Please Love Me

Please Love Me
Bab 269


__ADS_3

Setelah makan malam, Ronald dan Liora berpamitan untuk pulang, Ronald harus segera mengantarkan Liora ke rumahnya, pria itu tidak mau mengingkari janjinya yang akan membawa Liora pulang tepat waktu.


"Melihat kebersamaan keluarga ibu kamu rasanya begitu hangat ya," ujar Ronald tiba-tiba membuat Liora kini menatap calon suaminya itu.


Liora tersenyum dan membenarkan perkataan Ronald.


"Hmm dan aku sangat beruntung karena menjadi bagian keluarga itu, kamu tahu, bahkan Lily dan Kak Al juga baru tahu jika mereka bersaudara." 


Liora kemudian menceritakan semua tentang Lily yang dia tahu kepada Ronald seperti janji yang diucapkannya tadi saat di rumah Alan.


"Jadi Lily sempat akan menikah dengan Al, tapi mereka kemudian tahu jika mereka ternyata adalah kakak adik?" Tanya Ronald yang bahkan kini menepikan mobilnya merasa tertarik dengan cerita Liora tentang Lily.


"Hmm, dan semua orang tampak bingung saat itu."


"Lalu bagaimana dengan mereka?"


"Maksud kamu?" Liora tidak mengerti maksud pertanyaan Ronald selanjutnya.


"Bagaimana perasaan Lily dan Al saat tahu mereka akan menikah tapi tidak jadi karena hubungan persaudaraan mereka."


"Oh itu, Lily baik-baik saja, tapi Kak Al waktu itu sempat pergi dari rumahnya dan bilang jika dia hanya perlu waktu menenangkan diri."


"Kenapa bisa Lily baik-baik saja? Bukankah biasanya perasaan gadis lebih hancur jika hal seperti itu terjadi?"


"Baik pria maupun gadis pasti hancur, jika pernikahan yang mereka harapkan batal di depan mata terlebih jika mereka saling mencintai. Lily baik-baik saja karena memang dia tidak memiliki perasaan pada Kak Al, Lily mau menikah dengan Kak Al, hanya karena dia tidak ingin menyakiti perasaan Kak Al karena Kak Al yang sudah lama mencintainya, apalagi saat itu, di dalam hati Lily sudah ada pria lain yang dia cintai."


"Maksudmu Jason?"

__ADS_1


"Hmm, aku tidak tahu bagaimana awalnya mereka bertemu, tapi aku lihat jika kak Jason sangat mencintai Lily, Lily berhasil menggantikan posisi seseorang yang selama ini ada di hati Kak Jason," ucap Liora tersenyum miris saat mengingat hal itu.


Ronald memperhatikan ekspresi Liora saat ini.


"Apa kamu masih mencintainya?" Tanya Ronald tiba-tiba yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Liora.


"Eh tunggu, kenapa kamu bertanya padaku seperti itu?"


Ronald hanya mengedikan kedua bahunya dan kembali fokus pada jalanan di depannya.


Tak lama mereka kini akhirnya sampai di pelataran kediaman William, Liora membuka pintu tapi Ronald menahannya. 


"Kamu yakin kita memutuskan tidak bertemu hingga hari pernikahan kita seperti tadi yang ayah kamu katakan?" Tanya Ronald yang sepertinya berharap Liora membatalkan keputusannya tentang itu.


"Iya, kamu tidak apa-apa kan? Atau kamu takut kamu akan sangat merindukanku jika kita tidak bertemu?" Liora menggoda Ronald dengan menatap pria itu sambil mengedip-ngedipkan matanya.


Dan Ronald yang melihat Liora seperti itu menjadi salah tingkah sendiri.


Liora tersenyum kemudian mencium pipi Ronald, "Ya sudah, kalau begitu aku turun dulu, nanti kabari jika sudah sampai," ucapnya kemudian yang langsung dijawab anggukan oleh Ronald.


Liora melambaikan tangannya sementara Ronald melajukan mobil. Gadis itu tersenyum dan bersenandung masuk ke dalam rumah.


"Darimana saja kamu?" 


Liora menghentikan langkahnya, kemudian menoleh, ternyata disana ada Max, Bunga, Vano, Jasmine, mami dan papinya.


"Kalian sedang berkumpul?" Tanya Liora yang kemudian berjalan mendekat ke arah mereka dan duduk di samping maminya.

__ADS_1


"Kamu belum menjawab pertanyaan Kakak El?" Tanya Max lagi karena adik perempuannya itu tidak menjawab pertanyaannya justru kembali bertanya.


Liora menghela nafas lalu menatap kakak keduanya itu.


"Dari rumah ayah dan ibu, tadi aku juga makan malam disana, karena Ibu memintaku untuk makan dulu sebelum pulang."


"Lalu kenapa tidak memberi kabar?"


"Maaf aku lupa."


"Sudahlah Max, kau selalu saja menginterogasi Liora ini dan itu, Liora sudah dewasa dia pasti bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dilakukan atau tidak, aku yakin Liora bisa menjaga dirinya dengan baik, jika kamu terus seperti itu, hal itu justru akan menekan Liora, dan lagi dia pergi bersama calon suaminya, jadi kamu tidak perlu sedetail itu bertanya, karena bagaimanapun Liora punya privasi sendiri yang semuanya tidak harus dibagikan pada orang lain," sahut Jasmine yang merasa jengah mendengar Max yang tampak seperti menekan Liora.


"Bukan seperti itu kak…"


"Dan kamu Liora, selalu ingat untuk memberi kabar bahwa kamu baik-baik saja, agar kakakmu tidak khawatir."


"Baik kak, maaf karena sudah membuat Kak Max khawatir, lagian aku tadi sudah bilang kok sama mami kalau aku pergi ke rumah ayah dan ibu. Apa mami tidak bilang?" Kata Liora menatap maminya.


"Tadi mami sudah bilang kok, kakakmu saja yang terlalu mengkhawatirkanmu, dia takut kamu berbohong, padahal jelas-jelas, Dea juga sudah mengirim pesan pada mami bahwa kamu sedang bersamanya."


"Wah berarti Kak Max sangat menyayangiku, terima kasih Kak Max, ya sudah, El ke kamar dulu, ingin membersihkan badan," pamit Liora yang kemudian bangkit dan meninggalkan keluarganya.


"Aku tahu kamu sangat menyayanginya Max, tapi dengan cara seperti itu, kamu hanya akan membuat Liora salah paham," ucap Jasmine begitu melihat Liora tidak tampak lagi.


"Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan rasa khawatir ku, kamu tahu sendiri, aku dan Liora tidak begitu dekat, kakak adik rasanya hanya seperti status saja, aku tidak tahu apa yang dia sukai, karena dia tidak pernah menceritakan hal-hal kecil seperti itu padaku, dan hanya seperti tadi yang bisa aku lakukan untuk memberinya perhatian, dan aku tidak tahu jika Liora bisa saja salah paham karena hal itu."


Jasmine menghembuskan nafas mendengar perkataan Max, dia juga tidak tahu harus mengatakan apalagi melihat kakak adik yang memang menurut Jasmine terlihat begitu kaku.

__ADS_1


"Kamu harus lebih mengerti Liora saja, karena bagaimanapun dia hanya ingin dimengerti saja, siapa lagi yang harus mengerti akan dirinya jika bukan keluarganya sendiri," sahut Bunga yang sedari tadi hanya mendengarkan Jasmine dan Max berbicara.


Sementara itu Liora yang sudah sampai di kamarnya, langsung menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Ditatapnya langit-langit kamar tapi pandangannya menerawang jauh, gadis itu tampak merenung, tidak tahu apa yang dipikirkannya saat ini. Hingga kemudian dering ponsel membuyarkan lamunannya, Liora tersenyum membaca pesan yang dikirimkan Ronald padanya, dan bukannya mandi seperti apa yang tadi dikatakannya, Liora kini justru tampak asyik berbalas pesan dengan Ronald. Dan ada satu pesan dari kekasihnya yang membuat gadis itu bangun dan langsung duduk. Liora mencoba menghubungi Ronald memastikan kebenaran pesan itu.


__ADS_2