Please Love Me

Please Love Me
Part 107


__ADS_3

"Bu aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya, dan dia menahanku tadi, perkataan Ibu yang mengatakan dia baik itu tidak benar, karena dia hanya seorang penguntit, Ibu jangan terlalu percaya pada apa yang dia ucapkan," kata Liora panjang lebar menjelaskan pada Ibunya.


Liora kemudian menepis tangan Ronald dengan kasar, "Dan jangan pegang-pegang sembarangan, apalagi tadi, Anda bilang saya istri jangan sembarangan," Liora masih begitu tidak terima atas pernyataan Ronald kepada pria paruh baya yang seharusnya menolongnya.


"Dia itu licik Bu, dan bisa membalik-balikkan fakta, Ibu harus hati-hati pada orang sepertinya."


"Apa sudah cukup Nona, sepertinya kamu sangat tahu bagaimana aku? Apa kamu jangan-jangan adalah penguntit yang sebenarnya, karena apa yang kamu katakan itu memang benar adanya dan aku tidak akan menyangkal itu," jawab Ronald yang seperti menantang Liora, dirinya bahkan tidak marah saat Liora mengatai dirinya benar-benar orang yang buruk.


"Sudahlah Bu, ayo kita pulang," Liora mengambil koper Ibunya, menggandeng tangan Dea agar bisa segera pergi dari hadapan pria bernama Ronald.


"Jika kita bertemu lagi, itu tandanya kita berjodoh Nona Eliora," teriak Ronald saat melihat jarak Liora yang semakin jauh.


Liora yang mendengar itu mendengus kesal, "Dasar gila!"


"Kamu serius tidak ada hubungan apa-apa dengan Nak Ronald sayang?" Tanya Dea yang memang hanya ingin tahu saja.


"Kenapa Ibu bertanya seperti itu? Jangan bilang Ibu berfikir jika aku dengannya.. tidak, tidak, buang pemikiran Ibu tentang itu. Intinya Liora tegaskan bahwa Liora tidak ada hubungan sama sekali dengannya, Ibu percaya kan sama Liora?"


Dea bingung harus menjawab apa dan akhirnya dia pun mengangguk mengiyakan daripada nanti urusannya jadi panjang.


"Ya sudah ayo pulang, ibu capek ingin istirahat," ujar Dea mengajak Liora agar segera pulang.


***


"Kemana suami kamu?" Tanya Al begitu masuk ke dalam ruang rawat Dahlia.


"Suamiku ke kantor ada urusan, Kakak dari mana saja?" Lily menatap tampilan Al dari atas ke bawah.


Pria itu tampak masih mengenakan pakaian yang dia pakai kemarin, jelas saja karena sejak kemarin Kakak Lily itu belum pulang ke rumah.


"Kenapa melihat Kakak seperti itu?" Al mendekat dan berdiri di belakang Lily memegang kedua bahu adiknya.


"Kakak pasti belum mandi, bau ih, sana jangan dekat-dekat," Lily menengok ke belakang sambil menutup hidungnya seolah-olah Al memang bau.


"Sembarangan kalau ngomong, nih cium! Mana ada seorang Alvaro bau, tidak mandi satu minggu saja tetap wangi," Al mendekatkan tubuhnya pada Lily.


"Kak Al ih.." Lily berusaha terus menghindar hingga berakhir dengan Al memiting leher adiknya.


"Akh, kakak sakit Kak!" Teriak Lily kesakitan.


"Lebay kamu, orang ini gak sakit juga," kesal Al yang mendengar suara teriakan Lily.

__ADS_1


"Hehe," Lily hanya menyengir.


Dahlia yang sedari tadi menyaksikan interaksi kakak adik itu hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Ngapain kamu senyum-senyum?" Kata Al begitu melihat Dahlia tersenyum.


Lily langsung berusaha melepaskan tangan Al dari lehernya dan menatap kakak perempuannya. Dan benar seperti yang Al katakan Dahlia kini tersenyum tapi langsung salah tingkah ketika kakaknya Al memergokinya.


"Ehmm, ehmm," Dahlia berdehem.


"Hah tidak siapa juga yang senyum-senyum," kini Dahlia tetap saja berkilah padahal kedua orang itu memang tadi jelas melihatnya.


"Oh ya mengenai dia yang nabrak kamu, polisi sudah datang dan mengkonfirmasi, katanya penabrak itu tidak sengaja, tapi bagaimanapun dia sudah membuatmu seperti ini, dan polisi bilang tetap akan menahannya," kata Al mengalihkan pembicaraan.


"Kak bisa minta tolong, bilang ke polisi agar melepaskannya, hmm mobil itu memang salah, karena memang kemarin mendadak ada nenek-nenek yang menyeberang jalan, kemudian mobil itu membanting setir dan kejadiannya begitu cepat ketika mobil itu tiba-tiba menabrakku," beritahu Dahlia kejadian saat.dirinya kecelakaan.


Lily hanya mendengarkan dengan seksama karena dirinya kemarin langsung pulang jadi tidak tahu bagaimana kejadian sebenarnya yang menimpa Kakaknya.


"Tapi tetap saja.."


"Kak aku mohon!" Pinta Dahlia memohon pada Al.


"Baiklah, nanti biar aku yang urus," Al hanya bisa pasrah, bagaimanapun itu keinginan Dahlia sendiri.


"Bagaimana dengan kondisimu? Apa masih ada yang sakit?" Tanya Al dengan kekhawatiran yang tidak terlalu jelas ditunjukkan.


"Baik Kak, kaki saja yang masih sakit," jawab Dahlia yang memandangi kakinya yang digips.


"Nanti pakai kursi roda saja," Al memberi usul.


"Tidak Kak, lebih baik pakai tongkat saja."


"Terserah kamu saja," putus Al akhirnya.


Sekarang giliran Lily yang senyum-senyum sendiri.


"Kenapa jadi kamu yang senyum-senyum sendiri?" Kini Al menatap adiknya.


"Tidak, hanya saja kalian terlihat serasi," kata Lily menatap Al dan Dahlia bergantian.


Wajah Dahlia memerah berbeda dengan Al yang terlihat biasa-biasa saja.

__ADS_1


Dahlia perlahan melirik Al, tapi senyum yang tadi terpancar langsung pudar saat melihat Al yang tidak menunjukkan ekspresi apapun.


"Sudahlah kamu mau ikut Kakak pulang tidak? Kebetulan Kakak akan pulang," Al menawarkan Lily apa mau ikut dengannya atau tidak.


"Tapi tadi Ayah meminta aku untuk pulang bareng, Ayah mau mengecek pasien dulu."


"Ayah kesini?" 


"Iya Kak, belum lama sebelum Kakak kesini."


Al merasa lega, Al kira Ayahnya masih marah karena kejadian kemarinn dan melarang adiknya untuk bertemu dengan Dahlia.


"Hmm Kakak pulang dulu saja, nanti aku pulang sama Ayah. Lagian Kak Lia sendirian, Ibu kan belum datang, aku ingin menemaninya lebih lama, tidak apa-apa kan? Lagian aku juga bilang sama Ayah kalau aku akan menunggunya," Lily menatap Al meminta persetujuannya.


"Baiklah, kalau begitu kakak pulang dulu, kamu disini baik-baik, kalau ada apa-apa kamu bisa kabari Kakak," Al mengacak rambut Lily membuat Lily cemberut. 


"Kakak jangan rusak poniku!" Kesal Lily membenarkan poninya yang acak-acakkan karena ulah Al.


Al terkekeh melihat adiknya mengerucutkan bibirnya. 


"Aku pulang dulu!" Pamit Al pada Dahlia.


"Terima kasih Kak, maaf sudah banyak merepotkan Kak Al," Dahlia memandangi Al yang hanya mengangguk menjawab perkataannya.


Al pun kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar rawat Dahlia.


Dahlia terus menatap Al hingga hilang pandangan, dan hal itu tidak luput dari penglihatan Lily.


"Apa Kak Lia menyukai Kak Al?" Lily mendekati wajahnya ke wajah Kakaknya yang memandangi Al tanpa berkedip.


"Hah? Apa? Hmm tidak," Dahlia memundurkan tubuhnya, takut Lily mendengar detak jantungnya yang  kini berdebar kencang.


"Terus kenapa Kak Lia terlihat gugup?" 


"Ah tidak, siapa yang gugup," Dahlia masih mengelak, kemudian dirinya sedikit mendorong Lily agar tidak terlalu dekatnya.


"Ya sudah jika tidak suka, berarti tidak jadi."


"Tidak jadi apa?"


"Tidak jadi membantu Kak Lia dekat sama Kak Al."

__ADS_1


"Tunggu!" Lily yang hendak beranjak harus mengurungkan niatnya saat Dahlia memegang tangan Lily, untuk menahannya.


__ADS_2