Please Love Me

Please Love Me
Part 134


__ADS_3

"Sayang ini.." Lily menutup mulutnya tidak percaya pada apa yang ada di hadapannya dirinya benar-benar tidak menyangka, suaminya yang seorang pria dingin bisa menyiapkan sesuatu yang seperti ini. Suatu tempat yang sudah Jason sulap menjadi indah, yang dihias sebagaimana mestinya.


"Surprise!" Ucap Jason menatap istrinya dengan penuh cinta kemudian kembali mengulurkan tangannya pada sang istri menggandeng dan membawanya ke arah sebuah meja yang terletak agak jauh disana.


Lily begitu takjub melewati jalanan yang di kiri dan kanannya terdapat banyak kelopak bunga mawar dengan lilin diatasnya, sepanjang jalan Lily dimanjakan dengan hiasan itu. Bahkan saat di meja, terdapat juga kata i love you yang juga menggunakan kelopak mawar, ada juga buket bunga mawar yang super besar ada di tengahnya. Dan di sekitarnya banyak terdapat foto Lily dan Jason. 


Jason membawa Lily ke meja yang terdapat makanan yang Jason pesan khusus untuk istri tercinta, makanan kesukaan Lily.


Jason menarik kursi dan membantu istrinya duduk di sana. Kemudian dirinya ikut duduk di kursi yang ada di depannya.


Seorang pelayan datang menuangkan minuman untuk keduanya. Setelah itu, pelayan kembali mundur, tiba-tiba suara musik dari biola terdengar begitu merdu membuat suasana semakin romantis.


"Terima kasih, aku benar-benar sangat terkejut atas kejutan yang kamu berikan," kata Lily tersenyum tapi matanya berkaca-kaca. 


"Aku benar-benar tidak menyangka, aku..aku sangat suka," air mata Lily tiba-tiba jatuh begitu saja.


"Hei kenapa menangis?" Jason mengusap air mata istrinya.


Tapi rasanya percuma karena bukannya berhenti air mata Lily justru semakin deras menetes.


Lily mendongak, berharap air matanya tidak jatuh lagi.


"Aku tidak apa-apa, aku menangis karena aku begitu bahagia, sangat-sangat bahagia," ucap Lily menatap suaminya.


Jason bangun dan mendekat ke arah Lily dan menarik sang istri ke dalam pelukannya.


"Aku ingin kamu tersenyum, kenapa kamu malah menangis?"


"Sungguh aku menangis seperti ini karena terharu, aku juga sangat bahagia bisa mendapatkan kejutan seperti ini dari seorang pria kaku dan dingin sepertimu," kata Lily membalas pelukan suaminya erat.


"Dan sekarang aku bukan pria yang kaku dan dingin lagi kan?" Tanya Jason melepaskan pelukan dan sedikit membungkuk karena istrinya masih dalam posisi duduk, menghapus air mata Lily.

__ADS_1


"Hmmm masih, tapi aku suka, aku suka kamu yang seperti itu, aku tidak ingin kamu berubah," kata Lily serius sedikit mendongak menatap suaminya.


Jason tersenyum kemudian semakin menurunkan wajahnya hingga bibirnya menyatu dengan bibir Lily.


"Terima kasih," ucap Lily begitu ciuman itu terlepas.


"Tidak perlu berterima kasih sayang," Jason kemudian berdiri tegak sedikit membungkuk satu tangan ke belakang dan tangan kanannya terulur.


"Maukah kamu berdansa denganku?" Kata Jason, dan Lily pun mengangguk dengan antusias.


"Hmm tentu saja," ucap Lily yang menyambut uluran tangan suaminya.


Jason memeluk sang istri, Lily menempelkan wajahnya di d*d* bidang suaminya. Keduanya bergerak mengikuti alunan musik.


"I Love You Aleandra Licya Horison."


"I Love You Jason Louvis."


*


*


"Kenapa aku terus memikirkannya?" Al hanya menscrol-scrol ponselnya tidak jelas.


Awalnya untuk mengalihkan perasaan aneh yang hadir di hatinya, tapi tetap saja Al tidak fokus karena terus kepikiran Dahlia. Apalagi ketika mengingat seorang pria bertamu ke rumah gadis itu saat tidak ada orang lain di rumah.


"Apa yang mereka lakukan hanya berdua saja?" Tiba-tiba pikiran seperti itu terlintas di benaknya.


"Apa yang kau pikirkan sih Al," gumam Al mengacaknya rambutnya frustasi.


"Sudahlah, biarkan saja, mau melakukan apapun juga terserah mereka, mereka berdua sudah sama-sama dewasa, aku juga tidak berhak melarangnya, aku kan bukan siapa-siapanya," ucap Al pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Al kemudian melangkah ke tempat tidurnya, Al duduk di sisi ranjang. Dilepaskan jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sebelum menaruh, Al melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Al membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk mencoba memejamkan matanya. Sebenarnya Al tidak pernah tidur di jam 9 malam yang menurutnya terlalu awal untuk dirinya tidur. Tapi Al berusaha untuk tidur, berharap pikirannya terhadap Dahlia bisa terlupakan, nyatanya tidak semudah itu, Al justru kembali teringat pada pria itu.


"Si*al!" Umpat Al yang kemudian bangun dan turun dari atas tempat tidur mengambil ponsel, dompet serta kunci mobilnya, dan dengan segera Al keluar dari kamarnya menuruni anak tangga dengan cepat, dia ingin sekali ke suatu tempat saat ini juga.


Begitu sampai di anak tangga paling bawah, Al berhenti ketika mendengar suara ayahnya.


"Kau mau kemana?" Tanya Alan yang melihat putranya pergi terburu-buru.


"Ayah? hmm Ayah belum tidur katanya tadi mau istirahat," tanya Al yang melihat Ayahnya duduk di ruang keluarga.


"Kenapa Ayah belum tidur?" Al mengulangi pertanyaannya lagi setelah dirinya ikut duduk di sebelah Ayahnya.


"Ayah tidak bisa tidur, makanya Ayah mencoba menonton televisi dulu, barangkali nanti setelahnya jadi mengantuk," jawab Alan memandang wajah putranya kemudian kembali fokus pada televisi di depannya.


"Ada yang Ayah pikirkan saat ini?" 


Pertanyaan Al yang baru saja Al lontarkan langsung mengena, karena apa yang putranya katakan memang benar, saat ini dirinya sedang memikirkan sesuatu yang terus saja mengganggunya, hingga dirinya tidak bisa tidur, dan menonton televisi hanya alasan alasannya saja, selain itu televisi hanya bentuk pengalihannya saja, karena saat ini dirinya tidak benar-benar fokus pada televisi di depannya, melainkan pikirannya sedang melayang entah kemana.


"Ayah," Al memegang lengan Alan, membuat Alan terkejut.


"Ayah melamun, apa yang mengganggu pikiran Ayah, Ayah bisa ceritakan pada Al, Al memang tidak bisa membantu, tetapi dengan bercerita itu bisa sedikit membantu beban yang Ayah rasakan bisa berkurang," Al menggenggam tangan pria yang sudah membesarkannya seorang diri, di tengah kesibukannya menyelamatkan nyawa orang lain.


"Hmm tidak ada yang penting, hanya masalah pekerjaan saja," jawab Alan tersenyum agar putranya yakin bahwa dirinya memang baik-baik saja.


Al tampak tidak puas dengan jawaban ayahnya, Al yakin jika saat ini ada sesuatu yang ayahnya sembunyikan tapi entah apa Al tidak tahu, yang jelas Al tahu jika saat ini ada yang mengganggu pikiran ayahnya.


"Oh ya tadi Ayah lihat sepertinya kamu akan buru-buru pergi, mau kemana?" Tanya Alan yang baru mengingat bahwa putranya tadi terlihat buru-buru.


"Oh tadi hanya ingin membeli sesuatu saja, tapi tidak jadi, mungkin besok pagi saja sekalian berangkat ke kampus," ujar Al yang sedikit berbohong.


"Al ambil camilan dulu, setelah ini kita menonton bersama," pamit Al yang kemudian berjalan menuju dapur untuk mengambil apa yang dikatakannya tadi.

__ADS_1


Tak lama Al datang membawa makanan dan keduanya akhirnya memutuskan untuk menonton televisi bersama, untuk mengalihkan pikiran yang mereka masing-masing rasakan.


__ADS_2