Please Love Me

Please Love Me
Bab 338


__ADS_3

Tak terasa kini usia kandungan Lily sudah 7 bulan. Jason yang sekarang tengah berbelanja kebutuhan anak mereka tampak antusias memilih berbagai macam baju, mainan dan segala keperluan lainnya. Lily sudah berulang kali mengingatkan suaminya agar tidak terlalu banyak membeli, karena baru seminggu yang lalu suaminya juga sudah membeli cukup banyak. Dan Lily mendengus kesal saat mendengar jawaban suaminya saat dirinya terus memperingati.


"Maklum saja sih sayang, ini kan anak laki-laki pertama kita," ya seperti itulah jawaban suaminya jika dia mencoba mengembalikan beberapa barang yang Lily yakini tidak terlalu begitu penting. Jason merebutnya dan kembali dan meletakkan di keranjang belanjaan mereka. Dan Lily harus banyak-banyak bersabar melihat tingkah suaminya itu.


Sebenarnya niat mereka pergi berbelanja adalah untuk membeli kado untuk ulang tahun anak Liora yang ke 2, tapi saat melewati toko perlengkapan bayi, Jason menariknya pelan memasuki toko itu, awalnya Lily menolak, di rumah semua kebutuhan anak mereka semua sudah lengkap. Tapi Jason dengan wajah memelasnya bilang hanya akan membeli satu. Lily pun akhirnya setuju, Lily tidak tahu jika satu yang dimaksud suaminya adalah satu dari setiap jenis, membuat Lily menggerutu, sekalian saja beli tokonya, ucap Lily saat itu saking kesalnya.


"Ide bagus," jawaban yang Jason berikan membuat kekesalan Lily semakin menjadi-jadi.


"Hanya bercanda sayang, serius banget sih, untuk apa aku membeli toko ini," Jason tersenyum mengelus tangan wanita itu, berharap agar sang istri tidak marah-marah dengan candaannya barusan.


"Sudah jangan menekuk wajah kamu seperti itu sayang, nanti kan bisa dipakai lagi, semisal kita punya anak lagi."


Lily menghela nafas, mana mungkin, Lily tidak percaya dengan ucapan Jason. Jika memang mereka mungkin punya anak lagi, suaminya juga pasti akan membeli yang baru lagi seterusnya seperti dulu saat berbelanja untuk Cinta, dan buktinya saat untuk anak keduanya, pun suaminya memborong hampir semua yang ada di toko.


"Ya sudah ayo cepetan! Jadi tidak sih beli kado untuk Alvi." Kata Lily menyebutkan anak pertama Liora itu.


"Jadi dong, ya sudah aku bayar ke kasir dulu, kamu tunggu di sana saja, aku tidak mau kamu kelelahan karena berdiri terlalu lama."


Jason menunjuk kursi yang tersedia di sana.


Lily ikut melihat ke arah yang ditunjuk suaminya.


"Memang sedari tadi kamu pikir tidak membuatku lelah, kakiku bahkan terasa pegal," keluh Lily yang kemudian melangkah ke tempat yang ditunjuk suaminya barusan.

__ADS_1


Lily terus melihat ke arah suaminya yang tengah mengantri di kasir, sesekali melihat jam pada ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, tapi dia belum juga kembali padahal Lily dan Jason tadi pergi dari jam 9 pagi. Biasanya para wanita yang antusias berbelanja, tapi tidak dengan Lily yang justru pusing dengan banyaknya barang, berjalan kesana kemari untuk memilih, membuat kakinya terasa pegal apalagi dengan perut besarnya.


Daripada bosan, Lily membuka sosial media di ponselnya, saat sedang sibuk berselancar satu pesan masuk, Lily dengan segera membuka pesan itu terlebih melihat nama pengirimnya.


Jasmine meminta Lily untuk mampir ke rumahnya nanti, rumah yang belum lama dia tempati, rumah yang khusus suami sahabatnya itu buat dengan desain impian Jasmine, tentunya setelah Stevano mengorek informasi darinya beberapa bulan lalu. Lily senang bisa membantu, apalagi saat Jasmine sangat menyukainya, mereka bersahabat cukup lama dan membuat keduanya hafal kesukaan masing-masing.


Setelah mengirim balasan, Lily segera menoleh dan menatap pada suaminya yang tadi sudah mengajaknya untuk pergi dari sana.


"Iya, ayo!" Lily memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, lalu berdiri, Lily hendak meraih satu kantong belanjaan dari tangan suaminya, tapi Jason dengan segera menjauhkannya.


"Kamu tidak boleh bawa yang berat-berat," ucapnya yang menurut Lily terlalu berlebihan, padahal Lily hanya akan meraih satu kantong belanjaan saja, karena kasihan melihat tangan suaminya yang penuh, toh satu kantong beratnya tidak mencapai 5 kg, jadi Lily masih sanggup-sanggup saja membawanya.


"Aku tidak berlebihan, ini demi kebaikan kamu dan anak kita," ucap Jason kemudian seolah mengerti apa yang sedang hati Lily bicarakan.


"Ya mungkin saja, kamu bilang begitu dalam hati."


"Sok tahu," Lily segera saja melangkah lebih dulu, jika seperti itu, Lily justru merasa dirinya beruntung karena tidak perlu repot-repot membawa belanjaan suaminya.


Lily masuk ke sebuah toko mainan, mencari yang sekiranya cocok untuk anak seumuran Alviandra.


Setelah memilih-milih untuk kado, yang tentunya terus diekori Jason, akhirnya Lily memutuskan mana saja yang dibelinya. Lily membawa belanjaannya dan segera berjalan ke kasir, sungguh saat ini  Lily hanya ingin cepat-cepat pulang dan beristirahat.


*

__ADS_1


*


"Mau mampir dulu tidak?" Tanya Jason yang kini tengah mengendarai mobilnya menuju arah jalan pulang.


"Tidak, ibu juga sudah masak banyak soalnya," Lily menjawab sambil memejamkan mata.


Tak lama, Jason bisa mendengar dengkuran halus, yang menandakan bahwa istrinya sudah benar-benar terlelap. Jason tersenyum, kemudian menepikan mobilnya.  Dia menurunkan sedikit kursi Lily agar istrinya itu berbaring dengan nyaman. Setelah itu barulah ia kembali menjalankan mobil.


Jalanan yang cukup macet di sore hari membuat Jason harus berlama-lama di jalan, melirik sebentar ke arah istrinya yang kurang nyaman karena tidur di mobil, Jason jadi merasa bersalah, andainya ia sedikit cepat tadi, mungkin dirinya tidak akan terjebak macet seperti ini.


Lily membuka matanya perlahan, dirinya melihat sekitar. Suaminya tidak ada di sampingnya lagi, dan dari spion, dia melihat Jason yang tengah menurunkan barang belanjaan dibantu oleh pekerja ayahnya yang ikut membawakannya ke dalam. Lily kemudian turun, yang langsung dihampiri oleh Jason yang kebetulan melihatnya.


"Sudah bangun? Padahal tadi aku mau gendong, tapi setelah menurunkan barang belanjaan dulu," ucapnya begitu sudah di hadapan Lily.


Jason kemudian kembali membuka pintu mobil di sebelah tadi Lily duduk.


"Masuk lagi, nanti biar aku gendong," titahnya pada sang istri.


"Tidak mau, aku bisa jalan sendiri," ucap Lily yang kembali menutup pintu mobil yang tadi dibuka Jason. 


Suaminya ini ada-ada saja, masa sudah bangun bahkan turun dari mobil, disuruh masuk lagi, hanya karena dia akan menggendongnya, dan ucapan Jason itu tidak hanya dirinya saja yang mendengar, para pekerja di rumahnya juga mendengar membuat wajah Lily memerah malu, apalagi mereka mengulum senyum, bahkan ada yang mengedipkan sebelah mata sengaja menggoda Lily.


"Aku masuk dulu," ucap Lily tapi sebelum beranjak, wanita itu menyempatkan mencubit pinggang suaminya, membuat Jason meringis kesakitan. Dan orang yang tadi hanya mengulum senyum mereka kini menyemburkan tawanya menyaksikan drama suami istri itu.

__ADS_1


__ADS_2