
"Tunggu Lily!" Suara seseorang menghentikan langkah Jason dan Lily.
Lily menoleh ke sumber suara yang memanggilnya,suara yang begitu sangat dikenalnya, suara yang baru kali ini membuatnya jantungnya berdebar dengan kencang, karena suara ini rasanya baru Lily dengar, suara yang menyebut namanya dengan lantang, bukan karena ingin memarahinya karena memang hanya ingin menghentikannya.
Dan Lily dengan senang hati melakukan itu, Lily langsung berhenti, begitu suara sang Ibu menggelegar menyebut namanya, Lily bahagia,karena pada akhirnya, Vega mau memanggil namanya, bukankah kebahagiaan yang dirasakan Lily sangat-sangat sederhana, dia hanya ingin Ibu yang membesarkannya menyebut namanya seperti itu.
Lily tersenyum, tapi tubuhnya membeku.
"Ibu!" Hanya kata itu yang bisa Lily ucapkan.
Satu kata yang langsung membuatnya menjatuhkan air mata.
Vega mendekat, dan menggenggam tangan Lily, ada perasaan hangat yang Lily rasakan menyeruak ke dalam relung hatinya, hingga perasaan itu sekejap saja terkikis oleh badai salju yang datang tiba-tiba, hingga yang hangat kini kembali menjadi dingin dan beku.
"Aku mohon! Jangan temui Dahlia untuk saat ini, tolong biarkan dia bahagia, jangan pernah lagi kamu rusak kebahagiannya, jika kamu tidak bisa melakukan itu, kamu pikirkan jika Dahlia adalah seorang kakak yang baik untukmu, jika kamu tetap tidak bisa, kamu anggap saja itu sebagai balasan budi kamu, karena aku telah merawatmu, jadi aku mohon jangan ganggu kebersamaan mereka," pinta Vega dengan tulus.
Tulus, ya bisa Lily lihat itulah permintaan Ibunya yang tulus, saat mengingat itu, Lily memberikan senyumannya terpaksa, Ibunya memohon dengan setulus hati seperti itu hanya karena Kakaknya.
Jika untuk kebahagiaan Kakaknya, Lily juga sudah biasa melakukan apapun, tapi kenapa perkataan Ibunya begitu menyakiti perasaannya, kenapa Ibunya sampai menghakimi dirinya seperti ini. Apakah pengorbanan yang selama ini lakukan untuk Kakaknya tidak pernah dianggap oleh Ibunya, hingga Ibunya meminta dirinya seperti ini untuk pertama kalinya.
Melihat Lily hanya diam saja, Vega duduk bersimpuh di hadapan Lily sambil masih menggenggam tangannya.
"Ibu aku mohon jangan seperti ini, ayo bangun Bu!" Lily memegang kedua lengan Vega membantunya bangun.
"Ibu akan bangun, tapi Ibu mohon padamu, lepaskan laki-laki bernama Al, berikan dia untuk Kakakmu, kamu juga tahu kan jika Kakakmu mencintainya, tapi kamu hanya pura-pura tidak tahu, karena kamu ingin memilikinya, ya Kan.
Lily tidak bisa menahan diri lagi, air matanya terus berjatuhan membasahi pipi, dilihatnya sekitar, banyak orang yang menatapnya seraya berbisik-bisik.
"Ibu!" Lily kehabisan kata-katanya, dia memilih diam dengan wajah yang basah karena air mata.
"Kenapa? Kenapa kamu hanya diam? Kenapa kamu tidak memberikan Ibu jawaban? Apa kamu tidak rela melepaskan laki-laki itu untuk Kakakmu, Kakak yang paling menyayangimu, dulu Ibu sudah memberikan suami Ibu untuk Ibumu, tidak bisakah kau memberikan kekasihmu pada Kakakmu, kakak yang kau bilang sangat berarti untukmu?"
Bukannya mereda, tangis Lily semakin menjadi, Kenapa Ibu yang sudah dianggap Ibu kandungnya tega berkata seperti itu? Baru pertama kali dia menyebut dirinya Ibu saat meminta hal ini? Lily menangis bukan karena tidak rela melepaskan Al untuk Kakaknya, Lily menangis karena Ibunya seperti sengaja mempermalukannya.
__ADS_1
"Apa salahku Bu? Kenapa Ibu seperti ini padaku?" Lily menutup wajahnya yang terdengar hanya isak tangisnya.
Jason mendekat, membantu wanita yang dia tahu adalah orang yang membesarkan Lily, tapi Vega justru menepis tangan Jason dengan kasar.
"Siapa kamu? Kamu tidak berhak ikut campur urusan keluarga!" Vega menatap Jason dengan mata memerah karena marah.
"Lihatlah kamu sudah memilih laki-laki ini? Kenapa kau tidak melepaskan laki-laki satunya? Apa kamu akan serakah seperti Ibu kandungmu?" Vega bangun dan menunjuk-nunjuk wajah Lily dengan penuh amarah.
"Ibu!"
"Cukup Nyonya!" Teriak Jason yang sudah tidak tahan lagi melihat istrinya diperlakukan seperti itu.
Sedari tadi Jason diam bukan karena takut pada Vega, tapi dia hanya mencoba menghormati Vega sebagaimana sang istri menghormati wanita itu. Tapi kali ini Vega benar-benar keterlaluan dan Jason tidak akan membiarkan itu.
"Kau.."
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Jason segera memotong ucapan wanita yang ada di depannya.
Dan kalian semua lebih baik bubar, hal seperti ini bukanlah tontonan!" Jason menatap mereka yang berbisik-bisik satu per satu.
"Bubar! Apa kalian tidak mendengar? Jika tidak bubar sekarang, aku akan menghancurkan kalian semua," suara menggelegar itu kembali terdengar saat mereka yang menonton enggan meninggalkan tempat.
Setelah tahu siapa orang yang mengancam mereka, kini mereka pun hanya bisa membubarkan diri, tidak ingin berurusan dengan keluarga Anderson.
"Wah, jadi kamu sudah berhasil memikat laki-laki ini, bahkan dia sampai mengaku menjadi Suamimu!"
"Cukup!" Seorang pria datang menghampiri mereka, pria yang sedari tadi menjadi bahan perbincangan mereka.
Vega, Lily dan Jason pun menoleh ke sumber suara.
"Kak Al!" Gumam Lily melihat bahwa ternyata Kakaknya yang datang.
"Kalian berdua masuk sekarang!" Perintah Al pada Adik dan Adik Iparnya.
__ADS_1
"Tapi Kak!"
"Masuk Ale!" Al kemudian membawa isyarat agar Jason membawa istrinya masuk.
"Tunggu!" Vega masih berusaha mencegah Lily.
Rencananya membiarkan Putrinya agar lebih lama bersama Al, kini gagal sudah saat melihat bahwa pria itu kini berdiri di hadapannya, dan ini semua gara-gara Lily, itulah yang Vega pikirkan.
"Masuk!" Tanpa mendengar larangan Vega, Al kembali menyuruh Lily dan Jason masuk ke dalam ruangan Dahlia yang tidak jauh dari tempat mereka tadi.
"Aku ingin berbicara dengan Anda," Al menahan Vega yang hendak menyusul Lily.
***
"Apa kau sudah mempersiapkan semuanya?" Tanya seorang pria paruh baya, begitu masuk ke dalam kamar Putranya.
"Hmmm, Ayah tidak perlu khawatir, keinginan Ayah untuk mengusirku akan segera terwujud," kata Ronald yang duduk bersandar di atas ranjang sedang memainkan ponselnya.
"Terserah kamu mau menganggap Ayah mengusirmu atau tidak, tapi Ayah lakukan ini demi kebaikanmu Ronald!" Kata Mike menegaskan pada putranya tentang tujuannya menyuruh Ronald untuk ikut bersama Pamannya dan membantu di perusahaan yang ada di luar negeri.
"Ya ya ya, Anda tidak perlu jelaskan lagi Tuan Mike," Jawab Ronald dengan malas.
Dia sudah bosan dengan penjelasan Ayahnya tentang alasan keputusan Ayahnya yang meminta dirinya untuk membantu sang paman.
"Ronald jangan jadi anak kurang ajar kamu!" Teriak Mike yang mendengar jawaban Putranya.
"Aku tidak kurang ajar Ayah, aku sudah sangat hafal dengan tujuanmu, itu saja makanya aku tidak ingin mendengarkan penjelasan Ayah lagi, jadi sekarang aku minta sama Ayah tinggalkan kamarku, aku ingin segera istirahat."
"Kata siapa kau boleh istirahat begitu saja?" Kata Mike menatap Putranya.
"Maksud Ayah?" Tanya Ronald menunggu jawaban Mike atas kalimat yang sebelumnya diucapkan Ayahnya.
__ADS_1