
Flashback
"Maaf saya tidak sengaja," kata seorang pria yang baru saja menabrak seseorang.
Tanpa melihat orang yang ditabraknya, Al pun membantu memunguti barang-barang orang yang tadi ditabraknya yang berserakan di lantai.
"Ah tidak apa-apa, ini juga salahku, aku tadi terlalu terburu-buru," jawab gadis itu.
Al memasukkan barang-barang itu ke sebuah kotak tempat barang-barang tadi, yang ikut jatuh. Tapi tiba-tiba gerakan tangannya berhenti, saat dia mengambil sebuah foto, seorang gadis kecil dengan Ibunya memeluknya dari belakang, tapi foto itu tidak utuh, ya foto itu sudah disobek separuhnya.
Al langsung melihat ke arah gadis yang ditabraknya.
"Kamu?" Al tampak terkejut saat melihat siapa gadis itu, melihatnya dengan tatapan menyelidik, dan Al bergumam pelan sambil menggelengkan kepalanya, "Tidak mungkin."
Sementara gadis itu sama terkejutnya, apalagi melihat tatapan pria itu membuatnya langsung menundukkan pandangannya.
Al kembali menatap foto itu lama, "Siapa ini? Darimana kamu dapatkan foto ini? Tanya Al dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Mengerti apa yang dimaksud Al, Dahlia pun langsung merebut foto yang ada di tangan Al, ya gadis yang Al tabrak adalah Dahlia Kakak Lily, Kakak gadis yang akan menjalani istrinya dua hari lagi, dan sekarang mereka bertemu di depan kampusnya.
Dahlia kemudian memasukkan kembali foto yang sudah berhasil direbutnya itu ke dalam kotak dan menutup kotak itu, lalu berdiri dan berniat untuk meninggalkan Al, dia tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan Al, dia tidak ingin mengungkit hal ini pada orang yang tidak begitu dekat dengannya.
__ADS_1
Belum juga melangkah, Al justru menahan tangannya. "Jawab dulu, baru aku akan membiarkanmu pergi!" Ucap Al penuh penekanan.
"Kak Al tidak perlu tahu, ini bukan urusan Kak Al," jawab Dahlia mencoba melepaskan tangan Al.
Bukannya melepaskan Al justru sedikit mencengkeram tangan Dahlia.
"Cepat katakan sekarang! Siapa yang ada di foto itu? Dan dimana separuh dari foto itu? Kenapa disobek?" Al tampak geram karena Dahlia tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Lepaskan!" Dahlia meringis kesakitan, karena Al.justru mengeratkan pegangannya.
"Aku bilang jawab dulu, baru ku lepaskan!" Ucap dingin Al.
"Itu Lily dan Ibunya, apa sekarang Kak Al puas?" Kata Dahlia yang langsung menepis tangan Al yang sedikit melepaskan pegangannya.
"Kau bohongkan?" Lirih Al masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Untuk apa aku bohong dan apa gunanya?" Setelah mengatakan itu Dahlia pun langsung meninggalkan Al begitu saja.
Al mengejar Dahlia dan kemudian kembali menahan gadis itu, "Tolong ikut aku, dan aku mohon jelaskan apa yang kamu tahu tentang foto itu," ucap Al dengan memohon.
Dahlia yang melihat Al sampai memohon seperti itu akhirnya tidak tega.
__ADS_1
Dahlia pun masuk ke dalam mobil Al setelah Al membuka pintunya, kemudian Al segera mengendarai mobilnya ke tempat yang lebih nyaman untuk membicarakan hal itu.
Di sebuah taman yang tidak begitu ramai, akhirnya Al pun menghentikan mobilnya dan langsung turun, tak lama disusul Dahlia yang ikut turun dan menghampirinya. Dahlia duduk di samping Al di bangku besi yang cukup panjang, yang memang tersedia di taman itu.
Cukup lama mereka terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing hingga pada akhirnya Dahlia pun mengalah dan memulai pembicaraan lebih dulu,
"Itu foto Lily dan Ibunya, aku mendapatkannya dari kamar Ibu, aku tidak sengaja melihat kotak itu saat membersihkan kamarnya, aku penasaran dan kulihat isinya, semua milik Lily, bahkan banyak foto-foto Lily, baik Lily sendiri, Ibunya maupun bersama anak laki-laki yang mungkin temannya, hingga aku berinisiatif mengambilnya dan memberikannya kepada pemiliknya. Selebihnya aku tidak tahu apa-apa, aku membawanya sepulang dari kampus, aku memang berniat untuk bertemu dengan Lily dan mengembalikan ini," jawab Dahlia dan Al melihat dari mata Dahlia bahwa gadis itu memang mengatakan yang sebenarnya, nyaris tidak ada kebohongan sama sekali disana.
"Maksudmu di foto-foto itu sama sekali tidak ada seorang pria dewasa?" Tanya Al yang hanya mendengar ada fotonya, Lily dan Ibunya.
Dahlia menggeleng, "Tidak ada Kak, karena setahuku dari Ibu, Ayah Lily adalah Ayahku juga."
"Tunggu jelaskan apa yang kamu katakan tadi!" Pinta Al mendengar sesuatu yang baru diketahuinya.
Dahlia kemudian menatap ke arah depan dengan pandangan menerawang jauh, "Saat itu umurku baru berusia 6 tahun, Ibu dan Ayah berjanji padaku akan membawaku ke taman hiburan. Tapi cukup lama aku menunggu kedatangannya, Ayah tidak juga datang, Ayah tiba-tiba membatalkan janji yang sudah disepakati, Ayah bilang dia ada urusan, aku mencoba tidak apa-apa, walau sebenarnya aku sangat kecewa, aku hanya anak kecil saat itu, tapi aku selalu mengingat kejadian itu yang sangat membuatku sedih. Kami, aku dan Ibu waktu itu melihat Ayah bersama seorang wanita, dan juga Lily dalam gendongannya, mereka tertawa bahagia, hingga akhirnya..akhirnya...Akh!" Dahlia menutup telinganya, tiba-tiba ingatan tentang kecelakaan itu terlintas di benaknya, bagaimana tidak, seorang anak kecil melihat bahkan di depan matanya sendiri, Ayahnya kecelakaan bahkan meninggal di tempat, bayangan itu terasa semakin nyata. Bahkan keringat dingin pun kini mulai membasahi wajahnya, betapa dirinya ketakutan saat itu, melihat Ayahnya saat itu, walaupun Ibunya sudah berusaha agar dirinya tidak melihatnya, nyatanya Dahlia sudah melihatnya lebih dulu.
"Cukup Kak Aku tidak mau mengingatnya lagi, maaf!" Dahlia pun berlari meninggalkan Al begitu saja.
Al bahkan sampai bingung, dan dia tidak bisa lagi bagaimana cara menahan gadis itu, karena gadis itu sudah benar-benar pergi, meninggalkannya dengan sejuta pernyataan, meninggalkannya dalam kebingungan yang tidak tahu langkah apa selanjutnya yang akan ditempuh. Hingga setelah memikirkan beberapa hal, Al pun memutuskan pulang ke rumah, mengambil sesuatu untuk lebih memastikan dugaannya, dan benar setelah hampir dua minggu menunggu, hasil itu menunjukkan bahwa Lily adalah adik kandungnya, Al sampai tidak bisa menopang tubuhnya sendiri saat itu melihat kenyataan yang sebenarnya yang baru dia tahu. Kenapa takdir seakan kejam padanya? Kenapa dia harus tahu kenyataan ini disaat sebentar lagi, dia akan menjalani hari bahagia dalam hidupnya, yaitu menikahi Lily, Kenapa calon istrinya tiba-tiba harus menjadi adik kandungnya? Kenapa? Kenapa?" Itu yang ada di dalam benak Al.
"Akh!" Al berteriak meremas rambutnya, kemudian mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Kenapa harus kamu Lily? Kenapa di antara ribuan bahkan milyaran orang harus kamu yang menjadi adikku? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku harus bagaimana Lily?" Tanpa terasa air mata Al mengalir deras dari sudut matanya.