Please Love Me

Please Love Me
Part 71


__ADS_3

"Kamu cantik," puji Dahlia pada adiknya dengan tersenyum.


Walaupun beda Ibu, tapi Dahlia tetap menyayanginya, tapi rasa sayangnya terbatas, karena dia tidak bisa menunjukkan sepenuhnya perasaan sayang terhadap adiknya itu, karena hal itu bisa menyakiti perasaan Ibunya, dan Dahlia tidak ingin itu. Dan Dahlia berharap dengan pernikahan ini adiknya akan bahagia, karena yang dia lihat Ayah dari Al sangat menyayangi adiknya, bahkan kasih sayangnya terlihat tulus, tidak dibuat-buat sama sekali.


Tanpa menoleh pun, Lily bisa melihat Kakaknya sedang berdiri di belakangnya dengan kedua tangan berada di bahunya dari cermin besar di hadapannya.


"Apa Ibu tidak datang Kak?" Tanya Lily menatap Dahlia sendu, walaupun Lily tahu Ibunya tidak menyayanginya, tapi dia berharap sang Ibu akan hadir di hari pernikahannya.


"Oh ya Kakak punya sesuatu untukmu," kata Dahlia menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang pada Lily, mencoba mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin adiknya sedih jika tahu Ibunya tidak sudi untuk hadir di hari pernikahannya.


Lily menerima kado itu meletakkannya di atas meja rias, berdiri dan berbalik badan, tatapannya bertemu dengan tatapan Dahlia, ada sesuatu yang Kakaknya sembunyikan itulah yang Lily bisa lihat dari gelagat sang Kakak.


Lily meraih tangan Dahlia dan menggenggamnya, "Kak katakan saja yang sejujurnya, apa Ibu memang tidak ada niat sama sekali untuk datang, tidak apa Ibu sebenarnya juga tidak mengijinkan Kakak untuk datang?" 


Dahlia diam, apa yang adiknya katakan memang benar, Dahlia tidak bisa berbohong pada Lily, karena setiap Dia berbohong, Lily seakan tahu apa yang sebenarnya terjadi, entahlah mungkin Lily terlalu peka dengan keadaan sekitarnya, atau mungkin Lily memang sudah sangat mengerti dirinya.


"Maafkan Kakak Lily, Kakak sengaja tidak mau membalas hal ini takut kamu sedih, jika tahu Ibu seperti ini. Kakak sudah berusaha mengajak Ibu, tapi Ibu tetap pada pendiriannya," ucap Dahlia yang menatap Adiknya, bahkan mata keduanya kini sudah berkaca-kaca dan bisa kapan saja meledak begitu saja.

__ADS_1


"Jangan menangis nanti riasan kamu bisa luntur," Dahlia menangkup kedua pipi adiknya, berharap adiknya tidak menangis lagi.


Lily tersenyum meraih tangan Dahlia yang ada di kedua pipinya, kemudian menggenggamnya, "Aku baik-baik saja Kak dan tidak akan menangis lagi," Lily tersenyum meyakinkan Kakaknya dia kemudian mendongak, berharap air mata tidak turun. Sebisa mungkin Lily berusaha untuk tidak menangis.


Tak lama pintu ruangan itu dibuka oleh Jasmine, "Maaf apa aku mengganggu?" Tanya begitu melihat Kakak beradik itu.


"Ah tidak, silahkan kalian pasti akan berbicara dulu," Dahlia tersenyum dan mempersilahkan Jasmine yang diketahui Dahlia sahabat baik adiknya untuk berbicara pada adiknya. Memberikan mereka berdua waktu, dan dirinya keluar meninggalkan ruangan itu.


Lily kemudian langsung berhambur di pelukan sahabatnya, "Jasmine apa ini yang terbaik?" Tanya Lily pada sahabatnya tentang keputusan yang diambilnya.


Jasmine tidak tahu, apa ini yang terbaik atau bukan, kisah cinta sahabatnya itu sedikit rumit, saling mencintai tapi tidak bersatu, mencintai tapi tidak berjuang, mencintai tapi membiarkan orang yang dicintai bersama dengan orang lain, saling mencintai tapi juga saling menyakiti, bahagia melihat orang yang dicintai bahagia, iya kalau orang yang dicintai tidak mencintai, tapi kalau saling mencintai kenapa harus memilih jalan seperti ini, bukankah lebih baik untuk berjuang hingga tidak akan berakhir menyiksa diri sendiri, entahlah Jasmine bingung harus mengatakan apa, karena pada dasarnya itulah pilihan mereka, tidak hanya Lily dan Kak Al tapi juga Jason serta Liora.


"Mine apa yang aku putuskan salah? Apa aku akan menyakiti Kak Al, apalagi menikah dengannya tanpa rasa cinta, katakan Mine jangan diam saja!" Lily melepaskan pelukan mereka dan menatap sahabat baiknya menunggu jawaban dari sahabatnya yang justru diam saja.


Jasmine menghela nafas, "Bukankah dari awal kamu memang sudah menyakiti perasaan Kak Al, kau berdalih memberinya kesempatan tapi sebenarnya kau menjadikannya pelarian atas rasa sakitmu pada Jason yang saat itu belum menyadari perasaannya terhadapmu, kamu memang sahabatku Lily, tapi aku tidak ragu mengatakan hal ini karena memang kamu juga bersalah dalam hal ini, kamu mencoba dekat dengan Kak Al, berharap kamu bisa melupakan Jason, membuat Kak Al berharap bahwa dia punya kesempatan mendapatkan hatimu, tapi lihatlah apa setelah itu kamu berhasil melupakan Jason? Apa kamu berhasil membuka hatimu untuk Kak Al? Tidak bukan? Tapi kamu justru menyeret mereka ke dalam luka yang kamu rasakan, Jason berusaha membantu di belakangmu, walaupun kamu dekat dengan Kak Al dan Kak Al semakin berharap padamu. Jika kamu memang berharap bisa melupakan Jason saat itu, kenapa kamu tidak berjuang sendiri? Seharusnya kamu berusaha dulu untuk melupakannya tanpa harus membawa Kak Al, kamu tanyakan pada dirimu sendiri apa kamu bisa melupakan Jason atau tidak, jika kamu mencoba dan sedikit saja terlihat ada keberhasilan, baru kamu bisa dekat dengan Kak Al tapi jangan bilang kamu langsung memberinya kesempatan, dan seharusnya kamu bilang ingin saling mengenal lebih dahulu, jika kamu melihat usahamu mungkin akan gagal, kamu beri pengertian pada Kak Al, minta waktu darinya untuk menghapus dulu lukamu, bukannya berbagi lukamu dengan Kak Al, aku memang tidak merasakan apa yang kamu rasakan, tapi aku juga saat ini berusaha untuk lebih baik, untuk melihat masalah dari semua sisi dan mencoba untuk tidak egois hanya demi kepentingan diriku saja, tapi juga mencoba mengerti perasaan orang-orang yang ada di sekitar kita, orang-orang yang menyayangi kita dan orang-orang yang kita sayangi. Dan tentang keputusanmu terbaik atau tidak, itu hanya kamu sendiri yang mengerti, kadang yang menurut kita baik, belum tentu itu yang terbaik, ya sudah jangan menangis lagi dan menyesali keputusan yang sudah kau pilih, aku yakin kamu mengambil keputusan ini, karena kamu memang sudah memikirkan semuanya matang-matang," Jasmine kemudian memeluk kembali sahabatnya, untuk sedikit memberikan kekuatan untuk menghadapi masalah kedepannya.


Tanpa terasa air mata Lily turun begitu saja saat mendengar perkataan sahabatnya, apa yang Jasmine katakan memang benar, Lily telah menyakiti Al sejak awal.

__ADS_1


"Bersiaplah, sini aku benarkan dandanannya, sebentar lagi kamu pasti akan disuruh untuk turun, dan ingat pengantin harus tampil cantik," Jasmine meminta Lily duduk dan memperbaiki make up Lily yang berantakan karena menangis.


Tok


Tok


Pintu yang terbuka diketuk.


"Sayang ayo kita turun! Mempelai pria sudah mengucapkan ijab kabul, kamu sudah sah menjadi istrinya" Liliana datang menghampiri Lili memintanya untuk turun, mengulurkan tangannya pada Lily agar  mengikuti langkahnya.


Tak


Tak


Suara langkah mereka memenuhi seluruh ruangan kediaman Alan, ya akad nikah Lily dan Al terjadi di kediaman Alan, dan Lily pun tidak ingin mengadakan resepsi ataupun itu, karena dia berpikir jika tidak ada keluarganya yang datang, itulah keinginan dari Lily dan baik Al maupun Alan menyetujui permintaan gadis itu.


Langkah Lily terhenti di tempat dimana masih ada penghulu dan pria yang beberapa menit yang lalu telah menjadi suaminya.

__ADS_1


Deg


Jantung Lily berdebar kencang tidak pernah menyangka jika hari ini statusnya sudah menjadi seorang istri, apalagi di usianya yang masih terbilang muda.


__ADS_2