
"Papi ingin kamu menikah!" Ucap William yang langsung membuat bola mata Liora membesar.
"Maksud Papi?"
"Apa perkataan Papi kurang jelas?" Tanya Max.
Liora hanya menatap kakaknya itu sekilas, kemudian kembali menatap papinya, meminta penjelasan dari perkataan William barusan.
"Ada seseorang yang melamarmu, dan Papi sudah menerimanya, jadi Papi minta sama kamu untuk mau menikah dengannya.
"Tidak Pi, Liora tidak mau, kenapa Papi mendadak jadi seperti ini? Apa ini ulahmu Kak?" Sorot mata Liora kini menatap tajam Max, merasa jika semua ini adalah permintaan kakaknya itu.
"Jika kamu tidak mau menikah dengannya, baiklah, tapi kamu harus menikah dengan Jack," ucap Max tanpa menjawab pertanyaan Liora.
"Jangan libatkan Jack! Sudah berulang kali, aku mengatakan itu pada Kak Max, apa Kak Max belum paham juga? Dan lagi pernikahan bukan hal main-main, dengan Jack atau dengan orang pilihan Papi, El tidak akan mau, El hanya mau menikah dengan orang yang El cintai," jawab Liora yang langsung bangun dari duduknya hendak pergi dari sana, tapi saat di ambang pintu, langkahnya tiba-tiba berhenti setelah mendengar perkataan kakaknya.
"Apa kau masih mengharapkannya, apa bukti-bukti saat itu, tidak cukup untuk membuka matamu, bagaimana dia yang sebenarnya?"
Liora berbalik dan menatap Max tajam.
"Bagaimana dengan Kak Max dulu? Bukannya Kakak juga menolak saat Papi menjodohkan Kak Max dan Kak Olive? Kak Max malah kabur dan setelah kembali...Kak Max malah tertarik dengan Kak Olive yang Kakak tinggalkan sebelum hari pernikahan, bahkan Kak Max berusaha merebut Kak Olive dari Kak Vano? Terus bagaimana Kak Max selanjutnya? Kak Max menikahi Kak Bunga tanpa cinta dan kakak juga terus melukai hatinya, dan untungnya Kak Bunga mencintai Kakak dan bisa meluluhkan hatimu Kak, jika tidak, apa Kak Max bisa bahagia dengan pernikahan yang dilakukan karena terpaksa?"
Liora berkata seperti itu karena benar-benar marah, bahkan dia tidak melihat ekspresi kakak iparnya yang berubah murung.
"Cukup Liora! Jangan bawa-bawa masalah kakak ke dalam urusanmu," marah Max mendengar adiknya yang justru mengungkit masa lalunya.
"Aku hanya mencontohkan saja tentang pernikahan paksa itu Kak, kenapa Kak Max jadi marah? Intinya aku tidak mau menikah karena paksaan dari kalian!" Liora kemudian berbalik.
"Papi beri waktu kamu 1 tahun, jika sejak sampai saat itu, kamu belum menemukan orang yang benar-benar kamu cintai, kamu harus menikah dengan pria pilihan Papi," ucap William yang membuat Liora mengurungkan melangkahkan kakinya.
"Papi!"
"Keputusan Papi sudah bulat."
Liora kemudian menghela nafasnya.
"Baiklah, tapi Liora minta waktu selama 3 tahun."
William menatap putrinya, "Tidak ada tawar menawar lagi, Papi akan kasih kamu waktu 2 tahun, jika kamu tidak bisa menemukan orang yang seperti kamu katakan tadi, kamu harus mengikuti perintah Papi," kata William yang kemudian bangkit dan berlalu keluar, berjalan ke arah mobil Liora dan segera memasukinya.
__ADS_1
"Papi," Liora mengejar papinya dan ikut masuk ke dalam mobil, kemudian menoleh ke arah pria yang kini duduk di kursi kemudi.
"Papi!"
Tapi sayangnya William tidak mau mendengarkan perkataan putrinya, dia justru segera melajukan mobilnya meninggalkan kediaman putranya.
Liora sekali-kali melirik papinya yang tampak fokus pada jalanan di depannya. Mulutnya terbuka, seperti hendak mengatakan sesuatu tapi dia lebih memilih untuk tidak jadi mengatakannya, apalagi melihat wajah William saat ini. Dan keduanya pun hanya diam sepanjang jalan, hening, tidak ada yang bicara sama sekali, yang terdengar hanya deru mesin mobil, hingga sampai di pelataran mansion keluarga Anderson.
William langsung turun dan menyerahkan kunci mobil pada pengawal. Sementara itu, Liora juga ikut bergegas turun mengikuti papinya.
"Papi tunggu! Papi!" Teriak Liora yang berlari kecil mengejar langkah papinya yang lebar.
"El kenapa?" Tanya Tiffa yang langsung keluar saat melihat teriakan putrinya, takut terjadi sesuatu yang buruk saja.
"El? Tiffa menahan Liora yang hendak berlalu, karena sepertinya, putrinya itu tidak mendengarkan tegurannya.
"Mami, hmm El mau bicara sama papi dulu," kata Liora mencoba melepaskan tangan maminya untuk mengejar ayahnya lagi.
"Ada apa?" Tanya Tiffa khawatir.
Liora menatap maminya dan menghela nafas panjang. Menarik Tiffa untuk duduk dan menceritakan semua yang mereka bicarakan di rumah Max.
"El tidak mau Mi," rengek Liora berharap maminya mau membantu membujuk William.
Liora mengangguk dan berjalan gontai menuju kamarnya.
*
*
"Honey kamu tahu rencana Papi akan menjodohkan Liora?" Tanya Bunga setelah lama terdiam.
Max yang duduk bersandar sambil memejamkan matanya, hanya menggeleng.
"Terus kenapa kamu seolah mendukung papi?"
Max membuka mata dan menegakkan duduknya lalu menatap sang istri.
"Aku tidak mendukung papi, jujur saja, aku juga terkejut saat tadi aku ke kantor, dan tiba-tiba papi mengatakan hal seperti itu," Max kemudian menjelaskan semua yang papinya katakan di kantor pada sang istri tidak ada yang terlewat sedikitpun.
__ADS_1
"Jadi kamu tidak tahu siapa orangnya?"
Max hanya menggeleng, karena dia memang tidak tahu siapa orang yang papinya maksud.
"Kak Vano juga tidak tahu?"
"Sepertinya tidak," jawab Max lemah.
"Kamu tidak marah dengan perkataan Liora tadi?"
Bunga tersenyum lalu menggeleng.
"Aku tahu perasaannya saat ini, aku tidak akan memasukkan ke hati ucapannya."
Max tersenyum lalu menarik sang istri ke dalam pelukan. Tapi pelukan keduanya langsung terlepas saat mendengar suara putranya yang berjalan menghampiri mereka dengan mulutnya yang belepotan dan tertawa riang. Keduanya pun kemudian ikut tertawa, Max turun dari kursi, dan berjongkok merentangkan kedua tangannya menangkap sang putra.
…
"Sayang kenapa?" Tanya Jason saat istrinya tiba-tiba memegangi perutnya.
"Tidak apa-apa," jawab Lily yang kemudian ikut duduk di samping suaminya.
"Kamu tidur dulu saja, aku mau menyelesaikan pekerjaan ini dulu, karena mulai besok kan aku sudah mengambil cuti," jawab Jason yang kini mengalihkan pandangan dari laptop di pangkuannya ke sang istri.
"Nanti saja, aku mau menemanimu," jawab Lily yang kini malah menyandarkan kepala di bahu Jason.
Jason hanya tersenyum dan mengelus lembut rambut Lily.
"Baiklah," ucapnya kemudian sambil kembali mulai sibuk dengan laptopnya dan Lily hanya memperhatikan suaminya itu dalam diam. Jujur sebenarnya dirinya merasa gelisah, apalagi
Jason meregangkan jari-jarinya yang terasa kebas.
"Sudah selesai?"
Jason langsung menoleh ke samping, dia kira Lily sudah tertidur, tapi rupanya istrinya itu kini sedang menatapnya.
"Aku kira kamu sudah tidur?"
Lily menggeleng, "Kan aku tadi sudah bilang, jika aku mau menemanimu."
__ADS_1
"Ya sudah, ayo tidur sudah malam," Jason menutup laptopnya, kemudian bangun dan mengulurkan tangan pada Lily, membantu istrinya berdiri.
Tapi baru saja berdiri, Lily kembali memegang perutnya sambil meringis kesakitan, membuat Jason begitu panik.