
Entah berapa lama Jason berada di toilet hingga saat keluar dia melihat, kini ruang rawat istrinya tampak ramai. Ada ayah dan ibu mertuanya, Jasmine, Stevano bersama anak-anaknya, juga Liora dan Ronald serta putra mereka Alviandra.
"Nah ini dia, pemeran utama prianya," ucap Ronald begitu melihat Jason.
Jason hanya mendengus tapi tetap melangkah mendekati para tamunya itu.
"Mirip kamu Jason," komentar Jasmine sambil memandangi Senja yang kini ada di pangkuannya.
"Jelas orang anakku, jika mirip Tuan Stevano pasti semua orang bertanya-tanya," jawaban Jason membuat Stevano melotot padanya.
Jasmine hanya menggelengkan kepala melihat aksi tatapan antara suaminya dengan Jason.
"Oh ya kesini kenapa tidak beritahu aku sebelumnya?" Jason mendaratkan pan*tatnya di sisi ranjang rawat istrinya. Karena sofa sudah tidak muat lagi, ada Liora, Jasmine serta mertuanya yang duduk di sana, sedang Stevano juga Ronald masing-masing duduk di pinggiran sofa samping istri-istri mereka. Sedang anak-anak duduk di lantai, bermain bersama.
"Kenapa? Takut kita datang saat kalian sedang ngapa-ngapain gitu?"
"Sayang!" Jasmine mencubit pinggang suaminya.
"Malu tau, ada bibi Dea sama paman Alan," tambahnya berbisik.
"Tidak apa-apa Olive, bibi tahu anak muda seperti kalian ini sedang membara-membaranya dan maklum saja. Lagian juga bibi sudah biasa melihat Jason dan Lily bermesraan saat di rumah."
Lily menunduk malu dengan wajah memerah karena ungkapan ibunya, berarti selama ini ibunya sering memergokinya tidak hanya satu dua kali seperti setahunya.
"Ibu, lihat tuh Lily jadi malu," sambung Liora yang menyandarkan kepalanya manja di bahu Dea."
Liora bilang, dia merindukan ibu yang telah membesarkannya itu, dan ingin bermanja selagi bertemu santai seperti ini.
"Masih malu-malu aja Ly, anak sudah tiga juga," kata Ronald menimpali.
"Biasa aja, seperti suamimu malu-malu in. Di luar auranya dingin, jika di dekat kamu aja, langsung lumer," sahut Stevano.
"Kayak dirinya sendiri tidak saja," jawab Jason tak terima.
Rupanya mereka tidak puas meledek Lily dan Jason, karena setelah itu kembali pasangan itu mendapat serangan ledekan dari berbagai pihak, bahkan ayah dan ibu mereka pun ikut-ikutan.
*
*
"Kamu istirahat saja sayang, Senja juga baru nyu*su pasti bangunnya lumayan lama."
Kini di ruang rawat Lily hanya tinggal mereka bertiga, Jason, Lily juga Senja putra mereka. Aulia dan Cinta tadi ikut pulang bersama Dea, mengantuk, maklum biasanya memang jadwal tidur siang mereka. Sedangkan Stevano, Jasmine, Liora juga Ronald sudah pulang sejak setengah jam yang lalu.
"Ya sudah, aku tidur ya, nanti kalau Senja menangis dan aku gak bangun, kamu bangunin saja."
__ADS_1
"Iya, kamu tidak perlu khawatir."
"Peluk," pinta Lily manja.
"Dengan senang hati."
Jason segera menarik sang istri ke dalam pelukannya sambil mengelus punggung Lily lembut.
Tak lama, Lily pun terpejam entah karena dirinya mengantuk atau usapan lembut di punggungnya oleh Jason.
Begitu memastikan tidur istrinya sudah benar-benar lelap. Jason melepaskan tangan Lily perlahan, turun dengan hati-hati, dan berjalan menuju box bayi karena putranya menangis.
"Pipis rupanya," gumam Jason dan dengan cekatan mengganti popoknya.
***
Tiga hari di rumah sakit, kini Lily sudah diizinkan pulang. Alan sudah datang dari pagi untuk menjemput putrinya. Dea tidak ikut karena selain membantu keperluan Cinta yang akan sekolah, Uli juga tidak ada yang menjaganya. Tidak mengajaknya toh mereka hanya menjemput saja.
"Sudah semua?" Tanya Alan yang kini tengah membantu Jason membawa barang-barang anaknya.
"Sudah yah."
"Ayah ajak Lily dan Senja ke mobil saja, biar Jason yang membawa sisanya.
"Hmm baiklah, ayo sayang!" Alan segera merangkul putrinya mengajaknya ke mobil yang sudah terparkir di halaman.
"Hmm iya. Pelan-pelan saja."
Jason membawa barang-barang mereka lalu segera menyusul keluar.
Sampai di depan, buru-buru sopir menghadang langkah Jason, mengambil alih barang bawaan majikannya itu.
"Terima kasih pak," Jason masuk dan duduk di kursi belakang samping anak dan istrinya.
"Jagoan ayah," Jason mengelus pipi putranya setelah membersihkan tangannya terlebih dahulu.
"Sini sayang, biar aku saja."
Dengan perlahan, Lily membantu suaminya membawa Senja ke pangkuan ayahnya.
"Tidur terus sih sayang, ayah kan pengen ngobrol, ayo dong bangun!" Ucap Jason menoel-noel hidung mancung putranya.
Sedang Lily duduk menyandarkan kepalanya di bahu Jason, dirinya sangat mengantuk dan ingin tidur sampai mereka sampai rumah. Jason membiarkan saja, mengerti jika istrinya pasti mengantuk karena jam dua pagi, Senja menangis, Jason tidak bisa menenangkannya, karena putranya lapar dan yang dia butuhkan adalah ibunya.
Jason tersenyum saat perlahan, Senja membuka matanya.
__ADS_1
"Bangun juga anak ayah."
Mobil kini telah terparkir di halaman rumah Alan setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit.
"Biar ayah saja yang gendong, nanti Ale nya malah kebangun."
"Iya yah," Jason tetap dalam posisinya menunggu Alan turun dan membuka pintu sampingnya lalu mengambil alih Senja yang ada di pangkuan Jason.
"Pak tolong bawakan barang-barang anak saya ke dalam ya," ucap Alan kepada sang sopir sebelum dirinya masuk.
"Baik Tuan," sopir ikut turun membuka bagasi dan menurunkan barang-barang anak majikannya.
Sedangkan Jason memindahkan kepala istrinya agar bersandar, lalu dirinya turun dan mengitari mobil, membuka pintu mobil samping istrinya duduk lalu mengangkat tubuh Lily dengan hati-hati."
"Tolong tutup pintunya ya pak."
"Iya Tuan."
Setelah itu Jason bergegas masuk, melewati ibu mertuanya yang sepertinya hendak bertanya, membawa Lily masuk lebih dulu.
Jason membaringkan tubuh Lily di atas kasur pelan-pelan, menarik selimut hingga sebatas dada, juga menyempatkan mencium bibir istrinya sekilas sebelum akhirnya pria itu keluar dari kamar. Tapi Jason terkejut saat melihat ibu mertuanya sudah ada di depan pintu.
"Ibu."
"Ale kenapa? Dia baik-baik saja kan?" Tanyanya khawatir.
"Istriku hanya tertidur bu, semalam hingga hampir pagi Senja terus menangis."
"Oh ya sudah biarkan saja, Senja mana? Sama ayah?"
"Iya."
"Terus ayahnya mana?"
"Loh ibu belum ketemu ayah?"
"Belum, tadi habis dari dapur bantuin Bi Nia," jawab Dea yang memang tadi membantu Bi Nia menyiapkan makanan untuk syukuran kecil-kecilan, dan begitu mendengar deru mesin mobil, buru-buru wanita itu mencuci tangannya, lalu berjalan keluar menyambut kedatangan putrinya. Tapi langkahnya terhenti, saat Jason menggendong Lily dengan berjalan tergesa, hingga Dea memutuskan untuk menyusulnya, dia khawatir terjadi sesuatu pada Lily. Dan dia bersyukur saat mendengar dari menantunya bahwa putrinya tertidur.
"Mungkin ayah ada di kamar dan membawa Senja kesana," ucap Dea coba menebak.
"Biar ibu saja yang samperin ayah, nanti ibu juga yang akan membawa Senja kemari."
"Baiklah bu."
Jason melihat mertuanya yang berlalu menjauh menuju kamarnya yang tidak jauh dari kamar Jason dan Lily yang ada di bawah.
__ADS_1
Belum juga lima menit, ibu mertuanya kembali dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Jason, ayah tidak ada di kamar!" Ucap Dea sedikit berteriak.