
"Aku ingin Kak Al yang memutuskan sendiri setelah mendapat jawaban dariku, Kak Al berhak memilih antara bertahan atau melepaskan," ucap Dahlia sungguh-sungguh.
"Apa maksud kamu? Kenapa kau berbicara seperti itu?" Tanya Al yang tidak menyangka dengan jawaban Dahlia.
"Tidak, lebih baik tidak perlu dikatakan," kata Al kemudian, dia takut akan mendapat penolakan dari gadis yang diam-diam telah mengisi hatinya itu, gadis yang baru dikenalnya tapi berhasil menggeser posisi gadis yang dicintai selama bertahun-tahun dalam waktu singkat.
"Harus aku katakan Kak, karena ini menyangkut kita kedepannya, Kak Al tahu aku akan pergi dan aku tidak bisa membatalkannya begitu saja, apalagi itu adalah impianku, aku tidak mungkin melepaskan mimpiku begitu saja, aku cinta sama Kak Al, dan aku tidak mau egois menahan Kak Al tetap bertahan disisiku, sementara kita akan terpisahkan jarak dan waktu. Aku tidak mau Kak Al…"
"Sstt!" Al meletakkan jari telunjuk di bibir Dahlia.
"Stop jangan teruskan lagi, aku juga tidak mau egois, raihlah impianmu! Aku tidak akan pernah melarangmu melakukan itu, karena aku sendiri punya mimpi yang harus aku raih," ucap Al menatap Dahlia.
Dahlia menunduk, ini keputusannya, tetapi entah kenapa dia kecewa mendengarkan jawaban Al, padahal Dahlia sudah mempersiapkan hati, jika mungkin pada akhirnya Al akan melepaskannya.
Al perlahan mengangkat dagu Dahlia, "Raihlah impianmu, aku disini akan menunggumu, aku tidak peduli kita dipisahkan oleh jarak, karena jarak masih bisa kita tempuh sejauh apapun itu."
"Jadi Kak Al…"
"Ya, jawabanku iya, aku akan menunggu sampai kamu kembali, jadi mari kita berjuang untuk impian kita masing-masing, untuk mengejar impian kita berdua," kata Al yang masih dengan tatapan yang sama, yaitu menatap Dahlia dengan seluruh perasaannya.
Al bersyukur, setidaknya dia tidak terlambat untuk mendapatkan cintanya, ya walaupun mereka harus terpisah untuk beberapa waktu, Al tidak akan mempermasalahkan itu, karena baginya mendapat cinta Dahlia adalah hal yang utama.
"Hmm jadi Dahlia, bolehkah aku…" Al menatap bibir Dahlia yang terlihat menggoda di matanya.
__ADS_1
Dan Dahlia yang menyadari kemana arah pandang pria itu, seketika membuat wajahnya merona.
"Bagaimana apa kamu mengijinkannya?" Tanya Al mengusap pipi Dahlia yang ada semburat merahnya dengan lembut.
Dahlia tampak mengangguk malu-malu.
"Kenapa harus meminta izin ku dulu sih? Tidak tahu apa aku sangat malu," ucap Dahlia dalam hati.
Perlahan, Al mendekatkan wajahnya ke wajah Dahlia, dan tiba-tiba saja, sesuatu yang kenyal sudah mendarat di bibir Dahlia..
Tubuh Dahlia menegang, bahkan kedua tangannya meremas celana jeans yang dikenakannya.
Al tersenyum dan mengusap bibir Dahlia dengan ibu jarinya, menghapus sisa saliva yang tertinggal di bibir gadis itu.
"Sudah turun, nanti kamu terlambat," ucap Al kemudian.
Al tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Dahlia saat ini. Tapi tiba-tiba Al kembali terdiam mengingat kata-kata Dahlia tadi.
"Kau memutuskan pergi berawal dari salahku, dan aku akan menerima akibat dari kesalahanku, aku akan menunggumu disini sampai kau kembali nanti, dan akan aku habiskan waktu kita dengan memberikanmu kenangan manis, aku tidak tahu apa yang terjadi kedepannya di saat kita berjauhan, tapi aku percaya jika memang kita ditakdirkan bersama, cepat atau lambat kamu akan menjadi milikku Dahlia, dan aku sangat berharap untuk itu. Berharap bahwa kaulah takdirku," gumam Al segera turun dari mobil untuk menuju ke kelasnya.
*
*
__ADS_1
"Kenapa kau bisa di tempat tadi? Itu rumah siapa? Setahuku kau tidak punya teman yang tinggal di situ, dan lihatlah pakaianmu tadi! Apa kau tidak takut ada orang yang berbuat jahat padamu, kau seorang gadis dan kau sendirian di tempat sepi seperti itu, bagaimana kalau ada pria yang punya niatan buruk?"
"Sudah ngomelnya, sedari tadi kamu terus mengomel seperti itu bahkan di sepanjang jalan, apa kau tidak lelah? Aku tahu aku salah, jadi cukup ya tidak perlu di ulang-ulang lagi," kata Liora menutup telinganya yang terasa panas karena sejak Jack menjemputnya bahkan di sepanjang jalan mereka pulang ke rumah, Jack tidak pernah berhenti mengomel.
"Maaf, aku seperti ini demi kebaikanmu, aku hanya tidak ingin terjadi hal buruk padamu, aku mengkhawatirkanmu Liora," ucap Jack yang membuat Liora terdiam.
"Aku tahu aku salah, tapi aku jadi semakin merasa bersalah jika kamu terus mengomel seperti itu, makanya aku ingin kamu berhenti," kata Liora pelan.
Jack tersenyum, "Baiklah aku akan berhenti, jadi sekarang kita beneran akan pulang, kamu yakin pulang dengan penampilan seperti itu?" Tanyanya.
"Tapi aku kan sudah memakai jasmu jadi kurasa tidak masalah," jawab Liora melihat penampilannya yang terbuka dan kini sudah tertutup dengan jas yang dipakai pria itu.
"Baiklah sesuai keinginanmu, tapi kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, kamu sebenarnya pergi sama siapa? Kenapa sampai ke tempat itu? Dan kenapa kamu juga berpenampilan seperti ini? Ini bukan seperti kamu Liora," ucap Jack yang masih penasaran kenapa Liora tiba-tiba menghubunginya dan minta jemput tapi di lokasi yang cukup jauh, dan Jack yakin jika Liora tidak pernah ke tempat itu, dan begitu melihat Liora, Jack begitu terkejut melihat penampilan Liora yang begitu terbuka, hingga dengan cepat dirinya melepas jasnya dan memakaikannya di tubuh gadis itu, itulah alasan kenapa sedari menjemput bahkan sampai di perjalanan, Jack terus saja mengintrogasi gadis itu.
"Sudahlah tidak perlu membalas itu lagi, aku benar-benar malas membahasnya," jawab Liora.
"Awas saja kau Ronald ini semua gara-gara kamu, untungnya ada Jack, jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi," tambah Liora dalam hati.
"Tapi Liora…" ucapan Jack tiba-tiba diputus oleh Liora.
"hoam," Liora menguap dan dengan cepat menutup mulutnya.
"Aku mau tidur ya, kalau sudah sampai bangunkan, ngantuk banget rasanya," ucap Liora yang kemudian melipatkan kedua tangannya di depan dada memalingkan wajahnya menghadap jendela dan memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, Liora pun benar-benar tertidur, sepertinya Liora benar-benar lelah.
Jack menepikan mobilnya dan menatap gadis yang duduk terpejam di sampingnya, "Aku hanya takut terjadi sesuatu yang buruk padamu, apalagi kau pergi dengan penampilan seperti itu tanpaku, apa kamu tidak bisa hati-hati dan merasa waspada kepada seseorang yang baru kau kenal? Bagaimana kalau ada niat tersembunyi darinya yang mungkin saja akan memanfaatkanmu?" Ucapnya menyelipkan helaian rambut Liora yang menutupi wajah gadis itu ke belakang telinga, kemudian menurunkan tempat duduk Liora agar gadis itu tidur dengan nyaman, setelah itu Jack pun kembali melajukan mobilnya menuju ke kediaman Anderson.