
Alan terpaku melihat sosok seseorang yang kini di hadapannya, tanpa sadar air matanya terjatuh, tapi dengan cepat Alan menghapusnya. Alan menatap putranya lekat, menangkup kedua pipinya. Kemudian memeluknya erat.
"Al, ini benar kau Nak? Kau pulang?" Tanya Alan dia kira Al benar-benar tidak pulang, tapi sekarang putranya itu kini sudah berdiri tepat di hadapannya.
Al melepaskan pelukan ayahnya, menghapus air mata Alan yang kembali jatuh.
"Tentu saja aku datang, bagaimana mungkin aku tidak datang di hari bahagia Ayah." Ucap Al menatap wajah pria itu.
"Selamat atas pernikahan Ayah, dan hiduplah bahagia dengan Ibu Dea," kata Al menatap Alan dan Dea bergantian.
Dea tersenyum menatap Al yang kini sudah berstatus sebagai putranya.
"Iya Nak, kamu tenang saja dan tidak perlu khawatirkan itu, saat ini saja Ayah sudah merasa teramat bahagia," Alan pun menjawab ucapan putranya.
"Baguslah jika seperti itu," ucap Al melepaskan pelukannya.
"Ibu, tolong jaga Ayah baik-baik," kata Al pada wanita yang kini sudah resmi menjadi ibunya.
Dea mengangguk, "Kamu tidak perlu khawatir," Dea menepuk bahu Al dan Al pun tersenyum dan mengangguk.
"Bolehkah aku memeluk Ibu?" Tanya Al menatap Dea.
Dea membentangkan kedua tangannya membiarkan Al memeluknya.
"Walau Ibu, bukan ibu kandung kalian, tapi Ibu berharap kalian menganggap Ibu, seperti Ibu sendiri. Cerita jika kalian ingin bercerita, peluk dan genggam tangan Ibu jika kalian butuh kekuatan, dan bersandarlah di bahu Ibu jika kalian butuh tempat bersandar," ucap Dea tulus.
Al mengangguk dalam pelukan Dea, merasakan kehangatan pelukan seorang ibu yang sudah lama tidak didapatkannya, hingga Tuhan begitu baik, mengirimkan seseorang menjadi sosok ibunya, terlebih lagi Al tahu jika Dea adalah wanita yang baik, dan lebih pentingnya lagi, Dea mencintai ayahnya, hingga kelak jika Al sudah mempunyai keluarga sendiri dan harus meninggalkan ayahnya, setidaknya Al merasa tenang karena ada seseorang yang begitu mencintai ayahnya yang selalu ada di samping pria yang membuatnya bisa lahir ke dunia.
*
*
*
__ADS_1
Sementara itu di tempat yang tidak jauh dari sana, Lily bergelayut manja di lengan suaminya, Lily menatap keluarganya kemudian menatap Jason.
"Makasih, makasih karena sudah membawa Kak Al kembali, aku senang akhirnya Ayah bisa tertawa lepas seperti itu," katanya dengan senyum terukir di sudut bibirnya.
"Tidak perlu berterima kasih sayang, karena bagiku, kebahagiaanmu adalah yang terpenting melebihi segalanya, keluargamu juga keluargaku dan aku berharap mereka semua selalu bahagia seperti itu."
Lily mengangguk dan tersenyum, kemudian menarik tangan Jason untuk menghampiri Al yang masih berpelukan dengan Dea.
"Jadi hanya Kak Al saja yang dipeluk, aku tidak," kata Lily yang pura-pura kesal.
Al dan Dea langsung melepaskan pelukan dan tersenyum menatap Lily. Kemudian keduanya kompak membentangkan tangan memberikan ruang untuk Lily masuk ke dalam pelukan mereka. Dan Lily pun dengan senang hati masuk ke dalam dekapan Al dan Dea.
"Jadi Ayah diabaikan nih," kata Alan melihat istri dan anak-anaknya sedang berpelukan. Mengucap kata istri membuat Alan merasa bahagia.
Alan mendekat dan kemudian memeluk ketiga orang yang dicintai yang kini tengah berpelukan.
Dea melepaskan pelukannya terlebih dulu dan melihat kesekitarnya, tengah mencari seseorang yang tidak terlihat sejak tadi.
"Ibu nyari Liora, kok sedari tadi Ibu tidak melihatnya."
Mendengar ucapan Dea keempat orang lainnya juga ikut mengedarkan pandangan mencari gadis yang dimaksud Dea. Hingga akhirnya Lily menunjuk ke seseorang yang sedang mondar-mandir cukup jauh dari tempatnya, yang terlihat sibuk dengan ponsel yang menempel di telinganya.
"Aku samperin Kak Liora dulu ya, sepertinya terjadi sesuatu dengannya," pamit Lily pada Jason dan keluarganya.
Jason, ayah, ibu dan kakak Lily pun mengangguk membiarkan wanita itu menghampiri Liora, sementara Jason sendiri berpamitan pada keluarga istrinya hendak bergabung dengan Stevano, Max dan Jack.
Lily berjalan menghampiri Liora dan menepuk bahu gadis itu.
"Kenapa Kak?"
Kedatangan Lily yang tiba-tiba begitu mengejutkan Liora yang sedang sibuk dengan ponsel yang menempel di telinga.
"Kau ini mengejutkan saja," kesal Liora yang hampir saja menjatuhkan ponsel karena begitu terkejutnya.
__ADS_1
"Hehehe maaf Kak, habisnya Kak Liora sepertinya sibuk dengan ponsel sedari tadi, bahkan wajah Kak Liora selalu ditekuk seperti itu."
Liora mengerucutkan bibirnya, "Apa terlihat jelas ya?" Tanya Liora mendekatkan wajahnya pada Lily meminta Lily untuk mengamatinya.
"Iya terlihat jelas, ada apa? Apa ini tentang kekasih Kak Liora?"
Liora menggeleng," Tidak, ayo kita samperin Ibu," ucapnya kemudian menggandeng Lily menuju ke tempat ibunya kembali.
Lily menatap intens Liora yang berjalan di depan, sambil menarik tangannya pelan.
"Andai saja dulu aku tidak masuk di kehidupan Kak Liora dan Jason, apa Kak Liora akan seperti ini?" Lily menggelengkan kepalanya pelan menepis pikiran yang tiba-tiba terlintas di benaknya.
Jason yang melihat istrinya seperti itu, berpamitan pada Stevano, Max dan Jack untuk menghampiri istrinya. Jason takut jika istrinya kenapa-napa, apalagi melihat sedari tadi istrinya terus menggelengkan kepalanya. Jason berjalan tergesa-gesa, ingin segera tiba di samping Lily.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Jason menahan tangan Lily satunya yang spontan menghentikan Liora yang menarik tangan Lily yang lain, bahkan Liora pun langsung menoleh ke belakang hingga bisa melihat apa yang terjadi, apalagi tiba-tiba Liora mendengar suara Jason yang baru datang menghampiri.
"Hah?" Lily berbalik ketika mendengar suara yang familiar.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Jason khawatir menempelkan punggung tangan di dahi Lily, memutar tubuh istrinya memastikan bahwa istrinya memang baik-baik saja.
"Iya aku baik-baik saja, memangnya kenapa?" Lily menatap suaminya bingung.
"Tadi kamu…sudahlah lupakan, ayo kamu duduk saja!" Jason mengajak Lily untuk duduk.
"Tunggu! Tidak bisa, Lily mau menemaniku kesana!" Buru-buru Liora memblokir langkah Lily dan Jason yang akan pergi meninggalkanya.
Lily menatap Liora dan suaminya bergantian, "Iya sayang, aku mau menemani Kak Liora ke tempat Ayah dan Ibu," ucap Lily pada sang suami.
"Kamu bisa kesana sendiri Liora," jawab Jason mengajak Lily berbalik arah, dan pergi meninggalkan Liora yang terlihat begitu kesal.
Begitu melihat Lily dan Jason sudah menjauh, Liora pun akhirnya berjalan untuk menghampiri ibunya yang sedang bersama pria yang kini sudah resmi menjadi suami sang ibu. Liora menatap ke sekeliling dimana semua orang tengah duduk dengan pasangan masing-masing, saling bersenda gurau, bahkan kakak-kakaknya pun tidak segan-segan memamerkan kemesraannya.
"Nasib jomblo!" Gumam Liora hendak melanjutkan langkahnya dan hampir saja dia menabrak seseorang yang kini berdiri tepat di hadapannya, karena arah pandang Liora saat ini masih menatap beberapa orang di sekitarnya, bukan jalan di depannya.
__ADS_1