
"Aku hanya bertemu dengan Ibu Lily satu kali, yaitu saat mereka kecelakan, saat itu aku mengajak Dahlia, lebih tepatnya menepati janji kami yang akan mengajak Dahlia ke taman hiburan. Aku sudah menunggu Ayah Dahlia berjam-jam tapi dirinya tidak kunjung datang, dia mengatakan tidak bisa datang karena harus lembur, dia mengingkari janjinya. Beberapa waktu kemudian, aku yang sedang bermain dengan putriku begitu terkejut, saat pandanganku tertuju pada seorang pria dan wanita yang tengah tersenyum sambil menggendong seorang anak perempuan, bahkan pria dan wanita itu bergandengan tangan, benar-benar terlihat seperti keluarga yang bahagia. Aku sebisa mungkin mengalihkan Dahlia agar tidak melihat pemandangan itu, karena kenapa? Karena pria itu adalah Ayahnya, aku tidak mau Putriku merasa kecewa dan sedih saat melihat Ayahnya bersama anak gadis lain, sementara janji dengannya diingkari begitu saja, hati Ibu mana yang tidak sakit, hati Istri mana yang tidak terluka melihat suaminya bersama wanita lain, bahkan ada anak kecil di antara mereka? Saat itu aku benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih, ribuan pertanyaan seakan terus bermunculan di pikiranku, Siapa wanita itu? Siapa anak kecil yang ada di dalam gendongannya? Kenapa dia harus berbohong? Kenapa dia mengingkari janji pada Putrinya dan justru menemani putri lain? Kenapa dia tega memperlakukan kami seperti itu? Banyak sekali pertanyaan kenapa yang terus silih berganti memenuhi pikiranku. Dengan mencoba menguatkan hati, aku mengajak putriku pergi dari tempat itu, siapa sangka langit seakan mengerti perasaanku saat itu, hujan turun dengan derasnya, dan saat di halte tempat kami berteduh, aku melihat sebuah mobil hilang kendali dan menabrak pembatas jalan dengan suara terdengar begitu keras di heningnya malam, bahkan suaranya mengalahkan hujan yang saat itu turun dengan deras, tubuhku bergetar hebat, jantungku rasanya nyaris lepas, aku menangis dalam diam, air mata yang terus menetes dari kedua mataku bercampur dengan dinginnya air hujan. Sekali lagi aku menguatkan hati dan diriku, mobil itu, mobil yang saat itu aku lihat adalah mobil Suamiku, di dalamnya dia dan wanita itu terluka parah, wanita itu bahkan sudah tidak lagi bernyawa, Suamiku masih bisa mengucapkan kata, bahwa aku harus menjaga gadis itu, gadis yang dipanggilnya Lily anastasya. Sekarang Anda tahu kenapa aku dulu terlihat kejam kepada Lily? Aku.. aku juga tidak ingin seperti itu, tapi itu caraku agar aku tidak semakin membencinya, tidak, aku sebenarnya tidak pernah membencinya, hanya saja setiap melihatnya, aku semakin ingat kejadian itu yang membuat hatiku terluka, aku minta maaf, aku sungguh minta maaf, karena saat itu aku egois mementingkan perasaanku daripada perasaan Lily, sungguh aku menyesal dan benar-benar minta maaf, beri aku waktu untuk bisa bersamanya, aku ingin menebus semuanya, akan aku berikan kasih sayang yang dulu tidak pernah dia dapatkan, aku mohon dokter, ijinkan aku membuatnya bahagia."
Cerita Vega kemarin berhasil mengganggu pikiran Alan. Dirinya kemarin memang sengaja menemui Vega secara pribadi untuk tahu tentang Istrinya, dan Alan terkejut saat mendengar cerita Vega.
"Dokter Alan, ruang operasi sudah disiapkan," kata seorang perawat yang langsung berhasil menarik Alan agar kembali ke dunianya saat ini.
Alan mengangguk, dan perawat itu pun segera pergi.
Alan keluar dari ruangannya, dan tanpa sengaja dirinya menabrak seseorang.
"Maaf," kata wanita yang bertabrakan dengan Alan.
"Seharusnya saya yang minta maaf," ucap Alan kemudian menatap orang yang ada di depannya.
Alan terus memandangi wanita itu, sambil berpikir dengan keras.
"Maaf dokter Alan, saya permisi dulu," ucap wanita yang juga berprofesi sebagai dokter yang segera berlalu meninggalkan Alan yang kini berbalik badan dan melihat punggung wanita yang semakin menjauh dari jangkauannya.
Kemudian Alan segera melanjutkan kembali langkahnya saat perawat kembali memanggilnya.
***
Lily tersenyum senang saat melihat nama Suaminya terpampang jelas di layar ponselnya, tapi Lily tidak langsung menjawab panggilan yang sudah dari pagi di tunggunya. Lily ingin membalas suaminya dengan mengabaikan panggilan darinya, kesatu, kedua hingga yang ketiga kalinya Lily baru menjawabnya.
Begitu terhubung, tampak suaminya sedang menunduk dengan dada yang terbuka, suaminya kini hanya memakai bathrobe dan sepertinya dirinya kini belum sadar jika panggilan sudah terhubung.
Lily menutup kedua matanya dengan jari-jarinya yang terbuka, sedikit mengintip pada pemandangan yang terpampang nyata di depannya.
__ADS_1
"Hai sayang, kenapa matanya di tutup seperti itu," Jason kini sudah duduk di kursinya.
"Tidak apa-apa, kamu dimana? Kenapa baru menghubungi?" Lily melihat suaminya yang tampak sibuk membuka laptopnya.
"Ini sudah di kamar, maaf ya sayang, tadi aku sangat sibuk, makanya baru bisa menghubungimu, ini saja pekerjaanku belum selesai, tidak apa-apa kan jika aku sambil mengerjakan pekerjaanku," ucap Jason yang kini sudah menatapnya.
"Hmm tidak apa-apa," jawab Lily. "Asal aku bisa melihatmu," tambahnya dalam hati, dan tanpa sadar Lily tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum seperti itu, ada yang lucu?" Tanya Jason heran.
"Tidak ada, ya sudah kamu kerjakan pekerjaanmu biar aku temani," ucap Lily yang kini mengatur posisi duduknya agar lebih nyaman.
"Oke, kamu cukup melihatku saja, aku tahu kamu pasti kangen banget sama aku," ucap Jason dengan percaya diri sambil menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard.
Jason sudah tampak sibuk dengan pekerjaannya, sementara Lily memperhatikan suaminya yang semakin tampan saat sedang serius mengerjakan pekerjaannya.
Ting
Tung
Ting
Tung
Terdengar bel berbunyi di seberang telepon.
Jason masih tampak fokus pada pekerjaannya, mengabaikan bel yang terus saja berbunyi.
__ADS_1
Lily menggelengkan kepalanya, jika bekerja, suaminya memang sering kali mengabaikan apapun yang terjadi di sekitarnya, bahkan Lily sering protes jika dirinya diacuhkan ketika suaminya membawa pekerjaan ke rumah, jika saja dirinya masih diijinkan bekerja pasti setiap saat bisa bertemu dengan suami tercinta. Sayangnya Jason tidak lagi mengijinkannya bekerja, apalagi saat suaminya itu mengatakan alasannya, "Tugas kamu hanya bersantai di rumah dan menghabiskan uangku, biarkan aku saja yang bekerja, agar istriku tercinta tidak merasa lelah," Lily benar-benar tidak menyangka suaminya si pria dingin bisa mengatakan hal seperti itu, hingga membuat Kakaknya Al, ingin muntah di tempat saat mendengar kalimat Jason itu.
Lily kemudian tersadar dari lamunannya saat mendengar bel kembali berbunyi.
"Sayang ada bel tuh, buka dulu gih," kata Lily menyadarkan Jason hingga membuatnya menghentikan kegiatannya.
"Hah apa sayang?" Tanya Jason yang memang tadi terlalu fokus.
"Ada bel sayang, kamu sih terlalu fokus, sampai tidak mendengar apapun di sekitarmu"
Baru saja Lily mengatakan, akhirnya Jason mendengar sendiri bel yang istrinya maksud.
"Oh iya, soalnya biar cepat selesai terus bisa menemanimu mengobrol. Hmm siapa ya malam-malam begini?" Tanya Jason entah kepada siapa.
"Mungkin petugas hotel," jawab Lily mengira-ngira.
"Tapi aku juga tidak memanggil mereka, aku juga tidak memesan apapun," tampak dengan jelas terlihat jika suaminya kebingungan.
"Coba buka saja, mungkin saja penting," ucap Lily agar suaminya memastikan terlebih dahulu.
"Ya sudah, aku buka pintu dulu ya sebentar," pamit Jason kepada istrinya yang langsung mendapat anggukan.
Jason berjalan ke arah pintu dan langsung membukanya.
"Hai," ucapnya yang kemudian langsung masuk begitu saja. Dirinya kemudian langsung duduk di atas ranjang Jason
Jason yang tadi begitu terkejut sampai tidak fokus jika wanita itu sudah menerobos masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Lily mengepalkan tangannya saat melihat dengan jelas apa yang ada di seberang telepon, hingga akhirnya Lily memutuskan panggilannya sepihak, merasa marah entah kepada siapa.