Please Love Me

Please Love Me
Part 105


__ADS_3

"Coba Anda lihat kedua putri Anda, apa Anda akan tetap keras kepala dengan ego anda yang terus membenci Lily tanpa alasan?" Ucap Al setelah kembali menutup pintu ruang rawat Dahlia.


"Apa Anda ingin menghancurkan hubungan Kakak adik diantara mereka? Coba Anda buka hati Anda, terima Lily sebagai putri Anda, anggap dia seperti darah daging Anda sendiri, seperti dia yang juga selalu menganggap Anda Ibu kandungnya sendiri, harusnya Anda tidak membedakan kasih sayang diantara mereka, hanya karena di tubuh Lily tidak mengalir darah Anda. Sekarang coba Anda pikirkan! Apa pernah Lily memikirkan dirinya sendiri? Apa pernah dirinya lebih mementingkan kebahagiaannya dibanding kebahagiaan Anda dan Kakaknya, tidak bukan. Lily sekolah, bekerja untuk menunjang kehidupan kalian, Lily harus bekerja keras di usianya yang masih muda, padahal gadis seumuran dirinya sedang dalam masa dimana dia bisa puas bermain dengan teman-teman sebayanya. Saat Lily melakukan itu, apa pernah Lily mengeluh pada Anda, atau kalau tidak pada Kakaknya? Dia melakukan semua yang bisa dia lakukan untuk kebahagian Anda dan Kakaknya, tapi apa balasan Anda terhadapnya? Saya tahu, Anda yang membesarkannya, dan mungkin Anda membesarkannya dengan rasa sakit di hati Anda, Anda tahu bagaimana rasanya rasa sakit itu, dan selama ini Lily sudah merasakannya, apa Anda masih belum puas hingga ingin membuat dirinya hidup dalam terus penderitaan. Apa selama Anda membesarkannya tidak pernah ada sedikitpun rasa sayang di hati Anda padanya. Bahkan ayam yang mengerami telur bebek, saat telur itu menetas dan menjadi bebek kecil, ayam tetap selalu memberikan perlindungan padanya. Kenapa Anda sebagai manusia yang memiliki hati nurani tidak memiliki sedikit perasaan seperti itu?" Al menjeda ucapannya dan menarik nafas dalam.


Vega hanya bisa diam mendengarkan setiap kata yang pria muda di sampingnya itu katakan panjang lebar, entah Vega sedang mencerna ucapannya atau tidak, tapi Vega benar-benar diam dengan pandangan kosong.


Al menatap wanita yang telah membesarkan adik kandungnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Setelah cukup memberi Vega waktu untuk mencerna setiap perkataannya, Al pun melanjutkan ucapan yang  belum sempat dia katakan.


"Aku tahu Anda memiliki rasa sayang itu, tapi Anda menutup mata Anda dari semua itu, yang Anda pikirkan hanya penderitaan yang Anda alami sejak kehadiran Lily di kehidupan Anda. Tapi apa Anda juga pernah berfikir, bahwa semua itu bukan keinginan Lily, itu memang takdir yang sudah Tuhan tentukan. Setiap orang pasti berharap, dia dilahirkan dengan di tengah-tengah keluarga yang bahagia, berharap bisa tumbuh diantara orang-orang yang menyayanginya, tapi apa semua orang bisa meminta hal itu, tentu saja tidak, seseorang begitu lahir hanya bisa menjalani apa yang sudah menjadi garis hidupnya. Maafkan saya, bukan maksud saya ingin menghakimi ataupun menggurui Anda, tapi semua masalah yang datang, jangan Anda lihat dari sudut pandang Anda sendiri, sekali-kali, coba Anda lihat dari sudut pandang orang lain, karena yang terlihat bahagia belum tentu benar-benar bahagia, begitupun sebaliknya. Anda sakit, apa menurut Anda Lily tidak sakit? Anda terluka, Apa mungkin Lily tidak terluka? jadi jangan pernah membenci dia Bi, dia juga seorang anak yang ingin mendapat kasih sayang dan cinta dari Ibunya, dan Andalah Ibunya, karena bagaimanapun Andalah yang membesarkannya. Dia juga ingin bahagia, layaknya anak-anak yang lain. Dan ingatlah Bi, jangan sampai Anda menyadari hal itu, disaat semuanya sudah hampir terlambat."


"Tapi selain Ibunya yang sudah merenggut kebahagian keluarga kami, dia juga akan melakukan hal yang sama, dia juga ingin merebut sumber kebahagian putriku, apakah sebagai Ibu aku akan diam saja?" Vega menatap Al dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Itu hanya pemikiran Bibi saja, sekarang saya tanya pada Bibi darimana Bibi tahu semua itu? Apa Bibi bisa membaca hati dan pikirannya?" 


Vega diam, yang Al katakan benar, itu hanya pemikirannya saja, melihat Lily dekat dengan Al, pria yang putrinya cintai, Vega selalu berpikiran buruk terhadap Lily, dia menganggap Lily akan menghancurkan kebahagian Putrinya. Bahkan Vega tidak pernah berpikir jika semua itu juga tergantung dengan Al, bukan hanya Dahlia dan Lily saja. Vega menunduk seperti sedang merenungkan semuanya.


"Apa yang Anda maksud saya? Jika yang Anda maksud adalah saya, Anda tidak perlu khawatir karena hal itu tidak akan pernah terjadi, Lily tidak bisa merebut saya dari siapapun," jawab Al dengan penuh keyakinan.


Vega mendongak menatap mata Al, "Apa maksud kamu?" Tanyanya yang tidak mengerti apa maksud perkataan yang baru saja Al sampaikan.


"Jika Anda takut Lily merebut saya dari Putri Anda, Anda salah besar," jawab Al membalas tatapan wanita yang diperkirakan seusia Ibunya.


"Tidak, kamu pasti bohong, kamu pasti sengaja mengarang cerita kan?" Vega tidak langsung percaya pada ucapan Al.


Waktu itu Dahlia memang mengajaknya pergi dan hanya bilang itu acara Lily, dan Vega menolaknya, Dahlia tidak bilang jika hari itu adalah pernikahan Lily, jadi Vega benar-benar tidak tahu jika Lily sudah menikah.

__ADS_1


"Untuk apa? Untuk apa aku berbohong pada Anda? Tidak ada untungnya bukan?"


"Jelas ada, kamu hanya ingin aku tidak membencinya, makanya kamu sengaja mengarang cerita itu."


"Apa jika itu memang kenyataannya Anda jadi tidak membencinya?" 


Vega lagi-lagi hanya bisa diam, dia tidak bisa berkutik pada setiap ucapan pria yang disukai putrinya.


"Kenapa Anda tidak menjawabnya? Apa karena memang tidak bisa menjawabnya? Anda tidak bisa bukan jika tidak membencinya, karena apa? Karena di dalam hati Anda sudah tertanam kebencian terhadapnya, dan Anda akan mencari kecacatannya untuk menjadikan alasan bagi Anda untuk terus membencinya, walaupun dia sudah melakukan segala kebaikan untuk Anda."


Kali ini Vega benar-benar mati kutu, hampir semua yang Al katakan adalah kebenaran. Dan Vega tidak bisa membantah ataupun mengelak lagi. Dirinya memilih diam daripada dia kembali berbicara dan akhirnya salah lagi di hadapan Al.


Al menghela nafas berat, "Baiklah," ucap Al pada akhirnya, melihat Vega yang hanya diam saja.

__ADS_1


Vega bingung maksud kata Baiklah yang keluar dari mulut Al. Vega mengernyitkan dahi menatap Al mengisyaratkan bahwa dirinya meminta penjelasan maksud ucapan Al. 


Al yang mengerti arti tatapan Vega, akhirnya menjawab memberi penjelasan, "Baiklah Jika memang Anda ingin putri Anda bahagia,  dan menurut Anda sayalah sumber bahagia putri Anda, saya bersedia menikahi Putri Anda."


__ADS_2