
"Sudah matang belum?" Liora berdiri di belakang Ronald, berjinjit mengintip apa yang sedang pria itu masak.
"Hmm sebentar lagi, El tolong ambilkan piring!" Kata Ronald dan Liora bergegas menuruti perintah pria itu.
"Ini!" Liora menyerahkan piring yang diambilnya tadi kepada Ronald, dan Ronald menerima dan memindahkan hasil masakannya ke dalam piring itu.
"Ini bawa ke meja makan!" Ronald kembali menyerahkannya kepada Liora.
Liora hendak mengambil dengan tangannya untuk mencicipi, tapi segera dicegah oleh Ronald.
"Panas El!" Kata Ronald kemudian mengambil sendok dan mengambilkan makanan tadi, ditiup dan menyuapkan ke dalam mulut Liora.
"Hmm enak," kata Liora mengacungkan kedua jempolnya memuji masakan Ronald.
"Ini sudah atau ada lagi," kata Liora tidak jelas karena sambil mengunyah.
"Satu lagi," kata Ronald menatap Liora, terdiam dan mengulurkan tangannya.
"Kenapa?" Liora memundurkan kepalanya.
"Sebentar," kata Ronald dengan cepat mengusap bibir Liora membuat gadis itu terpaku seketika.
"Kamu makannya belepotan," ucap Ronald dan Liora yang tersadar kembali menjauhkan wajahnya dan kemudian membersihkan sendiri bibirnya.
"Sebelah kiri, ke atas sedikit, ah iya disitu," Ronald pun memberi komando dimana bibir Liora yang katanya belepotan.
"Sudah?" Tanya Liora dan Ronald pun mengangguk.
"Ayo!" Ajak Ronald dengan satu piring makanan di tangannya.
"Sudah?" Tanya Liora dan Ronald pun mengangguk.
Keduanya pun kini duduk berhadapan dan menikmati makanan buatan Ronald.
"Ini…" ucap Ronald menyerahkan benda pipih milik Liora yang ketinggalan tadi, tepatnya yang tadi sempat juga disembunyikan.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Ronald memutuskan untuk mengembalikannya.
"Kok ini…"
"Tadi ketinggalan di mobil," jawab Ronald yang kemudian mengambil makanan ke dalam piring kemudian diberikan pada Liora yang kini tampak sibuk dengan ponselnya yang kembali diaktifkan oleh gadis itu.
Liora melirik saat Ronald meletakkan piring di depannya, dan tersenyum, "Terima kasih," ucapnya yang kini meletakkan ponselnya di atas meja.
Ronald mengangguk dan kini mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Tak ingin suasana menjadi canggung, Liora pun memulai obrolan.
Tiba-tiba seseorang mendekat, Liora dan Ronald yang asyik mengobrol tidak menyadari hal itu. Keduanya baru menoleh saat mendengar suara kursi yang ditarik.
__ADS_1
"Siapa ini yang masak?" Tanya pria yang baru saja datang dan kini duduk di samping Liora.
Liora melepaskan segera sendoknya dan berdiri mengulurkan tangannya hingga Mike menoleh dan menyerahkan tangannya, membiarkan gadis itu mencium punggung tangannya.
"Malam Paman," sapa Liora.
"Hmm," jawab Mike hanya dengan gumaman dan kemudian mengambil makanan setelah Liora selesai menyalaminya.
Liora hendak berjalan dan berpindah posisi duduk di samping Ronald, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara berat yang mengajaknya berbicara.
"Mau kemana?" Tanya Mike yang kini sudah sepenuhnya menatap Liora.
"Hah? Oh ini, mau pindah ke sebelah sana," Liora menunjuk ke kursi kosong di sebelah Ronald.
"Duduk di situ saja," ucap Mike yang menyuruh Liora untuk tetap duduk di sampingnya.
"Ayah! Tegur Ronald yang tidak ingin Liora pergi karena ucapan ayahnya lagi.
Mike menatap Ronald sekilas, kemudian menatap Liora lagi.
"Baik Paman," ucap Liora yang kembali duduk di tempatnya.
"Siapa namamu?" Tanya Mike yang lupa dengan nama Liora.
"Eliora Paman."
"Iya Paman."
"Bisa memasak tapi Ayahnya sendiri tidak pernah dimasakkan," gerutu Mike dan Ronald hanya memutar bola matanya malas.
"Katanya Ayah pergi ke tempat teman Ayah?"
"Hmm."
"Terus kenapa sudah kembali?"
Mike mengernyitkan dahi menatap sang putra. "Terus memangnya Ayah harus menginap disana?" Tanyanya balik.
"Ya tidak juga, kan Ayah baru pergi sebentar, jam segini kenapa sudah kembali?"
"Suka-suka Ayah, lagian memang salah jika Ayah ingin cepat-cepat pulang, selain itu Ayah juga harus mengawasi seseorang," jawab Mike yang kemudian melanjutkan makannya.
Drt
Drt
Telepon Liora bergetar, mengalihkan pandangan kedua pria itu.
__ADS_1
"Mmm...maaf aku harus menjawab telepon ini dulu," kata Liora.
"Disini saja," ucap Ronald yang melihat Liora akan bangun dari duduknya.
Liora pun memandangi pria itu, kemudian beralih memandang pria paruh baya yang duduk di sampingnya, tengah menyantap makanannya seolah tidak peduli pada apa yang sedang Liora dan Ronald lakukan.
Liora mengangguk dan kembali duduk, menggeser ikon berwarna hijau cepat-cepat sebelum berakhir.
"Halo," jawab Liora yang kini tampak mendengarkan orang yang di seberang telepon berbicara.
"Menikah? Benarkah?" Ucap gadis itu tiba-tiba dengan pandangan berbinar, tapi tidak dengan Ronald yang sudah menggenggam sendoknya terlalu kuat saat mendengar itu.
Dan Mike yang diam-diam juga mendengarkan apa yang Liora katakan kini memperhatikan raut wajah putranya yang sudah tidak enak dipandang, dan sebelumnya Mike tidak pernah melihat ekspresi Ronald yang seperti itu.
"Baiklah, aku akan kesana sekarang, kita akan bicarakan soal itu," ucap Liora kemudian dan panggilan pun berakhir.
Liora buru-buru bangun, lupa jika saat ini sedang di apartemen Ronald, hingga Liora yang hendak pergi, melihat Ronald yang kini menatapnya dengan pandangan tidak biasa.
"Eh maaf, sepertinya aku harus pergi sekarang," pamit Liora pada pria yang kini sudah berdiri di seberang Liora.
Kemudian Liora beralih melihat ke arah Mike, "Paman aku pulang dulu," pamitnya.
"Terima kasih makanannya," Liora kini kembali menatap Ronald.
"Siapa yang mau menikah?" Bukannya menanggapi ucapan terima kasih Liora, Ronald justru menanyakan hal lain.
Saat Liora akan menjawab pertanyaan Ronald, ponselnya justru kembali bergetar, tersenyum dan segera menjawab panggilan setelah melihat penelepon di layar ponselnya.
"Halo"
"Hmm di rumah teman, kenapa Bu?"
"Oh baiklah, iya nanti El kesana."
"Tidak Bu, tidak perlu merepotkan Jack, aku nanti kesana sendiri saja."
"Ibu sudah bilang ke Jack, oh ya sudah kalau begitu, aku tutup teleponnya ya Bu, aku mau ke rumah Ayah dulu," jawab Liora tersenyum menggoda ibunya. Ya walaupun sebenarnya orang di seberang telepon tidak bisa melihat senyumannya.
"Baiklah nanti aku hubungi Jack," tak lama pun Liora mengakhiri panggilannya, setelahnya ibunya mengiyakan.
Liora mengirimkan lokasinya kepada Jack, kemudian mengangkat wajahnya, dan pandangan yang pertama kali dilihatnya adalah Ronald yang saat masih menatapnya.
"Aku harus pergi sekarang, dan terima kasih sebelumnya, dan maaf tidak bisa membantumu membereskan semuanya," kata Liora yang kemudian berlari keluar saat Jack mengirimi pesan jika dirinya sudah ada di bawah.
"Tunggu El!" Teriak Ronald. "Kamu belum menjawab pertanyaanku," tambahnya dengan suara cukup pelan, tapi Liora hanya menoleh sebentar, melambaikan tangan dan terus berjalan keluar.
Ronald buru-buru keluar untuk mengejar Liora. Tapi begitu sampai di bawah, langkah kakinya berhenti saat seorang pria membukakan pintu mobil untuk Liora, membiarkan gadis itu masuk, hingga akhirnya mobil pria itu melaju meninggalkan tempat.
__ADS_1