
"Apa kamu yakin kita akan pergi?" Tanya Jason yang melihat sang istri sedang duduk dengan menghadap cermin rias.
"Hmm iya, aku tidak enak jika tidak pergi, bukankah kita diundang kan?" Lily menatap Jason lewat pantulan cermin.
"Kamu tidak lelah?" Kamu juga tadi menemani Cinta dari pulang hingga sore, kamu belum istirahat sama sekali, aku khawatir…."
Lily berdiri dan berbalik hingga kini berhadapan dengan Jason.
"Aku dan anak kita baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu khawatir. Nanti kita tidak perlu lama-lama, yang penting kita sudah hadir, dan lagi, aku harus memberikan itu."
Lily menunjuk oleh-oleh yang sempat dibelinya saat kemarin dirinya dan Jason pergi.
"Baiklah, kamu sudah bilang sama ibu dan ayah jika kita akan pergi?"
"Sudah, aku juga menitipkan Cinta, karena tidak mungkin Cinta ikut, kasihan dia, keluar malam-malam begini. Apalagi tadi Cinta sepertinya juga sudah mengantuk.
Jason mengangguk dan setuju dengan perkataan istrinya.
"Ya sudah, kamu bersiap dulu, tidak mungkinkan kamu pergi dengan penampilan seperti ini."
"Memangnya kenapa? Seperti ini saja sudah kelihatan tampan," jawab Jason dengan penuh percaya diri.
"Aku tahu, jika tidak tampan mana mungkin aku menyukaimu, sudah sana!" Lily mendorong pelan tubuh suaminya agar Jason segera bersiap, jangan sampai mereka datang terlambat.
Sambil menunggu suaminya, Lily kembali melanjutkan merias dirinya yang memang tadi belum selesai.
"Akhirnya," ucapnya begitu dirinya sudah selesai.
Lily mengambil ponsel dan mengirim pesan mengatakan bahwa sebentar lagi dia dan suaminya akan berangkat.
"Sudah selesai?" Tanya Jason yang kini sudah tampak rapi.
Lily tersenyum dan mengangguk, dirinya bangun dan memasukkan ponsel ke dalam tas nya, menggamit lengan Jason dan keduanya keluar bersama.
"Ayah, ibu, Ale dan…"
Lily langsung menghentikan ucapannya saat melihat isyarat dari Alan agar dirinya tidak bersuara.
"Cinta tidur?" Tanya Lily pelan.
Alan mengangguk, kemudian menunjuk Cinta yang kini sudah tidur di pangkuan istrinya.
__ADS_1
"Ale sama suami Ale pergi dulu," pamit Lily.
Alan dan Dea pun mengangguk, Lily mencium kening putrinya, Jason pun melakukan hal yang sama, sebelum akhirnya kini keduanya melangkah keluar menuju mobil yang sudah terparkir di depan pintu.
Seorang sopir membukakan pintu belakang, Lily segera masuk, sedangkan Jason membuka sendiri pintunya, masuk dan duduk di samping sang istri.
"Ke alamat ini pak" Lily menyebutkan alamat yang akan menjadi tempat tujuan mereka.
"Iya Nona," jawab sopir itu yang kini memasang seatbelt dan mulai melajukan mobilnya.
Pelan-pelan saja ya pak!" Peringat Jason kepada sang sopir.
"Baik Tuan." Jawabnya dan langsung menuruti ucapan Jason.
"Banyak tidak yang hadir?" Tanya Jason pada sang istri yang sibuk mengetikan sesuatu, sepertinya sedang berbalas pesan.
"Hmm tidak tahu, bilangnya sih tidak begitu banyak orang, tapi ya kita lihat saja nanti."
Jason mengangguk kemudian mengambil ponselnya yang berbunyi.
"Siapa?" Tanya Lily.
"Ya sudah jawab saja, mungkin mau tanya kita datang atau tidak."
Jason mengangguk kemudian menjawab panggilan itu. Lily hanya mendengarkan saja, dan benar dugaannya tadi, yang mereka bahas memang apa dirinya dan Jason akan datang atau tidak.
"Mereka sudah sampai?" Tanya Lily begitu suaminya sudah mengakhiri perbincangan mereka.
"Katanya sebentar lagi sampai." Jawab Jason dan Lily mengangguk mengerti.
*
*
Liora mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarnya, padahal tadi dia seperti mendengar suaminya masuk tapi kini pria itu justru tidak ada di sana. Liora mengedikan bahunya lalu berjalan ke arah meja rias dan duduk di kursi depannya. Liora mulai merias diri, dirinya berhenti saat melihat bayangan suaminya dari cermin, dimana pria itu sedang meletakkan pakaian yang tadi dipakainya ke keranjang baju kotor, dan masih dengan menggunakan bathrobe pria itu kini masuk ke walk in closet. Liora tersenyum melihat itu, mengetahui bahwa ternyata suaminya sudah mandi, entah di kamar mana.
Liora yang sudah selesai, bangkit dan berjalan, berdiri di depan sebuah pintu, dimana suaminya sekarang sedang berganti pakaian di dalamnya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Liora dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Ronald yang baru saja membuka pintu menatap sang istri yang mengejutkannya.
__ADS_1
"Tidak kemana-mana," jawab Ronald melewati Liora dan duduk di sofa, bermain dengan ponselnya.
Liora mengerucutkan bibir, lalu menyusul Ronald dan ikut duduk di sampingnya.
Mereka saling diam, hingga Ronald menurunkan ponsel dan menatap Liora.
"Kenapa belum berangkat? Katanya mau pergi, apa dia akan menjemputmu kesini?" Tanyanya kemudian.
"Kamu marah?" Bukannya menjawab, Liora kini justru balik bertanya.
Ronald mengernyitkan dahi, padahal dia tidak marah, hanya saja kesal, dan Ronald berencana lain karena tidak diizinkan ikut, daripada hanya di rumah diam menunggu sampai istrinya kembali.
"Aku tidak marah."
"Lalu kenapa kamu berpakaian rapi? Kamu juga mau pergi? Kamu dendam karena aku pergi tapi tidak mengizinkanmu ikut, hingga kamu memutuskan untuk pergi sendiri?"
"Oh jadi, istriku berpikiran seperti itu," gumam Ronald pelan agar tidak didengar oleh istrinya.
"Kenapa malah senyum-senyum, jadi benar apa yang aku katakan?" Tuntut Liora ingin mendengar jawaban dari suaminya.
"Senyum-senyum? Aku tidak tersenyum," jawab Ronald yang memang tidak menyadari bahwa dia tadi memang tersenyum.
"Tapi aku tadi melihatmu tersenyum." Jawab Liora menatap suaminya penuh selidik.
"Tidak bisa, ini tidak bisa dibiarkan, jika suamiku pergi sendiri, rencanaku tidak akan berjalan dengan lancar. Liora terdiam memikirkan cara agar semua berjalan sesuai rencananya.
"Jack bilang ada yang ingin dia katakan, dan ada yang dia ingin lakukan juga bersamaku, sebelum dia menikah, menurutmu Jack ingin melakukan apa?" Tanya Liora tiba-tiba menatap suaminya meminta pendapat darinya.
"Kenapa kau bertanya padaku, dan tidak bertanya padanya saja!"
Terdengar nada ketus saat Ronald menjawab perkataan istrinya tadi.
Liora mengerucutkan bibirnya. "Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu," Liora mengecup pipi Ronald, mengambil tasnya dan segera keluar, dia harus pergi sekarang apalagi saat dia mendengar ponselnya terus berbunyi.
Liora bergegas keluar dan segera masuk ke dalam mobil. Dirinya membalas terlebih dulu pesan yang masuk ke nomornya. Saat dirinya akan melajukan mobilnya, dirinya tersenyum melihat sesuatu dari kaca spionnya. Liora akhirnya menunggu beberapa saat, setelah itu barulah dirinya mulai menjalankan mobilnya, Liora melajukan mobil dengan pelan-pelan sambil sesekali melihat pada kaca.
Tak lama, Liora sudah sampai di tempat yang memang sudah dia pesan. Liora turun dan segera masuk ke dalam.
"Hotel?"
Ucap Ronald yang sedari tadi ternyata mengikuti mobil Liora. Pria itu buru-buru turun. Rahangnya mengeras bahkan kedua tangan mengepal erat, kini dirinya tahu, alasan kenapa dirinya dilarang ikut bersama Liora.
__ADS_1