Please Love Me

Please Love Me
Bab 261


__ADS_3

Jason menuju kamarnya berjalan sambil melepas dasi yang melingkar di lehernya setengah hari ini. Dia mencoba menghubungi istrinya lagi, tapi Jason mengedarkan pandangan ke sekitar, saat dia mendengar bunyi dering ponsel. Panggilan Jason terputus, dering itu pun ikut berhenti.


Jason mencoba memanggil lagi, sambil mencari sumber suara. Dan Jason mengambil ponsel yang terselip di sofa.


"Rupanya tidak membawa ponsel, pantas saja," gumam Jason, dirinya kemudian mencoba menghubungi Dea, tapi sama, wanita itu juga tidak menjawab. 


Jason memutuskan untuk membersihkan diri lebih dulu, karena setengah hari ini dia bekerja di luar.


Jason masuk ke kamar mandi, tapi pandangannya tertuju pada benda persegi panjang disana yang menunjukkan dua garis merah.


"Ini?" Tangan Jason bahkan sampai gemetar memegangnya.


"Lily…. Istriku…" Jason mengurungkan niatnya yang akan mandi pria itu melipat lengan kemejanya sampai siku, lalu mengambil ponsel dan kunci mobilnya, segera pergi. 


Jason dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya, kini mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia rasa dia tahu kemana perginya sang istri saat ini.


***


"Kenapa Ibu tidak boleh menjawab telepon suamimu?" Tanya Dea merasa heran pada putrinya, sedari tadi putrinya berkata seperti ingin Jason menemaninya, tapi disaat Dea akan menjawab telepon dan meminta Jason datang ke rumah sakit, Lily justru terus menolaknya.


"Biarin Bu, Ale kesal sama Jason, dari tadi Ale hubungi gak diangkat-angkat, jadi biarkan saja, dia merasakan apa yang Ale rasakan."


Dea hanya menggeleng, Lily dalam mode seperti itu hanya bisa dituruti saja. Sepertinya moodnya memang sedang buruk.


"Baiklah, Ibu akan masukkan ponselnya ke dalam tas saja," kata Dea mencoba meminta ponselnya yang direbut Lily tadi saat Dea akan menjawab panggilan Jason.


"Biar Ale saja Bu yang simpan, nanti Ibu malah kasih tahu Jason lagi, kita dimana," kata Lily yang tidak percaya jika mungkin saja Dea akan menghubungi Jason diam-diam.


Dea hanya bisa pasrah, jika tidak diikuti maunya, nanti takutnya malah Lily semakin kesal.


Panggilan untuk Lily menghentikan apa yang sedang kedua orang itu bicarakan. Dea mengajak Lily masuk untuk bertemu dengan dokter yang akan memeriksakan kandungan Lily.


Saat dokter menjelaskan bagaimana kondisi bayi dalam kandungan Lily, tiba-tiba pintu terbuka. Membuat semua orang di dalamnya menoleh.


"Nak Jason, sini kemarilah!" Ucap Dea meminta Jason mendekat, Lily hanya menatap sebentar, setelah tahu suaminya yang datang, dia kembali fokus pada apa yang dokter katakan.


Jason ikut menyimak apa yang dokter katakan, sambil melirik ke arah sang istri yang hanya diam saja, sepertinya masih marah dengannya.


"Apa wanita hamil, suasana hatinya cepat berubah dok?" Celetuk Jason yang membuat Lily langsung melotot mendengar pertanyaan suaminya itu.


Dokter Dian dan Dea tersenyum, sepertinya mereka kini mengerti apa yang terjadi pada pasangan ini.


"Padahal biasanya yang saya temui, bukan pertanyaan seperti itu Dokter Dea dari para suami," dokter Dian kini menatap Dea.

__ADS_1


"Oh ya? Lalu apa?" Tanya Dea yang pura-pura penasaran.


"Apa boleh hamil, tetap berhubungan, tapi sepertinya menantu Anda berbeda."


"Haha, menantuku memang lain dari yang lain," jawab Dea. "Sudah Dian kamu jelaskan saja, mungkin menantuku ini memang ingin tahu jawabannya. Karena soal seperti yang kamu katakan mereka pasti sudah tahu, karena bagaimanapun ini kehamilan kedua putriku," tambahnya.


Dian mengangguk mengerti, kemudian menjelaskan pada Jason kenapa ibu hamil cepat sekali berubah mood. Jason mendengarkan dengan seksama dan mengangguk mengerti.


"Oh ya ini saya resepkan vitamin dan obat pereda mualnya ya," kata dokter Dian.


"Iya dok, terima kasih," jawab Jason dan Lily bersamaan.


"Makasih ya Dian," ujar Dea, membiarkan anak dan menantunya keluar lebih dulu, sementara dia mengobrol sebentar dengan dokter Dian.


Lily berjalan cepat meninggalkan suaminya begitu keluar.


"Sayang pelan-pelan!" 


Tapi sepertinya Lily tidak mau mendengarkan apa yang Jason katakan.


Jason kemudian segera menyusulnya dan memeluknya dari belakang, tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang melihatnya.


"Hei, maafkan aku, aku tadi sedang keluar bertemu klien, please jangan marah dong!" Bisik Jason.


"Kamu tahu saat aku tadi menemukan hasil tes kehamilan milikmu, aku sangat senang, dan aku menduga jika kamu pasti kemari. Dan benar, tadi aku bertemu ayah di taman sedang bersama Cinta, dan ayah bilang kamu ada disini, hingga aku buru-buru datang, karena tidak ingin melewati hasil pemeriksaan anak kita."


"Jangan cemberut gitu dong sayang, aku janji hal seperti ini tidak akan terulang lagi, aku akan selalu mengaktifkan ponselku, dan akan langsung menjawab jika kamu menelpon," Jason mengangkat dagu Lily agar menatapnya karena sedari tadi Lily sama sekali tidak mau melihatnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Lily yang melihat dahi suaminya berdarah. Wanita itu hendak memegangnya, tapi Jason mendahuluinya.


"Oh ini… tadi ada kecelakaan sedikit di jalan, karena aku buru-buru ingin menyusulmu."


"Kenapa harus buru-buru? Kenapa tidak pelan-pelan dan hati-hati saja, bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu? Sekarang mana lagi yang terluka?" Lily mengecek anggota tubuh suaminya barangkali ada yang terluka lagi. Bahkan kini wajah Lily sudah banjir air mata.


"Sayang jangan nangis, aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil kok," Jason menenangkan istrinya yang kini justru menangis semakin kencang.


"Tapi kamu kayak gini gara-gara aku, kalau saja aku tidak marah kamu pasti…"


"Sstt! Sudah ya, beneran aku baik-baik saja kok," Jason kini menarik sang istri dalam pelukannya.


"Benar tidak apa-apa."


"Iya."

__ADS_1


"Sudah belum? Loh ini kenapa kok jadi peluk-pelukan disini?" Tanya Alan yang baru saja datang dengan Cinta di gendongannya. Gadis kecil itu tampak terlelap di dekapan sang kakek.


"Ayah, ayah tolong nanti obati suami Ale dulu, lihatlah dia terluka," kata Lily begitu melepaskan pelukan saat mendengar suara Alan.


"Memang Jason kenapa?" Tanya Alan mendekat melihat luka Jason.


"Tidak apa-apa Yah, nanti di obatin di rumah saja," ucap Jason.


Alan menatap menantunya, lalu mengangguk.


"Ayah sudah disini? Ya sudah ayo kita pulang!" Ajak Dea yang baru keluar dari ruangan dokter Dian.


"Yakin nanti?" Tanya Lily memastikan lagi.


"Iya," jawab Jason tersenyum.


Kemudian mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang.


*


*


"Kamu beneran tidak apa-apa, jika nanti pulang sendiri naik taxi?" Tanya Ronald untuk kesekian kalinya, begitu menghentikan mobilnya di depan butik tempat kerja Liora.


"Iya Ronald, sudah aku mau turun. Nanti kamu terlambat lagi menjemput ayah," jawab Liora yang kini keluar dari mobil.


Liora menutup pintu mobil dan berjalan masuk, tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara Ronald.


Liora berbalik, dilihatnya pria itu ternyata membuka kaca, dan kembali berkata.


"Hmm apa perlu aku meminta seseorang saja untuk menjemputmu?"


"Tidak perlu aku akan naik taxi saja," Liora memperhatikan Ronald yang terus menatapnya hingga dia tidak bisa menahan untuk tidak bertanya.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"


Ronald menggeleng, "Tapi beneran kamu tidak apa-apa sendiri?" Katanya yang sepertinya enggan untuk membiarkan kekasihnya itu sendiri, karena belakangan ini mereka selalu pulang pergi bersamanya.


Liora menghela nafas, "Iya, sudah sana jalan, nanti terlambat, kasihan ayah nanti terlalu lama menunggu.


"Ya udah deh, kamu hati-hati ya pulangnya."


"Iya Ronald, baru saja berangkat sudah ngomongin pulang."

__ADS_1


Liora kemudian melambaikan tangannya saat mobil Ronald mulai melaju. Seperti biasa Liora masuk sambil menyapa beberapa orang yang datang. Kini Liora sudah sampai ke ruangannya, setelah menggantung tas nya. Liora duduk kemudian mulai sibuk dengan gambarnya. Dan begitu sibuknya dia hari ini, sampai tak terasa kini hari sudah sore saja, bahkan Liora sampai melewatkan makan siangnya. 


Liora kembali ke ruangannya segera bersiap setelah mengecek ke bagian produksi, dan setelah itu dirinya kembali keluar dan berpamitan pada yang lain, Liora kini melangkah keluar butik. Tapi langkah Liora terhenti ketika melihat orang yang saat ini ada di depannya.


__ADS_2