
Lily yang baru sampai kini buru-buru turun dan berjalan cepat bahkan setengah berlari menuju rumahnya, rasanya dia tidak sabar ingin bertemu dengan putri kecilnya.
Jason yang melihat itu hanya tersenyum, dia juga ingin cepat-cepat masuk, tapi tidak mungkin dia meninggalkan kopernya begitu saja.
"Terima kasih Pak," ucap Jason pada supir taxi yang dibalas dengan anggukan.
Jason dan Lily pulang tanpa memberitahu ayah dan ibunya. Mereka memilih pulang menggunakan taxi.
Jason menarik kopernya, hingga ada penjaga yang berlari ke arahnya dan membantu Jason.
Jason berpamitan untuk segera menyusul istrinya masuk, dia juga ingin segera bertemu dengan putri kecilnya.
Jason berjalan mendekat menghampiri istrinya yang kini baru saja keluar dari kamar putri mereka yang memang dibuat khusus.
"Kenapa sayang?" Tanya Jason yang melihat wajah kusut istrinya.
"Sepertinya Cinta tidur di kamar Ayah dan Ibu deh. Dan lagi tumben sekali mereka belun bangun padahal ini sudah pukul 7," kata Lily sambil melihat jam yang menempel pada dinding.
"Ini masih pagi, ya sudah kita ke kamar kita dulu saja, tidak mungkin kan jika kita mengganggu tidur ayah dan ibu?"
Lily mengangguk lemah, kemudian dia berjalan mengikuti suaminya yang kini merangkul pinggangnya.
"Maaf Tuan, ini kopernya."
"Oh ya, terima kasih Pak, taruh situ saja, biar nanti saya yang bawa," ujar Jason dan pria yang membantu Jason tadi berpamitan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
Jason melepaskan rangkulannya, dia lalu berjalan menuju koper dan menyeretnya mendekat ke arah sang istri. Menautkan jemarinya di jari-jari Lily, kemudian keduanya berjalan menuju ke kamar mereka.
"Kamu istirahat dulu saja, aku mau membereskan ini" kata Jason pada sang istri yang kini langsung merebahkan diri di atas ranjang.
"Iya." Jawab Lily mengambil ponsel dan meletakkannya di atas meja, kemudian wanita itu mencari posisi nyaman, hingga tak lama kembali terlelap.
Jason yang selesai membereskan kopernya, segera bangun.
"Sayang kamu makan apa?" Tanyanya tanpa melihat ke arah istrinya.
"Sayang?" Jason tersenyum, saat melihat istrinya yang kini tertidur kembali. Dia berjalan mendekat, dan berjongkok menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Lily, kemudian mengecup kening Lily.
Jason kembali bangun dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit berlalu, dirinya kini sudah keluar, dan melihat Lily yang masih nyenyak dalam tidurnya, hingga dirinya tidak tega membangunkan sang istri. Membiarkan Lily tidur sedikit lebih lama lagi.
Tak ingin mengganggu tidur Lily, Jason melangkah keluar kamar, dirinya hendak membuat sarapan, tapi begitu sampai di ujung tangga dia berpapasan dengan ayah mertuanya yang juga sepertinya menuju dapur.
"Ayah!" Sapa Jason membuat Alan terkejut.
"Loh kamu kapan pulang? Ale mana?" Tanya Alan sambil mengedarkan pandangan.
"Ale tidur, hmm baru pulang setengah jam yang lalu."
"Oh ya? Kenapa tidak memberitahu Ayah? Ayah kan bisa menjemput kalian, tunggu bukannya masih ada beberapa hari lagi, kenapa sudah pulang?"
__ADS_1
"Kami merindukan Cinta Yah, makanya pulang cepat-cepat," jawab Jason, dan kini keduanya sama-sama berjalan menuju dapur.
"Padahal tidak apa-apa kalian lanjutkan liburan, lagian Cinta juga tidak rewel kok, kan nanti Ayah jadi cepat-cepat dapat cucu lagi."
"Di rumah juga bisa Yah, yang penting Ayah bantuin buat jaga Cinta tiap malam," bisik Jason dan Alan tertawa mendengar bisikan menantunya itu.
"Oh ya, kamu mau bikin apa?" Tanya Alan melihat Jason membuka kulkas.
"Nasi goreng sepertinya enak," jawab Jason sambil mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng.
"Sekalian Ayah sama Ibu buatin juga," Alan menarik kursi dan duduk disana.
"Ok," Jason kini mulai sibuk dengan peralatan memasak, sedangkan Alan hanya diam memperhatikan.
"Oh ya, Ayah dengar dari Ibu, Liora akan menikah, kamu sudah dengar dari Stevano?"
"Sudah Yah."
Alan manggut-manggut mengerti.
Keduanya kemudian menoleh saat mendengar langkah kaki seseorang mendekat.
"Ayah!" Teriak Cinta girang saat melihat Ayahnya. Gadis kecil itu bahkan meminta turun dari gendongan Dea, ingin menghampiri Ayahnya.
"Tunggu dulu sayang nanti jatuh," ucap Dea karena cucunya terus memberontak.
Jason mencuci tangan dan menghampiri Cinta, kemudian mencium kedua pipi tembam putrinya.
"Cinta duduk dulu disini ya, tunggu Ayah masak."
"Dak au," Cinta menggeleng tidak mau duduk di kursinya, gadis kecil itu terus meminta digendong ayahnya.
"Biar Ibu saja yang melanjutkan memasak," kata Dea yang melihat cucunya ingin bersama ayahnya.
"Tidak perlu Bu, Jason memang ingin memasak," Jason kemudian menatap putri kecilnya, Cinta sama Nenek dulu ya, nanti kita ke tempat Ibu, Cinta mau ketemu Ibu kan?"
"Mau, Nta mau temu Ibu," Cinta bertepuk tangan merasa senang karena sebentar lagi akan bertemu ibunya.
"Pintarnya anak Ayah."
"Ibu?" Cinta mengerjap menatap Jason.
"Iya anak Ayah dan Ibu."
Mendengar itu Cinta tersenyum senang.
"Lucu banget sih kamu sayang," Dea yang merasa gemas menciumi seluruh wajah Cinta.
Setelahnya Dea membawa Cinta untuk duduk bersamanya sembari menunggu menantunya memasak.
__ADS_1
Setelah selesai, Jason berpamitan kepada ayah dan ibu mertuanya membawa Cinta untuk ke kamar dan membangunkan Lily.
"Bu mana?" Cinta mendongak menatap Ayahnya.
"Ibu di kamar sedang tidur, nanti Cinta bangunin ya," kata Jason dan Cinta mengangguk, entah tahu atau tidak apa yang ayahnya itu katakan.
"Sesampainya di kamar, Jason menurunkan putrinya di atas kasur, tapi putrinya justru naik ke tubuh ibunya.
"Sayang!"
Terlambat sudah Jason memperingati putrinya yang kini meloncat-loncat di atas tubuh Lily.
"Bu angun, Bu!" Teriak Cinta.
"Bu!" Lily hanya diam saja, kini Cinta bangun dan pelan-pelan tengkurap di samping ibunya, melihat apakah ibunya membuka mata atau tidak.
"Bu!" Kini Cinta menciumi wajah Lily seperti yang Lily lakukan saat membangunkan putrinya itu.
Jason hanya menggeleng saat melihat kedua perempuan yang disayanginya. Dia memilih menuju sofa dan duduk disana memperhatikan keduanya.
"Bu!"
"Ketangkap."
Lily memeluk Cinta dan menggelitikinya.
"Ibu, belhenti Ibu, ampun!" Kata Cinta merasa kegelian.
"Nakal ya," Lily kini menciumi seluruh wajah putrinya lalu memeluknya erat.
"Ibu kangen banget sama Cinta."
"Nta uga angen Ibu."
"Sungguh?"
"Mmm."
"Duh, lucunya anak Ayah Ibu," Lily mendekat dan ingin kembali mencium wajah putrinya.
"Ibu mandi dulu, bau acem."
Lily mengerucutkan bibirnya mendengar putrinya.
"Ya sudah, Ibu mandi dulu, Cinta main sama Ayah ya?"
"Ayah, temani Cinta dulu," kata Lily turun dari ranjang menatap suaminya.
Begitu mendengar istrinya berbicara dengannya, Jason yang tadi sibuk dengan ponsel, langsung meletakkannya, dan bangkit menuruti sang istri datang menghampiri putrinya yang kini bermain dengan bonekanya yang memang ada beberapa di kamar mereka.
__ADS_1