
"Aku tahu kamu mungkin tidak percaya pada apa yang aku ucapkan, tapi aku akan membuktikan jika ucapanku benar, aku baru menyadari perasaan itu, saat aku jauh darimu, aku cemburu waktu melihat kamu bersama pria itu," Jason menjelaskan tentang perasaannya.
Lily masih bungkam, dia begitu terkejut saat tiba-tiba pria dingin yang dia suka menyatakan cintanya, tapi…
"Berikan aku waktu untuk menunjukkan bahwa yang aku katakan sungguh-sungguh, aku hanya menganggap Liora seperti adikku sendiri, karena aku terbiasa dengannya sewaktu kecil, hingga aku menyalah artikan perasaan itu, mungkin aku pernah menyukainya, tapi perasaanku tiba-tiba hilang begitu saja setelah aku mengenalmu" jelas Jason menambahi.
"Maaf, aku tidak bisa memberikan waktu seperti apa yang kamu minta tadi, karena aku sudah memberikan kesempatan itu pada pria lain yang jauh lebih mencintaiku, dan asal kamu tahu, aku juga sudah ada rasa untuknya, rasaku untukmu juga sudah hilang begitu saja semenjak dekat dengannya" jawab Lily tanpa menatap Jason saat mengatakan hal itu.
Jason bangun dan menarik dagu Lily agar menghadapnya, "Katakan itu dengan menatap mataku Lily! Katakan jika kamu benar-benar tidak mencintaiku!" ucap Jason.
"Kamu pasti bisa Lily!" Ucapnya dalam hati, kemudian perlahan di tatapnya mata Jason,"Aku tidak mencintaimu,rasa untukmu itu sudah hilang" kata Lily begitu jelas terdengar di telinga Jason.
Jason langsung melepaskan tangannya dari dagu Lily, kemudian berbalik badan, tiba-tiba air matanya menetes begitu saja. Lalu dihapus kasar air mata itu.
"Tidak mungkin kamu secepat itu bisa menghilangkan rasa cintamu padaku Lily? Kamu juga baru beberapa kali kan jalan dengannya?" Jason bertanya memastikan tentang jawaban Lily, dia tidak yakin dengan apa yang gadis itu baru saja ucapkan.
"Kenapa tidak mungkin? Bukankah seperti itulah cinta, datang dan pergi begitu saja, seperti yang kamu baru saja katakan, kamu saja yang katanya menyukai Liora bertahun-tahun bahkan sejak kalian kecil saja bisa langsung menghapus perasaanmu terhadapnya dengan berganti perasaan padaku yang juga baru kamu kenal? Terus kenapa aku tidak bisa?" Ucap Lily dengan mata yang berkaca-kaca, mengatakan hal itu pada laki-laki yang kini berdiri membelakanginya.
Jason bungkam, benar baru saja dirinya mengatakan hal itu. Tapi Jason yakin, jika Lily berbohong, dia yakin jika gadis itu masih menyimpan perasaan terhadapnya.
"Aku yakin jika kamu masih mempunyai perasaan terhadapku, dan akan aku buktikan jika apa yang aku katakan benar," kata Jason meninggalkan Lily, tapi Lily menahan pergelangan tangannya.
__ADS_1
Jason tersenyum, "Aku yakin kamu masih mencintaiku," ucap Jason dalam hati.
Jason berbalik masih dengan senyum terukir di wajahnya.
"Obati dulu lukamu! Bukankah tujuanku kesini untuk mengobati luka ini," kata Lily mengangkat tangan Jason yang terluka dan ditunjukkannya tepat di depan wajah pria itu.
Ekspresi Jason langsung berubah, senyum yang tadi terukir lebar di bibirnya kini hilang dan tergantikan dengan ekspresi datarnya.
Lily menarik tangan Jason untuk duduk di atas ranjang, kemudian dia berlalu meninggalkan Jason untuk mengambil kotak p3k yang pernah dia lihat di atas lemari plastik.
Setelah mengambil itu, Lily kemudian kembali mendekat dan duduk di samping Jason dengan telaten dia mengobati luka itu.
"Bohong jika perasaanku sudah hilang begitu saja, bahkan saat ini, saat aku ada di dekatmu, jantung ini masih berdebar kencang, tapi aku juga tidak bisa menarik ucapanku, ucapan yang pernah aku katakan pada Kak Al, Kak Al terlalu baik padaku, dan aku tidak akan tega jika menyakitinya, kau tahu, jika seorang perempuan sudah jatuh cinta kepada laki-laki, seberapa banyak laki-laki itu menyakiti dan melukai hatinya, perasaan yang perempuan itu punya tidak akan pudar begitu saja, katakan saja aku b*d*h tapi itulah kenyataannya, dan aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri," kata Lily dalam hati sambil membalut perban pada tangan Jason yang terluka.
"Sudah," kata Lily kemudian kembali membereskan peralatan p3k itu dan menyimpannya di tempat semula, dan betapa terkejutnya Lily saat tiba-tiba seseorang memeluk tubuhnya dari belakang.
"Please Love Me Lily! aku janji akan membahagiakanmu, aku minta maaf karena kata-kata yang aku ucapkan waktu itu pasti menyakitimu, dan aku…
"Termakan ucapanmu sendiri, iya kan? Kau bilang tidak akan mungkin mencintaiku, dan sekarang kau memintaku untuk mencintaimu? Hahaha kau sangat lucu Tuan..
Jason membalik tubuh Lily dan langsung mencium bibir Lily, Lily memberontak dia memukul dada Jason agar melepaskan ciumannya, tapi kini justru kedua tangannya di cekal oleh Jason. Saat Lily hampir kehabisan nafas, Jason baru melepas ciumannya.
__ADS_1
"Kau gila Jason, kau benar-benar gila! Apa yang ini yang kau anggap cinta, ha? Kenapa Jason? Kenapa kau mempermainkan perasaanku seperti ini? Kenapa?" Teriak Lily dengan air mata yang mengalir deras dari kedua sudut matanya.
"Apa kau pikir aku tidak punya perasaan sampai kau mempermainkanku? Kemarin kau menyakiti hatiku dengan kata-katamu! Kau bilang kau tidak mencintaiku dan tidak akan pernah, tapi kenapa disaat aku mencoba membuka hatiku untuk pria yang mencintaiku, tiba-tiba kau datang dan menyatakan perasaanmu? Kau tahu kau mengacaukan segalanya Jason, kau menghancurkan begitu saja hati yang sudah aku obati dengan kehadirannya. Apa bagimu aku ini seperti mainan untukmu?" Tubuh Lily merosot begitu saja di lantai kamar itu, Lily menangis terisak, dirinya merasa dipermainkan oleh kata yang bernama cinta.
Sakit, itu yang Jason rasakan, rupanya dia sudah terlalu dalam membuat luka gadis yang baru dirinya sadari bahwa dia mencintainya.
"Maaf," hanya kata itu yang bisa Jason katakan. Jason duduk di hadapan tubuh Lily, dan membawa Lily ke dalam pelukannya, awalnya Lily menolak tapi tak lama, Lily membalas pelukan dan menangis menumpahkan segala rasa sakitnya di dalam dekapan hangat pria itu.
"Kau jahat Jason! Kau sangat jahat terhadapku!" Kata Lily sambil masih terisak.
Jason diam, ya Jason mengakui itu, dirinya memang jahat, bagaimana tidak jika kemarin dia bilang tidak akan pernah jatuh cinta, tapi kini dia sendiri yang menyatakan cinta. Bukankah cinta terkadang lucu, yang kemarin benci bisa saja tiba-tiba cinta, dan begitupun sebaliknya.
"Maaf, maafkan aku, aku sungguh minta maaf," lagi-lagi itu yang bisa Jason katakan saat ini.
"Baiklah aku akan melepas cintaku padamu, jika kamu memang ingin membuka hatimu untuknya, aku akan menjauh jika kamu tidak ingin goyah ketika ingin dekat dengannya, aku akan coba mengikhlaskanmu, jika dialah memang yang terbaik untukmu, dan aku akan merelakanmu jika dialah yang bisa membahagiakanmu," Jason menatap langit kamar-kamarnya, berusaha agar air matanya tidak jatuh lagi.
"Bukan aku menyerah atas rasa cinta yang aku punya, aku hanya membiarkan cinta itu mencari jalan pulangnya sendiri, karena aku percaya jika kau memang ditakdirkan untukku, seberapa jauh kamu meninggalkanku, suatu saat kamu akan kembali lagi padaku, dan saat itu terjadi, aku akan berusaha semampuku untuk membahagiakanmu. Aku akan mengganti rasa sakit yang kau rasakan dengan cinta yang aku miliki," kata Jason tulus.
Lily semakin terisak mendengar perkataan Jason, dia semakin erat memeluknya, entah apa yang harus Lily lakukan selanjutnya, dia benar-benar tidak tahu.
__ADS_1