Please Love Me

Please Love Me
Part 138


__ADS_3

"Bagaimana senang jalan-jalannya?" Tanya Alan pada putrinya.


Waktu sudah hampir menjelang malam dan mereka sekarang sudah dalam perjalanan pulang, setelah seharian mereka berkeliling ke beberapa tempat.


"Senang sekali Ayah, lain kali kita harus mengatur waktu dan pergi sama-sama lagi, dan kita ajak Kak Al dan suami Ale bagaimana?" Tanya Lily menoleh ke samping, menatap sang ayah meminta pendapatnya.


"Hmm boleh juga, kalau perlu kita pergi berlibur beberapa hari," Alan terus saja tersenyum, karena akhirnya dia bisa menghabiskan waktu dengan putrinya.


"Ide bagus," keduanya kemudian tertawa bersama.


Drt


Drt


Ponsel Lily bergetar, Lily mengambil ponsel dan melihat siapa yang mengirim pesan kepadanya.


"Siapa? Kenapa wajahnya ditekuk seperti itu?" Tanya Alan yang melihat putrinya tiba-tiba cemberut setelah mendapatkan pesan dari seseorang entah dari siapa.


"Jason, dia bilang akan lembur dan mungkin pulang larut," kata Lily masih terlihat memberengut.


"Kamu maklumi dia ya, kemarin dia kan sudah mengambil izin buat bisa menghabiskan waktu sama kamu, pasti pekerjaan yang seharusnya dikerjakan kemari jadi menumpuk dan harus dikerjakan hari ini, apalagi dia baru saja memecat sekretarisnya dan sedang mencari yang baru. Pasti pekerjaannya jadi lebih banyak karena suami kamu itu menghandle semua pekerjaan itu, dan lagi Stevano juga belum kembali kan?" Alan menatap putrinya mencoba memberi pengertian kepada Lily agar mengerti bagaimana kesibukan Jason. Alan tidak mau, putrinya sampai merasa tidak diperhatikan lagi, setidaknya Jason memberikan kabar kepada Lily, tidak seperti Alan dulu yang tidak memberitahu apapun kepada Felicya ketika dirinya ada operasi mendadak hingga membuatnya pulang larut malam.


"Iya Ayah memang benar, tapi Jason selalu lupa pada kesehatannya sendiri jika sudah sibuk bekerja, dia menunda-nunda waktu makan dan terus berkutat dengan pekerjaannya, jangankan makan orang yang ada disampingnya juga kadang dilupakan," Lily menceritakan kepada Ayahnya kebiasaan Jason saat bekerja yang bisa saja melupakan segala di sekitarnya.


"Itu tugas kamu dong sayang sebagai seorang istri, yaitu mengingatkannya, jika Suamimu sedang sibuk kamu bisa mengantarkan makanan, dan memastikan dia makan dulu, kalau dia tetap sibuk, kamu suapin saja dia, biar dia makan sambil melakukan pekerjaannya," kata Alan menasehati putrinya.

__ADS_1


Lily tampak manggut-manggut mengerti dengan apa yang ayahnya katakan.


"Bagaimana paham apa yang Ayah maksud?"


"Iya Ayah, Ale paham, makasih ya Ayah, kalau Ayah melihat Ale salah dalam sikap Ale ke suami Ale, Ayah jangan sungkan ya buat ingetin Ale juga, kadang Ale tidak berpikir kesana-sana, apa karena Ale masih muda ya," kata Lily sambil memikirkan kata-katanya sendiri.


"Iya sayang, Ayah sebagai orang tua akan ingetin jika anak-anaknya salah, tapi hanya sebatas itu  selebihnya Ayah tidak mau ikut campur urusan keluarga kalian, jika suatu saat ada masalah yang menimpa keluarga kalian, bicarakan baik-baik dan coba selesaikan masalah kalian sendiri. Intinya komunikasi itu penting, jangan sampai menyembunyikan sesuatu dari pasangan ya," tidak bosan Alan memberikan nasihat putrinya.


"Ayah, apa kita sebagai seorang istri yang harus selalu mengerti kesibukan suami, apa kita harus terus maklum jika suami sibuk dan mengabaikan kita para istri?" 


Alan menghentikan mobilnya bertepatan dengan dirinya sudah sampai dan sekarang berada di halaman rumahnya.


Alan menoleh ke arah sang putri dan menatapnya. Alan tersenyum, "Tidak hanya seorang istri, suami juga harus mengerti, intinya sepasang suami istri harus saling mengerti dan juga memberi pengertian. Suami sibuk kan juga untuk istri, mencari nafkah untuk mencukupi segala kebutuhannya, dan semua tergantung kita bagaimana kita meluangkan waktu untuk keluarga kita, jangan di saat suami sibuk kita kesal dan marah, itu tidak boleh, kita justru harus memberinya semangat, Ale mengerti kan maksud Ayah?"


Lily mengangguk mantap, "Iya, Ayah Ale mengerti terima kasih atas nasihatnya," kata Lily kemudian mencium pipi Alan dan segera turun dari mobil.


Saat akan masuk, Lily berpapasan dengan Kakaknya yang hendak pergi, tapi tatapan Al terlihat tidak bersahabat membuat Lily bergidik ngeri.


Al menarik tangan Lily menjauh dari ayahnya yang kini mendekat.


"Al kau mau membawa adikmu kemana?" Tanya Alan yang khawatir karena Al menarik tangan Lily.


"Al hanya mau bicara sama Ale sebentar Yah," jawab Al yang terus saja berjalan, tidak menoleh kepada Ayahnya yang mengajaknya bicara.


"Tapi kau tidak perlu menarik tangan adikmu Al," protes Alan yang kasihan melihat putrinya.

__ADS_1


Al kemudian memandang tangannya yang memegang pergelangan tangan Lily, melihat pergelangan tangan Lily memerah, Al melepaskannya dengan rasa bersalah, "Maafkan Kakak, apa sakit?" Tanya Al mengangkat tangan Lily di depan wajahnya dan mengamati tangan Lily, rupanya karena kekesalannya membuat Al tidak sadar jika dia terlalu erat memegang tangan Lily.


Lily menggeleng, Lily seperti mengerti jika saat ini suasana hati kakaknya sedang tidak baik.


"Ayah masuk dulu saja!" Pinta Lily yang melihat Alan sedang memandangi dirinya dan juga Al.


"Baiklah, jika ada masalah kalian bicarakan baik-baik, jangan seperti itu lagi," Alan memperingati putra dan putrinya sebelum meninggalkan mereka berdua.


"Kenapa?" Tanya Lily menatap kakaknya.


"Kenapa kamu berbohong?" Tanya Al tanpa basa-basi lagi begitu ayah mereka sudah masuk ke dalam.


"Berbohong?" Lily mengernyitkan dahi bingung.


"Apa maksud Kakak? Berbohong apa?"


"Sudahlah Ale tidak perlu berpura-pura lagi," Al meremas rambutnya kasar.


"Kak, apa yang Kakak maksud? Aku benar-benar tidak mengerti?" Tanya Lily yang memang tidak tahu apapun maksud ucapan Al.


"Kamu bohong Ale, kamu bilang Dahlia pergi ke kampusnya, tapi kenyataannya, dia tidak datang, dan kau sudah membohongi Kakak," teriak Al tanpa sadar.


"Kak, aku tidak mengerti apa yang kakak katakan, iya aku akui aku berbohong pada ayah tentang itu, aku tidak ingin membuat ayah kecewa, hingga aku bilang Kak Lia ke kampus hari ini, tapi tadi apa yang Kakak katakan? Aku berbohong pada Kakak? Kapan aku berbohong?" Lily ikut berteriak, dirinya begitu kesal Al tiba-tiba mengatakannya berbohong, suasana hati Al yang buruk seakan menular ke Lily karena ucapan tiba-tiba Al.


"Kenapa? Oh apa jangan-jangan Kakak buru-buru pergi begitu mendengar kebohongan yang aku ucapkan pada Ayah? Kenapa Kakak diam? Baiklah diamnya Kakak aku anggap jika tebakanku benar. Sekarang aku tanya, kenapa Kakak tidak menanyakan langsung saja, dan justru menyalahkanku karena kesalahan Kakak sendiri? Bahkan bilang aku telah membohongi Kakak?"

__ADS_1


"Intinya kamu berbohong Ale, bukan salah kamu berbohong sama siapa, yang jelas kamu sudah bikin Kakak seperti orang yang kesetanan," bentak Al, apalagi saat mendengar adiknya berteriak padanya.


"Cukup! Apa yang kau lakukan?" Ucap seseorang yang baru datang, begitu melihat dan mendengar bentakan Al pada Lily.


__ADS_2