
Semua mata kini tertuju pada pasangan pengantin baru yang baru saja turun dari tangga. Jasmine bahkan berusaha untuk tidak tertawa melihat Ronald yang terus memegang pinggangnya.
"Kenapa?" Tanya Liora heran, tapi gadis itu sepertinya tidak peka sama sekali.
"Berapa lama kalian sampai Ronald sakit pinggang seperti itu?" Tanya Jasmine tidak tahan.
"Hah?" Liora justru melongo mendengar pertanyaan Jasmine.
"Tidak apa, lebih baik kalian makan saja, ini sudah jam 11 loh," kata Jasmine yang kembali menyandarkan kepalanya di bahu Stevano.
Liora menatap Ronald, berharap Ronald menjelaskan apa yang kakak iparnya katakan, karena sejujurnya dia masih bingung.
Tapi bukannya menjawab Ronald justru merangkul pinggang Liora menuju ruang makan setelah berpamitan dengan keluarga istrinya.
"Kamu tahu maksud Kak Olive apa? Berapa lama? Maksudnya apa?" Liora mendongak menatap Ronald.
Ronald hanya mengedikan bahu dan tetap melangkah menuju ruang makan, mengabaikan pertanyaan dari sang istri.
"Ronald!"
Ronald berhenti dan menatap Liora, "Kamu tidak lapar? Lebih baik kita makan dulu, aku sudah sangat lapar" ucapnya lalu kembali mengajak Liora ke ruang makan.
"Hmm iya sih aku sudah sangat lapar, apalagi semalam aku hanya makan sedikit."
"Ya sudah jadi lebih baik kita makan saja," ucap Ronald menarik kursi untuk istrinya duduk begitu mereka kini sampai di ruang makan.
Liora mengangguk kemudian mengambilkan makanan untuk suaminya lalu untuk dirinya sendiri. Kemudian pun melahap makanan mereka sambil sesekali mengobrol.
*
*
"Mau kemana lagi?" Tanya Al pada adiknya saat mereka kini sedang makan siang di sebuah restoran.
"Sebenarnya ingin beli perlengkapan untuk Cinta, tapi Kak Al lihat sendiri, Cinta sudah tidur," Lily menunjuk putrinya yang ada di pangkuan Al.
Jalan-jalan yang awalnya akan mereka lakukan berdua tidak jadi karena Cinta menangis dan ingin ikut, hingga akhirnya Lily yang tidak tega meninggalkan putrinya mengajak Cinta pergi bersama mereka. Tadinya Lily tidak mengajak Cinta karena takut putrinya itu rewel karena kemungkinan mereka akan lama. Tapi putrinya tampak antusias apalagi pergi bersama dengan pamannya.
"Terus bagaimana? Mau pulang?"
"Hmm aku ingin ke kantor menemui Jason. Rasanya aku sudah merindukannya."
Al kemudian menatap Cinta yang tampak lelap, kemudian mengangkat wajah menatap Lily.
"Baiklah nanti kakak antar, tapi kita pulang dulu, kasihan Cinta."
"Oke, makasih Kak." Jawab Lily segera menghabiskan makanannya, dirinya rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu suaminya.
__ADS_1
Selesai mereka makan, Al dan Lily pun bangun dan segera berjalan menuju ke mobilnya.
Lily masuk terlebih dahulu, dan setelahnya Al membawa masuk Cinta dan membiarkan berpindah posisi duduk di pangkuan Lily. Al berlari kecil dan masuk ke kursi kemudian segera melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah.
"Kakak tidak menemui Jasmine? Dia menanyakan Kak Al terus loh," beritahu Lily.
"Benarkah? Hmm kakak sebenarnya juga kangen dan ingin bertemu Jasmine, tapi kakak takut sama suaminya."
"Hahaha, Kak Al takut sama Tuan Stevano? Dia baik kok sebenarnya orangnya ya walaupun kalau bicara terdengar begitu dingin."
"Hmm bukan itu yang kakak takutkan, kakak hanya takut dia salah paham karena cemburu buta. Kau tahu suami Jasmine selalu menunjukkan wajah tidak suka nya padaku, terutama jika aku dekat sama Jasmine."
Lily tertawa mendengar penuturan kakaknya.
"Kenapa kamu malah tertawa?"
"Itu tandanya Tuan Stevano sangat mencintai Jasmine, lagian yang terpenting jika kakak mau menemui Jasmine ya di depan suaminya, jangan diam-diam, temui gih sana, Jasmine juga sedang hamil lagi loh!"
"Benarkah?"
"Hmm, anak ketiganya."
"Hmm nanti aja deh kapan-kapan."
Perjalanan yang diiringi obrolan itu, membuat tak terasa akhirnya mereka kini sampai di pelataran rumah.
"Kamu tunggu disini, kakak bawa Cinta dulu."
"Hmm," jawab Lily membiarkan kakaknya menidurkan Cinta di kamarnya.
Al kemudian masuk ke rumah dan kebetulan bertemu dengan ibunya yang juga baru saja masuk sehabis dari taman.
"Tidur?" Tanya Dea tanpa suara.
Al mengangguk, kemudian meneruskan langkahnya ke kamar Cinta. Dea mengikuti Al dari belakang, membantu membukakan pintu untuk putranya.
"Ale mana?" Tanya Dea saat tidak melihat putrinya.
"Di mobil."
"Kalian mau pergi lagi?"
"Ale yang mau pergi, Al hanya mau mengantarkannya. Oh ya Bu, Al titip Cinta dulu ya."
Dea mengangguk, tidak bertanya lebih lanjut kemana mereka akan pergi lagi. Walaupun sudah menjadi ibu mereka, tapi Dea masih saja merasa canggung pada Al, mungkin karena Al yang tidak tinggal dengannya.
"Ya sudah Bu, Al pergi dulu hanya sebentar mengantar Ale ke kantor Jason," pamit Al lalu mencium punggung tangan wanita itu.
__ADS_1
"Ya, berhati-hatilah," jawab Dea yang hanya diangguki oleh Al.
Al bergegas keluar kemudian langsung masuk ke dalam mobilnya, tampak disana Lily sedang sibuk dengan ponselnya.
"Maaf lama."
"Tidak apa-apa, Cinta tidak bangun kan Kak?" Tanya Lily takut putrinya terbangun.
"Tidak, kita berangkat sekarang!" Ucap Al.
"Kak tunggu, sebaiknya tidak jadi saja deh, takut nanti Cinta bangun lalu nyariin," kata Lily berubah pikiran.
"Beneran?"
"Iya," Lily kemudian turun dan segera masuk ke dalam lalu langsung menuju kamar putrinya, mengejutkan Dea yang saat ini sedang berbaring menemani Cinta.
"Ibu."
"Ale!"
Ucap Dea dan Lily bersamaan.
Lily berjalan masuk dan duduk di hadapan Dea yang segera bangun dan duduk bersandar pada headboard.
"Katanya mau pergi?" Tanya Dea bingung, apalagi mendengar dari Al Lily akan pergi ke kantor suaminya.
"Tidak jadi, takutnya nanti Cinta bangun dan nyariin," jawab Lily sambil mengelus lembut pipi putrinya.
"Tidak apa-apa, biar Cinta sama Ibu, kamu kalau mau nemuin suami kamu temui saja."
Lily menatap Dea lalu menatap putrinya. Dea mengangguk seolah tahu apa yang Lily pikirkan saat ini.
"Ya sudah Bu, Ale titip Cinta ya, kalau nanti Cinta bangun dan nyariin Ale, Ibu langsung hubungi Ale saja," ucap Lily akhirnya.
"Iya, kamu tenang saja."
Setelah mendengar jawaban dari ibunya, Lily pun berlalu keluar dan berpapasan dengan Al yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Kamu mau kemana?" Tanya Al pada adiknya.
"Kakak sibuk tidak? Hmm maksudnya apa kakak ada yang ingin dilakukan setelah tadi Ale bilang tidak jadi pergi?"
"Tidak, memangnya kenapa? Kamu jadi mau keluar?"
"Iya," cicit Lily pelan, dia tidak enak padahal tadi dia sendiri yang membatalkan niatnya tapi kini dia juga yang mengatakan jadi pergi.
"Ya sudah ayo kakak antar."
__ADS_1
Lily tersenyum senang, dia menghampiri dan merangkul lengan kakaknya manja. Al mengacak rambut Lily membuat bibir Lily mengerucut, lalu keduanya tertawa dan bersama berjalan keluar menuju mobil Al.