
"Ini tidak mungkin, Anda pasti sedang membohongiku," Vega bangun dari duduknya hendak meninggalkan Alan.
"Jika Anda tidak mengenali gadis kecil itu, Anda tentunya mengenali Ibunya."
Ucapan Alan yang baru saja terlontar, membuat Vega diam di tempatnya, tubuhnya bergetar, menandakan jika dia kini tengah menangis.
Vega terisak di tempatnya. Alan mendekat dan kini berdiri di hadapan Vega.
"Kejadian kemarin, saat Anda memaki putriku, saya harap Anda tidak akan melakukannya lagi, terima kasih karena sudah membesarkan putriku, hingga saya bisa berkumpul dengannya lagi, dan ini..Alan meraih tangan Vega dan memberikan selembar kertas pada Vega.
"Aku tidak tahu itu cukup atau tidak, jika memang tidak cukup, Anda bisa bilang padaku, aku akan menambahnya lagi, anggap saja itu untuk biaya yang Anda habiskan untuk merawat putriku," kata Alan kemudian meninggalkan Vega.
Melihat kertas yang kini ada dalam genggamannya, tubuh Vega meluruh dan terjatuh begitu saja di rerumputan yang sedikit basah. Tangis Vega kembali pecah, Vega mengedarkan pandangannya mencari sosok pria yang sudah membuatnya merasakan beberapa rasa sekaligus seperti ini, dan dapat Vega lihat Pria itu duduk di bangku lain taman itu yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya. Vega menghapus air matanya dan kemudian bangun untuk menghampirinya, tapi Vega teringat pada Lily.
"Lily pasti masih ada disini, aku ingin melihatnya, aku harus melihat putriku," Vega seperti orang linglung yang menengok ke kanan dan kiri.
Dengan langkah terburu-terburu, Vega kembali menyusuri lorong-lorong itu lagi, lorong yang tadi dia lalui bersama pria yang mengaku sebagai Ayah Putrinya.
Vega begitu putus asa, karena saat ini perjalanan menuju ke ruang rawat Dahlia terasa lama, bahkan lorong itu terasa sangat panjang dan tiada berakhir.
"Lily, tunggu Ibu sayang, jangan tinggalkan Ibu, Ibu ingin bertemu denganmu, setidaknya Ibu ingin melihatmu walau hanya sebentar," gumam Vega sepanjang jalan.
Kenapa Vega baru merasakan hal seperti itu sekarang disaat ada orang yang akan benar-benar mengambil Lily darinya? Orang yang tentu lebih berhak darinya? Kenapa tidak dari dulu saja? Bukankah jika itu terjadi sejak awal semuanya tidak harus merasakan hatinya terluka? Kenapa Vega tidak menyadari apapun? Kenapa Vega tidak mempercayai suaminya saat itu, dan meminta penjelasannya? Kenapa? Kenapa dan Kenapa? Kini hanyut dalam pikiran Vega, nyatanya semua penyesalan pasti akan datang di akhir bukan?
Dan disinilah sekarang, Vega sedang memeluk kedua putrinya, menumpahkan segala perasaannya yang sedang berkecamuk di dalam hatinya, nyatanya penyesalan Vega tidak terlambat, Vega masih diberi kesempatan untuk melihat putrinya, bahkan Vega juga bisa merasakan memeluknya, putrinya tidak pernah membencinya dan masih menyayanginya seperti dulu, sungguh dengan merasakan itu Vega merasa bahwa penyesalannya tidak terlambat.
Vega melepaskan pelukan, ditangkupnya wajah Lily dengan kedua telapak tangannya.
"Maafkan Ibu, selama ini kamu pasti banyak menyimpan luka karena sikap Ibu."
"Ibu," Lily kembali memeluk Vega, tapi kali ini Dahlia hanya memandang kedua orang yang sangat disayanginya itu.
Ponsel Lily berdering, nama Ayah tertera dalam layar ponselnya, Lily kemudian menatap Ibunya.
__ADS_1
Vega mengangguk mempersilahkan Lily untuk menjawab panggilan masuk dari Ayahnya.
"Halo Ayah," jawab Lily begitu panggilan sudah terhubung.
"Baiklah, sebentar lagi aku keluar," Lily memutus panggilan, Lily pandangi Kakak dan Ibunya bergantian.
"Ibu, Kak, aku harus pulang sekarang, Ayah sudah menungguku, dan juga sebentar lagi Suamiku akan pulang," pamit Lily pada Kakak dan Ibunya yang sebenarnya enggan.
Rasanya Lily tidak rela pergi secepat ini, setelah dirinya baru merasakan pelukan hangat seorang Ibu yang selama ini menjadi harapannya.
"Pulanglah Nak!" Kata Vega sambil mengelus rambut Lily dengan penuh kelembutan. Dan Lily menikmati sentuhan kasih sayang itu dari Ibunya.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu ya Bu, Kak, besok aku pasti akan kesini lagi," kata Lily kemudian mencium punggung tangan Ibunya.
"Kakak cepat sembuh," ucap Lily memeluk Kakaknya. "Nanti aku akan minta pujaan hati Kakak untuk kemari menemani Kakak lagi," bisik Lily kemudian.
Wajah Dahlia kini sudah merona, mendengar Lily mengatakan pujaan hati.
Setelah berpamitan pada keduanya Lily akhirnya benar-benar keluar dari ruang rawat Kakaknya menuju ke tempat Ayahnya yang sudah cukup lama menunggunya.
"Maafkan aku Ayah, sudah membuat Ayah menunggu lama," kata Lily yang langsung duduk di samping Alan yang ternyata masih duduk di bangku taman.
Alan memandang Putrinya dan tersenyum, "Tidak apa-apa sayang, Ayo kita pulang!" Alan berdiri dan mengulurkan tangannya pada sang putri.
Lily pun menyambut uluran tangan Ayahnya dengan senang hati.
"Hmm Yah!" Lily menoleh dan mendongak menatap Ayahnya dengan tangan kanannya ada di dalam tas.
"Kenapa?" Tanya Alan dengan kepala sedikit menunduk, agar bisa menatap wajah cantik putrinya.
"Hmm itu.." Lily tampak menimbang-nimbang sesuatu.
"Kenapa? Jika ada yang kamu inginkan katakan saja, Ayah pasti akan memberikannya untukmu," kata Alan cepat, mengira Lily menginginkan sesuatu, dan Alan akan mengabulkan apapun yang putrinya inginkan.
__ADS_1
"Hmmm tidak jadi," Lily pun tersenyum dan menarik lengan Alan setengah berlari.
"Katakan saja sayang! Ayah tidak akan keberatan."
"Tidak jadi Ayah," ucap Lily yang mengurungkan niatnya mengatakan perihal Vega pada Ayahnya.
"Kenapa tidak jadi, jika mengatakan sesuatu dilanjutkan, jangan berbicara sedikit kemudian memutuskan tidak jadi."
"Tidak penting Ayah, sudahlah Ayo kita cepat pulang!"
"Penting atau tidak cepat katakan pada Ayah!"
"Nanti saja, jika kita sudah berada di rumah," Lily mencoba mencari alasan.
"Janji ya, nanti pokoknya harus cerita sama Ayah," kata Alan yang ingin anaknya lebih terbuka padanya.
"Ya sudah deh iya janji, Ayahnya maksa," kata Lily dengan mengerucutkan bibirnya.
Alan terkekeh melihat Lily yang sedikit kesal karena Alan sedikit memaksanya.
Alan mengacak rambut Lily terutama poni putrinya, yang di balas dengusan oleh Lily, Lily paling kesal jika poninya yang sudah rapi menutupi keningnya diacak-acak.
"Ayah ih, kan jadi berantakan," kata Lily dengan wajah yang ditekuk.
"Haha sini! Sini! Ayah benerin lagi," Alan menyuruh Lily agar mendekat, dan Lily secepat kilat menutupi poninya.
"Tidak ada, yang ada nanti malah semakin tidak berbentuk!"
"Hahaha tau aja," Alan hanya tertawa melihat putrinya yang semakin kesal.
Alan bahagia, sangat bahagia, bisa melihat senyuman dari Putrinya yang selama ini tidak bersamanya, Alan sungguh tidak menyangka bahwa hari ini akan terjadi dalam hidupnya.
Tak terasa mereka kini telah sampai ke mobil Alan, dan Alan pun membuka pintu untuk putrinya. Setelah memastikan Lily sudah duduk dengan benar, Alan pun berlari kecil memutari mobil menuju kursi kemudi. Setelah masu dan memasang seatbeltnya, Alan segera melajukan mobilnya membelah jalanan Ibu kota yang cukup padat.
__ADS_1