
Lily tersenyum, "Hmm ini suami Lily Bu, katanya kangen pengen ketemu, padahal baru sebentar saja kita berpisah," ucap Lily berkilah.
Vega ikut tersenyum, dia kemudian meraih tangan Lily dan menggenggamnya.
"Ibu senang karena kamu bisa menemukan kebahagianmu, mendapatkan suami yang baik seperti Jason, Ibu benar-benar lega, setidaknya nanti jika Ibu pergi, Ibu akan tenang, karena ada Jason yang selalu menjaga dan melindungimu.
"Ibu, kenapa Ibu berbicara seperti itu, Lily tidak suka Ibu mengatakan jika Ibu akan pergi, ingat Ibu tidak boleh pergi kemanapun lagi, Ibu akan tetap disini bersamaku, menemani Lily sampai nanti anak Lily lahir. Ibu juga akan melihat Kak Lia menikah, Ibu akan melihat Kak Lia punya anak, ibu akan melihat cucu-cucu ibu baik dari Lily maupun Kak Lia, Ibu akan ada sampai saat itu, jadi Bu, jangan pernah katakan hal-hal seperti itu, jika ibu sampai mengatakannya lagi, Lily akan sangat sedih."
Lily kemudian membantu menyeka air mata Vega yang membasahi wajah wanita itu.
"Ibu, pokoknya Ibu harus tetap optimis, Lily yakin semua akan baik-baik saja," ucap Lily kemudian langsung memeluk ibunya.
"Ibu menyesal karena dulu menyia-nyiakan kamu sayang, ibu menyesal karena tidak membagi cinta dan sayang untukmu, dan Ibu sangat bersyukur walaupun dulu Ibu tidak baik padamu, tapi kamu selalu baik sama ibu," ucap Vega dan kini giliran Lily yang menghapus air matanya sendiri yang tanpa diminta turun begitu saja.
"Sudah ah kenapa jadi sedih-sedihan seperti ini," Lily melepaskan pelukan mereka dan memaksakan senyumannya.
"Iya maaf, lain kali Ibu tidak sedih lagi," kata Vega yang kemudian bangkit dari duduknya.
"Ibu mau kemana?" Tanya Lily melihat Vega yang akan pergi meninggalkannya.
"Ibu mau ambil kue, tadi Ibu buat kue kesukaanmu," jawab Vega.
"Tidak Bu, Ibu duduk saja, biar Lily saja yang mengambil," Lily bangun dan menyuruh ibunya untuk duduk kembali.
"Tapi…"
"Ibu!"
"Baiklah," pasrah Vega dan hanya bisa menuruti perintah putrinya.
"Ibu tidak akan bersedih lagi, karena Ibu punya dua putri yang sangat sayang sama ibu," ucap Vega sambil menatap punggung Lily yang mulai menjauh.
Lily tidak sanggup lagi terus berpura-pura baik saja, dia berjalan perlahan berpegangan pada dinding, hatinya rasanya seperti ditikam pisau tajam saat tahu kondisi Vega yang sebenarnya. Waktu itu Lily tanpa sengaja mendengar percakapan ibu dan kakaknya. Tapi Lily juga paham jika mereka melakukan itu demi dia, Lily tidak akan marah, tapi Lily sedih, karena dirinya tidak bisa melakukan apapun untuk sang ibu. Air mata Lily mengalir deras. Dia sebenarnya ingin mendengar sendiri penjelasan baik dari kakak ataupun ibunya, Lily berharap jika apa yang kakaknya bilang tadi lewat telepon itu berkaitan dengan ibunya, Lily hanya ingin tahu detailnya, dan jika tahu, Lily akan berusaha sebaik mungkin melakukan apapun untuk menyelamatkan Vega.
__ADS_1
"Lily kok lama? Kamu sudah menemukan belum?"
Buru-buru Lily menghapus air matanya saat mendengar Vega berteriak, dia harus tegar, dia tidak boleh menangis di depan ibunya itu, takut jika hal itu justru menjadi beban Vega dan akan memperburuk kondisinya.
"Sudah Bu, sebentar," Teriak Lily setelah memastikan tidak ada air mata yang tersisa di wajahnya, Lily mengambil sebuah kue di atas meja yang Lily yakin bahwa kue itulah yang dimaksud ibunya, karena hanya satu-satunya.
"Kue datang," ucap Lily dan Vega tersenyum, Lily duduk di samping Vega dan kemudian keduanya pun menikmati kue itu.
*
*
"El kamu dimana?"
Ronald bernafas lega, karena akhirnya kekasihnya itu menjawab panggilannya, setelah seharian ini setiap telepon maupun pesan yang dia kirim diabaikan oleh gadisnya itu.
"Aku di rumah," jawab Liora.
Dari suaranya saja, Ronald tahu jika gadisnya itu baru saja bangun tidur.
"Hmm iya, tadi ketiduran, kenapa?" Liora bangun dan kemudian duduk bersandar.
"Aku di depan rumah, keluarlah!"
"Iya, hah apa?"
Liora langsung saja terjengit kaget saat menyadari bahwa Ronald bilang ada di depan rumahnya.
"Ronald lebih baik kamu pulang sekarang!" Pinta Liora dia segera memakai sandalnya dan berlari keluar kamar.
"El aku tidak mau terus sembunyi-sembunyi, aku ingin bertemu secara resmi dengan keluargamu," ucap Ronald yang tidak mau menghindar lagi, bagaimanapun hal itu harus dia hadapi, cepat atau lambat jika memang dia menginginkan Liora.
"Tapi Ronald, Kak Max… dia akan kesini nanti," ucap Liora karena Max dan Bunga akan datang untuk makan malam bersama.
__ADS_1
"El please, aku tidak ingin jadi pengecut karena terus menghindar dari keluargamu, karena jika aku terus seperti itu, keluargamu akan semakin meragukan ketulusanku, mereka pasti akan menganggap jika aku tidak berani menemui mereka karena mengira aku tidak serius padamu," ucap Ronald sungguh-sungguh.
Tin
Tin
"Ronald apa itu mereka?" Tanya Liora yang mendengar suara klakson saling bersahutan.
"Ronald!" Liora melihat ponselnya yang tidak mengeluarkan suara apapun, dan ternyata Ronald sudah mengakhiri panggilan telepon mereka.
Liora buru-buru menuruni tangga, bahkan gadis itu kini berlarian, berharap agar segera sampai ke depan, Liora yakin itu mobil papi dan juga kakaknya.
"Maaf Bi," kata Liora yang tanpa sengaja menabrak seorang pelayan.
Pelayan hanya mengangguk, dan Liora pun dengan segera melanjutkan langkahnya, dia tidak ingin ada pertengkaran antara kakak dan kekasihnya.
"Liora kenapa lari-lari?" Tanya Jasmine yang mau keluar untuk menyambut kepulangan suaminya.
"Kak Olive, hmm itu…,nanti aku jelaskan," ucapnya lalu meninggalkan kakak iparnya itu begitu saja.
Liora membuka pintu, di halaman memang terlihat mobil papi dan kakaknya Max, tapi dia tidak melihat mereka disana.
"Kak Flo," kata Liora yang langsung menghampiri Bunga yang baru saja turun dengan Ken digendongannya.
"Liora, itu kakakmu, kamu harus mencegahnya, dia membawa Ronald ke arah sana," ucap Bunga yang tadi sudah berusaha mencegah suaminya tapi Max tetap saja turun dan menarik Ronald.
"Papi dan Kak Vano mana?"
"Papi sama Kak Vano ikut kesana, cepat Liora," pinta Bunga karena dirinya tidak mungkin kesana karena dia sedang menggendong Ken yang tertidur.
"Baiklah Kak, aku kesana dulu," ucap Liora yang kemudian berlari menuju ke tempat yang tadi ditunjuk kakak iparnya.
Liora terus berlari sambil menatap ke sekeliling, mencari keempat pria yang tidak tahu kemana perginya. Liora terus mencari hingga terdengar seperti bunyi pukulan, dan Liora pun segera mempercepat langkahnya, inilah yang Liora takutkan, jika Ronald tiba-tiba datang ke rumahnya.
__ADS_1
"Kak Max hentikan!" Teriak Liora yang melihat kakaknya akan mendaratkan kepalan tangannya lagi pada Ronald. Tapi sayangnya Max tidak mendengarkan adiknya itu, Max hanya menoleh sekilas kemudian kembali melanjutkan aksinya.
Liora langsung saja bergegas menghampiri mereka saat melihat Ronald sudah terkapar di atas tanah.