Please Love Me

Please Love Me
Part 50


__ADS_3

"Akhirnya kamu turun juga," kata Al yang kini melihat Lily berjalan ke arahnya.


Lily menengok kanan dan kiri seperti mencari keberadaan seseorang.


"Mencari apa?" Tanya Al yang menyadari gelagat gadis itu. Al bahkan menatap Lily dari gadis itu pertama menginjak lantai satu tepatnya saat turun dari tangga, hingga kini menarik kursi yang ada di sebelahnya.


"Ah, tidak mencari apa-apa," ucap Lily menutupi rasa gugupnya.


"Ya sudah ayo makan," kata Al yang mulai membuka piring yang ada di hadapannya dan mulai mengambil makanan.


"Mmm, Kak, Ayah Kak Al mana? Kenapa aku tidak melihatnya?" Tanya Lily juga pada akhirnya.


Al tersenyum, dia sudah menebak pasti Lily sejak tadi gelisah karena takut bertemu dengan Ayahnya.


"Kenapa? Kamu ingin cepat-cepat bertemu calon Ayah mertua?" Kata Al menggoda Lily, membuat Lily yang tadi minum langsung tersedak saat mendengar perkataan Al.


"Pelan-pelan," kata Al menepuk-nepuk punggung Lily pelan.


"Ayah ada operasi darurat, jadi mungkin malam ini akan menginap di rumah sakit, dan akan pulang besok pagi," Al menjelaskan juga setelah melihat raut wajah Lily yang begitu gugup.


"Oh, akhirnya," Lily pun seketika menghela nafas lega mendengar kata dari Al yang seperti memberikan angin segar padanya.


"Sepertinya sudah ada yang bisa bernafas lega nih," kata Al meledek Lily.


"Iya jelaslah Kak aku merasa sangat lega, kau tahu Kak, aku tadi sangat tegang dan gugup saat mendekati jam makan malam dan harus ikut malam ini, aku takut bertemu dengan Ayah Kak Al," kata Lily menceritakan apa yang tadi dikhawatirkannya.


"Ups!" Lily langsung menutup mulutnya setelah sadar dirinya keceplosan.


Sementara Al langsung tertawa melihat kepanikan Lily saat dirinya tanpa sadar menceritakan kecemasan yang tadi dirasakan gadis itu kepadanya.


"Maaf Kak, aku tidak bermaksud untuk…"


"Sudahlah tidak perlu dibahas, sekarang lebih baik kamu makan, jangan lupa makan yang banyak, untuk mendapatkan energi menghadapi Ayah besok pagi saat sarapan," kata Al menahan tawanya karena berhasil menakut-nakuti, gadis yang duduk di sebelahnya, di lihat gadis itu yang memegang garpu dengan tangan yang gemetaran.


"Hahaha, Lily… Lily..aku hanya bercanda," ucap Al tanpa dosa dan mendapat tatapan tajam dari Lily.


Kemudian mereka pun melanjutkan makan mereka dengan tenang, Al tidak akan mengganggu Lily lagi, takut gadis itu ngambek dan kehilangan seleranya, hingga Al kembali mempersilahkan Lily untuk memakan makan malam mereka.


Setelah makan malam selesai, Al pun pamit pada Lily untuk kembali ke kamarnya, ada tugas yang harus dikerjakannya dan dia juga akan berangkat pagi-pagi sekali. Karena tidak ada yang Lily kenal di rumah itu, Lily pun akhirnya kembali ke kamar yang akan ditempatinya setelah membantu pelayan membereskan bekas makan mereka.


Lily masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya, dia rebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan alas tidur berwarna merah muda itu. Dipandanginya langit-langit kamar itu, hingga tidak membutuhkan waktu lama dia terlelap, entah karena dirinya yang memang kelelahan, atau ranjangnya yang terlalu nyaman untuknya.


***

__ADS_1


"Liora!" Gadis cantik itu berhenti menaiki anak tangga saat mendengar suara Kakak Iparnya memanggilnya.


"Iya Kak ada apa?" Tanya Liora yang baru pulang dari rumah sakit, setelah menemani Maminya yang masih dirawat di rumah sakit dalam masa pemulihan.


"Apa kamu menolong Kakak?" Tanya Jasmine sedikit ragu.


"Ada apa katakan saja Kak," Liora mengurungkan niatnya yang akan menaiki tangga menuju kamarnya.


"Kamu tolong, hubungi Bunga, apa dia ada di apartemennya atau tidak, jika ada, kamu mengantarkan Kakak kesana?" Tanya Jasmine menatap Adik Iparnya penuh harap.


Liora menatap ke arah Alno yang sedang asyik bermain dengan mainan barunya yang dibelikan Kakeknya belum lama ini.


"Sama Alno juga?" Tanya Liora kemudian mengalihkan pandangan dari Alno ke Kakak Iparnya.


Jasmine pun mengikuti arah pandang Liora melihat anaknya yang fokus pada mainannya.


"Hmm, nanti kamu antar Kakak ke rumah Ibu, sepertinya Kakak akan menitipkan Alno di rumah dulu," kata Jasmine memutuskan.


"Hmm baiklah, aku ganti baju dulu," kata Liora berpamitan untuk ke kamarnya. 


Sementara Jasmine meminta izin pada suaminya, yang pada akhirnya diizinkan setelah mengajukan satu syarat kepada istrinya itu.


Di kamarnya, Liora kemudian mengambil ponsel yang ada di tasnya dan segera menghubungi Kakak Ipar istri dari Kakak keduanya.


"Halo ra," jawab Bunga.


"Halo Kak, apa Kakak ada di rumah? Jika iya, aku dan Kak Jasmine akan ke tempat Kakak," kata Liora di seberang telepon.


"Iya, aku di rumah. Baiklah kemarilah dan hati-hati di jalan," jawab Bunga.


"Oke! Ini aku dan Kak Jasmine sudah bersiap tinggal berangkat saja, ya sudah ya Kak aku matikan teleponnya." Ucap Liora kemudian langsung mengakhiri panggilan. 


Liora turun dari tangga, "Ayo Kak kita berangkat sekarang katanya Kak Bunga ada di apartemennya," ajak Liora kemudian setelah melihat Kakak Iparnya yang sudah siap.


Mereka pun kemudian keluar bersama menuju mobil, dengan Jasmine menggandeng Alno di tangan kirinya.


Tak lama mereka sampai di kediaman Gottardo, dan Jasmine pun masuk menemui Ibunya untuk menitipkan Alno sebentar, dan akan menjemputnya setelah dia menyelesaikan urusannya. Sementara Liora menunggu di dalam mobil sambil memainkan ponselnya.


Tak lama Kakak Iparnya keluar dan masuk ke dalam mobil, dan Liora pum mulai melajukan mobilnya menuju ke apartemen Kakaknya yang belum lama ini ditempati setelah dirinya menikah.


Hampir 30 menit mereka berada di perjalanan, bukan karena macet, tapi karena pesan Stevano kepada adiknya, dia mengizinkannya pergi bersama istrinya dengan syarat untuk mengendarai mobilnya pelan-pelan.


Dan Liora pun hanya menuruti, padahal jika dia tidak menuruti, Stevano juga tidak akan tahu, tapi dia tidak ingin membantah Kakak pertamanya itu.

__ADS_1


Mereka memencet bel pada kamar apartemen tempat tinggal Max dan Bunga. Tak lama pun pintu dibuka.


Bunga melihat wajah Jasmine tidak baik-baik saja.


"Anda kenapa Nyonya? Sepertinya Anda terlihat tidak baik-baik saja?" Tanya Bunga pada Nyonya Mudanya yang sekarang menjadi Kakak Iparnya.


"Ini gara-gara aku naik siput kesini," kesal Jasmine langsung masuk begitu dipersilahkan dan duduk di sofa menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa berharap mual dan pusingnya berkurang.


"Naik siput?" Tanya Bunga heran.


"Hehehe itu Kak, maksud Kak Jasmine aku yang mengendarai mobil sangat pelan seperti siput," kata Liora menjelaskan.


"Oh, aku pikir beneran," kata Bunga polos.


"Bunga-bunga kau ini ada-ada saja, mana ada manusia menaiki siput, yang ada siputnya langsung kriek," kata Jasmine yang kini tengah memejamkan mata.


"Anda saja Nyonya, yang bilangnya tidak je..


"Bunga aku ini istri Kakak iparmu, jadi kau harus memanggilku Kak, bukan Nyonya dan berhentilah berbicara formal padaku karena sekarang aku bukan Nyonyamu," potong Jasmine tegas.


"Tapi.."


"Tidak ada tapi dan tidak ada bantahan," kata Jasmine tidak bisa diganggu gugat.


"Baiklah," pasrah Bunga.


"Kenapa kau?" Tanya Jasmine pada Liora yang dari tadi menatap Jasmine dan Bunga bergantian dengan terus tersenyum.


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa senang memiliki kakak ipar seperti kalian," kata Liora jujur dari dalam hatinya.


Jasmine dan Bunga saling pandang dan tersenyum mendengar apa yang baru saja Liora katakan. 


"Mmm ra, bisakah aku minta tolong?" Tanya Jasmine ragu.


"Tentu saja, ada apa Kak?" Tanya Liora.


"Aku menginginkan jus jeruk, bisakah kamu membuatkannya?" kata Jasmine.


"Biar, aku yang membuatnya kalian kan tamu, kata Bunga hendak bangkit tapi ditahan Jasmine.


"Itu Kak Bunga yang akan membuatnya Kak," kata Liora.


"Ra, apa kamu tega membuat Kakak iparmu yang sedang hamil kelelahan?" Tanya Jasmine memelas.

__ADS_1


Liora tampak berpikir kemudian segera beranjak menuju dapur setelah Bunga mengatakan ingin dibuatkan minuman yang sama.


__ADS_2