku akan pergi naik mobil," kata Jason menjelaskan.


"Kamu sendirian?" 


"Tidak, bersama sekretarisku, jadi nanti bisa bergantian bawa mobilnya, lagian perjalanan juga tidak terlalu tidak jauh, hanya menghabiskan waktu 4 jam," jawab Jason menoleh ke arah istrinya, kemudian mulai menjalankan mobilnya menuju ke kediaman Alan.


"Sekretaris? Laki-laki atau perempuan? Apa aku pernah melihatnya di kantor?"


"Perempuan, dia yang pernah memanggilmu saat aku minta dibuatkan sarapan," jawab Jason jujur.


"Yang pernah memanggilku?" Lily tampak berpikir, mengingat-ingat perkataan suaminya.


"Wanita badut itu?"


"Pfft," Jason menahan tawanya, istrinya itu ada-ada saja sampai mengatai sekretarisnya badut, "Ya memang mirip sih," lanjut Jason dalam hati.


"Kenapa? Kalau mau tertawa, tertawa saja, lagian benar apa yang aku katakan, dia wanita yang memakai pakaian kurang bahan dengan make up yang tebal, serta lipstik warna merah menyala kan? Itu memang terlihat seperti badut," kesal Lily.


"Mungkin memang iya," jawab Jason membenarkan ucapan istrinya.


"Kamu hanya pergi berdua dengan dia?" Tanya Lily menekuk wajahnya.


"Iya, mau bagaimana lagi, kan dia sekretarisku," Jason menoleh ke arah istrinya yang kini terdiam.


"Kenapa sayang?" Tanya Jason akhirnya.


Lily hanya menggeleng, kemudian dirinya menatap ke luar jendela memandangi jalanan yang dilalui selama perjalan menuju ke rumahnya.


"Sudah sampai," kata Jason melepas seatbelt dan memutar kepalanya ke samping, di lihatnya istrinya kini malah terlalap.


Jason tersenyum, di usapnya pipi sang istri, "Rasanya tidak tega meninggalkanmu sayang, aku pasti akan merindukanmu," Jason kemudian turun dari mobil, berlari kecil menuju pintu mobil pada kuris samping kemudi.


Membuka pintu perlahan, dan melepaskan seat belt istrinya dengan hati-hati, kemudian pelan-pelan dia angkat tubuhnya pelan-pelan.


Penjaga langsung sigap, berlari membukakan pintu untuk majikannya.


"Terima kasih," Jason langsung berlalu begitu saja.


"Tuan, Nona kenapa? Tanya Bi Nia yang langsung berlari menghampiri putri majikan dan suami Nonanya yang sedang mengangkat tubuh Lily.

__ADS_1


"Sstt, Lily tertidur Bi, oh ya Bi, tolong bukain pintu kamar ya," ucap Jason meminta tolong pada pelayan kepercayaan Ayah mertuanya.


"Baik Tuan," Bibi pun segera menaiki anak tangga, agar lebih sampai terlebih dulu.


"Terima kasih Bi," ucap Jason pada wanita paruh baya itu.


"Sama-sama Tuan, ada yang lagi bisa saya bantu?" Tanya Bibi barangkali majikannya itu membutuhkan bantuannya.


"Sudah Bi tidak ada lagi," jawab Jason dengan suara yang teramat pelan.


"Baik Tuan, jika nanti perlu bantuan, Tuan bisa panggil saya lagi aja, kalau begitu saya permisi terlebih dulu," Setelah melaksanakan perintah Tuannya, Bibi pun pamit undur diri.


Jason hanya mengangguk dan membawa istrinya masuk kemudian merebahkannya di atas ranjang dengan pelan dan hati-hati, takut istrinya akan terbangun.


Ditatapnya wajah sang istri, disingkirkannya anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik istrinya. Jason mendekatkan wajahnya dan kemudian mengecup keningnya lama sebelum dirinya beranjak untuk membereskan pakaiannya.


Setelah selesai memasukkan pakaian yang akan dipakainya ke dalam koper, Jason pun ikut berbaring di samping istrinya, dan memeluk Lily erat.


***


Liora berjalan memasuki salah satu toko di dalam pusat perbelanjaan, dirinya tampak serius memilih barang yang akan dibelinya. Saat dirinya mengambil salah satu barang yang hanya tinggal satu-satunya, bertepatan dengan tangan seseorang yang ikut mengambil barang itu.


"Anda"


"Kamu"


Ucap Liora dan orang itu bersamaan.


Liora menghela nafasnya panjang, "Dari sekian banyak tempat, kenapa harus bertemu pria menyebalkan ini lagi," gerutu Liora pelan.


"El, aku masih bisa mendengar ucapanmu, dan harus kamu tahu aku bukan pria menyebalkan seperti yang tadi kamu katakan. Oh iya ngomong-ngomong, sudah tiga kali loh kita bertemu, seperti yang aku katakan waktu pertemuan pertama kita, pasti kita itu berjodoh," kata pria itu dengan penuh percaya diri.


Liora hanya memutar bola matanya, malas mendengarkan ocehan pria yang katanya bernama Ronald, kenapa Liora harus mengingat namanya, padahal tidak penting baginya sama sekali harus mengingat nama pria asing itu.


"Ini punyaku," Liora menarik barang yang tadi diambilnya.


"Tapi ini juga punyaku," Ronald menarik barang yang juga masih dipegangnya.


Liora menatap tajam Ronald, tapi Ronald tidak takut sedikitpun, dia malah tersenyum, tersenyum sangat lebar.


"Gila!" Umpat Liora.

__ADS_1


"Wah gadis cantik seperti kamu ternyata sangat pandai mengumpat!" Ronald seperti merasa takjub mendengar umpatan Liora.


Liora mendelik tidak percaya dengan respon pria itu.


Liora kembali menarik barangnya, dia kira Ronald lengah dan bisa melepasnya. Nyatanya pria itu masih memegangnya erat.


"Tidak semudah itu Nona El, baiklah aku akan mengalah dan memberikan ini untukmu," kata Ronald terdengar pasrah.


Liora kembali menarik barang itu, ketika mendengar yang Ronald katakan, tapi nyatanya pria itu tidak melepaskannya. Hingga terjadilah tarik menarik diantara mereka.


"Aku akan berikan, asal kamu menulis nomor ponselmu disini Nona," Ronald menyerahkan ponselnya kepada Liora.


Dalam hati Ronald bersorak senang, saat Ronald melihat Liora mengambil ponsel dari tangannya secara paksa dan memencet beberapa angka yang tertera di layar.


"Berikan!" Kata Liora menatap tangan Ronald yang masih setia di barang yang tadi rebutan keduanya.


Ronald pun akhirnya melepaskan, setelah menerima ponselnya kembali. Kemudian Liora pun mengambil barangnya dan membawanya ke kasir, meninggalkan Ronald yang tengah tersenyum menatap pada layar ponselnya.


"Pesona Ronald pasti akan membuat semua wanita luluh," gumamnya penuh percaya diri sambil menatap Liora yang kini sudah menjauh darinya.


Tapi Ronald yang tersadar langsung mengejar Liora yang menuju ke kasir. Dan saat Liora akan membayar, Ronald menyerahkan black card tanpa limit pada kasir.


"Biar saya yang membayarnya," ucap Ronald memegang black card itu di depan wajahnya, sambil mengedipkan sebelah matanya. Ronald yakin Liora pasti tidak akan menolaknya lagi.


"Saya yang membayarnya," ucap Ronald pada kasir, lalu memberikan kartunya.


"Tunggu sebentar Tuan," kata kasir itu pada Ronald.


"Mbak nanti berikan barang itu padanya," kata Liora menunjuk pada barang tadi yang menjadi rebutan dengan Ronald, sekaligus barang yang akan Ronald bayar.


Setelah mengatakan itu pada kasir, Liora segera pergi dari tempat itu, meninggalkan Ronald yang terbengong di tempatnya. Dirinya benar-benar tidak percaya, bahwa akan menemui gadis seperti Liora. Saat Ronald akan mengejar, pegawai kasir itu memanggilnya, membuat Ronald mengurungkan niatnya.


"Tuan, kartu dan barang Anda," ucap kasir itu pada Ronald.


Ronald menunggu kasir membungkus barangnya sembari menatap punggung Liora yang semakin menjauh.


"Gadis yang menarik, aku yakin kita akan bertemu lagi," gumam Ronald kemudian teringat jika dia sudah memiliki nomor ponsel Liora.


Ronald berjalan dengan bersiul sepanjang kakinya melangkah, hingga saat sampai di mobilnya. Ronald segera masuk ke mobil dan duduk di kursi kemudi, Ronald kembali menatap ponselnya, hingga dia yang penasaran pun akhirnya mendial nomor yang tadi Liora berikan.


"S*it!" Umpat Ronald begitu panggilannya terhubung dan mendengar jawaban dari orang di seberang sana. Tanpa banyak kata lagi, Ronald langsung mematikan panggilan itu.

__ADS_1


__ADS_2