
Liora terkejut saat merasakan sesuatu yang berat melingkar di perutnya, dengan gerakan cepat gadis itu segera mendorong orang itu hingga terjatuh.
Liora menarik selimutnya sampai sebatas dada dan mundur.
Bruk
"Akh!" Terdengar ringisan seorang pria karena terjatuh dari atas ranjang.
"Siapa kamu berani-beraninya masuk kamarku?"
Ronald bangun sambil memegang punggungnya yang terasa sakit.
"Ini aku baby," ucapnya lirih.
Ronald kemudian duduk di pinggiran ranjang.
"Kenapa kamu ada disini?" Tanya Liora heran melihat Ronald yang kini ada di kamarnya bahkan tidur di sampingnya.
"Baby kamu lupa jika sekarang kita sudah menjadi suami istri."
Liora terdiam sambil mencoba mengingat.
"Hehehe, maaf aku lupa, apa sakit?"
"Iya sakit banget nih."
"Maaf, beneran aku sungguh lupa, aku kaget saja, biasanya tidur sendiri, terus pas bangun malah ada seseorang yang memelukku." Liora berusaha menjelaskan situasinya.
Liora kemudian mendekat ke arah Ronald.
"Mana yang sakit?"
"Sini," Ronald menunjuk pada punggungnya yang sakit.
Liora lalu menyingkap piyama pria itu, melihat apakah lukanya parah atau tidak.
"Apa perlu aku olesin…"
"Tidak, tidak perlu. Kamu duduk sini saja!" Ronald kemudian menepuk pahanya meminta sang istri duduk di pangkuannya.
"Tapi kamu masih sakit."
"Tidak apa-apa, yang sakit punggungku bukan pahaku."
Liora mendekat dan tampak ragu untuk menuruti keinginan pria itu.
Tahu jika sang istri ragu untuk menuruti perintahnya, Ronald yang tidak sabar segera menarik tangan Liora hingga kini gadis itu sudah duduk manis di pangkuan suaminya.
"Arrgh!" Teriak Liora yang terkejut dengan tindakan Ronald yang tiba-tiba.
__ADS_1
Ronald tak peduli dengan teriakan Liora, pria itu kini justru perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Liora.
Liora yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya buru-buru menutup bibirnya dengan kedua telapak tangannya.
"Baby kenapa ditutup?" Ucap Ronald yang mencoba melepaskan tangan Liora, tapi justru mendapat gelengan dari istrinya itu.
Liora menahan dada Ronald dengan satu tangannya, dan tangan yang lain masih setia gadis itu gunakan untuk menutup bibirnya.
"Aku belum gosok gigi," ujar Liora dan hal itu membuat Ronald tertawa.
Ronald menangkap tangan Liora dan dengan cepat menyambar bibir gadis itu.
Liora hanya diam, membiarkan Ronald melakukannya. Tak lama gadis itu membalas ciuman Ronald walaupun masih begitu kaku.
Kedua tangan Liora kini sudah mengalung indah di leher Ronald. Sementara tangan Ronald membuka kancing piyama Liora satu persatu.
Ronald menidurkan Liora, dengan bibir mereka yang masih berpagut. Nafas keduanya kini naik turun begitu ciuman mereka terlepas.
"Baby aku…" Ronald kembali mendekatkan wajahnya, dan Liora segera mendorong dada Ronald.
"Kenapa?" Tanya Ronald terlihat gurat kekecewaan di wajahnya saat Liora menolaknya.
"Maaf, aku sedang datang bulan," ucap Liora lirih, dan Ronald masih bisa mendengarnya.
Ronald hanya bisa tercengang mendengar itu, pria itu bangkit dan buru-buru berjalan ke kamar mandi, sambil memegangi punggungnya yang masih sakit gara-gara terjatuh tadi.
Liora hanya menatap kepergian Ronald, dirinya kemudian duduk dan merapikan kembali kancing piyama yang ternyata sudah terlepas semuanya.
Gadis itu kemudian memilih membersihkan tempat tidurnya. Dia kemudian mengambil ponsel dan duduk di sofa, memainkannya sambil menunggu suaminya keluar.
*
*
Lily yang merasa bosan karena di rumah sendirian memutuskan untuk bersih-bersih. Suaminya pergi bekerja, ayah dan ibunya mengajak Cinta pergi jalan-jalan, sementara Al, pria itu hanya berpamitan keluar untuk menemui teman-temannya.
Setelah membersihkan kamarnya, Lily kini menuju kamar kakaknya.
"Tumben," ucap Lily yang melihat kamar Al begitu berantakan, terutama banyak pakaian yang dikeluarkan dari lemari, dan masih berserakan di atas ranjang.
Lily berjalan ke arah ranjang dan merapikan pakaian-pakaian Al dengan melipatnya kembali, pandangan Lily tertuju pada koper yang terlihat terbuka di atas lantai.
Lily kemudian menatap pakaian-pakaian itu dan koper bergantian.
"Apa Kak Al baru membongkar bajunya yang ada di dalam koper?" Gumamnya kemudian berdiri dan melangkah mengambil koper kakaknya itu, menutup dan menegakkannya.
Tak berpikiran lain, kini Lily memasukkan pakaian-pakaian itu ke dalam lemari, lalu membereskan tempat tidur Al. Setelah itu, Lily pun membereskan meja yang tampak berantakan, tapi pandangan Lily tertuju pada sebuah kertas. Lily membacanya dan wanita itu, kini mengepalkan satu tangannya dan melangkah keluar dengan membawa kertas itu. Rasanya dirinya akan marah saat itu juga.
Lily duduk di sofa ruang keluarga, jari-jarinya terus mengganti-ganti chanel televisi yang sebenarnya sama sekali tidak ditontonnya.
__ADS_1
"Apa hanya aku yang tidak tahu soal ini?" Gumam Lily memencet tombol remote tv sedikit kasar.
Lily yang tadinya kesal, kini tiba-tiba menangis, lalu setelahnya wanita itu dengan segera menghapus air matanya.
"Kenapa tidak ada yang memberitahuku?"
"Ale, rupanya kamu disini," kata Alan yang sepertinya baru saja pulang.
"Hmm," jawab Lily sekenanya.
Alan memperhatikan putrinya, walaupun Lily tidak mengatakannya, tapi pria itu tahu dengan jelas jika saat ini putrinya itu tampak sekali jika sedang kesal, yang membuat Alan heran, siapa yang membuat putrinya bisa sampai sekesal itu.
Alan duduk di samping Lily, kemudian menatap wajah putrinya itu dari samping.
"Kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Alan pada sang putri.
"Tidak, oh ya Cinta mana?" Tanya Lily karena tidak melihat putrinya, berharap setelah melihat putrinya nanti, kekesalannya akan berkurang.
"Cinta tadi sama ibu masih ada di depan."
"Ya sudah, Ale samperin Cinta dulu," ucap wanita itu dan Alan hanya bisa menatap Lily bingung.
"Kenapa? Apa dia bertengkar dengan Jason?" gumam Alan.
"Tapi sepertinya tidak, tadi pagi mereka juga baik-baik saja," tambah pria itu lagi.
Tidak ingin ambil pusing, Alan pun kini hanya mengedikkan kedua bahunya.
Sementara itu Lily terus melangkah mencari putrinya, tapi di depan dia sama sekali tidak menemukan Cinta maupun ibunya. Lily mencoba memanggil-manggil, namun sama sekali tidak mendapatkan jawaban, pandangan Lily kemudian tertuju pada seseorang yang berjalan dari arah gerbang.
"Ibu, Ibu dari mana saja? Dari tadi aku cari-cari ibu, tapi ibu tidak ada."
"Ah ini ambil paket di pos," ujar Dea menunjuk benda yang saat ini dipegangnya.
"Cinta ayo sama Ibu!" Pinta Lily dan gadis itu langsung menurut dan meminta pindah ke gendongan Lily.
"Loh, Cinta sudah pulang jalan-jalannya?" Tanya Al yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Ayo Cinta sama paman!" Al mencoba mengambil alih Cinta tapi dengan cepat Lily justru membawa Cinta dari sana.
Al menatap Dea, tatapannya seolah mengisyaratkan bertanya apa yang membuat Lily jadi murung, tapi Dea justru mengedikkan kedua bahunya acuh, wanita itu memang tidak tahu apa yang terjadi pada Lily, karena dirinya juga baru kembali, dan pulang-pulang Lily sudah seperti itu.
"Ibu tidak tahu, Ibu juga baru pulang, tapi Lily sudah seperti itu," jawab Dea.
"Apa mungkin karena Lily ditinggal sendirian?" Tanya Al.
"Ibu rasa bukan, kan tadi sebelum pergi, Ale yang bilang sendiri tidak ingin ikut."
Al mengangguk membenarkan ucapan ibunya.
__ADS_1
"Ya sudah Bu, paling hanya sebentar, nanti Ale juga akan kembali seperti biasa. Ya sudah kalau gitu Al susulin Ale dulu," pamit Al dan Dea pun segera mengiyakannya, karena jujur saja, Dea juga penasaran apa yang membuat putrinya tiba-tiba berubah secepat itu, wanita itu hanya bisa menyimpulkan jika mungkin saja itu karena pengaruh kehamilannya lagi.