
Pagi-pagi sekali Lily sudah bangun karena dari semalam Dahlia bilang akan pulang. Lily membujuk agar kakaknya pulang agak siang, tapi Dahlia justru menolaknya, kakaknya itu bilang jika dia ada urusan, hingga Lily tidak bisa mencari alasan lagi untuk menahan kakaknya.
"Tapi kakak janji, kapan-kapan harus menginap lagi disini?"
"Iya, sudah kakak jalan dulu," Dahlia masuk ke dalam taxi melambaikan tangan pada Lily.
Setelah kepergian kakaknya, Lily kembali masuk, saat di ruang tengah, Lily berhenti menatap ke arah tangga, dimana kakaknya kini berjalan turun dengan pakaiannya yang rapi.
"Mana Dahlia, katanya dia akan pulang pagi-pagi."
"Telat." Jawab Lily berjalan ke arah dapur, untuk membuat su*su untuk Cinta juga untuk dirinya sendiri.
"Maksud kamu?" Al terus saja mengekor menunggu jawaban dari adiknya.
"Kak Lia sudah pulang, baru saja," beritahunya.
"Kenapa kamu tidak bilang ke kakak sih?" Al menatap adiknya kesal. Padahal Al sudah berencana bangun pagi dan bersiap karena ingin mengantarkan Dahlia.
"La memang harus bilang?"
Al mendengus mendengar adiknya yang justru kembali bertanya bukan menjawab pertanyaannya.
"Lagian kakak juga pasti masih tidur kan?"
"Tidak, kakak sudah bangun."
"Sudah bangun apa memang tidak tidur?" Lily menatap wajahnya kakaknya penuh selidik, apalagi saat melihat lingkaran hitam di bawah pria itu.
"Semalam Cinta tidak rewel kan?" Lily menghentikan aktivitasnya dan menatap Al, tidak enak jika kakaknya tidak bisa tidur karena putrinya rewel, jika itu sampai terjadi, mungkin Lily tidak akan membiarkannya lain kali.
"Tidak, Cinta tidak rewel sama sekali, kakak saja yang memang tidak bisa tidur."
Lily bernafas lega mendengar jika putrinya tidak rewel, dia kemudian melanjutkan kegiatannya, begitu selesai dia yang hendak membawa susu ke meja makan dicegah Al, kakaknya itu yang akhirnya membawakannya dan menyuruh Lily untuk duduk saja. Sementara itu Lily hanya menurut, dia berjalan ke ruang makan.
"Kenapa kakak tidak bisa tidur? Karena mikirin Kak Lia? Lagian sih dulu kakak pakai nolak Kak Lia, tau kan sekarang gimana rasanya ditolak? Begitu kan kebanyakan, saat ada orang yang selalu ada di samping kita, disia-siain, giliran sudah pergi aja, baru nyesel, terus ngejar-ngejar."
"Ya dulu kan kakak memang tidak menyukainya, kamu tahu sendiri juga awalnya kakak…"
"Ya aku paham, tapi sebelum Kak Lia memutuskan untuk pergi perasaan kakak sudah berubah, kakak sudah mencintai Kak Lia kan? Kenapa kakak tidak berjuang saat itu?"
"Kakak belum yakin, dan saat kakak akan berjuang, Dahlia justru menolak, dan dia pergi begitu saja."
"Dan sekarang kakak juga ikut pergi, kakak selalu memantaunya dari kejauhan, tidak mau melakukan terang-terangan, hingga akhirnya kakak merasa terlambat, karena akhirnya Kak Lia menemukan pria yang bisa menjaganya."
"Kamu tahu kalau kakak terang-terangan melindungi Lia, dan dia sampai tahu jika kakak mencoba mengejarnya lagi, mungkin saja kakakmu itu benar-benar akan menjauh, dan kakak akhirnya tidak bisa melihatnya lagi."
__ADS_1
"Itu hanya pemikiran kakak saja, sekarang lihatlah karena sikap kakak sendiri, Kak Lia sudah mendapatkan penggantinya."
"Kamu bukannya mendukung kakak," Al kesal karena merasa jika Lily saat ini lebih berpihak pada Dahlia.
"Hmm iya awalnya, tapi jika memang Kak Lia sudah bahagia sama Kak Devan, maaf saja kak, aku hanya bisa mendukungnya, dan aku berharap Kak Al juga mendapat seseorang untuk menggantikan Kak Lia di hati kakak."
"Sudahlah, Kakak mau panggil Cinta dulu." Setelah mengatakan itu, Al pun berlalu pergi, Lily hanya menghela nafas, tidak tahu harus bagaimana lagi. Posisinya ada di tengah, jadi menurut Lily, perkataan suaminya ada benarnya juga, Lily tidak boleh ikut campur dan biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri. Dan apapun yang membuat kakak-kakaknya bahagia Lily akan mendukungnya.
*
*
Lily menatap putrinya yang kini terlelap, di usapnya wajah sang putri.
"Lelap banget kamu sayang habis telponan sama ayah." Ucap Lily pelan, dirinya baru saja selesai melakukan panggilan video dengan suaminya. Itulah yang selalu Lily lakukan, dirinya tidak akan bisa tidur jika belum melihat atau sekedar mendengar suara Jason. Lily sangat merindukan suaminya itu, apalagi saat mendengar suaminya yang selalu bilang ingin cepat pulang, karena tidak ingin jauh-jauh darinya.
Lily memeluk putrinya, hingga akhirnya dirinya pun ikut memejamkan mata.
*
*
Lily memegang perutnya yang tiba-tiba sakit. Wanita itu meraih ponsel dan menghubungi Al, agar segera ke kamarnya.
Saat baru saja akan beranjak pergi, ponselnya berdering, Lily berbalik dengan langkah pelan, menggeser ikon berwarna hijau segera menjawabnya.
"Kak…"
"Ale ada apa?"
"Kak…"
"Ale kamu baik-baik saja? Tunggu kakak, kakak akan turun sekarang, jangan matikan ponselnya."
Ponsel Lily terjatuh bersamaan dengan suara dari seberang telepon yang sepertinya berlari.
"Akhh, sakit!"
Brak
Pintu kamar terbuka, Al dengan nafas terengah-engah segera berlari mendekat dan mengangkat tubuh adiknya yang meringis kesakitan
"Ale tahan sayang!" Al berjalan cepat memanggil Bi Nia, mengatakan pada wanita paruh baya itu untuk menjaga Cinta. Sementara itu Al berlari keluar, Bi Nia membantu Al lebih dulu sampai pria itu kini sudah masuk ke dalam mobil. Al segera melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.
*
__ADS_1
*
"Bagaimana Ale sekarang?
Alan berlari menghampiri Al, sebelumnya Alan yang akan bertemu dengan temannya, memutar balik mobil, dan mengajak Dea pulang, terlebih setelah mendengar kabar dari Al jika putrinya akan melahirkan.
"Kata dokter Ale masih belum bisa melahirkan Yah."
"Ale dimana? Di dalam?"
Al mengangguk, Dea mengelus lengan putranya.
"Kamu sudah coba menghubungi Jason?" Tanyanya.
"Belum Bu, tadi Al panik, dan belum sempat menghubunginya."
"Kamu hubungi sekarang, walaupun dia tidak disini tapi dia harus tahu."
"Apa yang ibumu katakan benar, kamu hubungi Jason sekarang," sahut Alan menyetujui ucapan istrinya.
"Iya yah, Al ambil ponsel Al dulu, sepertinya tertinggal di mobil."
"Pakai punya ayah saja," Alan menyerahkan ponsel miliknya pada Al,membiarkan putranya yang menelpon Jason.
"Ayah mau menemui Ale dulu."
"Iya ayah," jawab Al, setelah melihat ayah dan ibunya masuk untuk menemui Lily, barulah pria itu menghubungi adik iparnya.
Al menghubungi Jason, tapi nomornya justru tidak aktif.
"Kemana dia disaat seperti ini?" Kesal Al karena sudah beberapa kali menghubungi Jason, tapi tidak kunjung mendapat jawaban.
Al menoleh saat pintu terbuka, rupanya Alan lah yang keluar. Ayahnya itu menanyakan apa dirinya sudah memberitahu Jason.
"Belum ayah, Al sudah menghubunginya tapi nomor Jason tidak aktif.
"Bagaimana ini? Ale akan melahirkan sebentar lagi, setidaknya kita harus memberitahunya."
"Kita beritahu nanti saja, Al sudah mengirim pesan suara, nanti jika Jason sudah mengaktifkan ponselnya, dia pasti akan menghubungi Al."
"Baiklah seperti itu saja," jawab Alan.
Kedua pria beda usia itu kini menoleh bersamaan saat mendengar langkah beberapa orang mendekat.
Dan benar saja, seperti yang Alan katakan, dokter yang tadi memeriksa Lily kini datang kembali lalu masuk ke dalam ruangan. Dokter itu memeriksa Lily, kemudian bilang jika Lily akan segera dipindahkan ke ruang persalinan, karena sudah waktunya untuk dia melahirkan.
__ADS_1