Please Love Me

Please Love Me
Bab 244


__ADS_3

"Ngapain kamu disini?" Ucap Liora yang kemudian memejamkan matanya kembali. Hening selama beberapa menit, hingga dia kembali membuka matanya. Melihat seseorang yang sama.


"Kenapa tidak pergi-pergi juga? Liora apa yang sebenarnya kamu pikirkan?" Gumamnya kemudian menepuk sendiri kepalanya pelan.


"Bagaimana aku bisa lupa, jika hanya memikirkannya saja, bayangan dia tiba-tiba muncul di sampingku," tambahnya yang kemudian memilih berdiri. Dirinya yang berniat ingin menenangkan diri, nyatanya tidak bisa karena dia melihat bayangan Ronald datang dan duduk di sampingnya.


"Aku datang, kenapa kamu malah pergi El?" Ucapnya pria itu.


Liora menghentikan langkahnya kemudian menoleh.


"Please jangan ganggu aku terus, aku sedang berusaha melupakanmu, tapi kamu selalu muncul seperti ini, itulah yang membuatku jadi sulit lupa," ucap Liora kesal.


"Aku tidak terus mengganggumu, aku bahkan baru kali ini muncul di hadapanmu," tanya Ronald mengernyit bingung.


"Kata siapa kamu tidak terus menggangguku, setiap hari kamu selalu datang, kamu seperti sedang mengejekku karena aku yang tidak bisa melupakanmu, iya? Ah Liora sepertinya kamu sudah gila, bahkan bayangan pria itu kau ajak bicara," ucapnya mengacak rambut frustasi.


Ronald bangun dan berjalan menghampiri Liora dan langsung memeluk gadis itu, membuat Liora terlonjak kaget, rasanya seperti nyata, pelukan yang begitu hangat, dan Liora sungguh merindukan pria ini.


"Aku nyata El, aku memang datang untukmu," ucap Ronald tiba-tiba.


Liora dengan segera melepaskan pelukan pria itu, saat dirinya merasakan debaran jantung Ronald.


"Jadi dia benar-benar nyata, bukan bayangan seperti selama ini yang aku temui?" Ucap Liora dalam hati, melihat Ronald dari atas ke bawah.


"Kenapa?" Tanya Ronald saat Liora menatapnya begitu intens.


"Tidak apa-apa," jawab Liora yang kemudian berbalik dan meninggalkan Ronald dan pergi begitu saja.


Ronald hanya menatap kepergian Liora, sepertinya gadis itu masih terkejut dengan kedatangannya tiba-tiba.


Ronald mengikuti langkah Liora dalam jarak yang cukup jauh. Melihat Liora yang kini masuk ke mobilnya dan berlalu.


Setelah itu, Ronald juga memasuki mobilnya, dia akan pergi menemui sepupunya. Karena kebetulan ada sesuatu yang harus Ronald berikan kiriman dari ayahnya untuk anak Flo.


Liora menepikan mobilnya, memegang dadanya, merasakan debaran yang tiba-tiba saja kembali dia rasakan.

__ADS_1


"Kenapa dia harus datang lagi?" Gumamnya, ingatan bersama Ronald kembali berputar lagi, awal pertemuan, perdebatan kecil mereka, kebersamaan mereka, dan pertengkaran terakhir mereka sekaligus pertemuan terakhir mereka.


Lamunannya buyar saat ponselnya berbunyi.


"Kak Vano?" Gumamnya kemudian dia dengan segera menerima panggilan dari kakaknya, mendengarkan apa yang pria itu katakan, dan setelah mengerti, Liora pun melajukan mobilnya lagi ke rumah Alex. Ya karena Kakaknya beberapa hari ini memang menginap disana.


Karena kebetulan kini ada di sekitar rumah Alex, hingga tidak membutuhkan waktu lama, kini dia telah sampai di pelataran rumah Alex.


Liora langsung masuk, dia memang sudah terbiasa datang ke rumah orang tua kakak iparnya itu.


"Nona Liora, silahkan masuk Nona, Tuan Muda sudah menunggu Anda," ucap pelayan mempersilahkan.


"Terima kasih Bi, oh ya Kak Vano dimana?" kata Liora mengedarkan pandangan, mencari orang yang baru saja menghubunginya.


"Tuan ada di kamarnya, Nona langsung masuk saja," kata Bibi.


"Baiklah Bi," Liora pun melanjutkan langkahnya menuju kamar kakaknya.


Liora mengetuk pintu kamar kakaknya, dan tak lama, pintu itu pun terbuka.


"Kak Vano nya mana Kak?"


"Sedang di kamar mandi," jawab Jasmine dan tiba-tiba, orang yang dibicarakan pun muncul.


"Ada yang ingin Kakak katakan," ucap Stevano yang keluar dari kamar mandiĀ  bersama anak-anaknya.


"Kalian sama Mama dulu ya," ucap Stevano kepada ketiga anaknya yang langsung diangguki oleh mereka.


"Ayo sayang!" Ajak Jasmine meminta anak-anaknya itu, untuk keluar dari kamarnya.


"Bibi El nanti kita main ya," ucap Alno mewakili adik-adiknya.


"Tentu saja," jawab El.


Dan ketiga anak kecil itu bersorak senang.

__ADS_1


"Kenapa kak?" Tanya Liora saat di dalam kamar hanya ada mereka berdua.


"Papi sama ibu akan pergi nanti malam, bagaimana kalau kamu menginap disini?" Tanya Stevano yang kini duduk di samping sang adik.


"Pergi? Kenapa aku tidak tahu? Papi tidak bilang padaku apa-apa."


"Itu karena kamu belakangan ini menghindari Papi, apa benar itu?" Stevano menatap adiknya dengan tatapan menyelidik.


Liora menghela nafas panjang, kemudian menceritakan apa yang tadi papinya katakan, itulah yang dia takutkan kemarin-kemarin makanya dia selalu berusaha menghindar, dan akhirnya hal itu terjadi juga hari ini, mereka tinggal serumah, jelas saja, Liora tidak bisa terus menghindar.


"Apa kamu sudah mengenal orangnya?" Tanya Stevano yang kasihan melihat Liora. Bagaimanapun dia pernah merasakannya, tapi dia beruntung mendapatkan Jasmine, dan dulu dia tidak pernah menyukai gadis manapun, jadi dia setuju-setuju saja, saat ibunya meminta dia menggantikan Max. Tapi kini, Stevano jelas tahu jika adiknya mencintai seseorang dan hal itu yang membuat sulit menerima permintaan papi mereka.


"Aku harus apa Kak?" Liora menatap kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa kamu tidak ingin mengenalnya dulu, mungkin akan cocok?"


Liora menggeleng, "Kamu tahu Kak, jika hati kita sudah memilih seseorang, sulit untuk menerima orang lain, walaupun bisa dikatakan orang lain itu mungkin saja lebih baik dari orang yang kita pilih," tangis Liora tiba-tiba pecah, mengingat percintaannya yang tidak pernah mulus seperti yang dia harapkan.


Stevano mendekat dan menarik Liora ke dalam pelukannya, dia sudah pernah berbicara pada papinya, untuk memikirkan kembali rencana itu, tapi papinya tidak mau mendengarkan, ini demi kebaikan Liora, dan papinya bilang, jika Liora nanti akan merasa senang ke depannya.


"Aku harus bagaimana Kak?" Isak Liora.


Stevano diam, dia tidak harus menjawab apa. Tapi dia tahu, keputusan papinya tidak semudah itu untuk bisa dibatalkan, melihat dari sifat papinya yang keras kepala, dan itu menurun kepada Max dan Liora.


"Oh ya Papi dan Mami mau pergi kemana?" Liora menghapus air matanya dan melepaskan pelukan sang kakak.


"Entahlah, Papi hanya bilang akan keluar negeri, jadi bagaimana kamu akan tinggal disini kan? Kakak tidak mau kamu sendirian di rumah," ucap Stevano merapikan rambut adiknya.


"Sepertinya aku akan tinggal di rumah saja Kak, kakak tidak perlu khawatir, banyak pelayan disana."


"Baiklah, jika seperti itu, malam ini Kakak dan Kak Jasmine akan ikut pulang denganmu."


Liora mengangguk mengerti, "Aku mau menemui Alno, Vier dan Vira dulu kak," pamit Liora yang kemudian bangkit dari duduknya.


Dia kemudian berlalu keluar menuju kamar keponakannya yang memang sudah mempunyai kamar sendiri di rumah itu. Alex sengaja menyiapkan kamar untuk mereka, karena Jasmine dan Stevano sering menginap.

__ADS_1


Tapi saat melangkah, ponsel Liora berdering, dia menghembuskan nafas panjang melihat siapa orang yang kini menghubunginya.


__ADS_2