
"Tuan sudah pulang?" Ujar seorang satpam yang baru saja berlari dan membukakan gerbang untuk Jason.
"Hmm iya Pak, terima kasih," setelah mengucapkan itu Jason kembali menjalankan mobilnya menuju ke pelataran kediaman mertuanya.
Seorang pelayan membukakan pintu untuk anak dan menantu majikannya. Sebelum pulang Jason menghubungi pelayan yang bekerja di rumahnya, memberitahukan kapan dirinya kembali.
"Terima kasih Bi, tolong bawakan koper ini masuk ya, soalnya Ale tidur," Jason menunjuk dua koper koper kecil yang miliknya dan sang istri yang sudah diturunkannya dan diletakkan tepat di depan pintu.
"Baik Tuan," jawab pelayan yang kemudian menyeret koper itu masuk ke dalam.
"Hmm Bi, taruh di dekat tangga saja ya, nanti biar saya yang membawanya ke atas," pesan Jason yang tidak tega melihat wanita paruh baya itu harus membawa koper yang ada isi didalamnya menaiki anak tangga.
"Iya Tuan," jawab pelayan yang melanjutkan langkahnya.
"Jason berlari ke arah mobilnya dan membuka pintu samping kemudi, dimana istrinya duduk dan tertidur di sana, karena Jason memutuskan untuk mengemudikan mobilnya sendiri.
Jason dengan pelan dan hati-hati mengangkat tubuh istrinya. Sementara pelayan yang tadi membawa koper kembali dan membantu Jason menutup pintu mobilnya.
Suasana rumah masih tampak sepi, karena sekarang waktu masih menunjukkan pukul 4 pagi. Dan bisa Jason pastikan jika Kakak Ipar dan ayah mertuanya masih tertidur di jam segini.
Setelah berterima kasih, Jason masuk dengan sang istri yang masih terlelap dalam gendongannya tidak terusik sama sekali.
Pelayan tadi membuntuti Jason guna membantu pria itu membukakan pintu kamarnya, karena melihat kondisinya saat ini pasti dapat dipastikan jika Jason susah membuka pintu sendiri.
Pelayan membukakan pintu dan pamit undur diri membiarkan pasangan suami istri itu untuk beristirahat.
Jason berterima kasih lagi dan mempersilahkan pelayan yang membantunya pergi untuk beristirahat juga sebelum sebentar lagi harus memulai pekerjaannya.
Jason menuju ranjang yang masih terlihat rapi dan bersih, sudah pasti karena setiap harinya Alan menyuruh membersihkan kamar itu.
Dibaringkannya tubuh Lily dengan sangat hati-hati.
"Nyenyak sekali tidurmu," Jason mengusap pipi istrinya yang sedikit lebih chubby. Setelahnya Jason mencium kening Lily dan menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri.
Begitu memastikan istrinya masih tertidur sangat lelap, Jason menuju kamar mandi membersihkan diri dan begitu selesai, Jason kemudian kembali keluar dari kamar untuk mengambil koper miliknya dan milik Lily yang masih ada di bawah tangga.
__ADS_1
Jason melihat sekeliling, biasanya Ayah mertuanya sudah bangun di jam yang sekarang menunjukkan hampir pukul 5 pagi, tapi tidak ada tanda-tanda Ayah mertuanya sudah bangun.
Akhirnya Jason memutuskan untuk kembali ke kamarnya, menunda untuk membicarakan sesuatu kepada sang ayah mertua.
Diangkatnya sekaligus kedua koper yang sekarang ada di depannya di tangan kanan dan kirinya.
Begitu masuk, Jason lihat istrinya masih tampak lelap dengan posisi miring memeluk erat guling.
"Nyenyak banget sih kamu tidurnya," gumam Jason yang menghampiri dan duduk di sisi ranjang kosong.
Jason bangun dan membongkar isi koper, membereskannya. Begitu selesai, Jason memilih turun barangkali Ayah mertuanya sudah bangun. Tidak lupa membawa sesuatu yang memang perlu dibawanya untuk dia tunjukkan kepada Alan.
"Ayah," sapa Jason mencium punggung tangan ayah mertuanya yang sedang membaca koran di teras rumahnya.
"Kalian sudah pulang, kapan dan jam berapa kenapa Ayah tidak tahu?" Tanya Alan yang terkejut melihat keberadaan Jason yang sudah ada di rumah saja.
"Tadi sampai jam 4 pagi."
"Oh ya Ale dimana?" Tanya Alan yang sudah sangat merindukan putrinya.
Alan hanya menganggukan kepala.
"Ayah ada yang ingin saya sampaikan," ucap Jason terlihat serius.
"Apa ada terjadi sesuatu sama Ale?" ucap Alan begitu khawatir saat menantunya hendak berbicara dengan ekspresi yang terlihat serius, padahal sudah sepertinya Jason berekspresi seperti itu apalagi saat sebelum menikah.
"Ale tidak apa-apa, dia baik-baik saja."
"Terus ada apa? Apa yang ingin kamu sampaikan? Kamu tidak melanggar janjimu bukan? Kamu tidak akan mengajak Ale pindah dari rumah ini?" Tanya Alan yang tidak ingin kembali dipisahkan dengan putrinya.
"Tidak Ayah, ada hal selain itu dan ini penting."
"Hmm baiklah, bicaralah! Apa yang ingin kamu sampaikan?" Alan melipat koran dan meletakkannya di atas meja, kemudian fokus menatap menantunya yang terlihat begitu serius.
"Bagaimana kalau kita berbicara di tempat yang lebih nyaman?"
__ADS_1
Alan yang mengerti langsung berdiri. "Ikut Ayah!" Alan kemudian berjalan lebih dulu menunjukkan jalan menuju ruang kerjanya.
"Duduklah! Hal apa yang ingin kau sampaikan?" Alan duduk di sofa lebih dulu, menatap menantunya.
Jason menaruh sebuah foto di atas meja, "Ayah mengenalnya?" Tanya Jason menunjuk foto itu.
Alan mengambil foto yang diberikan menantunya. "Kamu mengenalnya?" Bukannya menjawab Alan justru bertanya balik.
"Ayah hanya perlu jawab pertanyaanku."
"Beliau dulu pernah bekerja di rumah sakit Ayah, bahkan dari dia masih masih muda, sekarang Ayah tanya padamu darimana kamu dapatkan foto beliau? Dia sudah berhenti cukup lama."
"Aku sengaja mencarinya."
"Untuk apa kamu mencarinya?"
"Apa Ayah benar-benar tidak tahu?"
"Apa maksudmu, Ayah benar-benar tidak mengerti."
"Dia adalah dokter yang menangani Ibu kandung Ale."
"Apa yang tadi kamu katakan Jason? Dokter Riu adalah dokter yang menangani siapa?" Tanya Alan yang mungkin salah mendengar, karena setahunya sang istri dulu tidak pernah sakit apapun.
"Ibu kandung Ale, istri Ayah, Nyonya Felicya."
"Kamu tidak salah memberikan informasi pada Ayah? Kamu tahu Dokter Riu dokter apa?" Dokter Riu adalah dokter spesialis onkologi, beliau dokter yang menangani penyakit kanker, jadi rasanya tidak mungkin, kamu pasti salah Jason," Alan tidak percaya pada apa yang dikatakan menantunya.
"Tapi itu kenyataan Ayah, Ayah lihat ini!" Jason memberikan beberapa kertas kepada ayah mertuanya hasil pemeriksaan Felicya.
Alan terdiam, tidak tahu harus mengatakan atau bereaksi apa, dirinya benar-benar terkejut dan tidak pernah menyangka, bagaimana bisa, bagaimana bisa dirinya tidak tahu apa-apa, kenapa, kenapa Felicya tidak pernah mengatakan hal itu padanya.
Alan teringat sesuatu, teringat saat Felicya meminta dirinya menemaninya, ''Sayang, nanti aku ikut ke rumah sakit ya, nanti kamu temani aku, kita titipkan anak-anak ke Bi Nia," Felicya tengah menyiapkan sarapan untuknya.
Alan menghela nafas dan menjawab ucapan istrinya, "Kenapa kamu dari kemarin bilang ikut, ikut terus, aku ke rumah sakit untuk kerja bukan untuk menemanimu, aku punya tanggung jawab yang harus aku lakukan, kamu tahu kan?" Marah Alan, pasalnya dari kemarin istrinya terus saja merengek minta ikut.
__ADS_1
Alan masih ingat jelas pertengkaran yang terjadi dan itu bukan hanya sekali atau dua kali saja. Dan Alan menyesali itu semua. Menyesal setelah istrinya pergi untuk selama-lamanya.