
Lily kini sudah sampai di depan kediaman utama William, Lily ragu untuk masuk ke dalam mansion mewah itu.
Tak lama seorang pengawal berlari ke arahnya, "Nona Lily?" Tanya pengawal itu meyakinkan apakah benar gadis yang baru saja datang ini adalah orang yang dimaksud Nyonya Mudanya di telpon.
"Iya Tuan," jawab Lily menunduk sopan.
"Mari Nona silahkan masuk, Nyonya Muda masih ada di perjalanan," jawab pengawal itu.
"Ah baiklah," jawab Lily mengikuti pengawal yang mengantarkannya.
Pengawal itu membuka pintu utama dan mempersilahkan Lily masuk, "Silahkan Nona, Anda bisa menunggu disini, kalau begitu saya permisi dulu," ucap pelayan mempersilahkan Lily duduk dan pamit undur diri.
"Terima kasih," ucap Lily dan hanya diangguki oleh pengawal itu sebelum akhirnya pengawal itu benar-benar meninggalkannya.
Lily pun kemudian duduk, dan tak berselang lama seorang pelayan datang dan mengantarkan minuman, dan meletakkannya di atas meja.
"Silahkan Nona!" Kata pelayan itu ramah.
"Terima kasih," ucap Lily.
"Sama-sama Nona, baiklah saya pamit untuk mengerjakan kembali tugas saya," kata pelayan yang langsung disetujui Lily.
Lily mengedarkan pandangannya menatap ke sekeliling, dia masih dibuat takjub dengan interior rumah mertua Jasmine ini.
Hingga fokusnya buyar ketika ada yang tiba-tiba memanggilnya. "Bibi Lily," teriak seorang anak dan langsung berlari ke arah Lily, entah kenapa sejak mereka pertama kali bertemu, saat Lily dan Liana mengajak Alno ke taman, Alno langsung bisa dekat dengannya, mungkin karena Lily bisa membuat Alno merasa nyaman dengannya.
Lily tersenyum dan langsung menangkap tubuh kecilnya yang kini semakin berisi. Kemudian mengangkat dan mendudukkan di pangkuannya.
"Wah keponakan Bibi ini tambah berat ya," ucap Lily sambil mencium seluruh wajah Alno dengan gemas.
"Bibi geli," kata Alno yang mencoba menghindar dari ciuman bertubi-tubi yang Bibi Lily berikan sambil tertawa-tawa.
"Minta ampun dulu, nanti Bibi lepaskan," kata Lily sengaja menggoda Alno.
"Ampun Bibi, berhenti! Alno geli," kata Alno menyerah.
Lily pun akhirnya menghentikan aksinya karena kasihan melihat Alno yang sudah kewalahan menghindari aksinya.
__ADS_1
"Bibi kenapa baru datang kesini? Alno kangen sama Bibi," kata Alno kemudian memeluk Lily dengan masih berada di pangkuan sahabat Mamanya itu.
"Benarkah?" Tanya Lily dan Alno pun mengangguk dengan mantap.
"Alno sama siapa di rumah?" Tanya Lily lagi.
Belum sempat Alno menjawab pertanyaan Lily, tiba-tiba indera pendengarannya menangkap suara seseorang yang sangat dikenalnya.
"Alno kan Paman sudah bilang, jangan kemana-mana," Jason menghentikan ucapannya saat tiba-tiba melihat gadis yang sangat di rindukannya ada di sana.
Tidak hanya Jason yang terkejut, bahkan Lily pun dibuat terkejut karena itu, dia tidak menyangka akan bertemu Jason di tempat ini.
Jason mendekat dan duduk di samping Lily, "Hai!" Sapa Jason sedikit canggung dengan suasana ini.
"Oh hai," Lily balas menyapa Jason.
"Alno sini sama Paman, kasihan Bibi pasti berat," kata Jason meminta Alno pindah ke pangkuannya.
"Tidak apa-apa biar sama aku saja," kata Lily apalagi yang melihat Alno menggeleng.
Hening, tidak ada yang bicara diantara mereka, membuat Jason akhirnya berinisiatif memulai pembicaraan.
"Ah apa?" Jawab Lily gugup.
"Tidak lupakan saja! Kau kemari mau bertemu dengan Nyonya Muda?" Tanya Jason kemudian mencoba mengalihkan pembicaraan, karena yang dapat dilihat Lily enggan membahas masalah tadi pagi.
"Maaf kamu mungkin mengira aku tamu yang tidak sopan saat meninggalkan Tuan Rumah tanpa izin darinya," kata Lily setelah berpikir cukup lama.
"Bukan itu masalahnya Lily, seharusnya kau bilang dan aku bisa mengantarmu," kata Jason kesal atas jawaban yang Lily berikan.
"Maaf Lily, apa kau sudah datang sejak tadi?" Tanya Jasmine yang baru saja muncul dari pintu utama.
Alno yang mendengar suara Mamanya langsung melepaskan pelukan Lily dan meminta turun dari pangkuan Lily, begitu berhasil turun dia langsung berlari ke arah Mamanya.
"Mama!" Teriak Alno berlari ke arah Jasmine.
"Pelan-pelan sayang, nanti kamu jatuh," kata Jasmine memberitahu putranya.
__ADS_1
Alno pun langsung berhenti berlari, dan kini dia berjalan dengan pelan-pelan menghampiri Mamanya.
"Ayo Mama duduk!" Alno meraih jari telunjuk Jasmine dan menarik Jasmine, memintanya Mamanya untuk duduk.
"Papa mana Ma?" Tanya Alno saat menyadari Mamanya hanya sendiri.
"Papa masih di…"
"Papa!" Alno kini berlari ke arah Stevano saat melihat Papanya sudah berdiri di depan pintu, Stevano berjongkok menyamakan tinggi putranya lalu menangkap Alno dan menggendongnya.
Ketiganya langsung menoleh ke arah pintu saat melihat Alno berteriak memanggil Papa dan berlari ke arahnya.
"Wah, anak Papa sudah wangi, tadi mandi sama siapa?" Tanya Stevano pada Alno.
"Sama Paman Jason, tadi Mama sama Papa kenapa tidak bangunin Alno saat mau pergi, Alno tadi nyariin Mama sama Papa tapi tidak ada di kamar," Alno menceritakan kejadian tadi pagi saat bangun tidur sudah tidak ada lagi Mama dan Papanya, karena Stevano dan Jasmine memang pergi pagi-pagi sekali. Biasanya sebelum pergi Jasmine maupun Stevano pasti memandikan Alno dulu. Tapi tadi Alno masih tidur nyenyak dan mereka tidak tega mengganggu tidur anaknya.
"Maafkan Papa ya, tadi Alno bobonya nyenyak banget, Alno sudah makan belum?"
"Belum, Alno mau di suapin Papa," katanya polos.
"Ya sudah ayo!" Kata Stevano.
Stevano menghampiri istrinya, "Aku menyuapi Alno dulu, kamu ngobrol saja sama teman kamu," Stevano kemudian menatap Alno yang masih di gendongannya.
"Alno tutup mata!" Perinta Stevano pada putranya dan langsung dituruti Alno. Setelah mengatakan itu Stevano langsung mengecup bibir istrinya.
"Sayang malu," kata Jasmine menatap Jason dan Lily bergantian dengan wajah yang sudah memerah.
"Tidak perlu malu sayang," kata Stevano dengan santainya, kemudian melihat ke arah Jason dan berkata, "Jika kau juga ingin, kau juga bisa melakukannya dengan gadis di sebelahmu!" Ucap Stevano enteng.
"Bolehkah?" Kata Jason semangat dan kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Lily.
Lily langsung mendorong Jason, "Awas saja jika kau berani lagi!" Kata Lily menatap Jason tajam.
Jason hanya menghela nafas berat, membuat Stevano tersenyum mengejek ke arah Jason dan berlalu meninggalkan mereka. Tapi langkah Stevano berhenti ketika menyadari Jason tidak mengikuti langkahnya.
"Jason untuk apa kau masih disitu? Cepat ikut denganku!" Perintah Stevano tegas.
__ADS_1
Mau tidak mau Jason pun mengikuti langkah Stevano. Padahal Jason masih sangat merindukan Lily, padahal baru tadi pagi mereka berpisah. "Bagaimana nanti selanjutnya, satu jam rasanya sudah seperti setahun," ucap Jason dalam hati berjalan menjauh sekali-kali menengok ke arah belakang menatap gadis cantik yang sekarang sedang berbincang dengan Nyonya Mudanya.
Sebenarnya Lily juga mencuri-curi pandang ke arah Jason yang sekarang berjalan menjauh darinya. Dia menghela nafas berat, "Kenapa rasanya sulit sekali melupakannya?"