Please Love Me

Please Love Me
Bab 297


__ADS_3

Seorang wanita dengan perut buncitnya baru saja membuka mata perlahan. Tangan kanannya meraba-raba tempat tidur sampingnya, kosong. Padahal waktu terbangun semalam, Lily melihat putrinya tidur bersamanya.


Lily bangun perlahan, saat hendak turun, tiba-tiba pintu terbuka. Lily menunggu siapa yang datang, tapi tidak kunjung masuk, hingga tak lama barulah dia melihat siapa orangnya. Jason dengan membawa nampan berisi makanan kini masuk, dan menutup pintu dengan kakinya.


"Sudah bangun?" Senyum Jason mengembang membuat Lily juga ikut tersenyum, sebelum menjawab pertanyaan suaminya.


"Seperti yang kamu lihat."


"Ya tentu saja kamu sudah bangun, jika belum mana mungkin kamu menjawab pertanyaanku tadi, benar bukan?".


"Nah itu tau."


"Oh ya, ini aku sudah membuatkan sarapan untukmu. Kamu makan dulu!" Jason meletakkan makanan di atas meja, Lily yang melihat itu, turun dan berjalan menghampiri dan duduk di sofa sambil melihat suaminya.


"Terima kasih," ucap Lily.


"Kamu makan dulu saja, nanti aku menyusul," kata Jason yang hendak beranjak, tapi Lily dengan segera menahan tangannya.


"Kamu mau kemana?"


"Mau berganti pakaian sebentar, nanti aku kesini lagi," jawab Jason yang memang sudah mandi terlebih dahulu sekalian memandikan Cinta sebelum tadi dirinya turun ke dapur untuk membuatkan sarapan untuk istri tercintanya.


Lily mengangguk mengerti. Jason mengusap rambut Lily sebelum akhirnya pria itu berjalan menuju ke walk in closet.


Lily bangun dan berjalan ke kamar mandi, sambil menunggu suaminya berganti pakaian. Jason yang baru keluar, terkejut saat melihat istrinya tidak ada di sofa, bahkan makanan pun masih terlihat utuh, hingga akhirnya Jason mendengar suara gemericik air di kamar mandi.


"Ya ampun sayang, kamu mengejutkanku!" Lily memegang dadanya kaget karena begitu membuka pintu, Jason berdiri tepat di hadapannya.


Bukannya menjawab, Jason kini justru merangkul lengan sang istri, mereka berjalan kembali menuju sofa dan duduk di sana.


"Kenapa tidak makan dulu?" Kata Jason mengambil piring berisi sandwich dan memberikannya pada Lily.


"Aku mau kita makan sama-sama, tidak enak makan sendiri."


Jason tidak lagi berkata, karena dirinya juga merasa seperti itu jika makan sendiri, makanya dia memilih untuk pulang jika tiba jam makan siang. Biasanya Lily akan mengantarkan makanan ke kantor dan mereka akan makan disana. Tapi semenjak kehamilan Lily yang semakin membesar, Jason tidak tega. Tidak ingin istrinya kelelahan karena terus datang ke kantor, Jason memutuskan agar dirinya yang pulang jika memang tidak ada jadwal bersama kliennya.


"Oh ya Cinta mana sayang?"

__ADS_1


"Diculik."


"Apa? Siapa yang menculiknya? Kenapa kamu malah disini dan tidak mencarinya," Lily meletakkan begitu saja piring yang tadi di pegangnya, hendak bangun untuk mencari Cinta tapi dengan cepat Jason mencegahnya."


"Sayang, jangan panik dulu, maksud aku Cinta diculik kakak kamu, entahlah dia mau mengajak Cinta kemana."


"Kakak?"


"Dahlia." 


Tadi pagi-pagi, Jason bangun karena putrinya yang terus menepuk-nepuk pipi Jason. Tidak ingin mengganggu tidur Lily yang masih nyenyak, Jason turun dari ranjang, menggendong Cinta dan membawanya keluar. Karena hari yang masih begitu pagi, Jason mengajak Cinta berjalan-jalan sebentar di depan rumah. Hingga waktu menunjukkan pukul 6 Jason mengajak putrinya mandi, tidak di kamar bawah yang mereka tempati, tapi kamar mandi yang ada di lantai atas. 


Jason tersenyum dengan hasil karyanya, bedak bayi yang tebal dan rambut Cinta yang masih pendek dia kuncir dua. Setelah dirasa putrinya sudah cantik, Jason membawanya keluar, tepatnya menuju dapur, dia ingin membuatkan susu untuk Cinta dan juga istrinya. Tapi samar-samar terdengar ayahnya seperti sedang mengobrol dengan seseorang, ya karena pintu depan terbuka lebar, membuat Jason bisa mendengarnya. Jason berjalan ke depan, penasaran ayahnya sedang mengobrol dengan siapa karena ibunya sedang di dapur untuk menyiapkan sarapan.


Dan begitu di depan, rupanya Dahlia kakak Lily yang datang, Dahlia bangun dan langsung menyapa Cinta. Awalnya Cinta hanya terus melihat gadis itu, merasa asing karena tidak pernah melihat di sekitarnya. Dahlia membujuk Cinta agar mau di gendongnya, awalnya gadis kecil itu menolak, tapi saat Dahlia menawarkan akan membeli mainan, dengan cepat Cinta mengulurkan tangan pada tantenya itu.


Jason yang memang ingin membuat susu, akhirnya menitipkan Cinta pada Dahlia, sekaligus membiarkan Dahlia agar lebih dekat dengan keponakannya. Dan setelahnya Dahlia minta izin untuk mengajak Cinta jalan-jalan dulu sambil menunggu adiknya bangun. Jason dan Alan mengiyakan. Setelah kepergian Dahlia, Jason kembali masuk dan membawakan sarapan yang tadi sempat dibuatnya, ke kamar untuk Lily, sekaligus dirinya akan bersiap untuk pergi ke kantor.


"Kak Lia sudah pulang? Kapan? Terus Kak Lia nya kemana? Aku mau menemuinya dulu." Lily akan kembali bangun tapi lagi-lagi Jason menahan.


"Hmm baiklah."


"Ya sudah, sekarang kamu makan dulu. Kasihan anak kita yang ada disini," ucap Jason mengelus perut Lily.


Lily mengangguk, kemudian mereka mulai menyantap makanan mereka.


"Oh ya sayang, sepertinya nanti siang aku tidak bisa pulang, ada jadwal pertemuan dengan klien di restoran, jadi mungkin aku akan sekalian makan disana," beritahu Jason.


"Iya kamu hati-hati. Hmm nanti  aku juga mau pergi sama Ibu untuk membeli keperluan anak kita."


Jason mengangguk, "Kamu juga hati-hati, jika sudah merasa lelah pulang saja, kalau tidak kamu duduk dan minta tolong sama ibu."


"Iya, kamu tidak perlu khawatir."


Jason segera membereskan bekas makannya tadi, kemudian sepasang suami istri itu berjalan bersama keluar kamar. 


"Aku bawa ini ke dapur dulu," pamit Jason, berjalan cepat menuju dapur dan meletakkan piring dan gelas kotor. Tak lama pria itu kini sudah kembali bersama Lily.

__ADS_1


"Aku berangkat dulu!" Jason mengecup kening Lily yang mengantarnya hingga depan. Alan sudah tidak ada disana, Bibi bilang jika ayah Lily tadi keluar bersama tetangga sebelah.


Jason masuk ke dalam mobil, Lily melambaikan tangan saat mobil yang suaminya kendarai mulai melaju, saat Lily akan masuk, Lily melihat sebuah taxi datang, dan Lily tersenyum melihat siapa yang keluar dari sana.


"Ibu!" Cinta berteriak memanggilnya. 


Lily turun perlahan, menghampiri kakaknya. Lily langsung memeluk kakak perempuannya itu, dengan Cinta yang berada di tengah-tengah mereka.


"Ibu, ante, Cinta tidak bisa belgelak," protesnya dengan bibir yang mengerucut.


Lily gemas melihat ekspresi Cinta saat ini, menciumi wajah putrinya, tapi Cinta justru menghapus bekas ciuman ibunya dengan cepat.


"Nanti bedak Cinta hilang ibu." Katanya yang memang tidak suka jika hasil dandanan ayahnya rusak.


"Kamu tidak perlu khawatir, bedak kamu masih banyak di dalam, nanti tinggal kasih lagi."


"Tidak mau, kan ayah tadi yang kasih bedak ke Cinta."


"Jika ayahnya yang membantunya mandi dan bersiap, dia tidak mau hasil karya ayahnya dihapus, dan diganti, katanya biar hilang sendiri, kasihan ayah capek dandanin Cinta."


Lily menjelaskan kebiasaan putrinya pada sang kakak. Dahlia mengangguk, keponakannya sangat lucu.


"Pantas saja tadi saat kakak akan menciumnya, dia tidak mau."


"Ya begitulah kak."


"Oh iya ayah mana ibu?" Tanya Cinta yang tidak juga melihat ayahnya.


Lily kembali menoleh ke arah putrinya saat menanyakan ayahnya.


"Ayah sudah berangkat kerja tadi sayang."


"Kelja, kenapa tidak kasih tahu Cinta? Ah Cinta mau nyusul ayah, ayo ibu kita pelgi ke tempat kelja ayah! Ayo!" Cinta kini merengek meminta untuk menyusul ayahnya, begitulah dia jika ayahnya berangkat dan dia tidak melihat perginya. 


"Ini gala-gala ante!" Cinta menangis dan meminta turun dari gendongan Dahlia.


 

__ADS_1


__ADS_2