Please Love Me

Please Love Me
Part 84


__ADS_3

"Kenapa tidak dijawab sih?" Gerutu Liora kesal karena sejak semalam seperti itu.


Jack menoleh ke tempat duduk sampingnya melihat jika gadis yang tadi diajaknya jalan-jalan bermuka masam setelah mencoba menelpon seseorang yang tidak tahu dia siapa.


"Tunggu dulu jangan-jangan….


"Apa kamu sedang menghubungi Jason?" Tanya Jack tanpa basa-basi, saat Liora kembali menempelkan ponsel di telinganya.


Liora menoleh, dia menatap Jack dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kenapa?" Tanya Liora ketus.


Jack menepikan mobil yang dikendarainya sepertinya dia harus memberi tahu Liora baik-baik tentang apa yang dia lakukan. 


"Nona cukup! Hentikan semua itu! Apa kamu tidak lelah? Kamu sudah mendengar bukan jika Jason sudah menikah? Jadi stop mulai sekarang, jalani kehidupanmu sendiri, jangan ganggu dia lagi, dia sudah punya kehidupan baru, hidupnya dengan sang istri bukan denganmu," kata Jack serius.


Tanpa peduli omongan Jack, Liora kembali menekan nomor ponsel seseorang, dan menghubunginya lagi.


Tanpa sungkan Jack langsung merebut ponsel Liora yang ada di tangannya.


***


Al berjalan gontai menuju ke dalam rumahnya, setelah berpikir semalaman Al akhirnya memutuskan untuk pulang, Al menimbang saran dari gadis yang bernama Dahlia, bahwa jika ada masalah hadapi bukannya malah kabur.


"Kak, maaf bolehkah aku memberi saran pada Kak Al, hmm begini Kak tidak baik jika Kakak malah kabur-kaburan seperti ini saat ada masalah, Kakak coba hadapi, sampai kapanpun Kakak lari, masalah itu tidak akan pernah selesai, karena apa? Karena masalah itu harus Kak Al yang menyelesaikannya. Kak Al tahu sejak kecil Lily tidak pernah dianggap oleh Ibu, Ibu kira, Lily adalah anak Ayah dari wanita lain, makanya Ibu selalu membencinya, menyuruhnya ini dan itu, dengan alasan untuk menebus kesalahan Ibunya terhadapku, membalas budi karena Ibu telah membesarkannya," Dahlia menerawang jauh mengingat bagaimana kisah adiknya.

__ADS_1


"Sekarang dia tahu bahwa dia masih memiliki keluarga, dia masih punya Ayah dan seorang Kakak, tapi jika Kak Al seperti ini terus, Lily akan merasa jika kehadirannya di keluarga Kak Al, ternyata membuat Kak menjauh, membuat hubungan Kak Al dan Ayah Kak semakin merenggang karena Kak Al yang jarang pulang, dan Lily akan menyalahkan dirinya sendiri, itulah Lily yang jarang orang lain tahu, dia akan mudah menyalahkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu dengan orang disekitarnya, dia tampak selalu ceria karena dia berusaha keras menutupi lukanya. Dia pasti akan mengira Kak Al seperti pergi karena kehadirannya, dan dia pasti mengira jika Kakak juga membenci, marah bahkan tidak menganggapnya, Lily akan terus merasa seperti itu jika Kak Al terus saja menghindar, jadi saya mohon Kak, pulanglah! Hadapi semuanya, terima kenyataan bahwa Lily adalah adik Kakak, jangan buat dia merasa tidak diterima oleh Kak Al sebagai adiknya, selama ini hidup Lily menderita, jadi tolong biarkan sekarang Lily bahagia dengan hidup di tengah-tengah orang-orang yang menyayanginya."


Al masih ingat jelas perkataan Dahlia kemarin saat dirinya mengantar pulang gadis itu, dan sekarang disinilah Al sekarang, di depan pintu rumahnya.


"Selamat Pagi Tuan Muda," sapa pelayan yang membukakan pintu.


"Pagi Bi, kemana orang-orang rumah?" Tanya Al saat melihat suasana rumah yang tampak sepi.


"Ada di ruang makan Tuan Muda. Tuan, Nona dan Suaminya baru saja mau sarapan," jawab pelayan sopan.


"Baiklah Bi, Terima kasih," Al pun langsung berlalu meninggalkan Bibi dan segera menuju ke ruang makan.


Tak


Tak


Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Al," Alan langsung memanggil nama Putranya.


"Ayah," jawab Al langsung menghampiri Ayahnya dan mencium punggung tangan pria itu.


Al kemudian menoleh ke arah Lily dan tersenyum, kemudian memberikan tangannya agar gadis yang ternyata adiknya itu, melakukan seperti apa yang tadi dia lakukan.


Lily pun tersenyum meraih dan mencium punggung tangan yang terulur itu.

__ADS_1


"Bagaimana ini pengantin baru kita apa kabarnya sayang?" Ucap Al yang masih berdiri dan kemudian memeluk adiknya yang duduk.


Jason menatap Al tajam, sementara Al justru tersenyum mengejek.


Alan geleng-geleng kepala melihat anak dan menantunya, sementara Lily tidak peka dengan situasi sekitarnya.


"Kak Al belum sarapan kan? Ayo  Kak Al duduk disini, makan dulu," kata Lily menyuruh Al duduk di samping kanannya, dan mengambilkan makanan dan diberikannya pada Kakaknya itu.


"Terima kasih sayang," kata Al sambil mengacak rambut Lily.


Sementara Jason merasa jengah dengan sikap Al yang sepertinya sengaja memanas-manasi dirinya. Sebenarnya Jason tidak harus cemburu karena dirinya sudah tahu bahwa Al adalah Kakak kandung istrinya, tapi tetap saja, Jason masih melihat jika masih ada cinta untuk istrinya di mata Al, bahkan Jason mungkin tahu bagaimana hancurnya perasaan Kakak Iparnya saat ini.


"Kakak belum bertemu Ibumu maksudnya Ibu Kakakmu, dia sering pergi belakangan ini, bahkan Dahlia pun tidak tahu kemana Ibunya pergi," Al memberitahu hal itu, karena bagaimanapun mereka semua butuh kejelasan dari Vega, Ibu Dahlia. Mungkin saja dia tahu sesuatu, kenapa dia bisa mengatakan jika Ibu Kandung Al dan Lily adalah wanita lain Ayah Dahlia. Apa mungkin Vega pernah melihat keduanya sering bersama, atau hanya saat itu dan dirinya salah paham saja. Karena bahkan Alan pun tidak percaya jika istrinya berselingkuh di belakangnya.


"Oh, ya sudah Kak tidak apa-apa, kita masih banyak waktu, oh ya Kak, bisakah nanti kita bisa bicara berdua saja, ada yang ingin aku tanyakan sama Kakak," ucap Lily menatap Al sesekali melirik Ayahnya.


"Tentu saja, Kakak juga ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu," jawab Al kemudian mereka berempat pun melanjutkan acara makannya.


Setelah selesai Alan pun berpamitan untuk pergi ke rumah sakit. Kini tinggallah Al, Lily dan Jason di ruang keluarga, Lily menatap bergantian dua pria yang duduk mengapit dirinya.


Keduanya sama-sama diam, hingga mereka menoleh ke arah Jason saat ponsel pria itu kembali berdering.


Jason pun berpamitan pergi untuk menjawab panggilan itu. 


Lily terus memandang punggung Suaminya yang kini menjauh dari dirinya, Lily yakin jika terjadi sesuatu, kenapa nama itu sedari tadi terus menghubungi suaminya, dan Lily akan menunggu sampai suaminya itu bercerita.

__ADS_1


Sementara Al terus memandangi adiknya yang terus menatap kepergian Jason, Al ingin bertanya, tapi Al mengurungkan niatnya, karena walaupun Al adalah Kakak kandungnya, Al tidak berhak ikut campur rumah tangga adiknya yang baru berumur sehari itu, tapi jika Jason sampai menyakiti Lily dan membuat adiknya kembali menangis, maka Al adalah orang pertama yang akan memberikan pelajaran pada Jason, dia tidak akan membiarkan satu orang pun menyakiti orang yang dicintainya itu termasuk suami Lily sendiri.


__ADS_2