Please Love Me

Please Love Me
Bab 288


__ADS_3

Ronald duduk bersebelahan dengan Liora yang kini menyandarkan kepala di bahunya. Gadis itu memejamkan mata, merasakan hembusan angin malam yang kini menyapa tubuhnya.


"Bagaimana kalau kita pulang?" Tanya Ronald menunduk menatap suaminya.


"Ya sudah ayo!"


Liora bangun, kembali mengulurkan tangan pada suaminya, mereka kembali berjalan dengan bergandengan tangan.


"Hmm aku ingin selalu seperti ini, di tengah kesibukan kita masing-masing, aku ingin kita menyempatkan waktu untuk melakukan hal sederhana ini, hal sederhana tapi bisa membuat hubungan kita semakin harmonis," Liora tersenyum menatap ke depan.


Ronald ikut tersenyum, "Baiklah kita akan melakukannya."


"Kamu setuju?"


"Tentu saja, apa yang tidak buat kamu baby," Ronald menahan tangan Liora menghentikan langkahnya.


Begitu mereka berhadapan, Ronald meraih tangan Liora satunya dan menggenggam keduanya.


"Aku selama ini berjuang untuk mendapatkan kamu, dan perjuanganku tidaklah mudah, tentunya aku tidak akan menyia-nyiakan kamu yang sudah aku dapatkan dengan susah payah, aku akan berusaha membahagiakanmu walau dengan kekurangan yang aku miliki."


"Aku sudah bahagia, bersamamu saja sudah membuatku sangat bahagia, jadi, aku hanya perlu kamu yang ada di sisiku, karena itu sudah lebih dari cukup." Jawab Liora.


Ronald tersenyum dan mengecup kedua tangan Liora.


"Ya sudah, ayo pulang!"


"Ayo!" Mereka tidak bergandengan tangan lagi, tapi Liora kini bergelayut manja di lengan suaminya. 


Cukup lama mereka berjalan, hingga akhirnya kini mereka telah sampai di kediaman, Ronald dan Liora pun segera masuk ke dalam.


"Baby apa kamu sudah selesai?"


"Selesai? Apanya?


"Hmm...itu," Ronald menggantung ucapannya, menatap Liora.


Liora mencoba memahami apa yang suaminya katakan, spontan dia menunduk dengan wajah yang memerah setelah mulai paham pada apa maksud yang suaminya katakan tadi.


"Baby!''


Ronald ikut menunduk agar bisa melihat wajah istrinya. 


"Sudah," jawab Liora pelan.


"Yess akhirnya!" Ucap Ronald senang.


Ronald langsung saja mengangkat tubuh Liora ala bridal menuju kamar mereka. Liora sampai terpekik kaget dengan aksi tiba-tiba suaminya.

__ADS_1


"Ronald aku malu, Bibi melihat kita," cicitnya.


"Biarkan saja," jawab Ronald cuek.


Liora yang malu memilih menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan melingkar erat di leher Ronald.


Ronald menendang pelan pintu untuk membukanya. Berjalan menuju ranjang dan menurunkan dengan perlahan Liora di atasnya. Ronald melepas kaos yang dipakainya dan melemparnya asal. Perlahan pria itu ikut naik ke atas ranjang, menindih tubuh sang istri. Ronald mendekatkan wajahnya di wajah Liora, kecupan di kening dapat Liora rasakan, perlahan ciuman itu turun tepat di bibir Liora. Liora mengalungkan kedua tangan di leher Ronald, sementara itu tangan Ronald tak tinggal diam, melepas kancing baju tidur Liora. 


Pagutan bibir mereka terlepas saat keduanya merasa hampir saja kehabisan nafas. Liora meraup oksigen sebanyak-banyaknya, sebelum bibir Ronald kembali mendarat di bibirnya. Tangan Ronald mencoba menggapai lampu dan mematikannya. Melanjutkan malam yang sebelumnya sempat tertunda.


*


*


"Kenapa diam saja?" Jason menoleh ke arah samping, melihat istrinya yang hanya diam begitu mereka sudah masuk ke dalam mobil.


"Tidak apa-apa, hanya saja kenapa rasanya cepat sekali, padahal aku masih sangat merindukan Kak Lia," jawab Lily pelan.


"Kita bisa kesana lagi nanti, tentunya harus konsultasi dulu sama dokter. Kamu tidak dengar, liburan nanti kakakmu juga akan pulang."


Lily yang sedari tadi menatap keluar jendela kini menatap suaminya.


"Tapi itu masih lama."


"Jangan diharapkan, nanti rasanya lama, biar mengalir saja, nanti juga saat itu akhirnya datang juga, sudah jangan sedih lagi, kamu mau anak kita juga ikut sedih?"


"Sayang!"


"Hmmm."


"Aku tidak setuju Kak Lia berpacaran dengannya," ucap Lily tiba-tiba.


"Kenapa?" 


"Entahlah, aku tidak suka saja."


"Apa kamu masih berharap Dahlia bisa sama Al?" Jason menunduk menatap istrinya.


"Itu memang baik, sebenarnya aku juga setuju, tapi sayang, kita tidak boleh terlalu memaksa, takutnya hal itu justru akan menyakitkan, entah itu untuk Dahlia atau untuk Al sendiri, kita berdoa saja yang terbaik untuk mereka."


"Aku hanya merasa jika pria itu bukan yang terbaik untuk Kak Lia, ya walaupun tidak bisa aku pungkiri saat melihat bagaimana sikapnya dia terhadap Kak Lia tadi, dia memang terlihat baik, perhatian dan sayang sama Kak Lia, tapi entahlah aku merasa tidak suka saja."


"Sudahlah, jangan bahas masalah itu lagi, kakakmu sudah dewasa, biarkan dia menentukan pilihannya sendiri, jika pria itu baik seperti yang kamu lihat tadi, kita hanya perlu mendukungnya."


"Hmm baiklah," jawab Lily yang kemudian memilih untuk memejamkan matanya, apalagi saat tiba-tiba rasa kantuk datang melanda.


Jason mengelus lembut rambut sang istri dengan tangan kanan yang sibuk mengecek ponsel, membiarkan istrinya tidur.

__ADS_1


Tak lama mobil yang membawa Lily dan Jason, akhirnya sampai di depan kediaman. 


"Sudah sampai Tuan," ucap sopir yang kini turun dari mobil dan berlari ke belakang membuka bagasi.


Jason perlahan menarik tangannya, menyandarkan tubuh Liora ke sandaran kursi, lalu setelah itu, dia yang hendak turun dari mobil, tidak jadi membuka pintu saat mendengar suara Lily yang ternyata sudah bangun.


"Sudah sampai?" Ucapnya sambil mengerjapkan mata.


"Hmm iya, maaf aku membangunkanmu," ucap Jason yang kini berbalik duduk menghadap istrinya.


Lily menggeleng, "Tidak apa-apa, aku yang memang sudah ingin bangun."


"Kamu tunggu disini!" Jason kemudian membuka pintu mobil dan turun, berlari kecil memutari mobil dan membuka pintu di samping tempat duduk Lily.


Jason hendak mengangkat Lily, dan dengan cepat Lily menolaknya.


"Aku bisa sendiri," ucapnya yakin.


"Baiklah," kata Jason yang kini meletakkan tangannya di atas kepala Lily agar istrinya tidak sampai terbentur saat turun.


Mereka menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka.


"Ibu...ayah!" Teriak Cinta yang berjalan cepat menyambut kedatangan ibu dan ayahnya.


Jason tersenyum lebar, dirinya berjalan cepat menghampiri putri kecilnya yang begitu sangat dia rindukan karena beberapa hari ini tidak bertemu.


"Hmm cantiknya putri ayah," Jason langsung menggendong putrinya yang tersenyum senang sambil menunjuk-nunjuk ke arah ibunya yang kini berjalan ke arah mereka.


"Putri Ibu, ibu sangat merindukanmu sayang," ucap Lily mengecupi seluruh wajah Cinta.


"Nta uga lindu ibu."


"Benarkah?"


"Hmm," jawabnya mengangguk antusias.


"Cinta tidak rindu sama ayah?" Wajah Jason dibuat seolah pria itu kini tengah merajuk karena putrinya hanya mengatakan rindu sang ibu.


"Nta lindu ayah uga," jawab Cinta mendongak menatap Jason.


"Ayah juga sangat-sangat merindukan Cinta," ujar Jason tak mau kalah.


"Cinta tidak nakal kan selama ibu dan ayah tinggal?" Tanya Lily pada putrinya yang kembali menatapnya.


Cinta hanya menjawab dengan gelengan pelan.


"Pintar sekali sih Kak Cinta," Lily mencubit kedua pipi Cinta gemas.

__ADS_1


"Kak Nta?" Anak kecil itu mengerjapkan mata polos mengulang kata yang ibunya ucapkan tadi.


__ADS_2