
"Tunggu apa maksud Anda? Orang yang wajahnya persis dengan wajah Ayah?" Tanya Al yang tidak mengerti maksud dari perkataan dokter Riu.
Dokter Riu menghela nafasnya panjang, "Orang itu adalah saudara kembar Ayahmu, saya tidak tahu pasti tapi setelah itu Ibumu langsung pergi. Alan tidak bisa mengejarnya karena dia harus mengurus saudaranya. Untuk lebih jelasnya, kamu bisa pulang dan tanyakan hal ini sendiri kepada Ayahmu," ucap dokter Riu yang langsung bangun dari duduknya.
"Oh ya bilang ke Ayahmu, jika setelah perpisahan itu, Felicya bilang jika dia menyesal menginginkan perceraian itu, dia sadar bahwa cintanya sudah menjadi milik Alan, tapi dia tidak berani menghubungi Alan dan mengatakan itu semua," setelah mengatakan itu, dokter Riu pun pergi meninggalkan Al di ruang tamu rumahnya dengan berbagai macam pertanyaan.
Tanpa Al ketahui, dokter Riu menatap Al dari atas, "Aku sudah memberitahukan semuanya Cya. Akhirnya aku bisa mengatakan jika akhirnya hatimu memilih Alan. Alan berhak tahu tentang itu, bagaimanapun yang aku tahu, Alan masih salah paham tentang perasaanmu, Alan mengira kamu masih mencintai kembarannya hingga kamu pergi. Maafkan aku Cya, Maaf karena aku baru memberitahukan hal ini pada Alan. Ku kira aku bisa menyimpan tentang perasaanmu sesungguhnya pada Alan selamanya, tapi nyatanya aku tidak bisa. Semoga kamu bahagia di sana," gumam Riu sambil sesekali menghapus air matanya yang tiba-tiba saja turun membasahi wajahnya saat mengingat seorang gadis yang berhasil mencuri hatinya. Tapi dia selama ini hanya bisa memendamnya saat tahu bahwa gadis itu menyukai seseorang bahkan sampai menikah dengannya.
Al beranjak dan segera pergi dari rumah dokter Riu, setidaknya dia sudah menemukan titik terang tentang ini semua, mendengar apa yang orang waktu itu katakan, bahkan sampai dokter Riu.
Intinya apa yang dikatakan orang yang bernama Banu adalah cerita Ibunya dulu, saat Ibunya belum mengetahui bahwa orang yang pertama disukainya adalah saudara kembar ayahnya, bahkan setelah Ibunya tahu, Ibunya tidak pernah menceritakan hal itu pada Banu, karena pasti bercerita pun tidak ada gunanya karena bagaimanapun ujung-ujungnya, perasaan yang Ibu Al miliki tetaplah milik Alan, terlepas pada siapa dulu dia menyukainya, dan Al tidak tahu apa yang membuat Ayahnya menikah dengan Ibunya, kenapa Ibunya tidak tahu bahwa yang disukainya adalah kembaran ayahnya dan kenapa Ayahnya berbohong hal itu kepada ibunya. Menurut pemikiran Al, apa yang Banu ceritakan tadi pagi kepada ayahnya adalah dari sisi Ibunya tanpa tahu sebenarnya yang terjadi antara Alan dan Felicya.
Setelah cukup lama memikirkan itu Al pun beranjak dari duduknya dan segera pergi dari rumah itu.
Al melajukan mobilnya tanpa tujuan yang jelas. Dia ingin pulang meminta penjelasan ayahnya, tapi niat itu segera diurungkannya. Dan tidak tahu kenapa, kini mobil Al terparkir tidak jauh dari rumah Dahlia.
Al terdiam cukup lama hingga pandangannya tertuju pada seorang pria yang membantu Dahlia berjalan, dan masuk ke sebuah mobil. Al mengeratkan tangannya pada setir, bahkan di wajahnya tampak jelas jika dirinya sedang marah.
"Saat melihatmu bersama pria lain, membuat aku sadar, bahwa usahaku untuk menipu hatiku, ternyata sia-sia, dan aku menyadari bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu," gumam Al yang memutuskan untuk mengikuti mobil yang tadi membawa Dahlia.
Dengan posisi sedikit jauh, Al melihat mobil yang diikutinya berhenti di depan sebuah restoran. Al semakin merasa panas saat melihat pria yang waktu itu memperkenalkan dirinya dengan nama Dion menggandeng tangan Dahlia untuk masuk.
"Sial!" Umpat Al dan tanpa pikir panjang, Al segera turun dari mobil dan menghampiri kedua orang itu.
"Hai, ternyata benar kalian, aku kira tadi bukan kalian," kata Al menatap datar Dion dan menunjukkan senyum manisnya ketika menatap Dahlia.
"Kak Al?" Dahlia terkejut melihat orang yang kini ikut berjalan di sampingnya.
"Ngapain disini?" Tanya Dion menatap Al kesal karena ekspresi Al saat menatapnya berbeda dengan saat Al menatap Dahlia.
"Mau potong rambut," jawab Al melirik Dion tidak suka.
__ADS_1
"Ya tentu saja makanlah, tidak tahu jika ini restoran," ketus Al.
"Ngomong-ngomong ya, ini kalian sudah seperti orang yang menyeberang jalan saja, pakai gandengan segala," komentar Al saat masih saja melihat tautan tangan keduanya.
"Kalau iri bilang saja, sana cari cewek biar ada yang digandeng," kata Dion kemudian segera menarik tangan Dahlia agar berjalan lebih cepat.
Dahlia hanya diam saja dan mengikuti langkah Dion, malas menanggapi kedua orang yang hobinya terus berdebat jika sudah bertemu.
Tapi Al mengejarnya dan melepas dengan paksa tangan yang mereka berdua.
"Sempit!" Kata Al yang kemudian menarik tangan Dahlia untuk masuk bersamanya meninggalkan Dion sendirian.
"Bilangnya sempit, lihatlah bahkan dirinya juga melakukan itu," ujar Dion yang kemudian melangkah sendirian menyusul Al dan Dahlia yang sudah lebih dulu masuk.
Begitu masuk dan menemukan Al juga Dahlia, Dion menarik kursi yang ada di samping Dahlia. Karena kebetulan tadi Al duduk di kursi di seberangnya.
Al yang melihat posisi duduk Dahlia begitu dekat dengan Dion, akhirnya dirinya pun menarik kursinya agar lebih dekat dengan Dahlia, dan belum juga merasa puas, Al kemudian menarik kursi Dahlia agar semakin dekat dengannya.
"Pelayan!" Teriak Dion memanggil pelayan karena dirinya akan memesan makanan.
"Kamu mau pesan apa Lia?" Tanya Dion memberikan buku menu kepada Dahlia, tapi Al langsung menariknya dan dirinya tampak sibuk melihat tulisan yang berisi banyak nama masakan.
"Seperti biasa saja, masih ingatkan?" jawab Dahlia tersenyum.
Al spontan menoleh, saat mendengar perkataan Dahlia.
"Tentu saja aku masih sangat mengingatnya jangankan makanan kesukaan kamu, semua tentang kamu aku masih ingat."
"Benarkah, coba katakan! Aku ingin mendengarnya, seberapa banyak yang kamu ingat tentang aku," ucap Dahlia menantang.
"Kamu itu…"Dan mengalirlah cerita Dion tentang Dahlia, tak hanya Dion sendiri, Dahlia pun menceritakan semua ingatannya tentang Dion, membuat satu orang lainnya yang ada disana, mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.
__ADS_1
Al begitu marah saat ternyata Dion tahu semua tentang Dahlia dan begitupun sebaliknya. Yang lebih membuatnya geram saat mereka justru tampak asyik tertawa.
Dering ponsel Al menghentikan kegiatan ketiganya.
Al segera menjawab panggilan yang masuk dari adiknya.
"Halo Ale," jawab Al begitu sambungan telepon terhubung.
"Baiklah Kakak akan pulang," ucap Al yang kemudian langsung memutuskan panggilan.
Al segera bangkit dari duduknya dan pergi dari sana. Tapi tak lama dirinya berbalik dan menarik tangan Dahlia dan juga mengambil tas gadis itu.
"Kamu antar aku ke depan," ujar Al yang tidak bisa ditolak.
"Yon aku antar Kak Al ke depan dulu," pamit Dahlia pada Dion dan hanya mendapat jawaban gumaman oleh Dion.
Al yang tadi memegang lengan Dahlia kini beralih dengan menggenggam tangan gadis itu, dan tangan satunya tampak sibuk dengan ponsel.
Dan begitu sampai di depan, Al menghampiri sebuah taksi yang berhenti dan membuka pintu taksi itu.
"Masuk!" Perintah Al pada Dahlia.
"Tapi Kak, Diyon masih ada di dalam," jawab Dahlia yang tidak enak jika meninggalkan Dion.
"Masuk Dahlia, dia sudah besar dan bisa mengurus dirinya sendiri, sekarang kamu masuk!" Untuk yang kedua kalinya Al kembali berucap.
Dan akhirnya Dahlia pun hanya bisa pasrah.
"Antarkan dengan selamat ke alamat yang saya kirim tadi Pak!" Pesan Al pada pengemudi taksi dan kemudian pergi ke tempat mobilnya tadi diparkirkan.
Saat sudah masuk dan duduk dengan nyaman, tak lama seulas senyum pun terbit di bibir Dahlia.
__ADS_1