Please Love Me

Please Love Me
Bab 235


__ADS_3

Liora turun dari mobil, dia menatap rumah besar yang ada di hadapannya, Liora menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Dia kemudian melangkah dan menarik kopernya, Liora memutuskan untuk pulang seperti yang Ronald katakan, setelah berpikir cukup lama, gadis itu membenarkan apa yang kekasihnya ucapkan. Setelah satu minggu dirinya pergi, kini Liora kembali ingin memperbaiki hubungannya dengan keluarganya, jika papinya mungkin Liora bisa menghadapinya tapi dengan Max… Liora harus memikirkan cara untuk meluluhkan hati kakaknya itu.


Para pengawal dan pelayan yang berpapasan dengan Liora menunduk hormat, kemudian salah satunya berlari ke arah samping untuk memberi kabar kepada sang nyonya rumah jika Nona mereka telah kembali.


Tiffa yang mendengar itu tersenyum senang, dia yang sedang berada di taman bersama Alno segera masuk lewat samping, dan dengan menggandeng Alno berjalan cepat untuk menemui putri satu-satunya yang sudah satu minggu lamanya meninggalkan rumah.


"Sayang kamu sudah pulang? Kamu tahu Mami sangat mencemaskanmu?" Ucap Tiffa dan langsung memeluk putrinya.


"Iya Mi, maafkan El ya Mi, maaf sudah selalu bikin Mami khawatir atas sikap kekanak-kanakan dan keras kepala El," jawab Liora yang langsung membalas pelukan maminya.


"Mami juga minta maaf, maaf karena tidak memikirkan perasaan juga mengerti kamu sayang, tapi percayalah, Mami dan papi juga kakak-kakak kamu melakukan itu, karena memang sayang sama kamu, kami semua tidak ingin kamu sampai terluka lagi, dan mulai sekarang, Mami janji mami akan mendukung apapun yang kamu lakukan jika itu memang  baik, dan Mami akan berusaha untuk membantumu meyakinkan Kak Max dan Papi tentang hubunganmu dengan Nak Ronald, semoga saja mereka mau mendengarkan Mami," kata Tiffa melepas pelukan dan menyelipkan rambut Liora ke belakang telinga.


"Terima kasih Mi, El sayang sama Mami," ucap Liora kemudian kembali memeluk maminya.


"Bibi El tidak sayang sama Alno hanya sayang sama Oma," ucap anak kecil yang sedari tadi memperhatikan oma dan bibinya.


Liora melepaskan pelukan, kemudian menatap Alno yang baru dia sadari keberadaannya. Dirinya kemudian bersimpuh menyamakan tingginya dengan keponakannya itu, kemudian memeluknya.


"Tidak dong sayang, Bibi El juga sayang sama Alno," ucap Liora yang kemudian menciumi seluruh wajah Alno gemas. Dan Liora baru menghentikan aksinya saat Alno berteriak kegelian.


"Oh ya Mi, semua orang kemana? Kok sepi?"


"Papi sama Kak Vano kan di kantor, ohh ya minggu depan Kak Vano akan diangkat sebagai pemimpin yang baru, karena Papi memutuskan akan secepatnya berhenti."

__ADS_1


Liora mengangguk mengerti, "Lalu Kak Olive?"


"Kak Olive tinggal bersama Ibunya sekarang, Kan Mami sama Papi juga bolak-balik untuk tinggal di rumah Kak Max kemarin-kemarin. Ini aja Mami baru pulang tadi pagi karena sekarang mommy nya Kak Flo sudah ada disini," jawab Tiffa.


Tiffa kemudian mengajak Liora untuk duduk di sofa. Liora menggandeng Alno dan mengangkat tubuh Alno dan mendudukan di di pangkuannya. Dan anak itu diam memperhatikan apa yang Liora dan Tiffa obrolkan.


"Terus kamu sendiri bagaimana sayang? Kak Vano sebenarnya sudah bilang sama Mami dan Papi, agar kamu mengurus perusahaan yang ditinggalkan ayah, karena Kak Vano tidak mungkin mengurus dua perusahaan sekaligus dengan keadaan yang sekarang. Dan Kak Vano, ingin Mami menyampaikannya padamu."


"Maaf Mi, sepertinya El tidak bisa, lagian kan masih ada Kak Jason yang mengurusnya dan lagi, El ingin melakukan sesuatu yang aku inginkan, tapi El juga butuh bantuan Mami."


Tiffa mengernyit menunggu putrinya selesai berbicara.


Liora menatap Tiffa ragu, tapi akhirnya gadis itu pun mengatakan keinginannya.


"Baiklah, oh ya sayang kamu sudah makan belum?" 


Liora menggeleng, dirinya bahkan sampai lupa makan saat memikirkan dirinya lebih baik kembali atau tidak.


"Ya sudah lebih baik kamu ke kamarmu, Mami akan memasakan makanan untukmu," ucap Tiffa.


"Baiklah Mami sayang, ya sudah kalau begitu El ke kamar dulu," ucap Liora yang kemudian menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Baru saja dirinya hendak berbaring, ponselnya berdering dan dia pun buru-buru mengambil ponselnya yang masih di dalam tas dan begitu tahu siapa yang menghubunginya, senyum Liora langsung mengembang dan segera menjawab panggilan itu.


"El aku minta maaf, aku hanya memberi saran saja, tapi jika kamu memang belum mau pulang jika tidak apa-apa," kata Ronald karena setelah dirinya mengatakan Jika Liora sebaiknya pulang, Liora langsung memutuskan panggilan mereka, dan Ronald mengira jika Liora marah padanya.

__ADS_1


Liora tersenyum, padahal bisa dipastikan jika Ronald tidak bisa melihat senyumannya.


"Baiklah aku maafin, tapi ada syaratnya," kata Liora.


"Hmm katakan saja, apa syaratnya, apapun pasti akan aku lakukan," jawab orang di seberang telepon.


"Aku pikirkan dulu, nanti jika sudah terpikirkan aku pasti akan memberitahumu."


"Oh ya Ronald sudah dulu ya, aku ada urusan," ucap Liora yang sepertinya mendengar suara langkah kaki seseorang mendekat.


"Baiklah, aku juga sebentar lagi akan pulang," jawab Ronald.


"Ya hati-hati pulangnya, bye," Liora pun segera memutuskan panggilan bersamaan dengan seseorang yang masuk ke dalam kamarnya, yang ternyata orang itu adalah Max.


"Sudah puas main-mainnya di luar?" Max melangkah mendekat kemudian memilih duduk di sofa.


Liora hanya memutar bola matanya malas, bagaimana dia tidak marah, jika Max seperti sengaja memancingnya.


"Sudahlah Kak, jika tidak ada hal penting yang akan Kak Max sampaikan, lebih baik Kakak keluar sekarang, aku mau mandi," kata Liora yang kemudian bangkit dan mengambil handuk dan pakaian gantinya.


"Jangan lupa jika keluar tutup pintunya," kata Liora yang hendak masuk ke kamar mandi, tapi langkahnya berhenti, ketika mendengar ucapan Max.


"Kenapa tidak kamu buka saja hatimu untuk Jack? Yang Kakak lihat dia tulus menyayangimu."


Liora berbalik dan menatap Max, "Jika aku bisa lakukan, sudah aku lakukan hal itu sejak dulu, di saat aku belum bertemu Ronald, tapi sayangnya perasaan tidak bisa dipaksa Kak, jika pun aku menerima Jack, tapi hatiku tidak mencintainya, bukankah aku orang yang jahat, itu sama saja aku menyakitinya, dan aku tidak mau melakukan itu kak, karena apa? Karena aku tahu sakitnya gimana kita mencintai seseorang, tapi orang yang kita cintai justru mencintai orang lain," ucap Liora sebelum akhirnya gadis itu yang benar-benar masuk ke dalam kamar mandi, Liora menutup pintu dan menyandarkan tubuhnya disana, dirinya merasa sakit karena Kakaknya Max tidak juga mengerti dirinya.

__ADS_1


__ADS_2