Please Love Me

Please Love Me
Bab 175


__ADS_3

"Ini mau kamu apa babynya yang ingin dimanja?" Tanya Jason menggoda istrinya. Mereka kini sudah di kamar duduk bersebelahan di atas ranjang.


"Jelas ini kemauan baby kita, kalau kamu tidak percaya ya sudah, kalau kemauan baby kita tidak kamu turuti, terus baby kita ngeces kamu nanti yang tanggung jawab loh."


Jason tertawa mendengar ucapan istrinya, "Oke, ini berarti kemauan baby kita ya, sekarang kamu mau dimanja seperti apa sayang?"


"Mau di cium."


"Baiklah, seperti maumu."


Cup


Jason kemudian mencium kening istrinya.


"Disini, disini, dan disini juga," ucap Lily menunjuk bagian wajahnya yang ingin di cium suaminya dan tentu saja, Jason melakukan hal itu dengan senang hati.


"Sini deh!" Jason menarik pelan tangan Lily meminta sang istri untuk duduk di pangkuannya. Jason tahan pinggang istrinya semakin dekat, dan Lily pun melingkarkan kedua tangannya di bahu Jason.


Lily memeluk leher suaminya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang suami. "Tidak tahu kenapa, pengen selalu dekat sama kamu, pengen dimanja dan dipeluk terus juga," katanya.


Jason tersenyum, karena jujur dirinya juga merasa seperti itu. 


"Berarti nanti baby kita pasti mirip aku, karena kamu mau terus dekat-dekat sama aku," ucap Jason mengelus punggung istrinya.


"Tidak boleh, kalau begitu tidak adil, pokoknya nanti harus adil, aku mau nanti baby kita tingginya, hidungnya, pintarnya seperti kamu, tapi aku mau sifatnya seperti aku yang ceria, aku tidak mau anakku berwajah datar dan dingin seperti kamu, nanti kalau besar, tidak ada yang suka bagaimana?"


"Kata siapa tidak ada yang suka? Buktinya kamu saja suka sama aku, iya kan?" Kata Jason menguraikan pelukan istrinya dan menatap Lily dalam.


"Iya juga ya, tidak tahu juga sih kenapa aku tiba-tiba suka sama kamu, mmm mungkin karena kamu tampan dan beda dengan laki-laki yang aku kenal," jawab Lily sambil berpikir.


Jason mendekatkan wajahnya, menarik tengkuk Lily dan mencium bibir istrinya itu.


*


*


"Ayo turun!" Perintah Ronald yang kini membawanya ke sebuah rumah mewah.


"Ini rumah siapa?" Tanya Liora was-was.


"Rumah temanku," jawab Ronald karena memang rumah itu adalah rumah teman lamanya yang juga belum lama pindah.

__ADS_1


"Untuk apa kita ke rumah temanmu?" 


"Tentu saja untuk memenuhi undangan, ayo cepat!" Ronald kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Liora yang berjalan pelan sambil menatap sekeliling, sesekali menatap ke depan, agar dirinya tidak kehilangan jejak pria yang mengajaknya.


Liora terkejut, begitu masuk ke dalamnya, karena ternyata tidak hanya dirinya dan Ronald, ternyata jauh di dalam rumah besar itu ada banyak orang.


"Hai bro!" Liora melihat ke arah Ronald yang menyapa teman-temannya, bahkan kini mereka berpelukan ala-ala pria.


"Selamat ya," ucap Ronald yang kini melihat Liora dan melambaikan tangannya membuat gadis itu segera mendekat ke arahnya.


"Siapa dia?" ucap seorang wanita yang baru mendekat dan langsung mencium pipi Ronald.


Ronald duduk dan wanita itu pun ikut duduk di pangkuan pria itu, Liora sampai bergidik ngeri melihat pemandangan di depannya itu.


"El kau bisa lakukan tugasmu!" Ucap Ronald kepada Liora membuat Liora mengernyitkan dahinya bingung.


"Tugas?" 


"Iya kau layani semua orang yang ada disini!" Ujar wanita yang bersama Ronald.


Liora menatap banyak orang yang sedang berpesta, kemudian menatap Ronald tajam.


"Hei kau pelayan yang dibawa Ronald kan? Jangan belagu deh, ini memang tugas pelayan!" Kata seorang wanita yang lainnya menatap Liora dari atas ke bawah.


Ditatap seperti itu tentu saja membuat Liora risih. Dan yang lebih mengesalkan saat Ronald hanya diam saja, saat dirinya diperlakukan seperti itu. Pria itu justru sedang menikmati sentuhan tiga wanita yang ada di samping kiri, kanan dan pangkuannya.


"Aku bukan pelayan!" Teriak Liora hingga kini gadis itu menjadi pusat perhatian, semua mata kini tertuju padanya.


"Bukan pelayan? Lihatlah penampilanmu! Atau perlu aku bawakan kaca yang besar, agar kau sadar diri?" Sahut wanita berambut pirang dengan gaun berwarna hitam yang memperlihatkan bagian punggungnya.


Liora kemudian menatap dirinya sendiri, "Pantas saja," gumamnya saat melihat penampilannya saat ini. "Kenapa aku bisa lupa?" Tambahnya kemudian menatap wanita yang terakhir berbicara padanya tadi.


"Baiklah, hanya membawakan kalian minuman saja kan?" Liora kemudian berlalu menuju ke tempat para pelayan yang lainnya.


...


"Kau membawa pelayan cantik dari mana Ron?" Tanya pria yang mengadakan pesta, berdiri di depan Ronald.


"Nemu di jalan," jawab Ronald sekenanya, kembali menikmati sentuhan wanitanya.


"Jangan lancang Cris!" Ronald menatap tajam dan menahan tangan wanita yang dipanggil Cris saat wanita itu melakukan hal yang tidak seharusnya.

__ADS_1


"Sorry aku lupa, terbawa suasana saja tadi," ucap wanita itu beralasan.


Pria tadi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku tinggal dulu, selamat menikmati," ucapnya kemudian pergi lagi membiarkan Ronald bersama ketiga wanitanya.


Arah pandang Ronald teralihkan melihat gadis yang dibawanya membawakan minuman untuk para tamu dengan gesit bahkan gadis itu begitu cepat akrab dengan para tamu, terlihat gadis itu kini mengobrol dengan dua wanita yang sempat ribut dengannya, tidak tahu apa yang mereka obrolkan, tetapi kedua wanita tadi begitu senang mendengarkan Liora berbicara. Dan Ronald melihat dua wanita tadi membawa Liora pergi dari pesta. 


"Kalian minggir!" Kata Ronald mengusir ketiga wanita yang bersamanya.


"Mau kemana Ron? Disini saja," salah satu wanita yang ada di sebelah kanan Ronald menahan tangan pria itu.


"Iya Ron," sahut wanita yang di samping kirinya dan Cris yang tadi di pangkuannya kembali menuangkan minuman, untuk menahan pria itu.


Ronald hanya bisa pasrah. Dan dia kembali duduk tenang, tetapi tidak dengan perasaannya yang tidak tenang, matanya tampak gelisah mengedarkan pandangannya mencari sosok Liora, tapi dia tidak menemukannya.


"Dimana dia? Apa dia tidak mengenal kedua wanita itu? Apa dia tidak takut jika keduanya melakukan sesuatu kepadanya," ucap Ronald dalam hatinya.


Tak lama terdengar suara riuh, para tamu langsung memberikan jalan, melihat ketiga sosok perempuan yang baru saja masuk, membiarkannya lewat, dan terutama para kaum pria sampai berbaris dan mengantri ingin berkenalan.


Begitupun dengan Ronald dan para wanitanya. Semua mata tampak terbelalak melihat siapa yang datang.


Terutama Ronald yang memandangi gadis itu sedang berjabat tangan dengan pria-pria tadi, dan tidak tanggung-tanggung pria itu menarik tangan gadis itu dan mengecup punggung tangannya.


Seketika Ronald mengepalkan kedua tangannya melihat itu, entah apa yang membuatnya marah melihat pemandangan yang sedikit jauh dari jangkauannya.


"Kalian minggir!" Ucap Ronald terdengar dingin.


"Ron, kami akan…"


"Minggir, apa kalian tidak mendengarku!" Teriak Ronald dan semua orang menatapnya.


Kedua wanita yang ada di samping kiri dan kanannya, langsung minggir tapi tidak dengan Cris yang masih betah di posisinya.


"Minggir Cris!" Perintah Ronald menatap tajam Cris.


"Aku tidak mau!" Kata wanita itu dan Ronald yang sudah semakin marah, langsung bangun begitu saja, membuat Cris jatuh dan di tertawakan semua orang.


Cris bangun mengepalkan kedua tangannya dan menatap Ronald tajam, merasa dipermalukan oleh pria itu, setelahnya Cris segera pergi dari tempat pesta karena sekarang semua orang berbisik-bisik seperti membicarakannya.


Sedangkan Ronald dengan langkah lebarnya segera menghampiri gadis yang sedang asyik mengobrol dengan beberapa pria. 


Ronald melepaskan jasnya dan menyampirkannya di bahu gadis itu, dan menarik pinggang sang gadis hingga membuatnya yang sedang asyik mengobrol begitu terkejut.

__ADS_1


__ADS_2