Please Love Me

Please Love Me
Bab 168


__ADS_3

"Bagaimana? Kenapa Kak Liora diam saja? Kakak mau membantuku kan untuk mendekatkan mereka? Ya sudah aku anggap kakak setuju, karena dengan kakak kemarin yang memberitahu dimana keberadaan Bibi Dea, berarti kakak memang sependapat denganku," ucap Lily karena gadis di seberang telepon hanya diam saja.


"Baiklah aku setuju, tapi dengan syarat kau serahkan Kak Jason padaku, apa kau mau?" Liora akhirnya berkata setelah cukup lama terdiam.


Ekspresi wajah Lily berubah, tapi itu hanya sebentar kemudian kembali tersenyum, senyum yang benar-benar tulus.


"Jika Kak Jason mau denganmu, aku tidak masalah," jawab Lily tenang.


"Baiklah kamu sendiri yang bilang," ucap Liora merasa senang.


"Tapi apa kamu yakin Kak Jason mau denganmu? Saat kita belum bersama saja, Kak Jason lebih memilihku, bahkan dia tidak peduli jika keputusannya waktu itu akan menyinggung keluargamu, yang tak lain adalah orang yang berjasa dalam hidupnya. Apalagi sekarang Kak Jason kini sudah hidup bahagia bersamaku dan calon anak kita, lagian apa kamu setega itu Kak, membiarkan anak dari laki-laki yang kamu cintai tidak bahagia, karena kamu merebut ayahnya? Dan yang lebih penting apa kamu bisa menjamin jika kamu sudah bersama Kak Jason kamu akan bahagia, dan bisa mendapatkan cinta yang utuh darinya? Sementara sudah lama, Kakak jelas tahu jika cinta Kak Jason sudah diberikan seluruhnya untukku, jauh sebelum kami menikah, atau kamu lupa bagaimana perjuangan Kak Jason untuk bisa bersamaku, sampai kau dengan percaya dirinya merasa bisa memilikinya? Kau gadis baik-baik Kak, banyak pria di luar sana yang jauh lebih baik dari suamiku, dan kau akan mendapatkannya dengan mudah, dan aku yakin kamu tidak setega itu, membiarkan orang yang kamu cintai tidak bahagia," kata Lily benar-benar tenang, tidak ada sama sekali kemarahan dikata-katanya.


"Kenapa? Kenapa kau yakin sekali berkata seperti itu? Bagaimana jika suamimu mau denganku?"


"Karena aku percaya padanya juga cintanya," jawab Lily tanpa ragu. 


"Jika memang Kakak bisa membuatnya bahagia, aku akan rela melepasnya, karena apa? Karena aku tulus mencintainya dan aku hanya ingin dia selalu bahagia, itu sudah cukup untukku," tambahnya lagi masih dengan senyum yang sama.


"Hahaha, kau membuatku merasa malu Lily, malu padamu juga malu pada diriku sendiri, kau jauh lebih muda dariku tapi cara berpikirmu membuatku jadi merasa minder berhadapan denganmu," kata Liora tertawa, entah apa yang ditertawakannya.


"Hmm kamu tenang saja, aku tidak mungkin melakukan itu, aku tadi hanya bercanda, Kak Jason memang beruntung mendapatkan kamu sebagai istrinya, sekarang aku tahu kenapa Kak Jason lebih memilihmu dibandingkan diriku, karena kamu wanita yang luar biasa, kamu tidak salah percaya sampai sejauh itu sama Kak  Jason, karena Kak Jason memang bisa dipercaya, selama disini apapun yang Kak Jason lakukan selalu menjaga perasaanmu walaupun kamu jauh darinya. Dan berbahagialah bersamanya dan anak-anak kalian nanti, aku akan melepaskan Kak Jason, aku  akan melupakan rasa cintaku untuknya, karena rasa cintaku ternyata tidak sebanding dengan rasa cinta yang kau berikan untuknya. Dan aku mau jadi saudaramu, aku akan membantu mendekatkan Ibu dengan ayahmu, karena aku juga ingin Ibu bahagia," ucap Liora tulus.


Seseorang yang tadi mendengarkan percakapan keduanya tersenyum sambil menghapus air matanya yang menetes begitu saja.


"Kamu salah sayang berhadapan dengan Lily, dia wanita yang begitu hebat," gumam Dea yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan Lily dan Liora.

__ADS_1


"Bibi," kata Lily yang menoleh saat merasa ada orang yang memperhatikannya.


Dea tersenyum dan mendekat, kemudian duduk di samping Lily, mengelus rambut gadis itu penuh kelembutan, seperti seorang ibu kepada putrinya sendiri.


"Apa kamu sungguh-sungguh ingin ayah dan Bibi bersama?" Tanya Dea.


Lily mengangguk antusias, "Iya Bi, aku  ingin ayah dan Bibi bahagia, aku ingin ayah tidak merasa kesepian nantinya, jika ada Bibi yang menemaninya," ucap Lily jujur.


"Kenapa kamu yakin ayah dan Bibi akan bahagia jika bersama?" Tanya Dea pada putri pria yang dicintainya itu.


"Karena masih ada cinta yang besar yang Bibi miliki untuk ayah, dan cinta Bibi itu pula yang akan mengembalikan perasaan cinta ayah ke Bibi yang sudah lama dipendamnya. Aku yakin jauh di dalam hati ayah masih menyimpan rasa cinta untuk Bibi di bagian  hatinya yang lain, walaupun itu hanya sedikit, karena cinta itu sudah terbagi untuk Ibu Lily," ucap Lily menggenggam tangan Dea.


"Tapi Bi, dengan cinta Bibi yang besar, ayah pasti akan luluh, dan bisa lagi mencintai Bibi sebesar dulu," tambah  wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu itu.


"Bagaimana Bi? Bibi mau kan kembali memperjuangkan cinta Bibi untuk ayah?" Tanya Lily menatap Dea penuh harap.


"Baiklah Bibi akan berusaha berjuang, walaupun Bibi tidak tahu bagaimana hasilnya nanti," ujarnya.


"Terima kasih Bibi," kata Lily yang langsung memeluk  Dea.


Lily kemudian melepas pelukannya, "Baiklah mulai sekarang aku panggil Bibi, Ibu bagaimana? Bibi setuju kan?" 


"Tentu  saja," ucap Dea membelai wajah Lily.


"Kenapa kalian malah sibuk di dalam, dan membiarkan Ayah melakukan semua sendirian," kata Alan yang masuk ke dalam tenda melihat kedua wanita itu.

__ADS_1


Dea dan Lily saling pandang, kemudian keduanya tertawa.


"Memangnya ada yang lucu?" Tanya Alan karena Dea dan Lily justru menertawakannya.


Lily kemudian mengambil kaca di tas, dan kemudian diserahkan kepada ayahnya.


"Ayah lihat sendiri!" Ucap Lily dan kemudian bangun dari duduknya.


"Ayo Bu! Kita saja yang kerjakan, takutnya nanti malah hancur lagi di tangan Ayah," Lily pun kemudian mengajak Dea dan menariknya keluar.


"Ibu? Aku tidak salah mendengar bukan?" Gumam Alan dilanjut dengan mengedikkan bahunya.


"Terus kenapa aku ditinggalin? Kenapa juga mereka menertawakanku?" Alan terlonjak kaget saat melihat wajahnya sendiri, yang hitam karena kena arang yang tadi disiapkannya untuk memanggang daging yang dibelinya.


"Pantas saja," ucapnya pelan. "Ale berani ya kamu menertawakan Ayah!" Alan pun berjalan keluar menghampiri putrinya, dan Lily justru bersembunyi di belakang tubuh Dea, mereka sudah layaknya anak kecil yang sedang bermain.


"Ayah, ampun Ale nyerah, janji deh Ale tidak menertawakan ayah lagi, iya kan Bu?" kata Lily mengangkat jari tengah dan telunjuknya sambil meminta pembelaan Dea.


"Iya kami janji tidak akan menertawakan kamu lagi," sahut Dea, dan Alan pun hanya memberengut kesal sambil menghapus wajahnya dengan tangan, tapi bukannya bersih, wajah Alan justru semakin hitam, hingga membuat Dea dan Lily kembali tertawa.


"Awas ya kalian bukannya tadi sudah janji," Alan hendak mendekat ke arah putrinya, tapi dengan cepat Dea menahannya.


"Biar aku bersihkan, nih lihat tangan kamu!" Kata Dea menarik tangan Alan dan menunjukkannya kepada pria itu.


"Lagian kamu, tangan belum cuci tangan juga malah buat ngebersihin," tambah Dea yang kemudian mengambil tisu dan dengan telaten membersihkan wajah Alan.

__ADS_1


Lily tersenyum melihat itu, "Langkah awal yang baik," ucapnya dalam hati kemudian mengambil ponselnya mengabadikan momen itu


__ADS_2