Please Love Me

Please Love Me
Part 113


__ADS_3

"Apaan sih Kak Al," wajah Dahlia memanas, hingga dengan cepat Dahlia memalingkan wajahnya yang Dahlia yakin pasti sudah merona.


Tanpa sadar seulas senyum muncul di sudut bibir Al, melihat rona merah di wajah Dahlia.


"Kamu sudah makan belum?" Tanya Al tapi kini pertanyaannya terjawab sudah saat melihat makanan di atas meja yang masih utuh, sama sekali belum tersentuh.


"Kenapa belum dimakan?" Kini pertanyaan Al langsung berganti setelah mendapat jawab tanpa harus gadis itu menjawab.


"Belum lapar Kak," jawab Dahlia yang kini mulai menatap Al kembali.


Al menghela nafas, kemudian mengambil makanan itu. Tanpa pikir panjang Al langsung menyendok makanan itu, dan "Aaa…" tiba-tiba sesendok makanan melayang di depan Dahlia. Siapa lagi pelakunya jika bukan Al yang melakukannya.


Wajah Dahlia kini sudah seperti kepiting rebus, dan dengan gugup merebut sendok yang ada di tangan Al.


"Aku bisa sendiri Kak," kata Dahlia begitu sudah merebut makanan itu dari Al. Al pun kemudian menyerahkan sendok yang sudah berisi makanan kepada Dahlia.


Dasar Al tidak romantis, bukannya tetap memaksa Dahlia menerima suapannya, ini dia justru menyerahkan sendok itu.


Dengan pelan-pelan Dahlia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sambil sesekali melirik Al yang terus memandanginya. Gugup tentu saja, tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin juga Dahlia mengusir Al dari situ, karena jujur saja dalam hati Dahlia merasa senang melihat Al ada disini, di sampingnya, menemaninya.


"Kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu?" Kata Al menatap Dahlia.


"Hah? Mmm maksud Kak Al? Mmm siapa yang senyum-senyum sendiri?" Tanya Dahlia gugup.


"Apa mungkin tanpa sadar aku senyum-senyum?" Tanya Dahlia pada dirinya sendirinya namun tentunya hanya dalam hati saja.


"Tidak, itu kucing," jawab Al menahan tawanya agar tidak pecah. Apalagi melihat ekspresi wajah Dahlia yang sangat lucu saat ini, Al yakin jika Dahlia tidak menyadari dirinya yang tadi tersenyum.


"Mana ada kucing disini, lagian kucing tidak bisa senyum-senyum sendiri seperti yang Kak Al bilang," jawab Dahlia dengan polosnya.


"Hahaha," kamu lucu," kata Al sambil tertawa.


Dikatakan lucu oleh pria yang dicintainya, membuat Dahlia tersipu.


"Wajahmu memerah," kata Al yang entah apa yang merasukinya kini ingin menggoda Dahlia. 


Dahlia mengibas-ibaskan tangannya di udara, hawa di ruangan tempatnya di rawat menjadi panas.


Dahlia bangun, karena salah tingkah dirinya lupa jika saat ini kakinya sedang terluka.


"Akh," Dahlia meringis kesakitan.


"Kenapa tidak hati-hati, bagaimana jika lukanya semakin parah," kata Al penuh kekhawatiran, mendekat dan membantu Dahlia.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya mau ke kamar mandi," lirih Dahlia.


Al kemudian mengangkat tubuh Dahlia, membuat Dahlia memekik kaget karena tiba-tiba tubuhnya melayang.


"Kak turunkan aku, aku bisa sendiri," ucap Dahlia berontak.

__ADS_1


"Yakin?"


"Hmm iya," jawab Dahlia ragu, apalagi Dahlia masih merasakan sakit di kakinya, tapi jika dia tidak menjawab tidak yakin, Dahlia malu, mau ditaruh dimana mukanya nanti, jika berhadapan dengan Al.


Al tak peduli, dia tetap membawa tubuh Dahlia ke kamar mandi tak peduli dengan penolakan gadis itu.


"Kamu bisa sendiri kan?" Tanya Al setelah sampai di dalam kamar mandi dan mendudukan Dahlia di atas closet. 


"Hah, mmm bisa kok, Kak Al sudah boleh keluar sekarang!" Ucap Dahlia memalingkan wajahnya tidak berani menatap Al secara langsung.


Al melipat kedua tangannya di depan dada. Dahlia menoleh, melihat Al yang masih berdiri bersandar di pintu.


"Kak Al ngapain disini?" Tanya Dahlia panik, bagaimanapun mereka hanya berdua di ruangan sempit itu, pria dan wanita itu sangat-sangat tidak…


"Kak!"


"Bagaimana jika mau masih disini?"


Dahlia melotot, dia benar-benar tidak menyangka, pria yang dikenalnya sangat jarang bicara dan sering jutek pada mahasiswi yang mendekatinya, tapi kepada Dahlia, dari tadi dia terus berbicara melantur.


"Kak tolong keluar!" 


"Barangkali kamu butuh bantuan," jawab Al tenang.


"Gila ini benar-benar gila, niatku ingin menghindarinya tadi, kenapa jadi berakhir seperti ini," gumam Dahlia.


"Kamu bicara apa?" Tanya Al yang sepertinya mendengar gumaman Dahlia yang tidak jelas.


Melihat wajah Dahlia yang memelas seperti itu, Al jadi tidak tega untuk mengerjai gadis itu lebih lama.


"Baiklah, nanti kalau sudah kamu panggil aku lagi aja," kata Al mengacak rambut Dahlia dan segera keluar.


Tubuh Dahlia menegang saat mendapat perlakuan itu dari Al, dipegangnya rambut yang tadi diacak-acak Al, dan senyum kini terukir di sudut bibir Dahlia.


Dahlia kemudian dengan bersusah payah dan berpegangan pada dinding Dahlia berjalan menuju pintu untuk menguncinya.


"Kenapa rasanya seperti..," dengan segera Dahlia mengecek untuk memastikan. Dan dugaannya ternyata benar.


Sudah sepuluh menit Dahlia tidak kunjung keluar, membuat Al khawatir. Bahkan sedari tadi Al terus berjalan mondar-mandir di depan kamar mandi. Al yang sudah tidak sabar lagi mengetuk pintu kamar mandi.


Tok


Tok


"Dahlia!"


"Dahlia!" 


"Dahlia, buka pintunya!" Teriak Al panik.

__ADS_1


"Iya Kak sebentar," terdengar Dahlia menjawab Al, membuat Al menghela nafas lega.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Iya Kak, aku tidak apa-apa," teriak Dahlia dari dalam.


"Ya sudah sekarang kamu buka pintunya, kenapa masih di dalam sana?" Tanya Al ikut berteriak agar bisa di dengar oleh gadis itu.


"Hah iya Kak bentar," jawab Dahlia.


Sementara itu di dalam kamar mandi Dahlia tampak kebingungan.


"Bagaimana ini? Kenapa harus sekarang sih? Tidak tepat sekali padahal biasanya 3 hari lagi, uda kaki masih sakit, lengkap sudah deritamu Dahlia," gerutu Dahlia masih duduk di tempatnya tadi.


"Dahlia, cepat buka! Jika tidak di buka sekarang, akan aku dobrak," ancam Al.


Ceklek


Tak lama pintu terbuka, tapi yang muncul hanya kepala Dahlia.


"Kenapa tidak keluar? Tidak bisa? Jika tidak bisa kamu mundur dulu, biar aku yang menggendongmu lagi," kata Al bersiap untuk masuk.


"Stop!" Teriak Dahlia.


Al mengernyitkan dahi bingung.


"Kenapa?"


"Mmm Kak bisa minta tolong," ucap Dahlia ragu.


Mendengar itu, perasaan Al sudah tidak enak, "Tidak bisa," jawab Al cepat.


"Kak please!"


"Tidak kalau yang kamu maksud itu," kata Al tak ingin menolong Dahlia.


"Tapi Kak.."


"Ya sudah kamu tunggu disini, aku akan minta tolong perawat," kata Al hendak berlalu.


"Jangan Kak!" Dahlia mencegah Al.


"Kenapa?" Al kembali mengernyitkan dahi.


"Aku malu," ucap Dahlia pelan.


"Mau tidak, kalau tidak ya sudah," ucap Al membuat pilihan yang sulit untuk Dahlia.


"Ya sudah, tolong bilangin pada perawat," putus Dahlia pada akhirnya. 

__ADS_1


Al pun memasukkan kedua tangannya di dalam saku kemudian berlalu meninggalkan Dahlia yang menatap Al dengan tatapan sendu. Dahlia pikir Al sudah bisa membuka hati untuknya, ternyata Al masih belum sepenuhnya peduli padanya.


__ADS_2