
Lily menyiapkan banyak makan siang hari ini, semuanya keluarganya berkumpul, ditambah dua orang, siapa lagi salah satunya, jika bukan Ian teman Cinta. Semenjak mendengar perkataan Ian waktu itu, Lily selalu meminta Ian untuk datang ke rumah dan bermain dengan Cinta. Dan anak laki-laki itu, kini sekarang sudah berada di rumah Lily semenjak satu jam yang lalu, tentunya bersama seorang pria yang bekerja sebagai sopir dan mengantar Ian kemana-mana. Lily tidak banyak bertanya tentang Ian, karena dirinya memang tidak berhak, tapi melihat Ian, Lily seperti melihat sosok suaminya di awal-awal mereka bertemu.
"Ian mau nambah tidak?" Tanya Lily saat melihat piring Ian sudah kosong.
"Boleh tante?"
Lily tersenyum, mengambil piring Ian dan memasukkan nasi dan lauknya.
"Boleh dong, justru tante senang, masakan tante habis."
"Terima kasih tante," ucap Ian menerima piring yang Lily berikan.
Kemudian mereka semua kembali makan, dengan sesekali berbincang hingga semua makanan habis tak tersisa. Setelah makan, mereka semua kini berkumpul di ruang keluarga, kecuali Jason, pria itu tadi mengatakan jika akan ke ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaannya, ya Jason sudah mulai aktif lagi bekerja tapi di rumahnya, Lily belum mengizinkan suaminya ke kantor, masih khawatir akan kesehatannya. Dan Stevano juga mengizinkan saja, sama sekali tidak keberatan, dia mengerti perasaan Lily.
Banyak yang mereka obrolkan dari kehamilan Lily, kegiatan Al dan juga Alan yang meminta Al untuk menjadi penggantinya. Tapi tentu saja hal itu langsung Al tolak, dia bilang dirinya belum pantas mendapatkan posisi itu.
"Sayang, kamu bujuk dong kakak kamu," ucap Alan menatap Lily yang duduk di atas menyerah karena Al terus menolaknya.
"Ayah please!" Ujar Al memelas.
"Baiklah, tapi cepat atau lambat kamu yang akan mengambil alih."
"Iya yah tenang saja, Al akan melakukan permintaan ayah itu, tapi tidak untuk dalam waktu dekat ini."
Alan pun hanya bisa pasrah karena ini bukan yang pertama Al mengatakan hal itu.
"Bagaimana kamu dengan Velove?" Tanya Alan mencoba mengalihkan pembicaraan.
Lily yang sedang bermain dengan anak-anaknya, diam-diam mendengarkan pembicaraan dua pria kesayangannya itu.
"Ya seperti itu."
Lily menatap Al, kecewa mendengar jawaban kakaknya itu, padahal Lily sendiri juga penasaran. Sedang Alan, pria itu menghela nafas panjang, berdiri kemudian berpamitan untuk ke kamarnya, tentunya sebelum pergi, dia mengajak sang istri agar ikut bersamanya.
Pandangan Lily yang tadinya menatap kepergian ayah dan ibunya kini kembali pada Al. Dan yang ditatap kini balas menatapnya.
"Kenapa kamu menatap kakak seperti itu?" Tanyanya.
__ADS_1
Lily mengedikan bahu, kemudian kembali sibuk bermain dengan Uli, karena Cinta justru asyik bermain dengan Ian.
"Kakak juga mau ke kamar," Lily mendongak saat merasakan sebuah tangan mengacak rambutnya lalu dia pun mengangguk.
Tak lama Jason datang dan ikut bergabung dengan anak-anak dan istrinya.
"Kak Cinta mau ikut ayah berlatih lagi tidak?" Tanya Jason sedikit berbisik, tak ingin sang istri mendengar.
"Berlatih apa om?" Bukan Cinta, tapi Ian yang ada di depan Cinta yang bertanya karena mendengar ucapan Jason pada gadis kecil yang belakangan dekat dengannya.
"Beladiri."
"Ian boleh ikut om?" Tanyanya berteriak semangat, dengan pandangan berbinar.
Jason segera saja menoleh ke arah istrinya yang memang agak jauh posisi dari tempatnya duduk.
"Ssst, jangan keras-keras ngomongnya, nanti ibunya Cinta dengar," ucap Jason sambil melirik Lily, yang diikuti oleh Ian.
"Tante tidak tahu?"
Melihat Ian mengangguk dan mengangguk jari kelingkingnya, dengan cepat Jason menautkan jarinya dengan anak itu.
"Ian janji om."
Jason tersenyum dan menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk huruf o.
"Kenapa?"
Jason langsung menoleh saat mendengar suara istrinya yang ternyata sudah berdiri di sampingnya.
"Kenapa apanya?"
Pura-pura Jason tidak mengerti apa yang istrinya tanyakan.
Lily menggeleng, kemudian menatap putrinya yang kembali menguap.
"Mau antar Uli tidur siang dulu. Kak Cinta nanti nyusul ya, Ian mau tidur dulu juga disini?"
__ADS_1
Ian kemudian berdiri dan langsung berpamitan, setelah janjian sama Jason terlebih dulu bahwa hari minggu nanti mereka akan bertemu lagi, Ian mau ikut dengan Jason.
"Jangan lupa izin sama mama sama papa dulu," ucap Jason mengingatkan saat pria itu mengantar Ian ke depan, meninggalkan Cinta yang sedang membereskan mainan bekas mereka tadi.
Ian mengangguk dan segera masuk ke mobil, saat sopir yang sedari tadi menunggunya di depan setelah makan siang, membukakan pintu untuknya.
Sopir mengangguk sopan, lalu segera berlari ke kursi kemudi dan segera melajukan kendaraannya perlahan, membiarkan putra majikannya membuka kaca jendela melambaikan tangan pada Jason, pria yang dia tahu sebagai orang kepercayaan anak pertama keluarga Anderson.
Setelah memastikan mobil telah hilang dari pandangan, Jason segera masuk, di ruang tengah, tampak sudah kembali rapi, Jason tersenyum, karena Cinta memang selalu bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, jika dia bermain dia pasti akan membereskannya.
Jason yang yakin jika putrinya pasti akan ke kamar, segera menaiki tangga dan menyusulnya, pintu kamar tampak tertutup, dan Jason dengan gerakan pelan membuka pintu itu.
Di tempat tidur, Uli terbaring sendirian, istri dan anak pertamanya tidak ada, buru-buru Jason masuk, dan dirinya berjalan ke arah kamar mandi saat terdengar gemiricik air dari dalam sana. Jason yang hendak mengetuk pintu, mengurungkannya, memilih berdiri sambil bersandar pada dinding dekat pintu. Dan beberapa menit kemudian terdengar pintu terbuka.
Ceklek
"Ya ampun ayah, mengagetkan saja." Lily bahkan memundurkan tubuhnya terkejut saat tiba-tiba suaminya ada di depan pintu.
"Ayah kira kemana," ucap Jason memegangi lengan Lily saat tadi wanita itu memundurkan langkahnya, takut terjadi apa-apa.
"Ayah mengejutkan ibu," sela Cinta mendongak menatap ayahnya.
"Ah itu, maaf sayang tadi aku mencari kamu."
Lily berjalan menggandeng Cinta agar segera bergabung dengan adiknya yang sudah nyenyak tidurnya.
Jason yang tak mendapatkan jawaban atas permintaan maafnya, hanya bisa mengekori Lily, kemanapun wanitanya itu pergi.
"Kamu ngapain berdiri disitu sayang?" Tanya Lily saat baru menyadari, bahwa ternyata sedari tadi, suaminya itu hanya berdiri dan memperhatikannya.
"Aku minta maaf tapi kamunya tidak menjawab, kamu marah?"
"Hah? Oh tidak, aku tidak marah kok."
Jason tersenyum lega, kemudian meminta istrinya maju mendekat ke arah Uli, karena Cinta pun sudah naik ke atas kasur di samping adiknya.
Lily mengelus sayang rambut kedua putrinya, dan dia langsung menoleh saat merasakan pergerakan pada kasurnya juga saat tiba-tiba dirinya merasa ada sepasang tangan memeluknya. Hingga tak terasa, keduanya kini sama-sama memejamkan mata menyusul kedua putri mereka yang sudah lebih dulu pergi ke alam mimpi.
__ADS_1