
"Sudah sayang?" Tanya Lily kepada putri keduanya itu.
"Uli mau yang itu juga bu?" Aulia menunjuk kue kecil berbentuk karakter kartun.
"Kita uda beli banyak loh sayang, memang Uli bisa menghabiskan semuanya?"
Lily menatap putrinya yang memajukan bibir beberapa senti. Tadi saat Uli menangis, Jason langsung keluar dari ruang kerjanya menanyakan apa yang membuatnya tiba-tiba menangis. Saat Uli bilang ingin kue seperti Cinta, Jason bilang jika kue nya sudah habis, tadi dia mengambil yang terakhir untuk Cinta, mendengar itu tangis Uli semakin kencang. Hingga Jason akhirnya mengajak anak dan istrinya ke toko kue saja, meminta Aulia untuk memilih sendiri kue yang diinginkannya. Dan begitu tiba, Aulia tidak hanya memilih satu, tapi berbagai macam kue, Lily bahkan berulang kali mengingatkan putrinya jika mereka sudah membeli banyak, rasanya tak mungkin jika putrinya itu menghabiskan semuanya.
"Biarkan saja sayang," Jason bergabung bersama anak dan istrinya setelah tadi berpamitan untuk menjawab telepon sebentar.
"Tapi lihatlah, itu sudah banyak loh, mau siapa lagi yang makan, jika yang dihabiskan hanya beberapa saja."
"Nanti kita bisa bagikan."
"Ya sudah, tapi itu saja ya sayang?" Kata Lily pada putrinya. Lily merasa lega karena putrinya langsung menurut. Setelahnya, mereka berlalu ke kasir untuk membayarnya.
*
*
Dua mobil melaju beruntunan hingga tiba di depan sebuah panti asuhan. Lily, Jason, Cinta dan Aulia tampak turun dari mobil yang pertama, sementara mobil yang di belakang, turunlah Alan dan Dea.
Kedatangan kedua keluarga itu disambut hangat oleh kepala panti, bahkan ada beberapa anak mendekat pada Cinta dan Uli mengajaknya bermain bersama. Hari ini, adalah hari ulang tahun Cinta, dan mereka semua memutuskan untuk merayakan bersama dengan anak-anak panti.
Berbagai acara berjalan lancar, baik dari doa juga makan bersama, dan menjelang sore hari, barulah keluarga besar Lily berpamitan pulang, apalagi melihat anak-anaknya yang tampak kelelahan bermain.
"Kalian langsung pulang saja ya, ayah dan ibu mau pergi dulu, mungkin malam baru pulang."
Lily yang hendak masuk ke mobil urung, mendengar Alan berpamitan.
"Iya, ayah dan ibu hati-hati," Lily mencium punggung tangan Alan dan Dea bergantian, begitupun dengan Jason yang telah selesai membantu anak-anaknya masuk ke mobil.
Jason dan Lily menunggu hingga ayah dan ibu mereka masuk ke mobil dan melajukannya, baru keduanya masuk dan Jason mengendarai mobilnya ke arah yang berlawanan.
"Kita mau langsung pulang sayang?"
"Iya deh, kakiku pegal banget rasanya."
"Ya sudah, nanti aku pijat saja, ada bonusnya juga, jadi jangan khawatir."
Lily terkekeh, "Ada bonus segala. Dasar!"
"Iyalah, biar jadi langganan tetap."
"Ya asal aku pelanggan satu-satunya."
__ADS_1
"Tentu saja. Yang lain langsung aku tolak."
Keduanya sama-sama tertawa dengan obrolan konyol mereka.
Lily segera menutup mulutnya, saat teringat jika di dalam mobil tidak hanya ada mereka berdua, ada putri-putrinya yang kini tertidur.
"Kamu sih."
"Aku mulu yang disalahin."
Tak terasa kini mereka sudah sampai di rumah. Lily turun disusul Jason yang membuka pintu belakang mobil, mengangkat tubuh putrinya, tidak tega jika harus membangunkannya.
"Kamu jagain Uli dulu, nanti aku kesini lagi."
"Iya." Lily memilih duduk di teras sambil menunggu suaminya kembali, kepalanya pusing jika terlalu lama di dalam mobil.
Tak lama Jason datang, dan mengangkat Aulia membawanya masuk.
"Ayo sayang!"
"Ayo!" Lily bangun dengan susah payah, sebelum akhirnya Jason membantunya.
"Hati-hati."
Kini Jason dan Lily melangkah masuk, Lily masuk ke kamarnya, sementar Jason ke kamar putrinya terlebih dahulu.
Begitu masuk ke dalam kamarnya, Lily langsung duduk di sofa, meluruskan kedua kakinya yang membengkak. Tangannya yang ingin memberi sedikit pijatan nyatanya tidak sampai karena terhalangi perut besarnya.
Lily memilih menyandarkan punggungnya yang juga terasa sakit. Dia terus mengelusnya pelan hingga tak sadar kini pintu kamar terbuka, muncullah Jason yang langsung berjalan cepat, dan duduk di lantai di hadapannya.
"Bengkak sayang kaki kamu," Jason meringis melihat keadaan kaki istrinya saat ini.
"Oh ini, tidak apa-apa kok, katanya ini normal terjadi pada ibu hamil, kamu tidak perlu khawatir, dulu juga pernah kan? Hanya saja memang dulu tidak separah ini.
"Ya sudah, biar aku pijat," Jason mengangkat kedua kaki Lily, diletakkan di atas pangkuannya.
"Bagaimana?" Jason menatap Lily mencari tahu bagaimana keadaan istrinya setelah mendapatkan pijatan darinya.
"Hmm lumayan."
"Bilang enak saja, gengsi banget," sindir Jason.
"Iya sayang enak, enak banget malah," Lily langsung melayangkan pujian yang tentunya membuat Jason tersenyum senang.
Keduanya lalu sama-sama diam hingga beberapa menit setelah keheningan terjadi, Jason pun kembali berbicara.
__ADS_1
"Setelah ini, sudah ya, tidak usa punya anak lagi, aku tidak tega."
"Tapi bukankah dulu kamu…"
"Iya, aku tahu, tapi kurasa tiga anak cukup, toh kita sudah punya laki-laki juga perempuan. Kita fokus saja membesarkan anak-anak kita nanti."
"Aku ikut apapun keputusan kamu."
Jason tersenyum dan mengangguk.
"Akh!" Lily meringis sambil memegangi punggungnya.
"Kenapa sayang?" Jason langsung berdiri, raut wajahnya terlihat begitu khawatir.
"Sakit banget punggungnya. Sayang bantu aku, aku mau rebahan saja," rengek Lily.
Jason dengan segera mengangkat tubuh sang istri ala bridal, merebahkan pelan-pelan ke atas ranjang.
Lily mencari posisi nyaman, sementara Jason langsung pergi entah kemana.
Tak lama pria itu pun muncul, "Biar aku kompres ya?"
Lily hanya mengangguk, sementara Jason kini sudah menyingkap baju Lily dan mulai mengompres punggung sang istri, berharap rasa sakit yang Lily rasakan mereda.
"Sudah lebih baik sayang," kata Lily yang memang sudah tidak merasa sesakit tadi.
"Baiklah, aku kembalikan ini dulu."
Lily tersenyum, "Bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu, kamu adalah pria terbaik yang pertama aku temui, aku tahu dibalik sikap dinginmu dulu, ada rasa hangat juga kasih sayang yang memang tidak kamu tunjukkan pada sembarang orang, aku beruntung karena kamu memiliki rasa yang sama seperti yang aku rasakan, hingga kita akhirnya bisa bersatu, memiliki anak-anak dan hidup bahagia."
"Melamunkan apa?"
Lily yang tadi sibuk melamun terkejut saat wajah suaminya berada sangat dekat dengan wajahnya.
"Aku tidak melamun," Lily mencoba menyangkal.
"Oh iya, tapi sedari tadi aku panggil-panggil kamu tidak menyahut, yang ada kamu malah senyum-senyum sendiri, emang apa sih yang kamu bayangin? Kamu tidak jatuh cinta sama laki-laki lain selain aku kan?"
Lily mengernyit menatap suaminya, kenapa tiba-tiba suaminya berkata seperti itu.
"Kamu yang senyum-senyum sendiri seperti itu, seperti orang yang sedang jatuh cinta, dulu Nyonya Muda juga bertingkah seperti itu saat jatuh cinta pada Tuan Stevano," jelas Jason karena istrinya tidak mengerti maksud perkataannya.
Lily menatap lurus ke atas langit-langit kamarnya. Dirinya terdiam seperti tengah berpikir.
"Tebakanmu tidak salah, benar apa yang kamu katakan, aku sedang jatuh cinta."
__ADS_1