Please Love Me

Please Love Me
Part 149


__ADS_3

"Kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Al saat pulang dan melihat adiknya ada di depan pintu berjalan mondar-mandir.


"Kak akhirnya Kakak pulang juga, ayah Kak, tadi Ayah pingsan," jawab Lily panik.


"Bagaimana bisa?" Al langsung masuk dan Lily pun mengikutinya di  belakang.


"Aku tidak tahu Kak, tadi saat aku akan memanggil ayah untuk makan siang, ayah sudah tergeletak di lantai, padahal tadi pagi ayah masih baik-baik saja."


"Sudah panggil dokter?" Tanya Al yang berjalan cepat menuju kamar ayahnya.


"Sudah, dokter sedang memeriksa."


Saat Al masuk bertepatan dengan dokter yang tadi memeriksa Alan keluar.


"Siang dok, bagaimana keadaan ayah kami?"


"Kalian tenang saja, tidak ada yang perlu kalian khawatirkan, dokter Alan hanya kecapean saja, ditambah dirinya banyak pikiran, saya sudah resepkan obat dan juga vitamin, kalian bisa menebusnya," kata dokter memberikan Al selembar kertas.


"Terima kasih dokter," kata Lily dan Al bersamaan.


"Biar saya antar dokter," ucap Lily dan dokter itu hanya mengangguk saat Lily mempersilahkannya untuk berjalan lebih dahulu.


Setelah mengantarkan dan melihat dokter yang mengantarkan Ayahnya benar-benar pergi, Lily pun kembali masuk ke dalam, sebelum itu, Lily ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk ayahnya.

__ADS_1


Dengan membawa nampan berisi makanan, Lily masuk ke dalam kamar Ayahnya dan kebetulan Ayahnya sudah duduk bersandar.


"Ayah, bagaimana keadaan ayah sekarang? Apa yang Ayah rasakan? Apa masih pusing? Atau lebih baik kita ke rumah sakit saja dan memeriksakan keseluruhan tubuh ayah, aku tidak ingin ayah kenapa-napa lagi," kata Lily tanpa henti sambil meletakkan nampan di atas meja nakas samping tempat tidur. 


Alan tersenyum mendengar ucapan putrinya yang terlihat jelas sangat mengkhawatirkannya.


"Ayah tidak apa-apa Ale, ayah baik-baik saja, istirahat sebentar nanti ayah juga sembuh sendiri," jawab Alan mengelus lembut rambut putrinya.


"Jika Ayah benar-benar baik saja, lantas kenapa Kak Al menangis," Lily kini menatap mata Kakaknya yang terlihat sembab.


Alan ikut menatap putranya, benar apa yang dikatakan putrinya mata Al terlihat sembab, Alan tadi tidak terlalu memperhatikan karena dia sibuk dengan pikirannya, ingin menceritakan pada Al yang sebenarnya, tapi dia bingung harus memulai darimana, terlebih lagi, sebelumnya Al sempat marah padanya, Alan takut Al tidak percaya pada apa yang nanti akan diceritakannya.


Keduanya tadi sempat sama-sama diam hingga tak lama Lily masuk dan memecah kecanggungan antara ayah dan anak itu.


Lily amati keduanya dan kini dia mengangguk mengerti, ya sudah Ale tinggal dulu ya Yah, ada Kak Al juga disini," pamit Lily yang hanya ingin memberi waktu kepada kedua pria yang disayanginya agar mereka berbicara meluruskan apa yang seharusnya diluruskan agar tidak ada kesalahpahaman lagi.


"Maafkan Al, Ayah, Al sudah tahu semuanya dan Ayah memang salah, tapi bukan sepenuhnya Ayah yang salah, maaf karena sudah menuduh Ayah tidak menyayangi Kami, jika Ayah tidak sayang, Ayah pasti tidak akan meminta Bibi Nia mengawasi Al dan melaporkan kepada Ayah atas semua apa yang Al lakukan, maaf karena sudah tidak percaya pada ketulusan Ayah, apa Ayah sakit karena memikirkan itu semua? Apa Ayah sakit karena ucapan Al. Seharusnya Al dengerin penjelasan Ayah bukannya malah kabur, seharusnya Al lebih dewasa dari Ale dalam menyikapi ini semua," kata Al yang merasa bersalah karena menuduh Alan tidak menyayanginya. Di jalan tadi, Al terus menyalahkan dirinya sendiri, bagaimana jika terjadi sesuatu sama Ayahnya? Bagaimana dia akan menebus rasa bersalahnya nanti, di sepanjang jalan yang Al lalui merapalkan doa dalam hati semoga Ayahnya baik-baik saja. Semoga tidak terjadi hal buruk pada Ayahnya. Mendengar kenyataan yang ternyata Ibunya sakit membuat Al merasakan ketakutan sendiri saat mendengar ayahnya yang tiba-tiba pingsan.


"Ayah yang seharusnya minta maaf Al, Ayah tahu Ayah salah, tapi Ayah tidak bisa memaksa perasaan Ibumu untuk bisa menerima Ayah, dia sudah memiliki cintanya sendiri, 10 tahun hidup bersamanya itu sudah cukup buat Ayah, Ayah sudah merasa bahagia. Ayah tidak mau terus menahannya di sisi Ayah, karena hal itu akan membuatnya semakin terluka. Hingga saat Ibu meminta berpisah dari Ayah, Ayah pun menyetujuinya, Ayah ingin Ibumu bahagia, karena mungkin kebahagian Ibumu adalah terlepas dari Ayah," Al menatap kosong ke depan, mengingat masa lalunya bersama Felicya.


"Ayah, ada yang harus Ayah tahu, Ibu sebenarnya mencintai Ayah, tidak hanya di hati Ayah rasa cinta itu tumbuh karena saling bersama tapi juga di hati Ibu." ucap Al memberitahu hal yang dia dengar.


Alan spontan menatap putranya, "Apa yang kamu katakan Al?" Tanya Alan barangkali dia salah mendengar.

__ADS_1


"Ibu sangat-sangat mencintai Ayah."


"Tapi rasanya itu tidak mungkin Nak, karena setelah tahu kebenarannya, Ibu langsung marah sama Ayah, Ibu bahkan meminta kita berpisah," Alan teringat saat istrinya marah besar dan memberikan dirinya surat gugatan cerai.


"Saat itu, Ibu hanya kecewa karena orang yang dicintainya membohonginya, Ibu hanya merasa hal itu terjadi secara tiba-tiba, hingga Ibu tidak tahu harus bagaimana, itulah yang aku dengar dari dokter Riu, dokter Riu selain dokter Ibu, dia juga teman Ibu berbagi cerita di saat-saat terakhirnya."


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Jason yang baru datang dan mendapati istrinya menangis di depan pintu kamar Alan.


"Ssst! Jangan berisik," kata Lily dengan suara pelan di tengah tangisannya.


Lily meletakkan jari telunjuk di bibir suaminya. Kemudian dengan pelan-pelan menutup rapat pintu kamar Alan yang sedikit terbuka karena ternyata Lily sedari tadi mencuri dengar apa yang Ayah dan Kakaknya bicarakan.


Lily kemudian menarik tangan suaminya menuju ke kamar mereka.


"Hei kenapa kamu menangis? Ayah tidak apa-apa kan? Maaf tadi aku sedang rapat, dan ponsel aku silent, jadi aku tidak dengar kamu menelpon," Jason menghapus air mata Lily dengan Ibu jarinya.


Bukannya menjawab Lily langsung memeluk suaminya erat, bagaimana menjawab suaminya jika Lily sendiri pun tidak tahu kenapa dirinya menangis. Yang jelas dirinya saat ini merasa lega, karena kesalahpahaman antara ayah dan kakaknya akhirnya bisa terselesaikan.


"Ayah baik-baik saja," jawab Lily enggan melepaskan pelukannya.


"Terus kenapa kamu menangis?"


"Ya hanya ingin menangis saja," jawab Lily kemudian melepaskan pelukan dan berjalan menuju ke tempat tidur, dan duduk di atas ranjang, meninggalkan suaminya yang masih berdiri di tempatnya tadi.

__ADS_1


"Sayang kemari! Kenapa malah diam saja disitu?" Ucap Lily yang melihat suaminya tidak beranjak sedikitpun dan hanya diam memandanginya. 


__ADS_2