
Liora mendekat dan menerobos kerumunan. Benar dia mengenal wanita yang kini dikerubungi warga sekitar.
"Maaf, ada apa ini?"
Liora membantu wanita itu bangun.
Setelah mendengar penjelasan beberapa orang disana, Liora meminta maaf dan membayar kerugian lalu membawa wanita itu pergi, meminta masuk ke dalam mobilnya.
"Tidak perlu Nona, dan makasih untuk yang tadi, saya janji akan menggantinya."
Liora menatap wanita itu, "Mengganti dengan cara seperti tadi maksud Anda? Saya tidak mau jika cara seperti itu yang Anda gunakan."
Wanita itu balas menatap Liora. "Tapi dengan cara seperti tadi yang bisa saya lakukan. Saya tidak mempunyai pekerjaan."
"Oh jadi ini pilihan hidup Anda, meninggalkan keluarga Anda memilih hidup mewah dan sekarang keadaannya berbalik bukan? Tak selamanya yang di atas tetap di atas. Karena roda terus berputar."
"Kamu…"
"Aku akan memberi Anda pekerjaan, dan gaji Anda akan saya potong tiap bulannya untuk membayar hutang Anda tadi, tidak ada yang gratis di dunia ini," ucap Liora kemudian melajukan mobilnya membawa ke rumah yang waktu itu dia datangi bersama Ronald.
"Kenapa kamu mau membantuku tadi?" Tanya wanita itu setelah tadi cukup lama terdiam mencerna setiap ucapan yang diucapkan gadis yang baru ditemuinya, bahkan wanita itu heran karena gadis itu seperti sudah mengenal sebelumnya, ya walaupun wanita itu tidak merasa asing dengan wajah Liora yang sepertinya pernah bertemu sebelumnya.
Kini mobil Liora sudah sampai di sebuah rumah yang depannya tampak asri, Liora turun diikuti oleh wanita tadi, bahkan Liora belum menjawab atas pertanyaan wanita tadi.
"Disini, aku ingin Anda merawat rumah ini, karena saya kadang kesini kapanpun, dan jika saya datang rumah harus dalam keadaan bersih," ucap Liora berjalan dan membuka pintu rumah itu.
"Anda juga bisa tinggal disini, masalah makanan dan kebutuhan penting Anda akan saya tanggung, dan ini kuncinya," kata Liora kemudian berlalu pergi. Langkahnya tiba-tiba berhenti.
"Saya juga punya kunci rumah ini, oh ya satu lagi, saya bukan membantu Anda, tapi saya ingin Anda menebus apa yang sudah Anda lakukan pada keluarga Anda," tambahnya kemudian bergegas pergi meninggalkan wanita itu dalam kebingungan.
Liora menghela nafasnya kemudian melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah, sedari tadi kakak iparnya terus menghubunginya.
Dengan kecepatan tinggi Liora mengendarai mobilnya cepat, untungnya jalanan tak begitu padat, mungkin karena sudah cukup lama jam pulang kantor. Hingga tak lama kini Liora sudah sampai di kediaman Anderson.
Liora masuk dan terkejut melihat kakaknya yang tampak sibuk mondar-mandir.
"Kenapa Kak?" Dengan wajah khawatir Liora menghampiri Jasmine.
__ADS_1
Jasmine pun mengatakan jika saat ini suaminya terus saja muntah-muntah, bahkan putri kecilnya juga sakit dan kini sangat rewel ingin terus selalu bersamanya.
"Sudah periksa ke dokter? Kalau belum ayo aku antar."
"Hmm sudah," Jasmine kemudian menjelaskan perihal muntah-muntah yang dialami suaminya dan Vira dia baru saja minum obat dan sekarang sedang tidur, makanya Jasmine bisa pergi ke dapur untuk membuatkan minuman segar untuk suaminya.
"Alno dan Ken?"
"Mereka sedang mandi, kamu tolong cek mereka ya, pasti mereka sedang main air lagi, kamu suruh mereka buat berhenti saja."
"Baik Kak,*
"Eh Liora tunggu!" Jasmine menghentikan langkah Liora yang akan pergi.
"Kenapa kak?"
"Tolong jagain mereka dulu ya, kakak kamu tidak mau ditinggalin soalnya."
Liora tersenyum, "Kakak tenang saja, ya sudah aku ke kamar anak-anak dulu," pamit Liora kemudian gadis itu segera berlalu ke kamar keponakannya.
Liora memasuki kamar, tidak ada keberadaan keponakannya disana, hingga pandangan Liora tertuju pada kamar mandi. Liora berjalan pelan-pelan dan membuka pintu itu tapi.
Dor
Dor
Alno dan Vier langsung menyemprotkan air pada Liora, menggunakan pistol air mainan mereka.
"Cepat serang Bibi El!"
Ucap Alno dan Vier hanya menurutinya.
"Ampun! Stop!" Teriak Liora yang pura-pura kalah, membuat keduanya bersorak senang.
"Ayo cepat mandinya!" Kata Liora yang kemudian membantu keduanya menyelesaikan mandinya.
*
__ADS_1
*
Seorang pria sedang berdiri menatap keluar jendela, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong celana. Dia sudah berusaha berkali-kali menjelaskan, tetapi tetap saja gadis yang dia cintai tidak percaya. Hmm bukan tidak percaya, melainkan tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan. Berkali-kali dia menghela nafasnya. Ternyata untuk mendapatkan gadis itu begitu sulit, mungkin saja ini balasan baginya karena selama ini suka bermain wanita.
Saat sedang memikirkan cara bagaimana lagi, untuk membujuk Liora agar mau memberinya kesempatan untuk mendengarkan penjelasannya. Seseorang tiba-tiba saja masuk.
"Kenapa tidak mengetuk pintu dulu?" Tanya Ronald dingin saat gadis itu kini menghampirinya dan bergelayut manja di lengannya.
"Hei santai, aku tadi sudah mengetuk pintu berkali-kali, kau saja yang tidak mendengarnya," kata gadis itu yang kini menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
"Jaga sikapmu Gle!"
"Kenapa memangnya dengan sikapku? Ada yang salah?"
Ronald melepaskan tangan gadis itu dan menatapnya tajam.
"Pergilah, aku sedang tidak ingin diganggu."
Bukannya pergi, gadis itu justru duduk di sofa yang ada di kamar Ronald.
"Bagaimana?" Tanya gadis itu kemudian.
"Tidak ada bagaimana, bagaimana, ini semua gara-gara kamu."
"Ayolah Kak, aku hanya mengetes dia saja. Lagian aku kan juga sudah membujuk Ayah, dan kakak bisa lihat hasilnya kan sekarang.
Ronald menghembuskan nafas, kemudian berjalan dan menarik gadis itu, membuka pintu dan menyuruhnya keluar.
"Aku bilang jangan ganggu, jangan ganggu, bisa tidak sih turuti saja, dan lagi, kamu bukan anak kecil, jadi bersikaplah lebih dewasa."
Gadis itu, mencebikkan bibirnya kesal, menghentak-hentakan kakinya dan segera pergi dari sana.
"Bisa-bisanya aku punya adik sepertinya" Ucap Ronald yang merebahkan diri di sofa dan menutupi mata dengan lengannya. Adiknya itu juga ditinggalkan ibunya, dan ibunya memilih hidup sendiri setelah keluarga suami barunya mengalami masalah. Ronald bertemu dengannya di sebuah hotel, tidak tahu apa yang gadis itu lakukan, begitu tahu Ronald langsung menyeret gadis itu pergi dari sana. Kenapa Ronald bisa tahu dia adiknya,walaupun mereka tidak pernah sekalipun bertemu? karena Ronald selama ini diam-diam menyelidiki ibunya. Ya ibunya pergi saat itu dan ternyata sedang mengandung. Walaupun mencoba tidak peduli, nyatanya pria itu khawatir, apalagi mendengar kabar keadaan ibunya yang tidak baik-baik saja. Dan semenjak Ronald mengabaikannya waktu itu, dia sama sekali tidak mendapatkan info apa-apa lagi tentang wanita itu.
Ronald memejamkan matanya, tapi pikirannya kembali tertuju pada Liora. Seorang gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya, membuat Ronald terkesan dan akhirnya ingin merubah hidupnya, dan Ronald berhasil meyakinkan ayahnya, kini Ronald juga harus bisa meyakinkan Liora. Ronald kemudian bangkit, mengambil kunci mobil dan dompet serta ponselnya lalu berlalu pergi, dia harus menemui Liora saat ini juga.
Begitu sampai di depan kediaman William, Ronald justru melihat Liora masuk ke dalam mobil dengan dua anak kecil, yang Ronald yakin kedua anak itu adalah anak dari kakak gadis yang dicintainya itu.
__ADS_1
Diam-diam, Ronald pun mengikuti kemana mobil itu pergi.