Please Love Me

Please Love Me
Part 121


__ADS_3

"Sudah siap?" Seperti perkataannya tadi, setelah lima belas menit berlalu, Al kembali ke kamar adiknya, guna memastikan apakah Lily sudah selesai bersiap.


"Kok belum siap sih?" Al yang kesal menarik tangan Lily ke walk in closet.


"Jadi beneran Kak?" Tanya Lily dengan polosnya.


"Ya benar, kamu kira Kakak bercanda? Sekarang ayo ambil beberapa bajumu!" Perintah Al kemudian dia mengambil koper kecil yang ada terletak tidak jauh dari posisinya.


Bukan langsung menuruti perintah Kakaknya, Lily hanya diam dan memperhatikan gerak-gerik Kakaknya.


"Ya ampun Ale, kenapa malah diam saja, bikin lama saja," gerutu Al menghela nafasnya.


"Kakak beritahu dulu apa maksud semua ini, aku bingung Kak, kakak tiba-tiba memintaku bersiap tapi Kakak tidak menjelaskan apapun, apa Kakak akan mengusirku, gara-gara aku mencoba mendekatkan Kakak dengan Kak Lia? Aku bahkan tadi sudah minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi, jadi Kak tolong Kakak pikirkan baik-baik tentang keputusan Kakak ini, jika Ayah tahu, apa yang Kakak akan jelaskan kepada Ayah, jika Ayah bertanya padaku, aku pasti akan mengatakannya dengan jujur bahwa Kak Al yang ingin aku pergi dari sini, aku tidak mau berbohong pada Ayah Kak, jadi nanti Kak Al jangan salahkan aku, jika sampai Ayah marah pada Kak Al," ucap Lily dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Al kembali menghela nafasnya, "Lebay deh, siapa juga yang mau ngusir, ini kamu pasti sering menonton drama, makanya pikiran kamu hanya itu-itu saja, bahkan saat aku mengatakan bersiap saja kamu sudah nangis kejer seperti itu," kesal Al melihat Lily yang menurutnya lebay.


"Tapi kan.."


Al segera memotong perkataan Lily jika terus menjawab adiknya itu, maka akan semakin lama.


Al yang sudah tidak sabar, memasukkan pakaian adiknya dengan asal.


Setelah semua sudah beres, Al menyeret koper itu keluar dari walk in closet.

__ADS_1


"Mana ponselmu, dompet, keperluan lainnya?" Tanya Al dan Lily hanya menunjuk salah satu tasnya.


Al segera mengambil tas Lily di gantungkan di bahunya, tangan kiri menarik tangan Lily, sedangkan tangan kanannya masih menyeret koper, Lily hanya bisa pasrah mengikuti langkah panjang Kakaknya.


"Kak, sebenarnya kita mau kemana, aku belum ijin suamiku, bagaimanapun aku harus ijin dulu padanya kemanapun aku pergi walaupun itu bersama dengan Kakak," ucap Lily yang kemudian akhirnya bisa menghentikan langkah Kakaknya.


"Ya sudah, nanti kamu bisa minta izin jika sudah ada di mobil," jawab Al enteng kemudian melanjutkan langkahnya.


Al melepas genggaman pada tangan Lily kemudian mengangkat koper saat menuruni anak tangga.


"Cepat Lily, kita tidak punya waktu, ini sudah sangat malam. Kita harus berangkat sekarang!"


"Tapi Ayah belum pulang," 


 "Baiklah," akhirnya Lily hanya bisa pasrah.


Al berjalan menuju ke mobilnya karena seorang supir sudah menunggunya. Sedangkan Lily hanya mengekor di belakangnya, dirinya lupa jika dia sedang kesal dengan suaminya mengingat hal tadi, "Siapa yang tadi datang? Sepertinya aku mengenal suaranya?" Lily berjalan sambil melamun, sambil mengingat-ingat dimana dirinya mendengar suara wanita yang tadi sudah beraninya masuk ke dalam kamar suaminya, hingga tanpa sengaja kepala Lily menabrak dada bidang Al, Saat pria itu berbalik badan.


"Aw," ringis Lily pelan mengusap kepalanya yang terasa sakit, Lily berharap semoga saja kepalanya tidak benjol.


"Kalau jalan itu fokus Ale, bukan melamun, lagian kamu ngelamunin apa sih sambil jalan, bahaya tahu, kalau mau melamun boleh, tapi pada tempatnya," omelan Al sudah seperti Ibu-ibu saja.


"Gini nih, kalau orang yang di tinggalin Suaminya kerja dan tidak pulang," gerutu Al tapi tangannya ikut mengecek kepala Lily.

__ADS_1


"Masih sakit tidak?" Ketus Al, tapi Lily bisa melihat jika ada kekhawatiran di wajahnya.


Lily tersenyum, melihat Kakaknya yang terlihat cemas hanya karena luka kecil yang dialaminya.


"Jadi begini ya, rasanya banyak orang yang sayang di sekitar kita, begini rasanya disayangi dan di perhatikan, ada seseorang yang khawatir di saat kita terluka, aku benar-benar tidak menyangka bisa merasakan semua ini, terima kasih Tuhan, karena Engkau sangat menyayangiku, hingga Engkau mendatangkan banyak orang yang menyayangiku belakangan ini, sungguh aku sangat bersyukur," ucap Lily dalam hati dan tanpa terasa beberapa butir cairan bening turun begitu saja dari kedua matanya.


"Kenapa menangis? Apa rasanya sakit banget, maafkan Kakak, lain kali kamu jangan jalan sambil melamun lagi ya, karena itu memang berbahaya, sekarang kamu seperti ini masih ada Kakak, tapi bagaimana jika kamu sedang sendiri?" Al panik saat menyadari jika adiknya menangis.


"Tidak apa-apa Kak, ini tidak sakit kok, aku baik-baik saja, dan Kak Al tidak perlu khawatir," jawab Lily tersenyum untuk memastikan ke sang Kakak bahwa dirinya memang benar-benar baik saja.


Al mengelus kepala Lily yang terluka dengan lembut, berharap sentuhannya seperti sihir yang bisa membuat rasa sakit yang adiknya rasakan hilang begitu saja.


"Ayo kita berangkat sekarang!" Al menggenggam tangan adiknya dan membuka pintu mobil belakang, menyuruh Lily untuk masuk, dan dirinya juga ikut masuk dan duduk di samping Lily.


Lily hanya menurut tidak ingin membantah omongan Al lagi. Kali ini Lily mengikuti Al dengan diam, tidak ada lagi suara yang keluar dari mulutnya, sibuk dengan pikiran sendiri. Lily akan percayakan perjalanan ini pada Kakaknya.


"Semoga kamu bahagia Ale, akan aku lakukan apapun itu asal membuat kamu selalu tersenyum, dan Jasonlah adalah orang yang tepat yang bisa membuatmu bahagia. Aku sedih melihat kamu yang belakangan ini tampak murung dan sering melamun, entah apa yang sedang kamu hadapi, tapi aku yakin ini berkaitan dengan pria yang kamu cintai itu, dan apapun masalahmu aku hanya bisa berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja," Al berdoa dalam hatinya, sambil menatap Lily dengan pandangan sendu.


Bohong jika Al langsung bisa melupakan perasaannya terhadap Lily secepat itu, karena sesungguhnya jauh di lubuk hati Al yang paling dalam, dia masih mencintai Lily, tapi Al juga tidak bisa melakukan apapun, takdir seolah tidak mengizinkan mereka untuk bersatu, Al hanya selalu berusaha untuk membahagiakan orang yang dicintainya yang kini justru berubah menjadi status sebagai adiknya. Bukan Adik Ipar ataupun Adik Tiri, melainkan Adik kandungnya, hancur hati Al tentu saja, Al nyatanya sampai saat ini belum siap untuk menerima kenyataan yang sebenarnya, lantas Al bisa apa? Dia hanya bisa menyimpan perasaannya dan menempatkan Lily di tempatnya sendiri, hingga mungkin tidak akan ada orang yang bisa mengambil tempat itu, setidaknya untuk saat ini. Karena masa depan tidak ada yang tahu bukan? Itulah yang Al selalu pikirkan.


"Kak kenapa diam saja?" Lily kesal, karena sedari tadi Al menyuruhnya buru-buru, tapi begitu masuk ke dalam mobil, pria itu hanya diam saja bahkan tidak menyuruh sopirnya untuk menjalankan mobilnya ataupun sekedar memberitahu kemana mereka akan pergi. Padahal sopirnya sedari tadi memanggil-manggilnya menanyakan hal itu.


"Oh itu, akan aku kirim lokasinya." Al menyalakan ponselnya dan mengirim lokasi seperti apa yang tadi dia katakan.

__ADS_1


Supir pun mengangguk mengerti, dan setelah melihat lokasi yang Al kirimkan, supir pun melajukan mobilnya menuju ke tempat tujuan yang diminta oleh majikannya.


__ADS_2