Please Love Me

Please Love Me
Part 93


__ADS_3

"Kenapa nih kamu bertanya seperti itu? Apa mungkin sahabatku ini ingin segera memiliki anak?" Tanya Jasmine yang kembali menggoda Lily.


"Hmm, aku ingin punya anak yang lucu-lucu, seperti Alno, oh ya kemana keponakanku itu? Kenapa tidak diajak? Aku sangat merindukannya, sudah lumayan lama kan tidak bertemu dengannya," kata Lily saat teringat Alno putra sahabatnya.


"Dia ikut bersama Papi dan Ibu, menyiapkan untuk keperluan pergi nanti" jawab Jasmine kemudian mengambil ponsel mengirim pesan untuk suaminya.


"Oh, apa? Kau mau pergi? Kemana?" Lily yang tadi bermain ponsel sambil bersandar di sofa, langsung menegakkan badannya.


"Kita semua akan berkunjung ke tempat Bunga, kau dengar kan jika Bunga sebenarnya tidak tinggal di negara ini?" 


"Ya aku pernah mendengarnya, kalian semua akan kesana?" Lily seperti sangat antusias mendengar cerita sahabatnya.


"Iya kita semua, hmmm kecuali Liora, sepertinya dia masih marah sama Papi dan Ibu, ya sedikitnya aku tahu perasaan Liora."


"Mmmm..Mine terus bagaimana Liora sekarang, maksudku setelah tahu Jason menikah denganku?" Lily kini bersiap mendengarkan jawaban Jasmine, dirinya sungguh ingin tahu tentang Liora, jujur Lily juga merasa ikut andil atas kepergian Liora.


"Tidak perlu merasa bersalah seperti itu, masalah cinta tidak akan ada bisa yang memaksa," Ucapan Jasmine mengagetkan Lily yang tadi terdiam.


Lily tersenyum, "Ya aku tahu, kamu tidak perlu khawatir."


Tak


Tak


Terdengar suara sepatu yang terbentur lantai semakin mendekat, tapi kedua wanita itu sepertinya tidak menyadarinya mengingat mereka sedang asyik mengobrol, membicarakan apa saja yang biasa diobrolkan ya tentunya tentang hidup mereka sendiri, bukan hidup orang lain.

__ADS_1


"Sedang ngobrol apa? Seru banget sepertinya?" Stevano duduk di samping istrinya dan segera merangkul dan mengecup perut istrinya yang semakin besar.


"Eh sayang, kamu sudah kembali? Kok aku tidak mendengar langkahmu mendekat?" Tanya Jasmine yang langsung merangkul tangan suaminya, menyandarkan kepala di dada bidang suaminya.


"Bagaimana dengar jika kamu seru banget ngobrolnya, "Anak Papa sudah lapar belum?" Tanya Stevano berbisik di perut istrinya setelah tadi mengecupnya lama.


"Sudah lapar Papa, Papanya lama, tadi Mama sudah kirim pesan ke Papa, tapi sepertinya Papa tidak melihat pesan yang Mama kirimkan," kata Jasmine menirukan suara anak kecil.


Stevano tersenyum dan mencium seluruh wajah istrinya merasa gemas.


Jason dan Lily hanya saling tatap melihat kemesraan pasangan Suami Istri di sebelahnya itu.


"Tidak perlu iri, jika kamu mau mesra-mesraan juga tidak apa-apa, lagian kalian juga sudah jadi Suami istri," kata Stevano tanpa merasa bersalah.


Jason memutar bola matanya, sementara wajah Lily tampak merona.


"Maaf sayang, tadi ponselnya aku silent, jadi aku tidak tahu jika kamu mengirim pesan," sesal Stevano yang memang tidak membuka ponselnya sesudah rapat.


"Ya sudah, ayo makan, aku lapar, anak-anak kita juga lapar," ucap Jasmine manja.


"Ya, sudah Ayo!" Stevano bangun dan membantu istrinya berdiri. 


"Kalian berdua juga lebih baik ikut," Ajak Stevano lebih tepatnya perintah Stevano, kemudian keempatnya pun berlalu meninggalkan kantor, meninggalkan sejuta tanda tanya para karyawan yang penasaran melihat keempat orang itu, karena Jason maupun Stevano belum memberitahu apapun. Karena rencananya Stevano akan memperkenalkan secara resmi besok pagi, tidak mungkin hari ini, karena Stevano takut jika istrinya nanti akan kelelahan.


***

__ADS_1


"Sayang!" Tiffa menahan tangan Liora yang hendak masuk kembali  ke dalam rumah Dea, sahabat Maminya sekaligus wanita yang telah membesarkan Liora.


"Apa Mi, tolong beri Liora waktu  sedikit lagi, Liora janji, Liora pasti akan pulang dalam waktu dekat ini, hanya sebentar lagi Mi," ucap Liora dengan suara yang amat pelan.


"Kamu sungguh tidak  mau ikut ke  tempat Kak Bunga?" Tanya Tiffa yang masih berharap putrinya mau ikut.


"Maaf Mi, sepertinya aku tidak bisa, lain kali jika kesana lagi, El pasti ikut," jawab Liora penuh keyakinan.


"Baiklah, Mami juga tidak akan memaksamu, ya sudah Mami pulang dulu, sebentar lagi Kakak-kakakmu juga pasti akan pulang," ucap Tiffa, lalu pergi setelah sang putri mencium punggung tangannya.


Liora hanya bisa menatap kepergian Maminya sambil sekali mengusap air matanya yang terjatuh begitu saja.


"Maafkan El Mi, El tahu ini bukan salah Mami maupun Papi, ini salah El, karena waktu itu El bisa saja menolak karena El tahu siapa yang Kak Jason cintai, tapi El sendiri yang mau, dengan harapan Kak Jason akan menerima permintaan Mami dan Papi karena merasa berhutang budi dengan keluarga kita, tapi ternyata Kak Jason tetap memilih cintanya, makanya El malu untuk menemui Mami dan Papi serta semua  orang, El malu karena terlalu naif, terlalu percaya diri jikaa Kak Jason akan menerima El. El sama sekali tidak marah sama Mami dan Papi, El hanya butuh waktu untuk  bisa menerima semua ini," ucap Liora dalam hati dengan tatapan kosong.


.


.


Al kini telah bersiap, dia memasuki mobilnya dan segera menjalankannya ke rumah sakit, Al tadi sudah berkali-kali menghubungi Ayahnya, tapi tidak kunjung mendapat  balasan, Al yakin jika saat ini pasti Ayahnya sedang di ruang operasi. Hingga Al pun memutuskan untuk segera ke rumah sakit dan mengatakan secara langsung tentang kabar baik yang tadi pagi Dahlia sampaikan.


Belum menuju jam makan siang, tapi jalanan tampak macet, bahkan mobil yang Al kendarai tidak bisa bergerak sama sekali, Al terus menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jika seperti ini, Al yakin dirinya pasti terlambat, belum lagi menjemput Ayahnya, Al membuka kaca mobil dan bertanya pada seseorang yang baru akan masuk ke mobil di sampingnya, yang Al tebak, pasti  orang itu habis mengecek apa yang terjadi hingga terjadi kemacetan.


"Ada apa Pak di depan?" Tanya Al sopan pada pria yang tidak dikenalnya itu.


"Ada kecelakaan Nak, seorang gadis keserempet mobil, sepertinya lukanya cukup serius, soalnya gadis itu sekarang juga tidak sadarkan diri," ucap Pria itu menjelaskan.

__ADS_1


"Oh, ya sudah terima kasih Pak informasinya," ucap Al pada pria itu, dan pria  itu pun mengangguk, dan kembali ke mobilnya, dan masih Al dengar jika pria itu kembali ditanyai oleh seseorang di dalam mobil, mungkin itu majikannya.


Samar-samar Al mendengar pria itu menyebut nama Dahlia, dan entah kenapa hal negatif memenuhi pikiran Al, Al berusaha menepis hal itu, tapi tak lama Al membuka pintu mobil dan berlari ke depan untuk meyakinkan dirinya dan berharap bahwa bukan Dahlia yang dia kenal yang mengalami kecelakaan itu, karena saat tadi Al menelpon, Dahlia bilang jika dirinya masih ada di kampusnya.


__ADS_2