Please Love Me

Please Love Me
Bab 216


__ADS_3

Seorang pria membuka kacamata hitamnya dan segera masuk ke dalam mobil setelah berpamitan pada paman dan bibinya. Buru-buru pria itu mengendarai mobilnya ke kantor kliennya, rasanya sudah tidak sabar ingin cepat-cepat sampai dan melihat gadis yang belakangan ini selalu muncul dalam pikirannya.


Sudah seminggu ini, pria itu sibuk dengan pekerjaannya, ingin cepat-cepat menyelesaikannya dan segera kembali ke tempat dimana dia bisa menemui pujaan hatinya. Tak lama mobil yang dikendarainya pun sudah sampai di depan sebuah gedung yang begitu tinggi.


Pria itu pun turun dan menemui bagian receptionist. 


"Ada yang bisa saya bantu Tuan," ucap seorang wanita yang berada disana.


"Saya mau bertemu dengan El, apa dia ada?"


"Nona Eliora?"


Pria itu mengangguk.


"Nona Eliora sedang keluar untuk makan siang Tuan, Anda bisa menghubungi lewat ponsel," ucap wanita itu.


Pria itu pun dengan segera mengambil ponselnya, kemudian memasukkannya kembali. Pria itu baru teringat jika dia sudah tidak memiliki nomor Liora lagi. Ponselnya hilang hingga akhirnya dia juga harus kehilangan nomor Liora. Makanya Ronald segera mengurus pekerjaannya agar bisa segera kembali menemui Liora. Ya pria tadi adalah Ronald Alvian Orlando.


"Saya akan menunggunya disini," ucap Ronald kemudian.


"Baiklah, Anda bisa menunggu disana," ucap wanita itu ramah menunjuk sebuah kursi yang berada tidak jauh dari sana.


Ronald mengangguk, "Terima kasih."


Ronald pun berjalan ke arah kursi yang ditunjuk tadi dan duduk di sana. Ronald mengambil ponsel untuk mengusir rasa bosannya hingga lima belas menit kemudian tangannya mengepal ketika melihat Liora masuk bersama seorang pria dan keduanya saling bercanda bahkan tertawa.


Ronald bangun bertepatan dengan Liora yang berhenti melangkah dan menatapnya. Kaki Liora terasa kaku, lidahnya juga seakan keluh, seminggu Ronald menghilang tanpa kabar membuatnya ragu atas pemikirannya, dan bahkan Liora sempat berpikir jika mungkin saja apa yang kakaknya katakan adalah benar. Hingga Liora mencoba melupakannya, Liora berusaha keras untuk tidak memikirkan pria itu, ya tanpa sadar, Ronald sudah berhasil masuk dalam pikiran dan hatinya entah sejak kapan. Dan waktu itu apa yang Liora katakan pada Max, karena dia memang sudah merasa perasaannya berbeda terhadap Ronald. Dan benar saja, saat pria itu tidak menghubunginya sama sekali membuat hati dan pikiran Liora gelisah, Liora ingin menghubunginya tapi dia mengurungkannya, dia tidak mau terlalu berinisiatif terlebih dulu, takut dia akan kembali kecewa, dia mencoba menunggu Ronald menghubunginya, tapi pria itu sama sekali tidak memberikan kabar apapun dan membuatnya memberanikan untuk menghubunginya dulu, tapi dia harus kecewa karena nomor ponsel Ronald tidak aktif, hingga Max meminta Liora untuk melupakan Ronald dan Liora pun memutuskan untuk menuruti kakaknya, dia juga tidak mau terjebak lebih dalam pada cinta sepihak yang kembali dirasakannya. Dia sudah terlalu terluka karena cintanya dulu, dan kali ini Liora tidak ingin kembali merasakan perasaan semacam itu.


Liora kemudian berpamitan pada rekan kerjanya untuk kembali ke ruangannya dan ketika Liora akan kembali melangkah, dirinya tersentak ketika tiba-tiba ada sebuah tangan yang menahan pergelangan tangannya.


"El!"


"Anda siapa?" Tanya Liora berpura-pura tidak mengenal Ronald berharap perasaannya yang tiba-tiba bergejolak membaik.

__ADS_1


Karena begitulah terkadang seseorang berpura-pura lupa berharap semuanya baik-baik saja, walaupun kenyataannya saat di belakang justru mengenang kembali semuanya, dan disaat itulah dirinya tahu bahwa sebenarnya dengan berpura-pura lupa tidak akan mengubahnya menjadi baik-baik saja, justru semakin menambah sakit hatinya karena harus memendam rasa yang seharusnya diungkapkan.


"El bisa kita bicara sebentar, aku tahu aku salah, maaf ka…"


"Maaf Tuan ini sudah waktunya saya untuk bekerja kembali," potong Liora cepat melepaskan tangan Ronald dari pergelangan tangannya dan kembali melangkah menuju ruangannya.


"Baiklah, aku akan menunggumu El!" Teriak Ronald dan Liora berusaha untuk tidak menoleh takut jika nanti akhirnya dia kembali luluh.


Liora berjalan cepat agar segera sampai ke ruangannya, buru-buru Liora duduk ketika telah tiba, dirinya menarik nafas lega, karena kali ini, akhirnya dia bisa menghindar dari Ronald, tidak tahu jika Ronald tetep kekeh ingin bertemu dengannya.


"Kamu jangan terlalu percaya diri Liora, bagaimana jika Ronald langsung pergi dan menyerah ketika kamu sudah menolaknya?" Gumam Liora dalam hati.


"Liora ke ruanganku!"


Tiba-tiba suara telepon dari Jason membuyarkan lamunannya, menyuruhnya untuk ke ruangannya, fokus ke pekerjaan kembali membuat Liora melupakan sejenak tentang Ronald.


Sementara itu di tempat lain, Ronald masih betah menunggu Liora, bahkan Ronald sampai harus mengecek email pekerjaan sembari menunggu Liora. 


"Tuan Ronald?" Tanya seseorang.


"Ini Tuan makanan pesanan Anda," ucap orang itu.


Ronald menerimanya dan berterima kasih kepada pengantar makanan dan kemudian dirinya pun langsung memakan makanan yang dipesannya tadi.


*


*


*


"Nona Eliora, ini laporan yang Anda minta," ucap seorang wanita memberikan map berisi berkas kepada Liora.


"Baik, terima kasih, letakkan di meja saja," jawab Liora tanpa mengalihkan pandangan dari laptop di depannya.

__ADS_1


"Oh ya Nona, maaf sebelumnya apa Anda sedang bertengkar dengan kekasih Anda?" Tanya wanita itu.


"Tidak, lagian aku tidak…"


"Sepertinya kekasih Anda tulus meminta maaf pada Anda, dia masih menunggu Anda disini, bahkan lihatlah!" Wanita itu menunjukkan isi dalam ponselnya kepada Liora dimana disana ada video Ronald yang sedang makan yang diambilnya diam-diam.


"Dia…"


"Iya Nona, kekasih Anda masih menunggu Anda bahkan tidak meninggalkan tempat walau cuma sebentar, seperti takut tidak melihat Anda keluar," beritahu wanita tadi.


Liora menghela nafasnya, sambil melihat ponsel wanita itu. 


"Aku pinjam dulu!" Ucap Liora dan wanita itu mengangguk.


Liora segera mengirimkan video Ronald ke ponselnya kemudian segera menghapus video yang ada di ponsel wanita tadi.


"Ini…"


"Nona kenapa Anda…?"


"Dilarang memvideo orang tanpa izin orang yang bersangkutan, ya sudah, kamu bisa kembali bekerja," kata Liora yang mulai bekerja lagi.


"Baiklah Nona, kalau begitu saya permisi dulu," pamit wanita itu akhirnya.


Liora pun mengangguk mengiyakan.


"Tunggu!" Teriak Liora menghentikan langkah wanita tadi.


"Iya Nona, ada yang bisa saya bantu lagi," ucap wanita itu berbalik dan kembali menghampiri Liora.


"Jangan memfoto atau memvideo dia lagi!" Peringat Liora dan wanita itu pun dengan cepat mengangguk dan akhirnya benar-benar pamit meninggalkan Liora.


Melihat wanita itu pergi, Liora mengambil ponselnya dan melihat video yang dikirimnya tadi, dan tersenyum tak jelas.

__ADS_1


"Enak saja main ambil-ambil videonya, aku saja tidak pernah melakukannya," gumam Liora kembali melihat Video Ronald, seminggu tidak melihat pria itu, rasanya Liora ingin menatapnya sedikit lama.


__ADS_2