
"Apa yang kau lakukan Kak?" Liora menatap Max tajam, dia tidak mengerti kenapa satu kakaknya itu sangat membenci Ronald bahkan rasanya seperti memiliki dendam yang harus dia balaskan kepada kekasihnya itu.
"Kenapa? Dia pantas mendapatkannya." Jawab Max mengatur nafasnya, dirinya benar-benar marah melihat Ronald masih berani menemui adiknya.
"Ya, tapi kenapa? Kenapa Kak Max sangat membencinya? Apa dia pernah merebut wanita yang Kak Max cintai atau apa yang membuat Kak Max tidak bisa menerimanya?"
Liora membantu Ronald bangun, kemudian dia membawa pergi pria itu, mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Max hendak mengejarnya tapi William menahan putranya.
…
"Akh!"
"Apa sangat sakit?" Tanya Liora yang merasa ngilu sendiri melihat pria itu meringis kesakitan.
Padahal Liora mengobati luka itu pelan dan sangat hati-hati, tapi Ronald justru terus meringis kesakitan.
"Maafkan Kak Max ya, aku tidak tahu kenapa Kak Max seperti sangat tidak menyukaimu," ucap Liora menunduk, kemudian gadis itu, mengangkat wajahnya menatap Ronald penuh selidik.
"Kenapa?" Tanya Ronald melihat tatapan Liora saat ini.
"Kamu sungguh tidak pernah mengencani wanita yang pernah dekat dengan Kak Max, atau kamu mungkin merebut kekasih Kak Max dulu?"
"Aww!"
Liora memegang keningnya, mendapat sentilan dari Ronald.
"Jangan sembarangan bicara, dulu kakakmu itu marah padaku, di awal pernikahan itu, sebabnya karena aku dulu mengelus perut Flo dan dia melihatnya, selain itu aku tidak pernah lagi bertemu kakakmu, kita bertemu kembali, ya hanya saat itu, disaat kita sudah saling mengenal," jelas Ronald panjang lebar.
Liora manggut-manggut mengerti, dia kemudian melanjutkan mengobati luka Ronald, tapi keduanya terkejut saat tiba-tiba seseorang membuka pintu, yang ternyata adalah Max. Pria itu tampak berjalan menghampiri keduanya, yang sama-sama kagetnya. Bahkan Liora merasa dirinya sudah seperti ketahuan selingkuh dan kekasihnya sendiri memergokinya. Seperti itulah yang Liora rasakan saat ini.
"Kak kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu dulu?" Marah Liora karena Max sudah tidak menghargai privasinya.
"Lalu dia?" Max menunjuk Ronald tidak suka.
"Kak, aku mohon, aku sedang tidak ingin ribut."
Plak
__ADS_1
Max menjatuhkan beberapa lembar foto tepat di meja, depan Liora dan Ronald saat itu duduk.
"Kau harus tahu itu, jika sudah tahu kamu pikirkan baik-baik, akan melanjutkan atau tidak hubunganmu dengannya," ucap Max yang kemudian berbalik pergi.
Tapi langkahnya berhenti saat di ambang pintu, "Satu lagi, foto-foto itu diambil beberapa hari ini," tambahnya lalu dengan segera pergi meninggalkan kamar adiknya.
Liora ragu saat hendak mengambil foto-foto itu, hingga akhirnya Ronald yang lebih dulu mengambilnya.
"El kamu tidak perlu melihat ini, aku bisa jelaskan semuanya."
Ronald menyembunyikan foto-foto itu, tidak ingin Liora melihatnya.
"Kemarikan!" Pinta Liora tapi Ronald enggan untuk memberikannya.
"Kemarikan Ronald!" Teriak Liora kesal karena pria itu tidak memberikannya membuat Liora takut jika Ronald memang menyembunyikan sesuatu darinya.
"El!"
Tanpa banyak kata Liora pun berusaha untuk merebutnya dan berhasil, dan tangan Liora gemetar melihat foto-foto itu, dimana Ronald sedang berjalan dengan beberapa wanita bahkan ada di antara beberapa foto itu, kekasihnya bersama wanita-wanita itu masuk ke dalam kamar hotel atau sebuah apartemen, juga ada yang di tempat makan."
Liora berusaha untuk tidak meneteskan air matanya, dia mengira Ronald bisa berubah, nyatanya tidak, pria itu rupanya masih menemui wanita-wanitanya diam-diam di belakang Liora.
"El aku bisa jelaskan ini semua tidak seperti yang kau pikirkan, aku…"
Plak
"El!"
"Keluar!"
"El aku bisa jelaskan,"
"Aku bilang keluar!" Teriak Liora melempar semua foto yang tadi dipegangnya.
"Baiklah aku pulang, kamu tenangkan diri dulu, aku akan menemui dan menjelaskan semuanya padamu jika kamu sudah tenang," ucap Ronald melangkah mundur dan menutup pintu kamar gadisnya itu.
"Tidak ada yang perlu kau jelaskan, semuanya sudah sangat-sangat jelas."
Ronald menoleh, di belakangnya, terlihat Max menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sambil bersandar di dinding.
__ADS_1
"Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku tidak pernah mengganggumu, atau mungkin kau marah karena model yang menyukaimu akhirnya juga memilihku?"
"Tapi dia juga meninggalkanmu bukan, yang perlu kamu tahu, aku tidak ingin adikku dengan pria sepertimu," Max kemudian berlalu pergi.
Ronald menarik tangan Max dan memukulnya. "Kamu tidak seharusnya ikut campur dengan apa yang aku lakukan, kau tidak tahu apa-apa," teriak Ronald membabi buta.
"Aku tahu, tadi buktinya."
Ronald menghela nafasnya, "Hanya foto-foto itu kamu jadikan bukti untuk menghancurkan hubungan aku dan El? Yang perlu kau ingat Max, kamu juga sama saja, bukannya kamu menikahi sepupuku karena kamu sudah membuatnya…"
"Cukup Ronald!" Teriak Bunga yang datang menghampiri keduanya.
"Flo!"
"Honey!"
Ucap Max dan Ronald bersamaan begitu melihat siapa yang datang.
"Jangan pernah katakan hal itu lagi, aku tidak ingin orang lain membahas masa lalu kami, aku tahu kita bersama awalnya dari sebuah kesalahan, tapi aku memberinya kesempatan untuk berubah, dan Max juga berubah, jadi kamu tidak berhak membicarakan hubungan pernikahan kami, walaupun kamu sepupu sendiriku," ucap Bunga menatap Ronald.
Ronald tertawa mendengar ucapan Bunga, setelah beberapa saat, barulah dia menghentikan tawanya, menatap Bunga dan memegang kedua bahu sepupunya itu.
"Seharusnya kamu katakan itu pada suamimu Flo, El jelas-jelas memberi kesempatan untukku berubah, El mau menerima masa laluku seperti kamu menerima suamimu, tapi lihatlah suamimu sepertinya tidak bercermin, dia seolah menjadi seorang pria yang baik dan terus menghakimi masa lalu orang lain. Padahal jika bukan kamu yang menerima dia, dia tidak akan menjadi seperti sekarang, dia tetap akan menjadi pria bre****k sepertiku."
"Kau!" Max sedikit tidak terima dengan perkataan Ronald, pria itu hendak kembali memberi pelajaran kepada Ronald tapi dengan cepat, Bunga menghalanginya.
"Cukup!" Ucap Bunga.
Ronald menatap tajam Max, lalu mengelus lembut rambut Bunga kemudian berlalu meninggalkan rumah itu.
*
*
Tubuh Lily melemah saat akhirnya mendengar secara langsung dari kakaknya Dahlia. Lily tadinya berharap jika kakaknya tidak akan menyampaikan hal itu, karena memang kondisi ibunya baik-baik saja, tapi harapannya sepertinya tidak terwujud saat Dahlia menjelaskan semuanya secara detail.
Dahlia kemudian meraih tangan Lily dan menggenggamnya.
"Lily, Kakak minta tolong sama kamu, jagain Ibu, selama nanti Kakak tidak ada disini, bujuk Ibu juga untuk kembali berobat, kakak sudah membujuknya tapi Ibu selalu menolak."
__ADS_1
"Ya Kakak tenang saja, aku akan usahakan yang terbaik untuk ibu," ucap Lily mencoba untuk tidak bersedih, karena dia tidak ingin kakaknya nanti berat untuk pergi.
Bagaimanapun, Lia harus mewujudkan mimpinya yang juga menjadi impian sang ibu. Dengan begitu Lily berharap, ibunya nantinya akan baik-baik saja, setelah kakaknya bisa meraih impiannya.