Please Love Me

Please Love Me
Part 97


__ADS_3

"Kenapa kau tidak ikut pergi bersama mereka? Sekarang kau tahu bukan gadis seperti apa dia? Dia sudah bersama pria lain,  lantas apa yang kau pertahankan hubungan kalian ini? Bukankah lebih baik kau bersama Putriku, dia menyukaimu dan sudah pasti dia akan setia dan tidak mengkhianatimu seperti yang dilakukan gadis tidak tahu diri itu, saling cinta, nyatanya hal itu hanya bualan semata, nyatanya semua sama saja, cinta hanya akan membuat semua terluka. Apalagi hanya cinta sepihak, cinta yang kau rasakan sendirian, tapi tidak dengan dia. Dia bahkan menunjukkan secara terang-terangan bahwa dia memiliki yang lain, jika dia pun punya rasa cinta, apalah arti rasa cinta itu, jika rasa cintanya terbagi, antara kau dengan yang lainnya, pikirkan baik-baik perkataanku, dia bukanlah gadis yang baik untukmu," kata Vega menasehati Al yang tadi mendekat dan berdiri di samping kursi tunggu, tempatnya duduk.


"Aku tahu," jawab Al singkat.


Vega menoleh dan mendongak menatap pria yang kira-kira seusia putrinya.


"Jika sudah tahu kenapa kau masih bersamanya dan tidak melepaskannya saja, aku mengatakan ini karena aku pernah merasakannya, menjadi wanita yang terlihat sangat dicintai, nyatanya itu bukanlah yang sebenarnya, hatiku hancur ketika cinta yang dia milikku terbagi, bahkan ada penghubung diantara mereka, anak itu, dialah yang telah menghancurkan kebahagian keluarga kecilku," ucap Vega menerawang jauh.


Al menggenggam tangannya erat, saat lagi-lagi wanita di sampingnya ini selalu menghina Lily, Al ingin balas memaki wanita itu tidak peduli jika wanita itu jauh lebih tua darinya, sopan santun yang selama ini diajarkan oleh Ayahnya, ingin dia abaikan begitu saja, saat mendengar bahwa gadis satu-satunya yang sangat berharga ,selama ini menderita. Tapi semua itu diurungkannya, semua sirna dalam sekejap mata, saat bulir bening membasahi pipi wanita itu. Ada luka, sedih, kecewa, marah, bersatu di raut wajah dan tutur katanya. Al yakin jika wanita itu punya luka sendiri di hatinya.


"Sebenarnya ada apa?" Kalimat itu tiba-tiba saja terlintas di pikiran Al, ada hubungan apa sebenarnya, antara Ibu, wanita ini dan Suaminya, kenapa bisa Ibunya ada di tengah-tengah keluarga mereka, siapa yang bisa menjawab semua ini? Kenapa ada sesuatu yang janggal yang Al rasakan.


Di tengah kekalutan hati yang melanda keduanya, tak lama seorang dokter datang, setelah memeriksa kondisi Dahlia. Al dan Vega langsung bangkit dan menghampiri sang dokter. Gadis itu tadi sempat kritis, tapi sekarang dia baik-baik saja, itulah yang dokter katakan, membuat Vega dan Al merasa lega. Kenapa dia tidak bangun sampai saat ini, itu karena dirinya shock, dan mungkin sebentar lagi akan bangun, dokter mengucapkan kalimat itu sebelum akhirnya pergi untuk memeriksa pasien yang lainnya.


Vega dan Al bisa menjenguk setelah Dahlia dipindahkan ke ruang rawat. Vega duduk di kursi yang disediakan di samping brankar Putrinya, menggenggam tangan putrinya yang dingin dan penuh kesakitan, kehilangan itu yang Vega takutkan, seakan bayang-bayang masa lalunya kembali muncul di saat dia kehilangan Suaminya.


Terdengar pintu ruang rawat terbuka, Vega bahkan tidak meliriknya sama sekali, mungkin saja Vega juga tidak menyadari datangnya seseorang ke ruangan itu, fokusnya hanya menatap sang putri dengan wajah pucatnya, tangan yang tidak pernah terluka itu, kini ada selang infus disana.

__ADS_1


"Cepat sembuh sayang, Ibu tidak tahu lagi harus menjalani hidup Ibu seperti apa, jika melihatmu kesakitan seperti ini, kamu satu-satunya yang Ibu punya, jadi jangan pernah tinggalkan Ibu, Ibu sangat menyayangimu, maaf Ibu belum bisa menjadi Ibu yang baik untukmu, Ibu terlalu memikirkan diri Ibu sendiri, sampai lupa jika kamu telah bekerja keras untuk bisa membahagiakan Ibu, Ibu," Vega menghentikan ucapannya, saat tenggorokannya terasa tercekat, air matanya kembali mengalir deras tanpa bisa dicegah"Ibu sangat menyayangimu sayang," lanjutnya lagi disertai isak tangis.


Al yang sedari tadi diam saja, menyaksikan bagaimana kesedihan wanita yang dibencinya karena membuat orang yang disayanginya menderita. Kini Al mengulurkan sebotol air mineral padanya. Lama tidak diterima oleh Vega, Al pun meletakkan minuman ini di sisi brankar yang kosong di samping tubuh Lily terbaring.


"Minumlah, itu akan membuat Anda sedikit merasa tenang, dan Anda juga harus makan," kata Al yang kembali menyodorkan kantong plastik berwarna putih yang berisi makanan yang tadi di pesannya.


"Aku tidak lapar," jawab Vega yang tidak bergerak sedikitpun, tidak menerima apa yang Al berikan.


"Tapi Anda harus makan, bagaimana jika Anda sakit dan Putri Anda bangun, siapa nanti yang akan merawatnya jika bukan Anda, dan mungkin saja jika Putri Anda bangun, dia akan menyalahkan dirinya sendiri karena membuat Ibu yang disayanginya sakit karena lelah menjaganya.


"Makanlah! Aku akan pergi sekarang, ada urusan yang harus kerjakan dan nanti aku akan kemari lagi, saat itu Anda harus sudah menghabiskan makanan itu," ucap Al kemudian berlalu meninggalkan Vega yang kini menatap.punggungnya yang semakin menjauh.


.


.


"Kenapa sayang? Apa yang kamu pikirkan? Apa yang Ayahmu tadi katakan hingga membuatmu diam seperti ini?" Tanya seorang wanita yang datang dan duduk dipangkuan Ronald.

__ADS_1


"Hmm tidak ada," Ronald menarik pinggang wanita itu hingga membuatnya semakin dekat sampai tidak ada jarak lagi.


"Hmm sayang, kapan kamu akan mengenalkanku pada Ayahmu? Bukankah semakin cepat semakin baik, aku juga ingin berkenalan juga dengan Paman Gomes, aku ingin lebih jauh mengenal keluarga besarmu," wanita itu menggambar pola abstrak di dada Ronald dengan jari telunjuknya.


Ronald tersenyum sinis, kini dia seakan mengerti tujuan wanita yang duduk di pangkuannya itu.


"Sayang!" Wanita itu kini mendongak dan menatap Ronald menunggu jawaban pria itu.


"Tidak sekarang Grace, kau tahu mereka orang yang sibuk, dan tidak semudah itu untuk bertemu dengan mereka, apalagi Ayah, aku yakin jika dia akan menolak," jawab Ronald memberi pengertian pada salah satu kekasihnya itu.


"Tapi sayang, mau sampai kapan, aku juga ingin cepat-cepat masuk ke dalam keluargamu," jawab Grace memasang wajah sedihnya.


"Baiklah, nanti aku akan atur waktunya, jadi aku harap kamu bersabar, dan jangan sedih lagi seperti ini, nanti kecantikanmu pudar," Ronald sedikit mengangkat dagu Grace menatap wanita itu intens.


"Ya selangkah lagi, aku akan menjadi bagian keluarga Orlando dan Gomes, dan namaku sebagai model akan semakin terkenal saat nama belakangku menyandang nama keluarga Orlando, walaupun Orlando tidak sekaya keluarga Gomes, tapi semua orang disana tahu jika Orlando dan Gomes bersaudara," ucap Grace dalam hati dengan senyum liciknya.


"Kau pikir aku tidak tahu rencanamu, ayolah aku ini Ronald, seorang pria yang tidak akan melakukan apapun hanya untuk seorang wanita, yang ada semua wanita yang akan menyerahkan segalanya pada seorang Ronald," batin Ronald berbicara menatap Gracia yang tersenyum licik, ya Ronald tahu jika ada senyum licik yang terukir di wajah wanita ini.

__ADS_1


__ADS_2