
"Ibu sama ayah pulang saja dulu, istirahat, biar Jason yang jaga Lily," Ucap Jason yang kasihan melihat kedua mertuanya yang sampai terkantuk-kantuk.
"Tapi beneran tidak apa-apa, kamu juga pasti lelah habis kerja langsung kesini, kamu bahkan belum istirahat," Alan menatap menantunya, kemudian beralih pada putrinya yang sudah tidur sesekali menutup mulutnya, menguap.
"Tidak apa-apa yah, Jason nanti bisa istirahat disini, besok saja ayah kesini lagi bawa anak-anak, sore tadi anak-anak bilang ingin melihat adiknya."
Alan tampak berfikir, dia kemudian menatap istrinya yang duduk di sebelahnya tidur juga, dan Alan yakin jika Dea pasti tidak nyaman tidur seperti itu. Dia juga teringat kedua cucunya, untung saja Dahlia mau tetap di rumahnya dan menemani mereka, sambil menunggu salah satu dari mereka kembali.
Alan menimbang perkataan Jason, lalu beberapa menit kemudian dia pun mengangguk.
"Baiklah, ayah pulang sekarang, tapi jika ada apa-apa kamu segera kabari ayah ya," Alan menepuk bahu Jason kemudian mendekat pada sang istri membangunkannya.
"Kenapa yah?" Dea mengerjapkan mata menatap Alan.
"Ayo kita pulang!"
"Tapi Ale…"
"Aku yang akan menjaganya bu, ibu sama ayah pulang saja istirahat, besok baru kesini lagi."
"Baiklah. Tapi aku ke toilet dulu yah, mau cuci muka."
Alan mengangguk, sambil menunggu istrinya, Alan berjalan mendekat ke box bayi untuk melihat cucunya yang masih saja terpejam. Mengelus pipi merahnya, lalu menciumnya. Dea yang baru keluar dari toilet pun melakukan hal yang sama.
"Kalau gitu, ayah sama ibu pulang dulu ya, ingat pesan ayah tadi."
Jason mengangguk, meraih tangan Alan dan mencium punggung tangan mertuanya itu bergantian.
"Jason sudah menelpon supir tadi, mungkin sudah di depan. Ayah dan ibu hati-hati."
Alan dan Dea mengangguk, sebelum pergi keduanya mencium kening Lily terlebih dulu dengan sangat hati-hati, tak ingin putri mereka terbangun.
Jason berjalan ke box bayi dimana putra kecilnya terlelap. Jason memperhatikan putranya lamat-lamat. Bibirnya bergerak lucu, seperti tengah menyu*su. Jason tersenyum, sambil mengelus lembut pipi putranya dengan jari telunjuk.
"Kenapa? Apa Senja terbangun?"
Jason langsung menoleh, istrinya kini mencoba untuk duduk.
Jason mendekat ke arah istrinya yang penasaran menunggu jawabannya.
"Tidak, aku hanya ingin terus memandanginya."
"Oh, lalu ayah dan ibu mana?" Tanya Lily saat tidak melihat keberadaan orang tuanya.
"Aku tadi meminta ayah dan ibu pulang untuk istirahat. Kasihan mereka sepertinya sangat mengantuk, tidur di sofa pasti tidak nyaman."
"Ayah yang menyetir? Tadi kamu bilang ayah mengantuk."
Jason menatap istrinya yang begitu khawatir.
"Tidak sayang, aku sudah meminta sopir menjemput ayah dan ibu."
__ADS_1
"Syukurlah, aku kira ayah menyetir sendiri."
"Tidak."
Lily melihat wajah suaminya yang tampak lesu, Jason juga belum beristirahat sama sekali seharian ini, apalagi tadi saat Lily melihat jam di ponselnya sudah hampir menunjukkan pukul 1 dini hari.
Lily bergeser, meminta suaminya untuk berbaring di sebelahnya.
Jason ragu, tapi akhirnya menurut. Dia ikut naik ke ranjang dan berbaring di samping istrinya. Mereka berbaring saling berhadapan.
"Kamu pasti lelah," ucap Lily menelusuri wajah suaminya.
Tapi dengan cepat Jason menangkap tangan sang istri lalu mengecupnya.
"Tidak sebanding dengan pengorbananmu melahirkan anak-anak kita sayang."
"Itu memang sudah menjadi tugasku, tugasmu adalah menjaga dan membahagiakan kita semua."
Jason mendekatkan wajah, mencium kening sang istri cukup lama.
"Ayo tidur, aku sudah mengantuk," ucapnya sambil memeluk Lily erat.
Keduanya pun akhirnya sama-sama terlelap menuju alam mimpi dengan sudut bibir yang terangkat ke atas.
*
*
Kedua putri Lily menurunkan bahunya, berbalik kemudian berjalan ke arahnya dengan lesu.
Cinta dan Aulia kemudian duduk di samping kiri dan kanan Lily yang saat ini tengah menyu*sui bayinya.
"Kok Uli tidak minum su*su seperti dik Senja bu?" Tanya putri kedua Lily menatapnya ingin tahu.
"Uli juga minum kok, kak Cinta juga, waktu kalian sekecil adik Senja."
"Tapi Uli tidak ingat?"
"Kan adek waktu itu masih kecil jadi tidak ingat," Cinta lah yang menjawab pertanyaan adiknya.
"Memangnya kak Cinta juga tidak ingat?" Aulia menatap kakaknya penasaran.
"Hmm tidak."
Pandangan Aulia kini kembali beralih pada sang ibu.
"Kalau begitu, boleh dong bu, Uli minum sekarang, gantian sama adik Senja?"
"Tidak boleh sayang, nanti kalau habis bagaimana? Adiknya kan kasihan."
Ketiga orang itu menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
Jason duduk nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jason kemudian turun dan mendekat.
"Lagian Uli sudah besar, jadi minumnya su*su yang tiap pagi, ayah atau ibu buatkan."
Aulia tampak mengangguk, Jason mendekat hendak mencium Cinta, tapi buru-buru gadis kecil itu menghindar.
"Ayah bau acem belum mandi," Cinta pura-pura menutup hidungnya yang tentunya diikuti oleh Uli.
Jason mencium tubuhnya sendiri.
"Tidak bau kok, iya kan bu?" Jason mendekatkan diri pada Lily dan mencuri kecupan singkat di pipi sang istri.
"Tidak, tapi mandi gih."
Jason manyun, Lily terkekeh melihat wajah suaminya.
"Iya, ayah mandi dulu, nanti ibu sama adek, biar kak Cinta dan Uli yang jagain."
"Oke deh," Jason mengacak rambut kedua putrinya, kemudian berlalu.
"Ini pakaian gantinya sayang!" Lily memberikan paper bag berisi pakaian ganti suaminya yang tadi ayah ibunya bawakan.
Jason berbalik dan mengambilnya.
"Oh ya, memang siapa tadi yang ngantar Cinta dan Uli?"
"Ayah dan ibu, sekarang mereka sedang ada di ruangan ayah. Katanya ada yang akan ayah dan ibu bicarakan pada rekannya."
Jason mengangguk mengerti kemudian segera berlalu dari sana.
"Ibu, adeknya tidur lagi."
"Iya, adiknya masih kecil. Jadi tidur terus."
"Padahal Uli mau ajak main," katanya dengan bibir yang maju beberapa senti.
"Adeknya belum bisa main sayang."
"Terus kapan bu, adek bisa mainnya?" Cinta ikut bertanya.
"Nanti kalau sudah cukup besar seperti kak Uli dan kak Cinta."
"Oh ya, tadi bibi Lia pulang kapan sayang?"
"Tadi bareng-bareng sama kami bu, kakek mengantar bibi Lia dulu, katanya bibi Lia mau kerja, nanti sore bibi Lia baru akan datang kesini."
"Oh," Lily mengangguk mengerti, sebelumnya Dahlia memang bilang akan mengurus beberapa.pekerjaan, tepatnya menyelesaikannya sebelum kepergian dirinya nanti.
"Bentar ya, ibu mau menidurkan dek Senja dulu," pamit Lily pada kedua putrinya.
Lily pelan-pelan bangun, lalu berjalan ke box bayi dan menidurkan putranya disana.
__ADS_1
"Cepat besar Nak, sudah ditunggu kakak-kakak kamu mau diajak main bersama," ucap Lily mengecup pipi putranya.