
Lily berlari menghampiri suaminya, tapi dengan cepat Jason berteriak dan menyuruhnya berhenti saat itu juga, dan kini giliran Jason yang berjalan cepat menuju ke arah sang istri. Begitu sampai di hadapannya, Jason segera duduk bersimpuh mensejajarkan tubuhnya pada perut Lily.
"Kamu tidak apa-apa kan boy?" Ucap Jason sembari mengelus lembut perut Lily dan menciuminya bertubi-tubi.
Para pria tadi hanya terperangah melihat pemandangan itu, tidak menyangka seorang Jason yang begitu tegas pada mereka, kini justru terlihat sebagai sosok yang berbeda. Walaupun Jason terlihat berbeda saat bersama putrinya tadi, dia tidak menyangka jika Jason lebih berbeda lagi dengan perempuan yang bisa mereka tebak, jika itu istri dari pemimpin mereka.
"Ehem!" Stevano berdehem membuyarkan adegan sepasang suami istri itu.
Jason yang sadar diperhatikan oleh anak buahnya, langsung saja berdiri berdehem menetralkan rasa malunya karena anak buahnya jadi tahu sisi dirinya yang lain yang hanya Jason tunjukkan pada keluarga dan orang terdekatnya saja.
"Apa yang kalian lakukan pada istriku?" Tatapan tajam menghunus Jason berikan pada pria-pria itu.
"Maaf Tuan," ucap mereka semua serempak sambil menundukan kepalanya.
"Tindakan kalian memang benar, itu penilaian saya sebagai pemimpin atas kerja kalian. Tapi sebagai seorang suami dan ayah, saya tidak akan mengampuni kalian jika sampai sesuatu terjadi pada anak dan istriku," ucap Jason tegas.
"Apa yang tadi mereka lakukan?" Jason memindai tubuh istrinya, memastikan bahwa tidak ada satupun luka pada wanita tercintanya itu.
"Mereka hanya menangkapku dan akan mengintrogasiku saja sayang."
"Benar? Iya pak?" Kini Jason mengalihkan pandangannya pada pria paruh baya yang cukup lama mengabdi pada keluarga ayah mertuanya.
"I...iya Tuan," jawabnya gugup apalagi saat melihat kode dari Lily untuk mengiyakan saja apa yang dikatakannya.
Jason kemudian menatap satu persatu pria yang tadi berurusan dengan sang istri.
"Benar?"
Pria yang tadinya Lily kira sebagai pemimpin tubuhnya meluruh begitu saja ke lantai, duduk bersimpuh di hadapan Lily dan Jason.
"Maafkan saya Tuan, Nyonya, silahkan hukum saya, saya tadi meminta mereka menyeret istri Anda!"
Jason mengepalkan tangannya, rasanya ingin dia layangkan kepalan tangan itu ke wajah pria yang kini duduk bersimpuh di hadapannya.
"Berani sekali kau melakukan itu pada istriku? Kau tahu istriku sedang hamil? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan anak kami ha?" Jason mencengkram kerah seragam pria itu.
Lily menutup mulutnya tak percaya, bagaimana mungkin pria tadi mengakui hal yang sama sekali tidak dilakukannya, justru...pandangan Lily kini tertuju pada pelaku sebenarnya yang hanya diam menunduk dengan tangan yang meremas seragamnya seperti tengah ketakutan.
__ADS_1
"Hukum saya atas kesalahan saya Tuan, Nyonya hukum saya saja," ucap pria itu beringsut di depan Lily menatap Lily penuh permohonan, bukan memohon agar lepas dari hukuman, tapi memohon agar tidak mengatakan yang sebenarnya, itu yang bisa Lily simpulkan dari tatapan orang itu.
"Istrimu sedang hamil kan? Dan kau…"
"Sayang sudah!" Lily berusaha menengahi, tidak ingin masalah itu diperpanjang lagi, apalagi melihat suaminya yang tampak marah besar. Niat Lily yang tadi dikoar-koar bahwa ingin mengadu pada suaminya agar mereka dihukum, kini lenyap sudah, bagaimanapun Lily tidak tega kalau sampai melakukan hal itu.
"Aku perlu kasih tahu mereka dulu!"
"Jason!" Stevano yang tadi diam saja, kini ikut berbicara saat melihat Jason menepis tangan Lily.
"Kau bisa menyakiti istrimu!" Ujar Stevano menarik Jason.
Jason menatap Stevano lalu bergantian menatap istrinya yang matanya kini berkaca-kaca. Dia tidak menyangka, jika Jason akan semarah ini, jika saja dia tahu kejadiannya akan seperti ini, Lily memilih tidak akan menyusul suaminya, Lily akan diam saja di rumah, asal Jason tidak marah seperti saat ini. Lily juga tidak tahu, entah kenapa dia ingin menyusul suaminya, dia takut, dia masih khawatir atas apa yang menimpa suaminya sebelumnya. Dan tanpa sadar air mata Lily mengalir deras mengingat bahwa ketakutan itu masih memenuhi sebagian hatinya.
Jason segera saja menarik Lily ke dalam pelukannya. Sementara Lily, membenamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya.
"Maaf sayang, maafkan aku," lirih Jason, hatinya sakit melihat istrinya menangis terlebih itu karena dirinya.
"Please jangan nangis kayak gini! Aku minta maaf, aku tahu aku salah."
"Kalian lanjut di dalam saja." Ucap Stevano pada Jason menepuk bahu Jason saat pelukannya dan Lily terlepas, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.
Lily hanya menurut, membiarkan suaminya menggandeng tangannya mengajaknya masuk.
"Cinta mana?" Lily mengedarkan pandangan saat tidak melihat keberadaan putrinya disana.
"Duduk dulu!" Pinta Jason, tidak langsung menjawab pertanyaan istrinya.
Jason kemudian menuntun Lily untuk duduk, Jason berhadapan dengan Lily, kedua tangannya terangkat, membersihkan sisa air mata di wajah Lily dengan ibu jarinya.
"Maaf sudah membuatmu menangis, maaf karena tadi…"
"Aku tahu kamu tidak sengaja, tapi jangan marah lagi ya, aku yang seharusnya minta maaf, maaf karena aku mengikuti kamu diam-diam sampai kesini, maaf aku sudah bikin kamu khawatir."
Jason menarik Lily ke dalam pelukannya, mengusap lembut punggung wanitanya yang kembali bergetar, Jason tahu jika saat ini istrinya menangis lagi.
"Sayang aku…"
__ADS_1
"Aku hanya takut terjadi sesuatu sama kamu, aku takut kamu tidur lagi seperti kemarin, aku takut kamu ninggalin aku dan anak-anak kita, aku takut…"
Jason menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Aku disini, aku baik-baik saja, kamu tidak perlu takut."
Jason terus berusaha menenangkan istrinya, dia baru tahu jika istrinya memendam ketakutan yang begitu dalam saat dirinya terbaring di rumah sakit, Jason sebelumnya memang mendengar cerita dari Al dan juga ayah mertuanya, tapi Jason baru melihat sendiri bagaimana ketakutan sang istri.
Lily mengangguk, semakin mengeratkan pelukannya, sedang Jason yang tadi sebenarnya ingin marah karena Lily tidak mendengarkannya, urung saat melihat istrinya seperti itu.
"Kamu sudah makan?" Tanya Jason mengurai pelukan mereka.
Lily menggeleng, Jason menyeka kembali air mata yang masih membasahi pipi sang istri, kemudian bangun dan mengajak Lily untuk ke dapur.
Beberapa hidangan sudah tersaji di meja, Jason kemudian mengambil makanan untuk Lily.
"Kamu makan dulu ya, aku akan panggil Cinta."
Lily mengangguk, Jason mengecup kening Lily sebelum akhirnya pria itu melangkah pergi, tapi bukan untuk memanggil Cinta, melainkan mendatangi Stevano yang tadi memintanya untuk menemuinya sebelum tadi pria itu pergi meninggalkannya.
Lily yang di tinggal Jason tidak langsung memakan makanan itu, dia berniat menunggu suami dan anaknya serta Tuan rumah, tidak enak rasanya jika Lily makan malam terlebih dahulu sementara Tuan rumah tidak ada di tempat.
Sambil menunggu suaminya, Lily bangun dan berjalan mengitari kediaman lama Stevano. Langkah Lily terhenti saat mendengar bisik-bisik pelayan yang sepertinya sedang membicarakan sesuatu. Karena tidak mendengar cukup jelas, Lily mendekat, langsung bertanya daripada dirinya penasaran.
"Ada apa? Sepertinya obrolan kalian seru."
Pelayan yang tadi sibuk mengelap beberapa perkakas di rumah itu menghentikan aktivitas dan menoleh.
"Anda?"
"Aku istri Jason," jawab Lily yang mengerti maksud pandangan mereka.
"Oh, anda istri Tuan Jason. Hmm sepertinya kelak putri Anda akan meneruskan tugas ayahnya."
"Maksudnya?"
"Kepercayaan Tuan Stevano."
__ADS_1
Lily mengernyit masih tidak mengerti, hingga salah satu pelayan menarik tangan Lily pelan berhenti di sebuah jendela besar dan menunjuk ke arah luar, dimana disana menunjukkan aktivitas yang sedang beberapa orang tengah lakukan.
"Jason!" Lily mengepalkan kedua tangannya erat, rasanya ingin mendaratkannya di wajah sang suami.